Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 69. Karena aku mencintaimu ( 3 )


__ADS_3

"Pa_paaaa..!!!!!!" Ibra berlari kecil dengan langkahnya yang masih belum lancar berjalan.


"Jagoan Papa. Sini nak..!!" Bang Zaldi menciumi wajah Ibra. Dua setengah bulan sudah ia tidak bertemu dengan putra kecilnya.


"Papa ini seorang pembunuh, bukan satu dua orang saja yang Papa habisi nyawanya. Apa kamu bisa menerima semua itu nak? Papamu ini bukan pria baik-baik. Tolong jangan benci Papa nak" Ia menangis haru bisa memeluk putra kecilnya yang begitu ia rindukan. Kemudian menggendongnya dan memeluk Arnes.


"Apa kabar dek?"


"Harusnya Arnes yang tanya, bagaimana keadaan Abang. Kenapa wajah dan badan Abang lebam. Abang kurus sekali" Arnes sedih sekali melihat penampilan Bang Zaldi apalagi suaminya itu sudah tidak 'memakai' kuncung kesayangannya lagi. Kumisnya sedikit lebih tebal, kulitnya pun terlihat lebih kering, kusam dan gelap.


"Abang baik-baik saja selama kamu juga baik-baik saja" jawab Bang Zaldi terlihat tegar.


Papa Rinto dan Mama Anye rasanya tak sanggup menghadapi semua ini. Hati mereka ikut sakit.


"Kalian bicaralah berdua, nanti papa kembalikan Ibra kesini lagi. Sesuai jadwal, kalian punya waktu dua jam untuk 'bicara'. Kurang lebih satu jam lagi Papa antar Ibra kesini. Cukup khan waktunya?" kata Papa Rinto.


"Lebih dari cukup Pa. Terima kasih banyak"


//


Bang Zaldi bermain dengan Ibra di sisa waktu yang tidak banyak itu. Ibra senang sekali bisa bertemu dengan Papanya.


"Pak Zaldi.. waktunya sudah habis"


Bang Zaldi tersenyum getir.


"Abang.. Papa kerja dulu ya. Bang Ibra pulang sama Mama, Opa dan Oma. Jalan-jalan ke mall sana beli mainan"


"Nggak mauu.. ikut papaa" teriaknya saat Opa Rinto berusaha menggendong cucunya.


"Abang Ibra dengar Papa. Harus nurut apa kata Oma sana Opa apalagi sama Mama. Kasihan Mama le" bujuk Bang Zaldi.


"Abang pulang ya"


Akhirnya Ibra mau pulang juga. Bang Zaldi memejamkan matanya tak sanggup melihat langkah Arnes dan Ibra yang berjalan menjauh darinya.


"Saya antar mereka pulang dulu Bang..!!" pamit Bang Bima.


"Titip anak istriku Bim"


"Pasti Bang.. percayakan sama saya" jawab Bang Bima.


...


Malam hari Bang Zaldi hanya bisa berguling-guling di 'ranjangnya'. Ranjang beton beralas tikar yang terasa dingin menusuk kulit, tubuhnya memang lelah, tapi hatinya bahagia sudah sempat bertemu putranya terutama sang istri. Waktu yang benar-benar hanya sebentar, ia manfaatkan sebaik mungkin.


***


Tiga minggu sudah terlewat, dua minggu lagi akan ada sidang untuk kasus Bang Zaldi. Tuntutan keluarga almarhum Guntur semakin berat untuk di rasakan.

__ADS_1


"Saya menolak keras. Ini semua tidak masuk akal" tolak Bang Zaldi.


"Saya sudah menghilangkan nyawa Bang Guntur. Jangan sampai saya menghilangkan nyawa kalian juga karena terlalu memaksakan sesuatu yang tidak mungkin. Kalau hanya membiayai anak Bang Guntur, iya.. Insya Allah saya bersedia karena saya menghilangkan nyawa seorang kepala keluarga. Tapi kalau untuk menikahi istri Guntur sebagai timbal baliknya. Maaf.. saya tidak mau memenuhi ide gila ini. Tolong para penegak hukum bisa menyelesaikan masalah ini. Sekalian team medisnya. Apakah satu keluarga Bang Guntur ini sinting atau waras..!!!!!" jujur saat ini keadaan Bang Zaldi sudah terlalu stress dengan segala masalah yang ada.


"Istri Guntur mengancam akan bunuh diri kalau tuntutannya tidak di kabulkan" kata Ibu Guntur.


"Itu bukan tuntutan, tapi akal busuk" jawab Bang Zaldi.


"Kalian tidak bisa memaksakan hal yang tidak masuk akal seperti ini. Saya pikir permintaan ini tidak layak untuk di utarakan disini" tegur Dan Arben.


Ibu Guntur mencibir dengan kesal. Sungguh ia sangat tidak menyukai kegagalan.


"Keluarga yang menyusahkan. Tak tau diri. Bisa-bisanya dulu Guntur cinta sama wanita bernama Arnes itu"


"Astagfirullah hal adzim.. pantas almarhum Wadanyon seperti itu sifatnya. Ibunya saja begitu" kata beberapa orang anggota Bang Zaldi.


-_-_-_-_-


"Baiklah pa, katakan pada keluarga Bang Guntur. Arnes rela membiayai hidup putranya mulai dari kelahiran hingga nanti dewasa asal dengan catatan.. anak itu ikut bersama Arnes, bukan asuhan keluarga almarhum Bang Guntur" jawab Arnes saat Papa menanyai keputusannya atas permintaan Bang Zaldi.


"Heehh Arnes.. jangankan Bang Zaldi, Abang saja nggak sudi harus mengurusi anak dari b******n itu. Kemana kamu pakai otakmu itu??" bentak Bang Bima.


