
Landai saja ya.
🌹🌹🌹
"Abang minta panggilkan kamu kesini untuk sekalian mengantarkan jaket Abang. Tapi malah kata Bima kamu tidur mengigau dan nggak bisa di bangunkan" omel Bang Zaldi.
"Makanya mau tidur itu berdoa, bukannya lihat sinetron "
"Abang nggak boleh matiiii" ucap Arnes masih terpengaruh dengan mimpinya.
"Mau mati bagaimana? Hutang Abang masih banyak" jawab Bang Zaldi.
"Perut Arnes sakit Bang. Tangan Abang jangan kemana-mana"
Bang Zaldi kembali mengusap perut Arnes. Seketika perutnya yang menegang itu perlahan menghilang.
"Enak??"
Arnes mengangguk. Bang Zaldi pun lega mendengarnya. Tak ada rasa jengkel atau marah dalam hatinya. Istrinya sehat saja ia sudah sangat bersyukur. Ia pahami apa yang Arnes lakukan tidak murni dari hatinya. Tidak ada istri yang dengan sengaja membuat suaminya susah.
"Bang, si Popon lahir di Jawa boleh? Arnes pengen di temani Mama juga"
"Boleh, nanti saja ya kalau sudah mendekati HPL. Abang juga mau sekalian ambil cuti" jawab Bang Zaldi.
"Terima kasih ya Bang"
"Yaa.. sama-sama"
***
Tiga bulan kemudian.
"Aku nggak bisa datang ke rumahmu Zal. Mey mau lahiran nih"
"Ya sudahlah. Kamu urus Imey. Nanti biar perwakilan anak buahmu saja yang ke rumah. Saya juga nggak bisa kemana-mana nih. Arnes belakangan ini sudah seperti ada tanda mau melahirkan juga" kata Bang Zaldi.
"Gilaa.. nggak mungkin lah. Kandungan Arnes baru menginjak delapan bulan"
"Saya atau kamu suaminya Arnes? Saya sudah cek bolak balik Bay" jawab Bang Zaldi.
"Aaaahh.. Dasar cari penyakit aja lu Zal"
-_-_-_-_-_-
Hujan deras di sertai badai mengguyur Kompi sore ini. Letak kompi yang lebih menjurus pada lereng. Beberapa orang anggota melapor kalau ada pohon tumbang dan terseret hingga menabrak pagar beton kompi.
"Saya ikut kesana sekarang..!!"
"Dek, kamu tetap disini dulu dan jangan kemana-mana. Tunggu Abang..!! Abang hanya sebentar saja. Hati-hati ya, licin.." pesan Bang Zaldi dengan kecemasannya. Tapi kecemasan itu sedikit berkurang karena kedua putranya ikut Opa dan Omanya ke Jawa sembari mengurus persiapan kelahiran putri mereka.
:
Petir menyambar sebuah pohon besar hingga tumbang juga menimpa bangunan aula kompi. Air dari puncak sudah turun dengan derasnya. Arnes mengambil seluruh berkas penting lalu meletakan semuanya di atap rumah. Ia sudah tahu ada air yang berjalan cepat menuju rumahnya. Seluruh barang yang bisa di selamatkan segera ia amankan.
Arnes pun keluar rumah untuk melihat situasi. Pergerakannya sangat lambat dan tidak leluasa apalagi perutnya sudah sangat besar. Perut bagian bawah hingga bagian miliknya tiba-tiba terasa sakit.
"Bu Lukas, mau kemana? Kesini dulu Bu. Jangan bawa anak-anak hujan-hujanan..!!" teriak Arnes saat melihat istri anggota suaminya berlarian.
"Ijin Ibu, rumah saya sudah terendam hingga paha"
"Ya Allah Bu, kita tunggu bapak-bapak disini dulu ya. Hujan terlalu lebat.. kalau kita berpencar arah sekarang, bapak-bapak akan lebih sulit menemukan kita"
Arnes memberi arahan dari mulut ke mulut agar cepat sampai pada ibu-ibu yang lain.
"Kumpul di satu titik dan jangan berpencar..!!" ucapnya sembari menguatkan dirinya sendiri yang sudah kehabisan tenaga. Duduk tak bisa, berdiri pun sudah terlalu lelah.
...
