Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 119. Perhatian khusus.


__ADS_3

Bang Zaldi menyandarkan tubuhnya yang lelah pada sofa ruang tamu. Kepalanya pening memikirkan kelakuan Adi.


Kalau hal ini semakin di teruskan, ini bisa bahaya buat dirinya sendiri.. juga orang lain. Besok Adi harus kumpulkan berkas pengajuan nikahnya agar semuanya menjadi clear.


"Sudah bicara sama Om Adi Bang?" tanya Arnes lalu duduk di samping Bang Zaldi.


"Sudah dek, kelamaan jomblo buat otaknya konslet" jawab Bang Zaldi.


"Abang sudah suruh Adi bawa berkas pengajuan nikahnya besok"


"Kita serba pelan-pelan Bang. Takut anak-anak kaget. Masalah Om Adi saja rambut Abang sudah kebakaran begitu" kata Arnes.


"Iya sayang... Abang paham"


***


Esok harinya Om Adi membawa berkas pengajuan nikahnya. Ia sudah pasrah karena sudah di anggap mencoreng nama baik Kompi.


"Kamu jangan kesal atau sakit hati. Ada pengecualian kalau kamu melakukannya di luar kompi, tapi ini kamu lakukan di belakang gudang koperasi dan anak saya mengakui hal itu."


"Saya tidak kesal Bang, hanya saja saya belum memastikan dengan benar wanita yang saya bawa itu. Terus terang semua hanya have fun saja" jawab Om Adi.


"Astagfirullah hal adzim Adi. Kamu berani bermain-main dengan sembarang wanita??" Bang Zaldi sampai bersandar lemas merasakan adik littingnya itu.


"Terlalu lama jomblo apa tiba-tiba langsung membuat pikiranmu jadi nggak waras??"


"Siap salah Abang"


"Jadi bagaimana ini? Naik atau tidak??"


"Siap Bang.. menyesuaikan saja..!" jawab Om Adi.


***


"Papaa.. ayo main Barbie..!!" ajak si kecil Fia saat papanya baru saja pulang kerja dan melepas sepatunya.


"Fia sayang.. papa baru pulang kerja. Masih capek..!!" tegur Mama Arnes.


"Nggak apa-apa ya dek.. Mana barbienya? Dedek siapkan dulu. Papa mau mandi sama sholat sebentar" pamit Bang Zaldi sambil mencubit pelan pipi Fia.


Si kecil Fia langsung kegirangan dan menyiapkan semua mainannya. Ia bolak balik menoleh memastikan kapan papanya akan selesai mandi dan sholat.


:


Bang Zaldi menyisir rambut Fia. Suaranya pun lentur layaknya seorang wanita. Segala yang dia ucapkan layaknya sikap dan sifat Arnes terutama gaya bahasanya.


"Ini siapa ya yang suka taruh handuk sembarangan???"

__ADS_1


"Baju kotor dimasukan keranjang Bang..!! Atau Arnes jadikan keset nih..!!" ancam Arnes.


"Siapa tarik pakaian tidak di kembalikan lagi?? Ibra atau papa??"


"Sepatu ini tempatnya dimana Abaaang??"


"Ya ampun.. magic com tidak di tutup lagi. Apa satu rumah ini terserang Alzheimer???" ucap Bang Zaldi menirukan gaya Fia.


"Baang.. kaki Arnes sakit.. gendong..!!" ucapnya manja.


Arnes hanya melirik kesal mendengar dirinya sedang menjadi bahan permainan suaminya.


"Iihh.. papa kalau ngomong mirip Mama" kata Fia kecil.


"Hssstt.. iya donk. Biar papa ingat terus siapa yang suka jahatin papa" bisik Bang Zaldi pada Fia.


"Abang berani fitnah dan membuat cerita yang tidak-tidak.. ada jatah Abang yang berkurang..!!" ancam Arnes sambil menyambar handuk yang tergeletak manis di atas ranjang.


"Eeheem.. Makanya Fia harus nurut sama mama. Jangan seperti papa yang nggak nurut. Papa suka taruh sepatu sembarangan, baju kotor berserakan, magic com nggak di tutup. Mama khan sudah capek" gumamnya seolah menasihati Fia.


"Iya papa.."


"Anak pintar.. sana main sama Abang dulu. Papa mau bantu Mama ngepel lantai" bisik Bang Zaldi.