Arnes menangis sesenggukan mendapatkan bentakan dari Bang Bima.


"Jangan kasar lah Bang. Kita semua sedang dalam situasi tegang. Kita memang tidak akan pernah setuju Arnes berurusan dengan keluarga Guntur lagi, tapi Abang juga nggak harus memarahi Arnes" tegur Bang Putra.


"Sudah.. kalian jangan berdebat..!!!!" Papa Brian menengahi suasana. Papa Rinto sudah duduk lemas memikirkan semua masalah pelik yang tak kunjung usai.


"Abang rindu Arnes nggak ya pa?" tanya Arnes pada papanya.


"Ya kalau kamu tanya Abangmu sebagai laki-laki. Yaa.. papa akan jawab rindu, tapi rindu itu dalam batas wajar tapi kalau kamu tanyakan Abangmu sebagai suami.. tentu semua akan berbeda. Rindu seorang suami adalah kerinduan paling pedih. Berpura-pura tegar, kuat yang tertutup dalam balutan rasa egois dan gengsi"


"Kapan Arnes bisa ketemu Abang lagi pa?"


"Minggu depan dek" jawab Bang Righan.


"Boleh Arnes ketemu Bang Zaldi?" tanya Arnes menatap mata Bang Bima.


"Boleh lah, kamu khan istrinya. Besok Abang antar..!!" jawab Bang Bima.


***


Mama Anye ikut menemani Bang Bima, seperti waktu itu agar Arnes dan Bang Zaldi bisa sedikit mempunyai ruang untuk berdua.


"Kamu sakit dek??" tanya Bang Zaldi sambil menutup pintu. Mau tidak mau Bang Zaldi harus pintar membagi waktunya untuk memberi cintanya pada Arnes dan juga Ibra.


"Nggak Bang. Arnes hanya rindu Abang" ucapnya pelan dan sikapnya kali ini begitu manja. Tangan Arnes melepas kancing baju Bang Zaldi.


Bang Zaldi mengerutkan keningnya. Ya.. dalam suami istri tidak masalah siapa duluan yang akan meminta untuk menuntaskan rasa rindu tapi kali ini Arnes begitu manja.

__ADS_1


"Kamu kenapa dek? Wajahmu sedih sekali"


Arnes menangis di dalam dekapan dada bidang Bang Zaldi.


"Abang cepat pulang, Arnes maunya Abang"


"Sabar ya dek..!! Kalau lancar, sebentar lagi Abang ada test kejiwaan. Ada sidang pertama dan kedua. Nanti ada keputusan apakah Abang akan tetap berdinas atau lepas seragam. Kalau Abang lepas seragam.. hukumannya bisa sampai lima tahun. Kamu siap apa tidak dek?"


"Siap.. Arnes siap..!!" Arnes menubruk Bang Zaldi hingga mereka berdua bergeser di atas ranjang. Bang Zaldi pasrah saat Arnes duduk di atas pahanyaa.


"Dek.. kamu bawa pesanan Abang kalau kesini lagi???" tanya Bang Zaldi sudah hampir tidak bisa mengontrol dirinya. Suaranya sudah berat.


"Nggak bawa" jawab jujur Arnes.


"Ya Allah dek. Terus apa maumu ini?? Kamu khan tau keadaan kita sekarang. Andaikan kita tidak dalam posisi ini, mau kamu hamil sekarang juga Abang siap dek. Hati Abang sudah remuk saat tidak bisa menemani ulang tahun pertama Ibra, hati Abang sakit mengingat kehamilan Ibra tanpa kasih sayang papanya dan kamu membesarkannya sampai usia sembilan bulan. Itu sakit dek.. sangat sakit"


"Semua sudah terlanjur Bang. Apa Abang masih terus ingin membahas dan membuang waktu??" tanya Arnes.


"Aahhhh.. sudahlah. Bismillah.. mudah-mudahan kamu nggak apa-apa setelah Abang apa-apakan" Bang Zaldi langsung beralih posisi. Bang Zaldi ragu untuk menyentuh Arnes tapi ia pun terlalu merindukan istrinya itu.


"Abang sudah cenat-cenut ini dek. Bisa nggak kamu jangan pasang wajah minta di serang begitu. Abang berani buat, tapi Abang belum berani tanggung akibatnya"


"Berani buat harus berani tanggung jawab donk Abaang" nada manja itu terdengar lagi membuat iman Bang Zaldi goyah dan runtuh.


"Aduuuhh.. sudahlah, mau jadi ya jadi sudah"


:


Hati Bang Zaldi teriris perih harus memberikan nafkah batin untuk Arnes di dalam sebuah kamar sempit yang jauh dari kenyamanan.


"Maafin Abang ya dek" ucap sesal Bang Zaldi.


"Sungguh Abang tidak ingin membuatmu susah jadi istri Abang. Abang ingin kamu bahagia bersama anak-anak kita, di rumah yang nyaman, ranjang yang empuk. Bukan seperti ini adanya"


"Arnes terima baik buruknya Abang. Tidak akan selamanya kita begini" jawab Arnes.


"Hmm.. Bang, Arnes mau bilang sesuatu."


"Apa itu sayang??"


"Ehmm.. nggak jadi deh Bang"


"Apa sih yank.. Mau lagi?? Masih ada waktu nih" tanya Bang Zaldi usai melirik jam tangannya.


"Mau paa.."


"Wuusshh.. manjanya. Kamu tumben sekali manja begini. Tapi jujur, Abang senang sekali dek. Full service buatmu ma..!!" Bang Zaldi kembali membujuk Arnes agar memberikan kehangatan padanya juga.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2