
"Alaah alaaah..iki gawe opo to dek???" Bang Zaldi menyumpal hidungnya sambil melihat banyaknya make up yang dibeli Arnes.
"Ya buat dandan" jawab Arnes.
"Abang nggak ikhlas belikan Arnes??"
"Nggak ikhlas gimana? ATM kau semua yang bawa lho yank..!!"
"Yang Abang bawa juga kamu tau isinya semua. Coba.. pernah nggak Abang larang kamu beli apa yang kamu mau?" ucap Bang Zaldi.
"Tadi Abang tanya gawe opo? Ini biar Arnes cantik Bang. Biar Abang cinta sama Arnes"
"Ya Allah.. opo maneh? Kapan Abang nggak cinta??" Bang Zaldi mengacak rambut cepaknya dengan gemas.
Mata Arnes berkaca-kaca. Bang Bima sedang berbicara berdua juga dengan Puri di belakang mobil, Bang Zaldi seketika tidak tega melihatnya.
"Wes, nggak usah nangis.. mau cari apalagi ini. Abang temani..!!" Bang Zaldi akhirnya mengalah.
"Beli anting-anting baru" pinta Arnes.
"Tapi.. kita pulang dulu. Anak-anak pasti cari kamu. Nanti sore Abang antar, kita jalan berdua" kata Bang Zaldi.
Ampuun dah bojo. Buat apa beli sapu mata banyak banget. Apa mau buat tambah poni???
...
"Habiiis.. pintar anak papa. Sana ke bibi dulu Bang" perintah Bang Zaldi usai menyuapi Ibra.
Arnes pun sudah selesai menyuapi Ryan.
"Astaga dek.." Bang Zaldi sangat kaget karena Arnes memasang full make up meskipun menyuapi Ryan hanya di dalam rumah.
"Cantik nggak Bang??" tanya Arnes.
"Cantik.. tapi lebih cantik lagi kalau nggak pakai" jawab Bang Zaldi.
Arnes kesal dan cemberut karena usahanya untuk berdandan jadi sia-sia.
"Arnes dandan untuk Abang. Kenapa Abang nggak suka"
"Abang bukannya nggak suka. Siapa suami yang nggak suka di sambut istri yang cantik begini. Tapi lebih baik nggak usah dandan menor begini lah dek, biasa saja..!!" kata Bang Zaldi.
"Kalau Arnes nggak dandan, Abang bisa melirik perempuan lain"
Bang Zaldi membuang nafas panjang.
"Bi.. Tolong ini anak-anak di ajak jalan-jalan..!!"
Bibi segera datang lalu mengambil Ibra dan Ryan. Membiarkan pasangan suami istri itu bicara berdua. Bibi tersenyum melihat wajah Arnes yang tampak merajuk.
"Selama Abang menikah sama kamu. nggak pernah ada niat Abang untuk mendua. Kamu saja sudah memenuhi apa yang Abang butuhkan. Ketenangan, anak, perut, penampilan bahkan kepuasan sudah kamu berikan. Untuk apa Abang melihat perempuan lain"
"Tapi kebanyakan laki-laki selalu kurang dalam hal itu"
Bang Zaldi mencabut bulu mata Arnes, tangannya juga mengambil tissue untuk sedikit menghapus make up istrinya yang terlalu tebal.
"Kamu benar, tapi itu bukan Abang. Mana sempat Abang lirik perempuan lain kalau Abang selalu puas dengan semua caramu menyelesaikan hasratt Abang"
Bang Zaldi menggendong Arnes masuk ke dalam kamar.
"Mau apa Bang. Ini masih sore"
Bang Zaldi tertawa mendengarnya. Wajah Arnes memerah malu-malu.
"Memangnya kamu pengen Abang buat apa? Abang cuma mau hapus make up mu"
Arnes semakin malu mendengarnya. Ia mengira Bang Zaldi akan membelainya dengan hangat, entah kenapa belakangan ini dirinya selalu rindu.
Bang Zaldi tau Arnes sangat menginginkan nya, tapi istrinya itu sangat gengsi untuk mengatakannya. Dirinya sudah dalam kondisi tegangan tinggi hanya saja menggoda Arnes memiliki sensasi tersendiri untuknya. Tangannya menyenggol disana sini tapi seolah tidak ada tanda untuk mengajak istrinya untuk 'berbuat baik'.
"Bang.. sini..!!" kata Arnes mulai terpancing.
"Abang mau tidur sebentar, capek. Katanya nanti mau jalan lagi" jawab Bang Zaldi seakan cuek.
