Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 85. Kuceritakan tentang hari ini.


__ADS_3

Bang Zaldi melihat semua laporan tugas milik Arnes. Istrinya sudah melaksanakan tugas dengan sangat sempurna, hanya tinggal penyambutan panglima saja yang belum usai dan paling membutuhkan banyak tenaga.


Siang bolong Livi baru datang ke kantor dengan di antar Bang Bima. Livi duduk di bangku taman sambil menikmati sandwich buatan Bang Bima. Selama hamil ia terlalu banyak memilih makanan sampai membuat Bang Bima bingung mencari makanan sebab di daerahnya lumayan sulit mendapat makanan yang terbilang 'khusus'.


Hari ini datang tiga koli pesanan Bang Zaldi khusus untuk ibu hamil dan anak-anak. Para anggota menyambutnya dengan gembira. Tapi mungkin tidak dengan Livi.


"Ijin ibu, ini ada paket susu ibu hamil dari DanSat" kata Serda Made.


"Saya istri atasanmu. Masa minum susu seperti itu" jawab Livi.


Made ternganga mendengarnya sebab setahu dirinya.. susu yang di beli DanSat sudah merupakan susu yang terbaik dan Ibu DanSat meminumnya juga.


"Siap salah ibu" Made tidak jadi memberikan paket susu untuk istri Lettu Bima.


...


Arnes terbangun dari tidurnya, ia gelagapan karena belum melaksanakan persiapan kedatangan Panglima. Ia melihat selang infus di punggung tangannya. Segera ia mencabutnya karena pekerjaannya belum selesai.


"Ijin ibu, mau kemana?" tanya Prada Manik yang di minta untuk menjaga Arnes selama Bang Zaldi mendekorasi lapangan sesuai dengan sketsa yang ternyata sudah di selesaikan Arnes.


"Aduuh om, Abang kemana ya. Saya belum beli perlengkapan dekorasi" ucapnya panik.


Belum sampai mulutnya tertutup, ia melihat dekorasi seperti keinginannya sudah setengah jadi, malah lebih bagus dari hadapannya.


"Sudah bangun dek??" sapa Bang Zaldi.


"Walaah.. ini kenapa infusnya di cabut??" Bang Zaldi melihat punggung tangan Arnes yang bengkak. Ia kemudian menggosoknya pelan.


"Ayo duduk disana sambil lihat kerja anggota"


//


"Ijin Dan. Bu Bima meminta semua taplak mejanya di ganti warna ungu. Semua gorden sudah di turunkan Ibu Bima.


"Apa-apaan dia itu, datang langsung mengacau" gerutu Bang Zaldi. Ia tau Arnes sudah merancangnya jauh hari. Meja besar yang sudah ia arahkan untuk acara perjamuan juga sudah di singkirkan jauh oleh Livi.


:


"Saya ini juga komandan kalian. Sejak tadi kalian tidak mendengar perintah saya. Kalau kalian tidak mau mengikuti perintah saya.. akan saya laporkan ke Pak Bima" ancam Livi.


"Tidak ada yang berhak memberi perintah yang lebih tinggi disini kecuali saya dan Ibu DanSat" ucap Bang Zaldi tegas.


"Kamu cepat selesaikan pekerjaanmu. Hati-hati..!!" perintah Bang Zaldi pada Arnes.


"Kamu ikut saya Livi"


Livi mengikuti langkah Bang Zaldi menuju samping mini zoo.


"Kenapa kamu bersikap arogan di hadapan para anggota???" tegur Bang Zaldi saat sudah tidak terlalu terlihat banyak anggota. Tidak etis rasanya jika menegur istri sesama perwira di hadapan para anggota yang lain.


"Livi hanya menunjukkan wibawa sebagai istri atasan. Kalau Arnes saja bisa di patuhi anggota, kenapa Livi tidak?" jawab Livi masih dengan gaya sombongnya.

__ADS_1


"Cara seperti itu yang kamu bilang wibawa?? Kamu mencoreng nama baik suamimu. Arnes sudah melakukan semua prosedur yang benar, dia kerja keras, tidak berpangku tangan"


"Arnes.. Arnes.. Arnes terus yang di bela. Apa hebatnya dia itu selain anak Komandan tinggi dan beruntung menjadi istrimu. Sedikit-sedikit sakit dan merepotkan semua orang, perempuan lemah seperti itu apa untungnya???" teriak Livi sampai terdengar anggota lain.