Bang Zaldi memeluk Fia dari belakang.


"Arnes capek lah Bang. Sudah bereskan ini itu tapi Abang masih letakan semua barang sembarangan. Tangan Arnes hanya ada dua, nggak bisa menjangkau semuanya" ucap Arnes jadi emosi.


"Iya.. iya.. Ya sudah istirahatlah, biar Abang yang bereskan semua" bujuk Bang Zaldi, ia merasa bersalah sudah membuat Arnes selelah ini. Mengurus tiga anak dan seluruh rumah beserta kegiatan seisinya.


"Tetap saja nggak akan beres. Baru lima menit di bersihkan nanti sudah hancur lagi" jawab Arnes.


"Ya namanya ada anak kecil, mau bagaimana lagi. Nanti kalau mereka sudah besar pasti kamu tidak akan menikmati hari seperti ini lagi. Sabar dek..!!"


"Yang salah itu Abang. Abang khan sudah paham bagaimana kerapian rumah, tapi kenapa masih saja berantakan"


"Alaah Gustii.. rewel e bojoku. Yo wes sini.. Abang peluk..!! Kurang di sayang-sayang ya jadi begini.. bawaannya emosian" Bang Zaldi mengangkat Arnes naik ke atas ranjang.


Seketika Arnes luluh mendapat perhatian lebih dari Bang Zaldi. Ia pun merajuk manja memeluk Bang Zaldi. Satu bulan ini karena Bang Zaldi sering melaksanakan dinas luar, perhatian Bang Zaldi jadi sedikit berkurang.


"Anak-anak asyik sendiri tuh, Abang pijat yuk..!! Tadi ada Bima sama Adi di luar" Bang Zaldi berdiri dan mengunci pintu kamar sembari mematikan lampu.


:


Bang Zaldi membersihkan rumah sementara Arnes tertidur pulas. Ia memberikan waktu pada istrinya untuk memanjakan tubuhnya yang sudah berusaha keras untuk merawat keluarga.


"Mamanya kemana Bang? Tumben anak-anak main sendiri" tanya Bang Bima.

__ADS_1


Bang Zaldi menyulut rokoknya.


"Lagi tidur. Kasihan mengerjakan pekerjaan dalam" jawab Bang Zaldi serius.


"Oohh.. makanya capek ya Bang"


"Iyaa.. biarlah sekali-kali Arnes tidur tanpa gangguan anak-anak" Bang Zaldi melanjutkan mengepel lantai.


"Tapi begitu Abang yang ganggu, akhirnya bisa tidur juga ya Bang"


Usaha Bang Zaldi yang tadinya sedang mengepel lantai teras jadi terhenti sejenak. Ia merasa sepertinya Bima sedang meledeknya. Bang Zaldi melirik ke arah Bang Bima yang sedang tersenyum penuh ribuan tanda tanya padanya.


"Ku kira kau ini serius tanya tapi ternyata hanya ingin mengorek informasi rahasia. Kurang ajar" jawab Bang Zaldi.


"Hehehehe.. saya mau pulang aahh.. temui Puri. Siapa tau dia lagi ingin ku bantu bereskan urusan dalam" kata Bang Bima.


"Bimaaaa..!!!" Bang Zaldi melempar sikat sepatu yang ada di sampingnya.


-_-_-_-_-


Malam sudah tiba. Arnes selesai menyiapkan makan malam untuk semua, ia hanya menatanya saja karena Bang Zaldi yang memasak menu makan malam hari ini. Arnes duduk masih merasakan lelah.


"Masih capek dek? Besok kita periksa ke dokter ya?"


"Mungkin karena kemarin haidnya banyak sekali Bang" jawab Arnes sambil memijat pelipisnya.


"Sepuluh hari ya? Lama sekali. Untung satu bulan ini Abang sering dinas, jadi nggak begitu terasa" gumam Bang Zaldi.


"Yang ada di pikiran Abang hanya itu saja"


"Itu faktanya. Di otak pria dewasa itu rata-rata terbesarnya hanya ada pekerjaan dan s*x" jawab Bang Zaldi.


"Iiisshh.. Abang"


"Anak-anak mama.. Ayo makan..!!" ajak Arnes.


***


"Bagaimana dok?" tanya Bang Zaldi yang selalu ikut kemanapun Arnes pergi.


"Dari hasil USG ini menunjukan kalau ibu......"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2