
Papa Rinto dan Mama Anye sedang mengobrol dengan ibu Bang Zaldi. Bang Zaldi terus melihat ke arah jam tangannya dengan gelisah. Terbayang wajah Arnes yang menari-nari dalam ingatannya. Pikirannya tidak fokus saat duduk menemui rekan-rekannya dalam perjamuan sederhana di acara syukuran akad nikahnya. Bang Zaldi hanya tersenyum sesekali menimpali ledekan rekan-rekannya.
Apa jam ini rusak???? Kenapa berputarnya lama sekali??????
Sudah lewat dari satu jam tapi ia tidak enak untuk meninggalkan tamu-tamunya.
Di lihatnya dari sana Bima tampak sudah lelah, ia berjalan mencomot sepotong cake lalu melahapnya dengan cepat sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
//
Hari sudah semakin larut. Tamu pulang satu persatu. Bang Zaldi melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Duuhh.. kelewatan dua jam. Arnes sudah tidur apa belum?" gumamnya sambil melihat ke sekitar memastikan Papa, Mama dan keluarga yang lain dalam posisi yang aman. Secepatnya Bang Zaldi mengendap pelan masuk ke dalam kamar.
Bang Zaldi sudah masuk di dalam kamar dan memastikan sekali lagi keadaan sekitar.
"Aman.. " batinnya. Tangan Bang Zaldi at sangat perlahan mengunci pintu hingga tidak terdengar bunyi slot yang bergeser kemudian mematikan lampu utama kamar dan ganti menyalakan lampu kamar menjadi remang-remang mungkin tidak ada lima watt tanpa memperhatikan kondisi kamar.
Setelah dirasa aman, Bang Zaldi berjalan pelan menghampiri istrinya dengan tidak sabar. Arnes masih memakai pakaian adatnya dan terlihat sangat cantik menggelitik batinnya. Pakaian yang tadinya terasa longgar entah kenapa saat ini menjadi sangat sesak. Kamar ber AC itu tak bisa menyelamatkan tubuhnya yang tiba-tiba saja memanas. Bang Zaldi begitu gugup melihat gaya tidur Arnes sampai ia merasakan sekujur tubuhnya panas dingin.
"Mimpi apa Abang bisa memiliki kamu" gumamnya pelan.
Bang Zaldi menunduk dan mengecup kening Arnes, perlahan kecupan itu turun ke mata, hidung, pipi, dan terakhir bibir indah yang membuatnya penasaran.
"Sudah capek ya, sampai Abang di tinggal tidur" gumamnya gemas.
Mendengar suara Bang Zaldi, Arnes bangun dari tidurnya.. ia kaget bukan main saat Bang Zaldi menindihnya tiba-tiba.
"Jangan Bang..!!" Arnes mendorong kuat dada Bang Zaldi hingga tanpa sengaja menyentuh bagian dada Bang Zaldi yang masih memar
"Aarrgghh.. Jangan sentuh yang itu dek. sakit..!!" kata Bang Zaldi tapi tak menyurutkan niatnya untuk menuntaskan rasa penasarannya.
"Abang mau apa sih"
"Cek kode koordinat dek" jawab Bang Zaldi sekenanya karena ia sedang dalam konsentrasi dan tidak ingin di ganggu. Bang Zaldi mulai menelusuri satu persatu di wilayah buruannya tapi Arnes selalu menolak hingga membuat Bang Zaldi kesal.
"Bisa diam dulu nggak sih dek..!!!!!" suara Bang Zaldi mulai meninggi.
"Jangan sekarang..!!" bisik Arnes.
"Memangnya kenapa?? Katanya tadi boleh" protes Bang Zaldi sampai bibirnya harus di bungkam telapak tangan Arnes.
"Bang.. jangan keras ngomongnya..!!!" pinta Arnes.
"Nggak akan kedengaran asal kamu yang nggak berisik..!!" jawab Bang Zaldi bernada dingin. Bang Zaldi mengulang sekali lagi tapi semakin Arnes menolak, semakin hatinya penasaran.
"Bang..!!!!"
"Apalagi Ya Allah.. Abang sudah puyeng ini dek..!!!!!" ucap jujur Bang Zaldi sampai mengacak rambut cepaknya.
__ADS_1
"Ada Bang Bima disini..!!!!!" Arnes memiringkan kepala Bang Zaldi agar bisa melihat dengan jelas Bang Bima yang sedang tidur meringkuk di pojok ranjang memakai selimut.
"Lailaha Illallah.. Bimaaaaa...!!!!!!" gigi geraham Bang Zaldi sampai bergemeretak saking kesalnya.
"Kenapa Bima disini... Ya Allah....??????" Bang Zaldi nampak frustasi ambruk di atas tubuh Arnes lalu bergeser dari tubuh istrinya sambil menendang kesal ke segala arah. Bang Zaldi pun harus mengatur nafasnya yang seakan putus seketika.
Arnes tertawa geli tapi sekaligus merasa kasihan juga melihat suaminya terlihat kacau.
"Hiiihh.. Abang hantam juga nih Abangmu" Bang Zaldi mengepalkan tangan dengan kesal di atas jidat Bang Bima yang sedang tidur pulas.
Bang Zaldi hanya bisa mengelus dada menenangkan diri. Tak ada yang bisa ia lakukan selain sabar karena semakin ia mencuri kesempatan, semakin hasrattnya tak bisa di kendalikan.
"Awas kamu Bima.. Bikin nyawaku mau putus saja" gumamnya.
***
Bang Bima menggeliat di ranjang tanpa rasa bersalah sedikitpun. Diranjang berukuran 120 x 200 cm itu ia tidur memeluk Arnes dan tanpa sadar membiarkan Bang Zaldi tidur sendiri tanpa selimut di posisi paling pinggir. Bang Zaldi membiarkan Arnes tidur di tengah agar tidak jatuh dari ranjang.
