
"Eegghhh.. uugghhhh..!!" tak ada kata lain selain rintihan kecil dari bibir Danki A yang mulai membiru.
"Minum dulu Rin..!!" kata Bang Arben memberi juniornya itu teh hangat. Bang Arben membawa Rinto ke rumahnya.
"Saya mau ke tempat Anye Bang..!!" ucapnya berusaha bangun.
"Istrimu aman. Kamu tenang saja" kata Bang Arben.
"Tapi tadi.. Bang Candra..!!"
"Abang tau.. Sudah aman. Istrimu juga aman"
"B*****t.. Aku sudah yakin ada niat buruk di balik sikapnya, tapi tidak ada yang mempercayaiku Bang..!!" umpat Bang Arben dengan marah.
"Abang tau perasaanmu. Lebih baik besok kamu temui Bang Candra secara pribadi..!!" saran Bang Arben.
"Abang benar, semakin kupendam.. hatiku sakit sekali Bang"
Bang Arben menepuk tangan Rinto.
***
"Ayah sama Mama sudah tau apa belum dek?" tanya Gathan memeluk Sekar yang tidak enak badan.
"Ayah sama Mama belum tau Bang"
"Sudah berapa lama? Kenapa baru bilang?" tegur Gathan.
"Sekar takut Bang. Sekar juga baru ingat, kalau bulan ini nggak haid lagi berarti dua bulan" jawab Sekar.
"Besok kita bilang Ayah sama Mama" kata Gathan.
"Nggak Bang, Sekar takut..!!"
"Itu urusan Abang. Kamu nggak perlu takut. Abang tanggung semuanya" kata Gathan dengan tegas.
***
"Apa benar begitu Bang..!!" tanya Bang Rinto pada Bang Candra.
"Iya Rin.. maaf..!!"
"Berani benar Abang dekati istri orang..?? Apa tidak ada wanita lain yang lebih sepadan daripada Anye??"
"Seperti yang sudah saya bilang tadi. Anye mirip seperti mendiang istri saya" kata Bang Candra.
"Lalu apa hubungannya dengan Anye, dia istri saya dan dia bukan mendiang istri anda" jawab Bang Rinto dengan tegas.
Bang Candra tersenyum. Ia ingin menggoda Bang Rinto tanpa mempertimbangkan sifat dan karakter Danki A.
"Kalau saya suka dengan istrimu bagaimana?" tanya Bang Candra memulai perkara.
Saat ini yang ada di kepala Rinto adalah ingatan akan kejadian semalam dan itu sudah cukup membuat hati Rinto panas terbakar.
"Apa kau bilang???? Sialan kau Candra..!!!!!" Rinto langsung melayangkan tinjunya dan itu menghantam telak wajah Bang Candra hingga memar.
Kaget dengan serangan Rinto, kedua pria itu terlibat baku hantam. Posisi Bang Candra disini adalah membela diri karena tidak mungkin ia membiarkan dirinya mati konyol.
"Dankii.." para anggota berlarian memisahkan Danki A dan Pak Candra yang tengah bergelut di lapangan.
"Abang..???" Ezhar ikut berlari memisahkan mereka. Anye yang saat itu sedang di antar Bang Ezhar membeli camilan begitu kecewa karena suaminya tidak berubah dan tetap bersikap temperamen.
...
plaaaakk...
"Pria macam apa kamu ini Gathan???????? Apa ayah mendidikmu untuk merusak kehormatan wanita???????" emosi Rama sudah di ujung tanduk saat Gathan menemui ayahnya secara formal untuk meminta ijin agar merestuinya untuk menikah.
"Kamu Sekar..!! Kenapa kamu diam saja saat Bang Gathan mengajakmu..????? Sungguh ayah sangat kecewa dengan ulah kalian. Mau di taruh dimana wajah ayah sekarang????" Rama terduduk lemas meremas dadanya saking kagetnya mendengar ulah putranya.
dddrrtt..ddrrttt.. ddrrrtttt...
__ADS_1
"Ada apa?" Rama mengangkat panggilan telepon dari Ardi.
"Menantumu dan Candra terlibat baku hantam. Candra masuk rumah sakit sekarang"
"Astagfirullah hal adzim Ya Allah.. dosa apa aku dulu sampai anak ku jadi seperti ini" gumam Rama.
