Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 35. sekelebat cinta me n you.


__ADS_3

"Apa hikmahnya Abang bilang Arnes hamil?" tanya Arnes.


"Biar nggak ada yang dekati kamu. Abang nggak suka" jawabnya dingin.


"Sudah, tenang aja. Dua bulan lagi pasti sudah ada isinya"


"Isi apa Bang??"


"Ya isi nasi. Masa isi keong sawah" jawab Bang Zaldi.


Arnes cukup kesal karena Bang Zaldi suka sekali mengajaknya ribut. Dimana pun, kapan pun ada saja ucapannya yang membuatnya kesal.


ddrrrtttt... ddrrrtttt...


Bang Zaldi melihat ada panggilan dari ibunya. Bang Zaldi pun segera menjawab panggilan telepon.


"Assalamualaikum Bu??"


"Wa'alaikumsalam le. Dimana ini?" suara ibu terdengar begitu sendu.


"Masih di jalan Bu. Jemput menantu ibu pulang kerja. Ibu sehat??" tanya Bang Zaldi kemudian menepikan mobilnya.


"Sehat nak. Kamu sehat-sehat sama Arnes disana ya..!! yang rukun, sabar sama istri" jawab Ibu Bang Zaldi.


"Saya sih sabar bu. Di Munaroh ini yang suka cari perkara" kata Bang Zaldi sambil melirik Arnes yang sudah memelototi dirinya.


"Tuh.. ini saja sudah melotot lho Bu. Durhaka khan sama suami"


"Nggak Bu. Abang bohong" Arnes mencubit pinggang Bang Zaldi.


"Ibu senang kalian selalu dekat seperti ini. Cepat kalian punya momongan ya. Ibu pengen sekali punya cucu" kata Ibu terdengar semakin sedih.


"Nanti kalau sudah ada anak, biarkan saja. Jangan di halangi. Anak adalah rejeki"


"Kalau saya sih nggak masalah Bu. Masalahnya dinas nggak memperbolehkan punya anak banyak dan lagi Arnes siap atau tidak kalau punya banyak anak" jawab Bang Zaldi.


"Ya sudah, yang penting kalian harus saling mendukung. Harus tau porsi tanggung jawab dan kewajiban masing-masing" kata ibu mengingatkan.


-_-_-_-_-


Bang Zaldi termenung di belakang rumah. Rokok di tangannya hampir habis terbakar tanpa terhisap. Arnes membawakan bakwan jagung dan segelas kopi untuk Bang Zaldi.


"Rokoknya tuh Bang" tegur Arnes.


Bang Zaldi melirik batang rokok di tangannya yang memang hampir habis percuma.


"Abang kenapa??" tanya Arnes.


Bang Zaldi mengusap wajahnya.


"Ibu sudah minta cucu dek. Dari dulu rumah Abang nggak pernah ramai. Hanya ada ibu dan Abang saja. Sebenarnya dulu ibu sempat mengandung adiknya Abang, tapi saat itu bapak meninggal, mungkin karena ibu terlalu sedih, akhirnya ibu keguguran. Itu saja yang samar Abang ingat, Abang khan masih kecil sekali dek" jawab Bang Zaldi.


"Kalau memang sudah ada dia disini. Tolong jangan di tolak ya dek. Segala ucapan Abang tentang hadirnya si kecil, itu adalah doa, rejeki dan harapan. Dia penguat sebuah rumah tangga."


"Iya Bang" Arnes tak berani lagi melawan dan menjawab ucapan Bang Zaldi anak adalah anugerah dan penguat rumah tangga.


Bang Zaldi mencomot sepotong bakwan buatan istrinya.


"Enak banget, meskipun bentuknya berantakan seperti yang buat"


"Itu buatnya pakai hati lho Bang. Kapan sih Abang bisa mendewakan apapun yang Arnes buat" Arnes berdiri dengan bersungut kesal.