Sudah merasa tersedutkan, Bang Zaldi bangun dan melihat Bima mengusai istrinya.
"Eeehh.. dasar ini berang-berang. Sudah semalam mengganggu ritual ilmu kebatinan ku, sekarang malah menguasai istriku, dasar pebinor..!!!!!" Bang Zaldi menepak jidat Bang Bima dengan telapak tangannya.
plaaaakk....
"Aawwhh.. siapa nih yang berani kurang ajar..!!" pekiknya dengan mata memerah khas bangun tidur.
"Saya.. memangnya kenapa???" jawab Bang Zaldi.
"Harusnya saya yang tanya. Kenapa kamu disini????????"
"Saya ngantuk lah Bang, di luar berisik. Banyak tamu, makanya saya kesini" jawab Bang Bima.
"Kamu yang keberisikan, saya yang mati ngenes Bim....!!!!!"
Bang Bima baru sadar kalau semalam dirinya sudah membuat Abangnya tersiksa.
"Waduh Bang,. saya lupa. Sungguh Bang.. sueerrr.. Maaf ya Bang"
"Haaahh.. wes buyar Bim" jawab Bang Zaldi kesal.
"Saya keluar deh Bang. Abang lanjut saja...!!" Bima yang tau diri segera keluar dari kamar karena Abangnya sudah begitu stress.
Selepas Bima pergi, Bang Zaldi ingin membangunkan istrinya, tapi ia begitu tidak tega melihat wajah lelah Arnes.
"Tidur ya sayang. Abang nggak akan ganggu"
-_-_-_-_-
Seluruh keluarga sedang sarapan. Wajah Bang Zaldi datar saja tanpa ekspresi. Lesu dan lecek bagai cucian tidak di setrika.
__ADS_1
Papa Rinto menyembunyikan tawanya karena pasti acara semalam sudah gagal karena ia tau Bima mengendap masuk ke dalam kamar Arnes dan tidak tidur bersama yang lain di ruang tv.
//
"Kelihatannya bahagia sekali kamu Zal" ledek Papa Rinto menyindir wajah kusut Bang Zaldi.
"Iya pa. Amat sangat bahagia sekali" jawab Bang Zaldi menanggapi sindiran papa mertuanya.
"Wuuiisshh.. Cepat cetak goal Bang. Biar cepat tambah pasukan buat apel di Batalyon" kata Bang Seno.
"Itu gampang, asalkan wasit jangan ikut di tengah lapangan apalagi sampai kasih kartu merah" sindir Bang Zaldi sambil melirik Bang Bima.
"Iyaaa.. maaf Bang" Bang Bima merasa sangat bersalah. Setelah Bima menjawab barulah Bang Seno paham kalau semalam kemungkinan Bang Zaldi sudah gagal adu banteng.
***
Hari ini banyak anggota yang ikut membantu mendekorasi gedung aula untuk acara besok karena kalau menggunakan bantuan wo saja jelas kurang dalam hal waktu apalagi desain unik pilihan Bang Zaldi cukup sulit. Bang Zaldi tetap meminta pelaminan bergaya militan untuk pria berjiwa militan padahal Arnes ingin gaya dengan tema pelaminan penuh bunga.
"Sebenarnya Abang mau ajakin Arnes nikah atau perang, kenapa semua motifnya loreng. Sampai kamar pengantin kita pun belum turun layar lorengnya" protes Arnes.
"Kamu juga mau nikah apa mau panggil lebah?? Minta bunga banyak sekali. Untuk apa kebanyakan bunga?? Sayang bunganya neng.. kamu injak semua. Belum lagi ini.. maunya apa?? motif putri salju. Hadeehh.. " Bang Zaldi menepuk dahinya.
"Kalau kalian ribut saja sama dekorasinya, nanti ornamennya papa ganti balon" tegur Papa Rinto saat melihat anak dan menantunya seolah tidak bisa akur.
"Aku juga nggak mau, bisa-bisa dreescode ku jadi kurcaci" protes Bang Seno.
"Heran nih Arnes. Ini mau acara pedang pora dek, bukan mau rayain ulang tahun bocah lima tahun" kata Bang Zaldi.
"Nanti lah rumah di asrama kamu acak-acak. Asal jangan di acara kita ini. Hobby kok nggak tau tempat" cerocos Bang Zaldi masih cemberut terbawa suasana gagal semalam.
Sedikit banyak, Arnes pun paham dengan keadaan Bang Zaldi. Ia pun mendekati suaminya itu lalu memeluknya manja.
"Ya sudah kalau nggak boleh bawa putri salju. Tapi di sekitar dan sepanjang karpet, diisi full bunga ya Bang. Arnes juga pengen pelaminannya penuh bunga" pintanya manja.
Mendapat perlakuan manis dari sang istri seketika membuat hati Bang Zaldi lemah seolah tak berdaya untuk menolak. Garangnya terbang melayang tertiup angin.
"Siapkan satu reo bunga permintaan Ibu PasiIntel..!! Saya tidak mau tau kemana kalian cari bunganya, yang pasti.. besok bunga itu harus sudah siap tanpa ada cacat sedikitpun" perintah Bang Zaldi.
"Siap Dan..!!" jawab para anggotanya pasrah. Nampaknya sudah terbiasa Lettu Zaldi meminta segala sesuatu secara mendadak dan kalau salah, mereka pun bisa celaka mendadak.
"Apa ada lagi yang mau di minta, Ibu PasiIntel kesayangan??" tanya Bang Zaldi.
Arnes menunduk malu membawa pipi yang memerah.
"Nggak ada Bang"
"Sekarang gantian Abang yang punya permintaan"
.
__ADS_1
.
.