Arnes cemberut dan langsung berbaring menghadap dinding. Bibirnya manyun dan kesal.
"Istri Abang kenapa sih?" tanya Bang Zaldi pura-pura tidak peka.
__ADS_1
"Ngantuk, mau tidur" jawabnya tapi mulai menangis.
"Kalau Abang yang mau aja harus cepat, giliran Arnes.. Abang nggak mau tau" gumamnya lirih hampir tak terdengar.
Lama kelamaan Bang Zaldi sendiri yang tidak tahan melihat ekspresi imut sang istri yang sedang ingin di belai manja.
"Uluuuhh.. bojoku ngambekan. Abang tau kok istri Abang lagi pengen di sayang" bisik Bang Zaldi sambil memeluknya dari belakang dan mendekapnya erat.
"Kamu memang paling bisa buat Abang setengah mati kelojotan. Nggak mungkin lah suami nolak kalau di tawarii" Bang Zaldi semakin memeluk Arnes, tangannya mengabsen wilayah tempurnya.
//
"Abang mana Nes??" tanya Bang Bima.
"Tidur Bang, capek katanya" jawabnya sambil menggulung rambutnya dengan handuk.
Bang Bima manggut-manggut paham karena pasti Bang Zaldi lelah usai mencangkul sawah.
"Kenapa Bang?"
"Nggak ada apa-apa. Hanya soal pekerjaan saja. Oiya, itu ada susu untuk ibu hamil. Sudah ku bagikan. Hanya ada empat ibu hamil di kompi. Mau di stop atau lanjut pengirimannya?" tanya Bang Bima.
"Lanjut Bang. Bang Zaldi minta ibu hamil harus sehat dan menjaga kandungan sebaik mungkin" jawab Bang Zaldi.
"Iyalah Bim. Aset negara itu. Buatnya bikin nafas putus sambung. Di jaga lah" sambar Bang Zaldi sembari menggeliat usai bangun tidur.
Bang Bima menggeleng, kaos dan celana pendek terbalik.. jambul acak-acakan.
"Mandi Bang.. jam berapa ini?" tegur Bang Bima.
"Saya tunggu di kantor Bang. Ada pancaran"
Bang Zaldi hanya mengacungkan jempolnya lalu berjalan ke kamar mandi.
//
Bang Zaldi tersenyum puas karena besok Inggrid akan di panggil pihak kepolisian. Ia sudah memfitnah dan mencemarkan nama baik Arnes.
Semua proses penangkapan Inggrid benar-benar diredam dan dirahasiakan oleh Bang Zaldi agar Arnes tidak terlalu banyak pikiran. Siang dan malam Bang Zaldi mencari bukti dan cara agar keluarga Guntur itu mendapatkan sanksi yang sesuai dengan perbuatannya.
"Alhamdulillah.. kamu bisa tenang dek" Bang Zaldi duduk bersandar di sofa ruangannya. Kepalanya terasa pening.
"Abang periksa aja lah besok, takut kenapa-kenapa" saran Bang Bima.
"Iya Bim. Oya Bim.. saya lihat di kebun belakang ada mangga sama ceremai. Tolong anak-anak suruh panen ya. Saya mau panjat pohon sirsak" kata Bang Zaldi.
"Laah Bang, sore begini mau panjat pohon??" tanya Bang Bima.
"Ini perintah Bima..!!"
"Siaap..!!"
//
Buah-buahan sudah terkumpul di keranjang. Panen sore ini lumayan banyak dan bisa di bagikan pada seluruh warga kompi. Mereka bersuka cita membantu Pak DanSat panen raya.
Tingkah Puri dan Arnes begitu luar biasa. Mereka bahu membahu mengumpulkan hasil panen yang berjatuhan. Kadang berebut seperti anak kecil dan melupakan jati diri mereka sebagai ibu komandan.
"Kamu jangan mondar mandir di situ dek. Kepalamu kuat di adu sama sirsak??" tegur Bang Zaldi.
Bang Bima yang menyadari itu segera mengambil sebuah mangga masak pohon.
"Wahai dua makhluk merepotkan, duduk sini..!! Ada mangga nih"
"Aku mau Bang" Puri setengah berlari menghampiri Bang Bima.
"Heehh.. jangan lari. Abang jitak kamu ya..!!!" Bang Bima memelototi Puri.
"Arnes sini..!!" ajak Bang Bima. Ia tau adik ya itu lumayan menjaga jarak sejak kejadian mengenaskan itu.
Hal kecil itu membuat Arnes begitu terharu. Ia menangis dan menubruk memeluk Abangnya.
