
Bang Rinto menggendong Bima dan menggandeng Seno sedangkan Bang Brian menggendong Rhigan lalu menyerahkan penjagaan pada Anye dan Ariani yang langsung bergabung dengan ibu-ibu yang lain.
#
"Pelan-pelan ya Bu..!!" Anye menangis sesenggukan saat melihat Bima di imunisasi, Ariani tak kalah heboh saat melihat Rhigan mendapatkan imunisasi nya.
"Bimaaa"
"Jangan kasar ya Bu..!!" pinta Ariani.
"Anak mamaaa" tangis Ariani akhirnya pecah juga.
Rinto menoleh menatap Brian.
"Anak-anak kenapa Bri??" Rinto membuang rokoknya jauh-jauh.
"Mana kutahu.. Ayo kita lihat" ajak Brian.
Rinto dan Brian pun akhirnya menembus barisan ibu-ibu dan segera menuju ruangan imunisasi.
"Lahdalaaah.. ini siapa yang di imunisasi.. siapa yang mewek" Bang Rinto langsung mengambil alih Bima yang bahkan tidak menangis. Seno pun asyik bermain, tak berbeda dengan Bima.. Rhigan juga sudah diam dalam gendongan ibu pengurus posyandu.
"Heeii dek.. sudah diam..!! Malu donk nangis kejer sudah nggak bisa di bedain sama balita" tegur Bang Rinto sambil menenangkan Anye yang ngeri dengan jarum suntik.
"Iya nih.. jangan nangis dek, anaknya aja sudah nggak nangis tuh" kata Bang Brian mengusap air mata Ariani.
"Terima kasih ya Bu. Kami pamit dulu.. maaf istri saya merepotkan..!!" pamit Bang Rinto merasa tidak enak pada Bu bidan karena kegiatan sempat terhenti perkara dua istri perwira yang heboh.
#
"Dua kali dalam sehari, berulah bikin jantungan. Abang kira ada apa. Anaknya yang imunisasi, mamanya yang ribut nggak karuan. Apa kamu ini" Bang Rinto menepuk dahinya tak habis pikir dengan ulah kedua wanita yang naik mobil bersamanya terutama Anye.
"Anye kasihan sama anak-anak Bang" kata Anye menjelaskan.
"Itu imunisasi, demi kekebalan tubuh.. bukan mau di racun" Bang Rinto masih saja berdebat dengan Anye.
"Abang nih nggak tau perasaan seorang ibu, Anye yang melahirkan anak-anak Bang. Kasihan.. nggak tega" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Abang juga bapaknya, Abang juga yang buat.. tapi Abang nggak apa-apa. Nggak masalah demi kebaikan anak-anak" jawab Bang Rinto.
"Ya ampun.. kalian bisa diam nggak sih. Anak-anak sudah tidur nih. Suara kalian sudah seperti petasan saling sambar" tegur Bang Brian.
"Kamu juga Rin, sudah macam ibu-ibu nawarin panci di pasar. Ribut benar"
Wajah Bang Rinto datar saja tak menanggapi teguran Brian.
dddrrtt.. ddrrrtt.. ddrrrtttt
"Gimana??" tanya Brian saat menjawab panggilan telepon dari seorang anggotanya.
"Ijin Dan.. sudah saya parkir di rumah Pak Rinto. Mohon maaf baru mengabarkan karena langsung ada tugas dari Danyon"
"Nggak apa-apa. Terima kasih ya" jawab Bang Brian lalu menutup panggilan teleponnya.
"Motornya dimana?" tanya Bang Rinto.
__ADS_1
"Di rumahmu.."
"Ada-ada saja. Wanita memang tidak pernah cocok dengan alat listrik dan mesin" gerutu Bang Rinto.
"Abang jangan menghina ya..!! Dan Abang jangan lupa.. Anye sarjana mesin lho" tegur Anye sambil mengingatkan Anye tentang gelar sarjananya.
"Yaaa.. Setidaknya bisa memperbaiki mesin pangkas rambut saja sudah baik dek. Aahh.. minimal sambung kabel lah" kata Bang Rinto.
"Waahh.. Abang sudah kelewatan, Abang pasti kaget kalau tau keahlian Anye. Nggak boleh ya Abang meremehkan perempuan.. sekarang jamannya kesetaraan" jawab Anye dengan yakin.
"Itu benar. Tapi khusus kamu nggak"
Anye memalingkan wajahnya dengan kesal. Brian dan Ariani saling pandang lalu sesaat kemudian tersenyum geli mendengar Anye dan Rinto berdebat.
...
"Ini ASI si dedek" Anye menyerahkan stok ASI nya karena Bang Brian ingin tidur bersama putranya.
"Iya, aku bawa ya..!!" Ariani pun segera pulang menggendong Rhigan dan membawanya pulang. Setelah Ariani pergi.. Anye menutup rapat pintu rumahnya.
"Rhigan tidur sama papanya??" tanya Bang Rinto sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk setelah selesai mandi.
"Iya Bang" jawab Anye.