__ADS_1


Bang Zaldi menarik tangan Arnes saat istri cantiknya itu berniat meninggalkannya.


"Tuman iki.. nesuan ( Kebisaan.. suka ngambek )" Bang Zaldi mendekap Arnes yang sudah duduk di pangkuannya.


"Rupa tidak penting, yang penting rasa. Marah nggak apa-apa asal jangan tinggalkan Abang sendirian. Abang butuh kamu" mata Bang Zaldi terpejam, ia bersandar di dada Arnes. Setitik air mata menetes di pakaian Arnes.


Arnes melihat wajah pias Bang Zaldi di sana.


"Abang rindu ibu?"


"Rindu sudah biasa dek. Ibu khan wanita yang sudah melahirkan Abang" jawab Bang Zaldi.


"Sekarang ada dua wanita yang akan selalu Abang rindukan, Ibu dan kamu. Seperti yang Abang bilang tadi. Ibu adalah wanita yang melahirkan Abang sedangkan kamu adalah wanita yang akan melahirkan buah hati Abang. Abang sayang semuanya"


Arnes membiarkan Bang Zaldi bersandar di dadanya hingga perasaannya terasa lega dan luas.


***


"Malas aahh main catur sama Abang. Abang pasti curang" Arnes sudah ingin menangis. Enam kali kalah main catur bersama Bang Zaldi.


"Yang salah bukan Abang, kamu saja yang nggak pintar" kata Bang Zaldi menimpali Arnes yang sedang mengunyah bakwan jagung di tangannya.


"Catur itu main otak deh. Nggak asal geser kanan kiri"


"Pokoknya nggak mau main lagi"


"Ya sudah sekarang maunya main apa??" Bang Zaldi menawari Arnes. Tidak ada hal indah yang bisa mereka lakukan saat ini. Batalyon lumayan jauh dari kota, jalan pun sangat buruk apalagi mereka belum memiliki momongan. Untuk mengurangi rasa bosan hanya bercanda dan berbagi kasih dengan pasangan akan menjadi solusi.


"Ehmmm... 🤔"


:


"Kata Abang, tentara itu harus serba bisa. Ayo sekarang kita lomba dandan" ajak Arnes.


"Ayoo.. siapa takut..!!!"


Arnes memulai lebih dulu mengambil pelembab dan meratakan di seluruh wajah. Bang Zaldi mengikuti tutorial yang di lakukan Arnes satu persatu karena demi apapun dirinya tidak tau cara berdandan yang baik dan benar.


"Ini apa dek?" tanya Bang Zaldi menunjuk sesuatu di depannya.


"Blush on" jawab Arnes.


"Pakainya dimana dek? Di pipi atau di hidung??" Bang Zaldi sungguh tidak paham guna benda itu apalagi tempatnya.


"Di tulang pipi Bang, kalau yang Arnes pakai ini untuk batang hidung. Abang nggak perlu pakai, hidung Abang sudah seperti perosotan"


"Waaahh.. pengakuan dosa kamu ya. Akhirnya ngaku juga kalau kamu pesek" Bang Zaldi tertawa lepas meninggalkan wajah Arnes yang sudah meradang.


"Menghina istri adalah bentuk tindak kriminal ya Bang"


Bang Zaldi semakin terkikik geli mendengar celotehan Arnes.


"Terus aja ketawa Bang. Kalau sampai itu make up nggak rapi, Abang harus bayar biaya konsultasi sebesar lima ratus ribu rupiah"


Tawa Bang Zaldi langsung pudar dan hilang seketika.


"Eeeiittss.. enak aja. Itu namanya pemerasan" kata Bang Zaldi mengelak.


"Tapi Abang sudah ngikutin cara Arnes. Masa sudah pakai jasanya Arnes tapi nggak mau bayar???"


"Deehh.. Ada aja sih kamu" Bang Zaldi mengambil dompet yang ia letakkan di atas meja tepat di sampingnya lalu mengeluarkan semua isi dompetnya.