"Heeii.. kenapa kamu dek..!! Kenapa adik Abang belakangan cengeng sekali" tegur Bang Bima.
Puri tersenyum melihat suaminya tak lagi menjaga jarak dengan Arnes.
"Bang, mana mangganya??" Puri sengaja menyudahi hal menyedihkan itu.
__ADS_1
Bang Bima segera mencuci mangga tersebut. Sisi kanan untuk sang istri dan sisi kiri untuk adik perempuannya.
Sedang asyiknya menikmati mangga..
grsskkkkk..grrssskkkkk... bruuuggghhhhh..
"Astagfirullah.. aarrgghh..!!" Bang Zaldi menggelinjang karena terbanting dari atas pohon.
"Abaaaanngg..!!!" pekik Arnes, Bang Bima dan Om Adi bersamaan.
"Daann..!!!!!!"
"Tolong Bim..."
"Iya Bang.." Bang Bima dan Om Adi bersiap mengangkat Bang Zaldi sambil memperhatikan apakah ada luka ataukah patah tulang.
"Itu sirsaknya masih tersangkut di pohon"
"Ya Allah Abaaaang.. pikir dulu ini badan Abang..!! Kenapa malah jadi sirsak yang Abang pikirkan" tegur Bang Bima jadi jengkel.
Arnes masih panik melihat suaminya memercing kesakitan.
"Apa yang sakit Bang?" ia berusaha menyentuh paha Bang Zaldi.
"Jangan sembarang sentuh dek. Salah pegang kamu nanti..!!!"
"Arnes belum pegang Abaang" protes Arnes.
"Iihh.. Arnes melepas sandalnya dan langsung memukul Bang Zaldi. Saking paniknya Bang Zaldi langsung menghindar dan hal itu langsung mengakibatkan salah sasaran.
"Ya Allah Arneessss.. kalau yang itu patah, tanggung sendiri akibatnya yaa..!!!!! Nangis kejer kamu nanti..!!" bentak Bang Zaldi menggeram kesal.
"Aduuh Bim.. adikmu ini kurang ajar sekali..!!!"
Bang Bima tak tau harus tertawa atau sedih melihat keributan Bang Zaldi dan Arnes.
:
"Bawa pergi sirsaknya, saya geli lihatnya. Baunya ya ampun. Hhkkk" Bang Zaldi berkali-kali mual melihat bentuk sirsak yang botak dan berduri tipis.
"Kalau Abang geli, kenapa tadi Abang panjat??" kata Om Adi.
"Tadinya saya nggak geli. Begitu sampai di atas baru saya geli" jawab Bang Zaldi lemas kemudian kembali mual di ember yang di siapkan Bang Bima meskipun tak ada lagi yang keluar dari perut seniornya itu.
"Aduuh Bim.. saya nggak kuat lagi" darah segar mengalir lagi dari hidung Bang Zaldi.
"Abaaaanngg.. Abang kenapa??" Arnes menangis memeluk Bang Zaldi yang terbaring lemah.
"Ya ampun, ayo kita bawa saja Bang Zaldi ke rumah sakit" ajak Bang Bima.
...
"Hasilnya baik, cek lab juga baik, tidak ada yang mengenai hal vital. Nggak ada yang perlu di cemaskan" kata dokter.
"Jadi suami saya kenapa dok???" tanya Arnes cemas.
"Kapten Zaldi terlalu memaksakan diri saat tubuhnya sudah benar-benar lelah. Jadi saya sarankan untuk di rawat inap dulu. Kalau begini khan Komandan bisa istirahat. Kakinya juga sedang memar karena terkilir" jawab dokter.
//
"Alaah.. pulang saja lah. Buat apa di rawat segala" Bang Zaldi ingin melepas jarum infusnya.
"Berani Abang lepas.. jatah begal Abang, Arnes potong. Nggak ada lagi pungutan liar" ancam Arnes.
"Yaaa.. kok gitu dek.." wajah Bang Zaldi sudah cemas bukan main.
"Abang itu mau sembuh nggak sih???" Arnes memelototi Bang Zaldi. Seketika DanSat tanpa tanding itu kembali merebahkan tubuhnya dan menarik selimut hingga sebatas dada.
"Naah.. gitu khan ganteng"
"Jatah Abang jangan di potong ya dek"
"Ya Allah Bang, sempat amat ya mikir begitu. Kaki sama pinggang Abang saja hampir patah. Nggak habis pikir deh Arnes sama Abang" Omel Arnes jengkel menghadapi Bang Zaldi.
.
.
__ADS_1
.
.