...
Rinto dan Gathan mendapat cambukan yang keras dari Rama. Satu berkelahi dengan senior, dan satu lagi menghamili gadis tanpa ikatan pernikahan.
"Kalian benar-benar tidak punya adab. Kemana pikiran kalian????????" bentak ayah Rama.
"Rinto.. Kenapa kamu menghajar Komandanmu???" tanya Rama.
"Ijin.. urusan pribadi" jawab Rinto tak menjabarkan apa yang sebenarnya terjadi.
"Anye nggak suka Abang berkelahi. Bisakah Abang jadi pria yang biasa saja? Jauh dari semua kekerasan itu?" Anye berdiri dari duduknya. Ia sudah tidak tahan lagi karena takut hidup dengan suami yang kaku dan galak seperti Bang Rinto.
"Abang hanya melindungi istri Abang saja" jawab Bang Rinto datar.
"Begitu caranya?? Harus berkelahi sampai babak belur?? Apa perasaan Abang sudah mati sampai harus melukai Om Candra???" Anye pergi meninggalkan seisi ruangan.
"Mau kemana kamu??" tanya Bang Rinto.
"Menemui Om Candra" jawab Anye.
"Berani kamu langkahkan kakimu.............."
Anye melangkah mendekat pada suaminya. "Apa?? Abang mau menggauli Anye seperti malam itu?? Silakan Bang. Nyawa anak Abang taruhannya?"
Sungguh dalam dada Rinto rasanya tercabik, rasa sakitnya melebihi puluhan bahkan ratusan panah menusuk jantungnya.
"Bisakah satu kali saja kamu percaya sama Abang?" tanya Bang Rinto meraih tangan Anye.
Anye menepis tangan Bang Rinto dengan kasar.
"Anye nggak mau anak ini tau papanya sekasar ini sama mamanya"
"Gathan... Kamu jalani hukumanmu..!!!" perintah Rama.
"Siap laksanakan..!!!" jawab Gathan.
"Abang.." Sekar tidak tega Bang Gathan menerima hukumannya.
Anye melangkah keluar dari ruangan ayahnya. Bang Rinto pun berusaha mengejarnya.
"Dek.. tunggu..!!"
"Apalagi Bang?? Ternyata selama kita saling jauh, Abang tidak berusaha untuk mengubah sikap" Anye terlihat benci sekali dengan Bang Rinto sampai tidak ingin suaminya menyentuhnya sedikit pun.
Anye pergi meninggalkan Bang Rinto. Bang Rinto mengejarnya.. tapi raganya sama sekali tidak mau bersimpati padanya. Belum sampai ujung jalan, Bang Rinto sudah hampir tumbang.
Ezhar berniat membantu Abangnya itu tapi Bang Rinto mencegahnya.
"Kejar Anye..!! Lindungi dia..!!" pintanya pada Ezhar.
***
"Om nggak apa-apa?" tanya Anye saat menjenguk Om Candra di rumah sakit.
"Tenang saja sayang. Om baik-baik saja" jawab Om Candra.
"Maafkan suami Anye ya Om. Sebenarnya Bang Rinto bukan orang yang jahat, Bang Rinto hanya terlalu melindungi Anye dan calon bayinya saja"
"Apakah kamu tahan dengan sikap kasar dan temperamentalnya? Agak terlalu bahaya untukmu dan bayimu" kata Om Candra mengingatkan.
"Bang Rinto tidak seperti yang Om pikirkan" ucap Anye.
"Terserah apapun katamu. Kalau suamimu kasar padamu.. kamu bisa datang ke tempat Om Candra"
Ezhar sedikit ragu setelah mendengar percakapan antara Anye dan Pak Candra.
__ADS_1
"Ambigu sekali ucapan Pak Candra. Tapi sebagai pria, ucapan Pak Candra itu jelas membawa kecurigaan. Tak salah juga kalau Bang Rinto sampai seemosional itu"
***
"Dimana Danki mu?" tanya Rama saat mengunjungi Rinto di rumahnya.
"Ijin.. Danki sedang ada di dalam" jawab Thomas.
Rama masuk ke dalam rumah Rinto dan Anye.
