
"Terus terang Abang rindu kamu."
Arnes langsung duduk lemas di samping Bang Zaldi. Ia tak habis pikir laki-laki bisa semarah ini memikirkan hal yang menurutnya tidak terlalu penting tapi mungkin bagi kebanyakan pria, terutama suami.. itu merupakan hal yang penting. Ada hal yang Arnes lupakan bahwa rileks nya seorang pria jika kebutuhan biologisnya sudah terpenuhi.
"Arnes juga rindu. Tapi Arnes tidak meluapkannya sampai semarah itu. Abang tidak ingin dekat dengan Arnes.. Arnes juga tidak marah meskipun Arnes tau belakangan Abang sengaja menjauh" tegur Arnes sekarang memarahi Bang Zaldi bagai memarahi Ibra dan Ryan. Bang Zaldi hanya bisa menunduk pasrah menghadapi kemarahan Arnes.
"Apa Abang pikir perempuan tidak punya perasaan yang sama??? Laki-laki atau perempuan sama saja. Laki-laki terlihat lebih b******k karena sifat jujurnya yang tidak basa basi jika sedang menginginkan nya, beda dengan wanita yang hanya tertutupi dengan rasa malunya. Dan Abang mengabaikan Arnes tanpa Arnes tau keinginan Abang yang sebenarnya"
"Maaf dek.. Abang kepikiran kamu sampai nggak bisa berpikir jernih" ucap sesal Bang Zaldi, tangannya mengambil salep untuk mengobati Arnes.
Tiga bulan ini Bang Zaldi benar-benar tidak menyentuh si Nyonya Zaldi kesayangan. Bang Zaldi beralih duduk di belakang Arnes. Tangan kekarnya sampai gemetar seperti baru pertama berdekatan dengan Arnes saat membuka kancing baju Arnes dan menurunkan hingga ke pinggang. Matanya memperhatikan hasil perbuatannya tadi. Luka di punggung istrinya terbuka.
"Ini pasti sakit sekali. Abang saja tidak tahan sakitnya.. bagaimana dengan mu?" Bang Zaldi mengecup pundak Arnes dan turun hingga ke punggung. Salep di tangannya masih ia genggam erat di tangan kiri.
"Masih bisakah Abang di maafkan??" tanyanya memelas. Lama-lama salep itu terlepas, seolah Bang Zaldi lupa dengan tujuan utamanya. Ia pun semakin mendekat dan mendekap Arnes.
"Abang di luar saja. Jengkel sekali Arnes sama Abang. Katanya mau oles salep, sekarang oles apa??" tegur Arnes.
"Sudah lama Abang tidur di sofa, masa anget sedikit saja nggak boleh dek?"
"Yang suruh Abang tidur di sofa itu siapa? Dua bulan Abang betah khan tidur disana di temani boneka bebek" jawab Arnes jengkel.
"Maaf to sayang.. Sini deh Abang obatin" bujuknya sekali lagi.
"Arnes obati sendiri saja. Abang nggak serius" Arnes merampas salep itu dari tangan Bang Zaldi. Fia tau sebenarnya Bang Zaldi masih berusaha menahan diri, tapi ia lebih tau seberapa batas ketahanan sang suami. Arnes sengaja menurunkan pakaiannya di depan mata Bang Zaldi hingga tepat dadanya berhadapan di depan mata.
Bang Zaldi memalingkan wajahnya dengan salah tingkah. Keringat dingin rasanya mulai meleleh. Ia menelan salivanya dengan kasar.
"Mau nggak??" tanya Arnes melembutkan suaranya. Ia menekan amarahnya meskipun merasakan sakit yang teramat sangat di punggungnya.
"Ngeledek atau nawarin nih??" tanya Bang Zaldi masih takut sembari sok jual mahal.
"Tawaran nggak akan datang dua kali. Arnes selesai haid, Abang bebas" jawab Arnes.
"Oyaa?? Papa minta boleh donk ya??"
Arnes pun tersenyum mengangguk.
__ADS_1
...
"Abang main di mini zoo sama Ryan ya di temani om-om..!! Papa lagi tidur, capek kerja" bujuk Arnes pada putra putrinya.
"Iyaa mamaaa..!" Ibra, Ryan dan Fia langsung berlari kencang mengikuti perintah sang mama.
"Kerja keras ya? Kapan adiknya Fia datang?" tanya Bang Righan.
"Nggak ada lagi Bang. Abang aja lah."
"Icha belum juga hamil Nes. Apa yang salah dari Abang?"
"Sabar Bang, baru juga nikah tujuh bulan" kata Arnes membesarkan hati Abangnya.
"Deekk..!!" panggil Bang Zaldi dari dalam kamar.
Arnes segera masuk ke kamar.
"Tolong pasang koyo donk. Punggung Abang terkilir nih..!"
"Makanya jangan bertingkah..!! Ingat umur" kata Arnes mengingatkan.
"Nantang banget ya, jangan nangis kamu kalau sampai hamil lagi"
***
Dua belas tahun berlalu.
Ibra pulang sekolah memakai seragam putih abu-abu miliknya. Usianya kini sudah enam belas tahun. Wajah tampannya sudah seperti Bang Zaldi di masa mudanya. Di belakangnya menyusul Ryan yang kepanasan terpanggang matahari berjalan bersama Fia.
"Bang Fia boleh pacaran nggak?" tanya Fia.
"Apa itu pacaran? Sekolah dulu yang benar dek. Jangan pikir pacaran" jawab Ryan yang lebih lembut daripada Ibra yang dingin dan kaku.
"Tapi Fia di bilang cupu Bang. Sudah kemarin nggak boleh lihat bioskop, sekarang tiap hari Abang atau Bang Ibra yang jemput" protes Fia.
"Nggak di jemput bagaimana? Ingat nggak kamu soal kamu hilang di tengah jalan karena nggak tau kode nomer angkot untuk pulang ke asrama yang gampangnya bukan main. Punya ia kepala tuh di pakai dek..!!" tegur Ibra yang paling di takuti Fia.
__ADS_1
"Abang tanya posisimu dimana? kamu jawab apa????"
"Di bawah tiang listrik" jawab Fia.
"Nah itu.. satu ruas jalan aja ada ratusan tiang. Mana Abang tau posisi mu ada di tiang yang mana" ucap kesal Ibra sambil mengunyah kerupuk kulit.
"Sudah lah Bang jangan di marahi terus. Kasihan Fia. Untung saja ponselnya di pasang GPS" kata Bang Ryan.
"Terserah mu saja. Kasih tau adikmu baik-baik.. jangan buat macam-macam atau kutampar dia" ancam Bang Ibra.
dddrrtt.. ddrrrtttt..dddrrttt..
Fia mengambil ponselnya. Ada nama Anjar disana. Fia tersenyum lalu segera berlari masuk ke dalam kamarnya.
"Hai cantik.. lagi apa?"
"Baru pulang sekolah Bang. Abang lagi apa?" tanya Fia.
"Abang selesai giat siang nih. Sama Dafa" bisik Bang Anjar.
"Tadi dia beli cincin yang manis untuk kamu, tapi cincin yang dia beli itu pilihan Abang"
"Tapi Fia sudah banyak cincin. Buat apa beli cincin lagi"
"Itu khan cincin pemberian orang tuamu. Tapi cincin pemberian dari seorang laki-laki itu jelas berbeda. Cincin itu tanda sayang"
"Abang sayang nggak sama Fia?" tanya Fia.
"Fiaaa...!!! Bicara sama siapa kamu???" suara keras Bang Ibra membuat Fia langsung mematikan sambungan teleponnya.
.
.
.
.
__ADS_1