"Yang punya anak balita dan istri hamil segera pulang dulu..!! Yang lain handle situasi ya" arahan Bang Zaldi pada para anggotanya. Ia pun sudah cemas setengah mati pasalnya saat ini banjir dari bukit sudah sampai perutnya, dengan kata lain sudah hampir mencapai dada Arnes.
"Keluarkan perahu karet kita..!!"
"Ijin Dan, kunci gudangnya sedang saya gandakan karena kemarin saya menghilangkan nya Minggu lalu" jawab Markus.
__ADS_1
"Aduuh Markus.. kenapa ngga segera lapor saya???? Saya tempeleng juga kamu ini" bentak Bang Zaldi sudah frustasi.
Tak peduli dengan hal itu lagi, Bang Zaldi segera berlalu. Langkah bang Zaldi sudah cepat tapi terhalang gelombang air yang semakin deras. Ia mengambil HT nya.
"Perahu karetmu kirim sebagian kesini Rig..!!! Kompi saya banjiiiiirr"
:
"Arnes..!! Ya Allah dek" Bang Zaldi langsung memeluk untuk menyangga tubuh Arnes yang hampir ambruk. Bang Zaldi sudah cemas karena Arnes sudah terlalu lama berendam dalam air banjir yang kotor.
"Bang.. ini rasanya perut Arnes sakit sekali"
"Eeeehh.. jangan ngejan dulu dek.. Sabar..!!" perasaan Bang Zaldi campur aduk merasakan pelukan Arnes yang sudah semakin kencang.
Tanpa banyak buang waktu, Bang Zaldi mengangkat dan memanggul Arnes di bahu kirinya.
"Pegang Abang yang kuat dek..!!"
:
Di bawah hujan lebat, Bang Righan datang menurunkan perahu karetnya.
"Dek, bagaimana keadaanmu??" Bang Righan cemas sekali melihat keadaan Arnes.
Bang Zaldi segera menurunkan Arnes di atas perahu karet. Ia melirik bahunya sudah terdapat bercak darah.
Belum terjawab pertanyaan itu, Arnes sudah muntah. Agaknya saat ini Arnes sedang terserang masuk angin.
"Kamu bawa kain nggak Rig?"
"Ada di truk Bang..!!" jawab Bang Righan.
"Cepat Rig.. ini ponakanmu mau lahir"
"Haaaaahhh.. Astagfirullah..!!" Bang Righan terserang panik. Kakinya terasa gemetar. Wajahnya pucat mirip seperti Arnes.
Para anggota disana ikut membantu Dan Righan yang sudah tidak karuan.
Arnes pun sudah tidak karuan, ia muntah lalu memercing merasakan sakit.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak Bu"
...
Bang Zaldi melepas pakaian Arnes dan menutupnya dengan kain. Tak ada pilihan lain, akses ke rumah sakit terputus. Memakai pakaiannya pun tidak mungkin karena pakaiannya juga basah.
"Sakiiiit sekali Abaaaanngg..!!"
"Iya sayang.." Bang Zaldi mengusap perut Arnes lalu menciumnya.
Beberapa anggota kesehatan lapangan di kompi sudah menyiapkan peralatan kesehatan semampu mereka. Kini mereka ada di sisi bukit yang aman. Hanya ada Bang Righan yang tidak begitu penting keberadaannya dan Bu Samsudin yang memang membantu Ibu DanSat.
"Made.. sudah atau belum air panasnya???"
"Siap.. Sudah Dan"
:
Segala apapun yang ada di hadapan Arnes terasa hilang dari pandangan. Hanya ada rasa letih, lemas.
"Ayo Bu Zaldi.. sedikit lagi..!!" pinta Bu Samsudin.
Arnes sekuatnya berusaha, sudah tidak kuat tapi ia takut mengakui jika dirinya sudah tidak kuat.
Bang Zaldi sudah cemas bukan main melihat Arnes menggigil. Nafasnya pun putus sambung. Ia takut Neng Popon juga harus terlahir besar sama seperti Ibra.
"Bagaimana ini Bu, saya sudah nggak kuat lihatnya, nggak tahan lihat istri kesakitan seperti ini"
"Bapak harus kuat. Kasihan ibu..!!" Bu Samsudin dulunya adalah seorang perawat, karena mengikuti sang suami.. beliau rela melepaskan profesi kebanggaannya.
