
Tengah malam buta Bang Zaldi mandi di dinginnya udara pegunungan. Tak ubahnya di daerah dinasnya yang juga begitu dingin karena tempat dinasnya juga di daerah pegunungan dan berbukit.
Ya Allah.. kalau begini terus badanku bisa remuk. Tiga bulan lagi Ya Allah.. Jangan buat semua ini berat. Aku masih penuh dosa. Imanku belum tebal.
***
Ibu melihat Bang Zaldi seperti sedang gelisah. Putranya itu terus menundukkan pandangan. Sebenarnya ibu tau apa yang sudah terjadi. Wajar saja jika hal ini terjadi, putranya bukan remaja lagi dan kini sudah matang bahkan pantas untuk berumah tangga.
"Ibu buatkan kopi ya le?"
"Nggak usah Bu. Kepalaku sakit sekali" jawab Bang Zaldi.
"Ya sudah, kembalilah beristirahat.." kata Ibu.
"Aku mau ajak jalan menantu ibu ini jalan-jalan. Nggak apa-apa khan Bu? Ibu mau ikut sekalian ya?" ajak Bang Zaldi.
"Iya Bu, ayo kita pergi sama-sama saja" kata Arnes.
"Kalian saja yang pergi. Ibu masih harus urus peternakan. Sehari saja ibu nggak ke peternakan rasanya hati ibu nggak tenang" tolak ibu yang memang tidak begitu senang bepergian kecuali ke pasar.
"Ya sudah, aku ajak menantu ibu pergi dulu ya"
...
"Waktu kita hanya tinggal sebentar. Sebentar lagi kamu mau wisuda, minggu depan sudah sidang. Setelah itu ikut Abang ke Sulawesi buat pengajuan nikah ya dek..!!" ajak Bang Zaldi sambil menghisap rokoknya.
"Tapi Arnes ingin kerja dulu Bang. Usia Arnes masih dua puluh tahun. Arnes ingin menikmati masa muda Arnes dulu..!!" kata Arnes.
"Nanti Abang carikan lowongan pekerjaan disana. Abang nggak mau kita pacaran. Abang maunya kita langsung nikah"
"Arnes nggak mau nikah secepat itu. Arnes butuh waktu. Kalau Abang memaksa.. sebaiknya kita batalkan rencana pernikahan kita" jawab Arnes yang beranjak pergi dari hadapan Bang Zaldi.
Hancur berantakan dan resah tentu saja melingkupi relung hati Bang Zaldi tapi ia berusaha menekan kuat emosinya. Bang Zaldi secepatnya memeluk Arnes.
"Adek kenapa sih marah terus. Masih marah soal semalam atau apa? Masa hanya Abang ajak pengajuan kamu semarah ini? Abang khan nggak main-main dek. Abang serius" bujuk Bang Zaldi" kali ini Arnes mendengar nada lembut dari pria yang sudah melamarnya secara acak-acakan itu.
"Kamu hanya takut bayanganmu saja. Semua itu bisa dibicarakan, nggak perlu pakai teriakan. Kamu tau khan Abang paling nggak senang ada perempuan yang teriak di depan Abang?"
"Iya Bang.. Maaf..!!"
"Abang juga minta maaf ya. Belum bisa mengerti maunya istri Abang dengan baik. Umurmu memang masih muda, tapi Abang sudah bukan di usia pantas melajang lama. Abang harap kamu bisa sedikit mengerti Abang" ucap Bang Zaldi.
"Belum istri Bang..!!" kata Arnes mengingatkan.
"Sebentar lagi dek"
Rasa ingin mendekati Arnes selalu terbayang dalam pikirannya, namun Bang Zaldi berusaha tidak mengingatnya, ia sendiri yang paham akan keadaan dirinya.
***
Kebersamaan Bang Zaldi dengan sang ibu memang hanya sebentar dan ibu memang sudah memahami profesi dan resiko memiliki putra seorang abdi negara.
"Nanti malam aku kembali ke Bandung ya Bu. Besok aku sudah harus kembali ke Sulawesi"
__ADS_1
"Iyaa.. hati-hati di jalan dan hati-hati dalam bertugas. Jangan arogan dengan bawahan. Hormati yang lebih tua" pesan ibu Bang Zaldi.
//
Arnes sedang menggoreng ikan. Ibu Bang Zaldi mengintip dan tertawa melihat calon menantunya ketakutan saat menggoreng ikan padahal sesaat yang lalu dengan lantang Arnes mengatakan pada ibu Bang Zaldi kalau dirinya bisa memasak walaupun tidak pandai.
"Awwhh.. sakit" pekiknya pelan sambil berjingkat menjauhi kompor.
"Sini biar ibu saja" Ibu meminta spatula yang masih ada di tangan Arnes.
"Arnes bisa kok Bu" ucap Arnes takut.
"Sudah nggak apa-apa. Ibu sudah nggak ada kerjaan"
Arnes menunduk sampai menangis. Ia merasa tidak berguna karena memang ia tidak pernah berani menggoreng ikan. Hanya ikan saja yang paling ia takuti.
"Kalau Abangmu berbicara keras, bukan berarti Bang Zaldi benci, Abang nggak membela Bang Zaldi, tapi memang setau ibu hatinya tidak sekeras itu" kata Ibu.
"Maaf ya Bu, Arnes masih bodoh. Arnes belum bisa membuat Abang bangga punya Arnes"
"Kata siapa?? Bang Zaldi sayang kok sama Arnes. Malah sayang sekali. Saking sayangnya sampai nggak mau makan, nggak bisa tidur. Arnes mau khan jadi menantu ibu, menemani Bang Zaldi" bujuk Ibu sambil mengangkat ikan yang sedang di goreng. Lalu menatanya di atas piring saji.