"Oiya.. Lusa ayah sama mama datang, Abang minta mereka untuk tinggal disini bahkan Gathan sudah meminta untuk tinggal di rumahnya tapi ayah dan mama minta tinggal di rumah transit. Bagaimana dek??" Bang Rinto minta pendapat Anye.
"Biarkan saja Bang.. itu permintaan ayah dan mama, mungkin mereka ingin punya waktu berduaan" kata Anye.
"Ya sudah kalau pendapatmu begitu. Jarak rumah transit tidak jauh dari rumah kita" jawab Bang Rinto.
***
"Kenapa kalian masih sama-sama? Harusnya kalian mengulang untuk di pingit" kata Ayah Rama.
"Buat apa yah di pingit begitu, kita bukan pengantin baru" jawab Bang Rinto datar.
"Ini khan pernikahan biar lebih mantap dan lega saja untuk kita. Apa salahnya kita awali dengan hal yang baik. Jangan sampai kamu lupa atau mungkin kebablasan. Pernikahan itu sakral Rin." ucap Ayah Rama.
"Benar kata Ayah Bang. Pernikahan itu sakral. Kebablasan sih nggak pernah yah, hanya saja Anye terbawa mimpi buruk sampai di badan Anye ada bekas tandanya"
Ayah Rama lumayan kaget, ia melirik Bang Rinto penuh penekanan.
"Anye bilang ke mama suruh siapkan pakaian ayah yang dingin sama buat kopi..!!"
"Iya yah" Anye segera beranjak dari duduknya.
Ayah Rama melirik Anye yang sudah tidak terlihat lagi.
"Kamu sudah sentuh Anye? Maaf bukan ayah mau ikut campur. Itu hak mu juga..." kata Ayah Rama.
Bang Rinto tersenyum kecil mendengar pertanyaan Ayah Rama.
"Belum yah"
"Terus apa yang Anye bilang tadi? ada bekas tanda???" tanya Ayah Rama.
__ADS_1
"Belum yah, sungguh. Saya hanya sedikit bermain-main saja dengan Anye, nggak lebih. Ayah tau lah rasanya penasaran" jawab Bang Rinto.
"Kalau sudah saya lakukan pasti Anye ngamuk yah, dan lagi pasti menimbulkan sensasi rasa.. Anye nggak merasakan apapun kecuali melihat 'tanda' "
"Ya sudah lah. Ayah nggak bermaksud apa-apa" Ayah Rama tetap merasa tidak enak bagaimanapun juga ini adalah urusan rumah tangga Rinto dan Anye.
"Ayah.. Abang.. ini kopinya..!!" Anye meletakan dua cangkir kopi, tak lama Bang Gathan datang dan ikut bergabung.
***
Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Setengah jam lagi akad nikah Rinto dan Anye akan di mulai.
Rinto gugup bukan main tapi bukan Rinto kalau tidak bisa menutupi perasaannya. Anye duduk di kursi tempat ia sedang di rias. Wajahnya hanya di rias tipis sesuai permintaan Bang Rinto tapi tetap terlihat anggun dan elegan.
Saat ini.. Ingin sekali rasanya Anye menangis kencang. Ini adalah pernikahan ketiganya tapi masih terbersit bahagia karena sebentar lagi ia akan menjadi istri seorang Rinto Dirgantara lagi.
...
"Bagaimana Pak Rinto. Apa sudah siap?" tanya penghulu.
"Siaaaaappp..!!!!!" jawab Bang Rinto dengan lantang.
"Astagfirullah hal adzim.. Ini bukan upacara di lapangan Rin..!!" tegur ayah Rama sambil mengusap dadanya.
"Maaf yah, saya agak gugup" Bang Rinto berkata jujur.
"Sudah nggak apa-apa. Biasa kalau pemimpin upacara, suka tegas dimanapun" kata pak penghulu.
"Ayo sekarang kita mulai akad nikahnya. Pak Rama silakan menjabat tangan Pak Rinto, pengantin wanita bisa duduk disini, atau mau di dalam saja?"
"Disini saja pak..." jawab Bang Rinto terdengar sudah tidak sabar.
"Kalem Bang" Gathan mengingatkan Abangnya.
Mama Dinda akhirnya menuntut Anye berjalan untuk duduk di samping Bang Rinto.
Bang Rinto sedikit salah tingkah, ia menunduk kemudian melirik dengan gelisah. Melihat Anye sulit untuk duduk bersimpuh, Bang Rinto membantu Anye untuk duduk dan menata gaunnya.
"Kenapa kamu pesan kebaya yang rumit begini sih dek?" tegur Bang Rinto.
"Anye suka bentuknya Bang" bisik Anye.
"Nyiksa Abang kamu dek?? Kancing bajunya saja nggak kelihatan" gerutu Bang Rinto.
"Akad dulu Rin.. jangan urus kancing baju dulu..!!!" tegur ayah Rama.
Rinto dan Anye menoleh baru menyadari kalau mereka tengah ribut sendiri di hadapan orang banyak.
Bang Rinto berdehem mengurangi rasa malunya. Tetap saja Rinto Dirgantara selalu berwibawa apapun yang terjadi.
"Maaf..!! Ayo kita mulai"
.
.
__ADS_1
.