"Astagfirullah.. ini rumah apa kapal pecah?" gumam Rama saat melihat rumah Anye berantakan.
"Anyee.. kembali dek..!!!" terdengar suara dari dalam kamar. Rama segera membuka pintu itu. Asap mengepul keluar dari dalam kamar.
"Ya Allah.. Rinto..!!!!" Rama melihat Rinto begitu berantakan. Tidak ada semangat sama sekali.
"Apa secemburu itu kamu sama Candra"
"Tolong beri saya waktu untuk berpikir yah..!!" pinta Rinto.
"Apa sekarang perasaan dan pikiranmu sedang bersatu. Isi kepalamu sudah seperti benang ruwet. Bisa nggak di ajak berpikir?" tegur ayah Rama.
"Ayah nggak akan ikut campur dalam urusan rumah tanggamu. Kamu pasti punya alasan dan bukan hanya marah tanpa sebab" ucap Ayah Rama, sebagai pria tentu sedikit banyak ia paham dengan sikap Rinto.
"Terima kasih banyak ayah sudah mau mengerti" kata Rinto.
Ayah Rama tersenyum getir dan menyerahkan semua masalah ini agar diselesaikan menantunya.
***
Ya Allah Tuhan.. bantu aku merebutnya kembali. Berikan ketegasan ku sebagai imamnya. Kalau cara kasar tidak bisa. Aku harus merebut istriku dengan cara halus. Bismillah.....
Bang Rinto mengusap air mata yang hendak menetes dari bingkai mata elangnya. Ia menarik nafas lalu membuangnya pelan. Hari ini sudah satu minggu sejak kejadian hari itu. Setiap harinya Bang Rinto hanya bisa mengawasi istrinya dari jauh, tapi haru ini kerinduannya sudah memuncak. Usia kandungan Anye sudah enam bulan. Ingin sekali rasanya memeluk dan mencurahkan kasih sayangnya.. tapi keadaan lah yang menjadi penghalang.
"Nggak ada cara lain.. Buat apa aku jadi laki kalau nggak bisa ngerayu istri..!! Semangat Rin...!!! Kamu bisa..!!! dulu jadi 'garangan' kamu bisa.. masa istri sendiri nggak bisa kamu taklukan" gumamnya menyemangati diri sendiri.
Bang Rinto membunyikan klakson mobilnya. Bang Rinto bersiul nakal menyapa istri tercintanya.
"Cah Ayuu.. Abang antar yuk..!!" Bang Rinto melajukan mobilnya pelan mengikuti langkah sang istri saat akan berangkat ke kampus pagi hari.
"Anye bisa berangkat sendiri" jawab Anye ketus.
"Oohh begitu..!!" Bang Rinto terlihat santai saja. Tepat di depan sana ada Della anak Serma Joko. Ia berangkat kerja sebagai guru honorer di sebuah SMP.
Bang Rinto bersiul pada Della juga.
"Eehh.. ternyata Della.. saya antar kerja yuk..!!" ajak Bang Rinto memanasi Anye.
"Sudah pak, terima kasih. Saya naik angkutan kota saja?" tanya Della masih sopan karena perwira muda itu masih atasan ayahnya.
"Ayo naik saja. Daripada terlambat" ajak Bang Rinto.
Karena melihat ada Bu Danki, Della mau ikut dengan Pak Rinto. Baru satu langkah Della berjalan, Anye membuka pintu mobil dan langsung duduk di sebelah Bang Rinto.
"Lho.. katanya bisa berangkat sendiri?" tanya Bang Rinto menahan tawanya.
"Kaki Anye mendadak sakit" jawabnya singkat.
"Permisi Bu. Saya numpang..!!" kata Della meminta ijin.
"Oohh iya.. silakan" Jawab Anye menyunggingkan senyum manisnya.
Bang Rinto melajukan pelan mobilnya karena ingat sedang membawa bumil.
Pikiran Anye kesal sekali karena Bang Rinto membawa wanita lain di dalam mobil mereka. Ia gemas sampai meremas ujung pakaiannya dengan kesal.
Bang Rinto menyalakan musik di mobilnya dan mulai menyanyikan lagu cinta untuk istrinya.
.
.
__ADS_1
.