"Bapak tolong bantu dorong, sepertinya ibu sudah tidak kuat mengejan"
Bu Samsudin sedikit menekan daerah terlarang. Nampak bayi itu sedikit ci.. Luk.. baa tapi kemudian masuk lagi.
__ADS_1
"Deekk.. kamu bisa dengar suara Abang??" tanya Bang Zaldi tapi respon dari sang istri terlalu kecil.
Bang Righan merangkak dan menjauh dari tenda darurat Arnes. Ia tidak tahan melihat proses persalinan wanita.
"Cckk.. apa gunanya dia itu" gerutu Bang Zaldi.
"Brewok.. tolong ambilkan kain" perintah Bang Zaldi pada Om Adi.
:
"Bang Zaldiiii.." Arnes terus merintih memanggil nama Bang Zaldi. Jangankan untuk bicara banyak, nafas pun rasanya sudah terasa begitu sulit.
"Pelan sayang.. jangan gugup..!!" Bang Zaldi berusaha tenang menutup rasa cemasnya yang tak terkira.
"Ayo Neng, anak sholehah papa. Jangan buat mama sakit Neng. Papa nggak kuat lihatnya" ucapnya tidak melepas genggaman tangannya dari Arnes.
Bang Righan sudah kembali.
"Sini Rig...!!" Bang Zaldi menidurkan Arnes di paha Bang Righan dan kakak Arnes itu hanya bisa menurut pasrah sambil memejamkan mata saking takutnya.
"Pak.. jalan lahir ibu sobek sendiri, saya sudah berusaha menekannya" kata Bu Samsudin.
"Ibu tolong siapkan peralatan yang lain. Biar Arnes sama saya"
Sedikit banyak bang Zaldi sudah paham tentang persalinan karena ia pernah merasakannya tiga tahun lalu. Bayangan kelahiran Ibra masih berputar di pelupuk mata.
"Baik pak.."
Bang Zaldi menyambar ponsel Bang Righan dan menyalakan lampunya agar penerangan terlihat semakin jelas.
"Astagfirullah.." Bang Zaldi menggigit bibirnya kuat, detak jantungnya tak karuan melihat tanda kelahiran sang putri semakin dekat.
Sebagai seorang suami dan seorang ayah, Bang Zaldi berusaha keras untuk menyelamatkan Arnes dan putrinya. Doa-doa ia panjatkan sembari berusaha mengeluarkan makhluk kecil dari dalam sana.
"Ayoo dek..!! Hany tinggal sekali ini saja bayi kita keluar."
"Rasanya Arnes mau mati Bang" ucap Arnes saat itu.
"Ngomong apa itu. Bicara yang baik-baik" tegur Bang Zaldi.
Arnes paham dengan kecemasan suaminya. Wajah Bang Zaldi pun sudah tegang dan cemas. Satu kali tarikan nafas panjang.. sekuat tenaga ia habiskan saat itu juga.
"Aarrgghh.. Ya Allah, Abaaaanngg"
"Allahu Akbar.." Bang Zaldi begitu kaget ada yang melesat dari pintu. Bayi mungilnya berada di kedua telapak tangannya.
"Alhamdulillah.. Matur Sembah Nuwun gustiii" secepatnya Bang Zaldi menangani bayinya. Terdengar suara tangis kencang dari sang putri.
braaaaakkkkk...
"Righaaaaaann..!!!!!.
Tenda darurat seketika roboh saat Bang Righan pingsan dan menabrak sisinya. Secepatnya Bang Zaldi menutup tubuh istrinya dengan kain.
"Brewok.. bawa Righan jauh dari sini" perintah Bang Zaldi sambil mendekap putrinya dan menghalangi reruntuhan tenda agar tidak menimpa Arnes karena ulah Bang Righan.
Bayi kecil itu menangis lagi dalam dekapan papanya.
"Cayang papa.. cantik sendiri ya nak" ucap Bang Zaldi seakan melupakan garangnya. Sesaat ia sampai melupakan Arnes yang baru saja berjuang mati-matian.
Bu Samsudin tersenyum geli sambil menangani Arnes.
"Cantikku.. Dinasti Kana Zafia. Fia.. kesayangan papa Zaldi" ucapnya sambil terus menciumi putrinya.
"Pak.. ibuuu.."
Seketika Bang Zaldi menoleh baru menyadari sudah mengabaikan sang istri.
.
.
.
__ADS_1
.