"Maaf Bu, Arnes belum jadi yang terbaik"
Ibu langsung memeluk Arnes.
"Tidak ada sesuatu yang awalnya kuat dan baik, semua harus di awali dengan rasa sayang, saling percaya dan saling mendukung dalam keadaan apapun" dikecupnya kening Arnes seperti putrinya sendiri.
***
Bang Zaldi tidak bisa tidur. Matanya selalu waspada menjaga Arnes yang tidur bersandar di bahunya.
"Turun dimana pak?" tanya kondektur.
"Terminal terakhir" jawab Bang Zaldi tidak bersahabat karena kondektur itu sesekali mencuri pandang ke arah Arnes.
"Ada apa matamu lihat istri saya???" bentak Bang Zaldi.
Kondektur bus itu kaget dan gugup apalagi saat para penumpang melihatnya.
"Ada apa Bang?" tanya Arnes yang kaget.
"Nggak ada apa-apa dek. Cepat tidur lagi..!!" jawab Bang Zaldi sambil mengusap pipi Arnes.
Bang Zaldi masih melirik memberi ancaman.
-_-_-_-_-
Malam hari Arnes dan Bang Zaldi tiba di rumah. Hari ini ada Bang Bima tidur di rumah untuk menemani Bang Zaldi. Sebenarnya Papa Rinto sangat cemas kalau sampai Bang Zaldi mencuri waktu untuk tidur bersama Arnes, akhirnya diam-diam beliau meminta putranya untuk mengawasi Bang Zaldi.
Bang Zaldi tidak bisa tidur lagi. Matanya hanya menerawang beberapa jam lagi dirinya sudah harus kembali ke Sulawesi dan tiga bulan lagi jawaban apakah Arnes akan benar-benar siap menjalani pengajuan nikah bersamanya. Bang Zaldi sudah sangat takut. Semua pikiran itu membuat dadanya kian sesak.
***
__ADS_1
Arnes mengantar Bang Zaldi ke bandara umum. Sejak dalam perjalanan tadi mereka berdua lebih banyak diam. Wajah Arnes menyimpan kesedihan begitu juga dengan Bang Zaldi tapi keduanya menyimpan rasa sedih itu.
Papa Rinto menggeleng menghela nafas, ia membolak balikan jalan pikirnya. Apakah dirinya terlalu jahat sudah membuat Arnes dan Zaldi saling menutup diri. Papa Rinto tau Zaldi bukan pria yang jahat tapi rasa berat sebagai seorang ayah juga mengingat trauma yang pernah di alami Arnes membuatnya menjadi sangat keras pada sang putri.
"Abang pergi ya dek" pamit Bang Zaldi.
"Sudah tau" jawab ketus Arnes.
"Jangan marah lagi sih dek..!! Masa Abang mau berangkat masih di kasih cemberut" protes Bang Zaldi.
Arnes masih diam saja, setiap ada sang papa.. ia tidak bisa seceria biasanya.
"Kamu sudah bujuk papa apa belum?" tanya Bang Zaldi padahal ia tau disampingnya ada Dan Rinto.
Arnes hanya menunduk dan tidak menjawabnya. Pengeras suara sudah berbunyi tanda Bang Zaldi harus segera pergi.
"Cepat pulang. Abang mau berangkat..!!" Bang Zaldi mengangkat tas yang tidak terlalu besar di punggungnya.
Bang Zaldi pun bersalaman dengan Pak Rinto dan Bang Bima lalu berbalik dan berjalan meninggalkan tempat. Seketika Arnes berdiri, wajahnya semakin sedih.. ia pun menatap wajah papanya seolah memohon sesuatu. Papa merasa tidak tega melihat kesedihan putrinya.
"Ya sudah. Kejar ndhuk..!! Papa ijinkan"
Secepatnya Arnes berlari mengejar Bang Zaldi. Tau ada yang mendekat ke arahnya, Bang Zaldi berbalik badan dan seketika itu juga Arnes menubruk memeluk Bang Zaldi.
"Aduuhh.. kenapa ini dek?" tanya Bang Zaldi cemas melihat Arnes menangis.
"Arnes pengen ikut Abang"
"Sekarang belum boleh. Selesaikan dulu sidang dan wisudanya. Abang akan selalu sabar tunggu kamu"
"Nggak mauuuu" kata inilah yang membuat seorang Zaldi menjadi lemah mendengarnya.
"Jangan rewel to sayang. Yang begini ini buat Abang nggak kuat"
"Apa Bang..??"
"Pengen cepat jadikan kamu Nyonya Zaldi dan secepatnya wisuda kamu" ucap Bang Zaldi berat melepaskan Arnes.
"Naahh.. Sekarang Abang ngaku khan kalau Abang tergoda sama Arnes" ledek Arnes.
"Itu wajar, Abang normal. Naluri laki-laki nggak bisa bohong dek. Makanya kamu juga jaga diri baik-baik. Nggak boleh nakal dan bertingkah seperti kemarin. Cukup sama Abang aja kamu begitu dan cukup satu kali itu Abang rasa getir karena meladeni tingkah konyolmu. Mungkin kemarin Abang masih bisa tahan, tapi Abang nggak janji untuk lain kali" ucap Bang Zaldi memasang wajah serius.
"Arnes hanya begitu sama Abang. Nggak ada Owa lain lagi" janji Arnes.
"Alhamdulillah.. terima kasih kesayangan Abang" bisiknya pelan. Bang Zaldi mengecup kening Arnes penuh perasaan. Tidak tega rasanya meninggalkan sang pujaan hati.
"Nabung kangen dek. Sampai ketemu di pengajuan nanti" Bang Zaldi nekat mencuri satu kecupan kilat di bibir Arnes.
.
.
.
__ADS_1