__ADS_1


"Nih.. Ambil semuanya..!! Delapan ratus ribu, sudah plus bunganya itu. Sebenarnya ya ini devinisi tindak kriminal yang sebenarnya"


"Ya sudah ini kalau nggak ikhlas..!!" Arnes mengembalikan uang itu ke tangan Bang Zaldi dengan memajang mimik wajah sedihnya.


Bang Zaldi pun langsung panik melihatnya. "Eeeehh.. Abang ikhlas kok sayang. Jangan nangis ya. Sudah tuh buat beli jajan" kata Bang Zaldi sambil menyelipkan anak rambut Arnes ke belakang telinga.


"Ya sudah lanjut lagi yuk dandannya..!!" bujuk Bang Zaldi sudah cemas saja kalau Arnes marah.


:


"Haduuhh jambuuu.. wedhus.. piye carane pasang iki" umpat Bang Zaldi kesal karena sudah tiga kali gagal memasang bulu mata dan malah jarinya menusuk mata.


"Kalau nggak sayang istri, gua mah ogah jadi ladies gang kembang" gumamnya.


Arnes sedang sibuk mencari pakaian apa kiranya yang pas di badan sang suami.


"Sudah apa belum dek?? Abang sudah gerah nih muka di dempul" ucapnya kesal.


"Sudah Bang. Abang pakai rok plisket ini aja, rok ini Arnes pakai selutut.. pasti sama Abang jadi rok mini. Terus baju Abang pakai ini aja, baju ini kalau Abang pakai jadinya di atas pusar. Jangan lupa pakai bando kelinci ya Bang..!!" kata Arnes.


"Gila kamu dek. Perut Abang kotak. Gimana jadinya kalau pakai ini??????" protes Bang Zaldi.


"Sebentar aja kok Bang"


Bang Zaldi segera memakai pakaian itu agar dirinya yang menjadi kelinci percobaan Arnes segera usai.


:


"Sudah nih. Ayo cepat fotonya..!!!!!"


"Nah.. Abang pakai high heels Arnes yang ini" Arnes meletakan sepatu high heels nya di hadapan Bang Zaldi.


"Lailaha Illallah.. Kamu ingat baik-baik ya dek. Abang ini pejantan tangguh. Jangan sampai setelah ini kamu ilfeel lihat Abang" ucap Bang Zaldi mengingatkan.


"Iyaaaa..!!"


Bang Zaldi segera memakai sepatu high heels milik Arnes. Saat sudah memakai high heels itu.. Baru saja berdiri dari posisinya, pintu rumah tiba-tiba terbuka lebar dan mendapati Righan bersama Rafli sedang menatap Bang Zaldi. Saking kagetnya Bang Zaldi sampai terjerembab karena tidak seimbang.


bruugghh..


"Awwhh.." Bang Zaldi memegangi kakinya yang terkilir.


"Abaaaaaang..!!!" pekik Arnes mendekati Bang Zaldi yang masih memakai bando menyala warna ungu. Melihat ada Abangnya dan seorang anggota suaminya, Arnes segera menyambar sarung milik Bang Zaldi lalu menutup tubuhnya yang berpakaian minim.


"Nes.. suamimu waras nggak nih. Kamu sudah di stempel Abang apa belum??" tanya Righan pada Arnes dengan cemas.


"Heeh.. ini kalau bukan karena permintaan adik kesayanganmu ini.. nggak mungkin saya mau begini" pekik Bang Zaldi rasanya sudah ingin masuk ke dalam sumur karena terlalu malu.


Bang Righan dan Rafli tertawa begitu puas.


"Raf.. minat nggak???" tanya Bang Righan.


"Ijin Dan. Tanpa mengurangi rasa hormat. Saya nggak doyan perempuan jadi-jadian"


"Rafli.. sikap tobat kamu sekarang..!!!" perintah Bang Zaldi repot menghapus lipstik merah merona di bibirnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2