Mendengar suara itu Bang Bima segera mendekati istrinya yang sedang bersitegang dengan DanSat


"Jaga bicaramu Livi" Bang Zaldi yang sudah habis kesabaran akhirnya membentak Livi.


"Kenapa semua orang membelanya??? Dia itu sok alim, sok baik. Dia itu jahat. Sadar Bang...!!!!!!!"


Bang Zaldi sudah hampir mengangkat tangannya tapi Arnes segera memeluk dan menurunkan tangan suaminya.


"Sudah Bang. Nggak baik kasar dengan perempuan"


"Dasar munafik..!!!"


plaaaakk..


Livi menampar Arnes dengan keras hingga istri Zaldi itu jatuh tersungkur.


"Livi..!!" Bang Zaldi sudah sangat marah tapi..


plaaaakk..


"Kali ini kamu sangat keterlaluan Livi" Bang Bima menampar pipi Livi.


"Asal kamu tau, kalau tidak karena kamu adalah adik sahabatku, Abang akan berpikir ribuan kali menikahimu, Abang hanya tidak mau membuat rumah tangga Arnes dan Bang Zaldi hancur karenamu..!!!!!"


plaaaakk.. plaakkk..


"Itu tamparan karena kamu tidak tegas mendidik istrimu dan ucapanmu yang tidak pantas menjadi seorang suami"


Livi sangat malu, hatinya begitu sakit mendengar ucapan Bang Bima.


Bang Zaldi secepatnya menggendong Arnes dan membawanya ke bawah tenda yang sudah di dekorasi.


"Astagfirullah hal adzim.. Livi..!!" Bang Bima mengusap wajahnya dan menyadari kesalahannya, ia segera berlari mengejar Livi.


Livi terus berlari kencang, tak melihat ada batu di hadapannya. Kakinya terkilir, ia jatuh tergelincir hingga jatuh terperosok.


"Ya Tuhan.. Liviiiiii..!!!!!!!!!!"


:


Bang Zaldi menyandarkan Arnes pada dada bidangnya. Lama kelamaan Arnes mulai tenang. Tangan itu tak hentinya mengusap perut buncit Arnes. Bang Zaldi bisa merasakan bayinya bergerak ringan dan berdenyut kecil.


"Kita ke rumah sakit yuk..!! Abang mau lihat si dedek" ajak Bang Zaldi.


"Tugas Arnes masih banyak Bang. Belum selesai" tolak Arnes.


"Om-om hanya tinggal mengerjakan semua sesuai arahanmu itu. Sekali-kali kamu butuh rileks dek"

__ADS_1


"Ijin Bu, Ibu pergi saja untuk check up kondisi Komandan kecil" kata Prada Manik.


"Kami jamin saat ibu kembali, semua sudah siap di gunakan untuk esok lusa, kunjungan panglima"


"Selamat siang Dan. Istri dari Lettu Bima di bawa ke rumah sakit"


-_-_-_-_-


Sesaat setelah sadar, Livi berteriak kencang dan sulit di tenangkan. Bayinya meninggal dunia di usia kehamilan jalan enam bulan. Tak hanya Livi yang bersedih. Bang Bima pun ikut terpukul.


"Abang minta maaf dek" ucap sesal Bang Bima.


"Pergii.. Livi nggak mau lihat Abang lagi. Pergiiiiiiiii...!!!!!!" teriak Livi.


"Dengan cara apa Abang harus menebusnya dek?? Maafin Abang sayang..!!"


"Sayaang??? Setelah sekian lama kita bersama Abang baru mengucap kata sayang?? Setelah anak kita tidak ada?? Untuk apa Abang menangis kalau Abang tidak pernah mencintai Livi" ucap tajam Livi yang kemudian mulai melemah.


"Kamu juga masih mencintai suami adikku, sudahlah, jangan bahas ini lagi. Kita perbaiki semua keadaan ini" pinta Bang Bima.


"Sejak Livi mengandung anak Abang, sudah tidak ada lagi Bang Zaldi di hati Livi. Livi hanya iri karena kalian semua terlalu bangga dengan Arnes. Apalah Livi ini.. yang sejak kecil tidak pernah mendapatkan apapun karena kemiskinan orang tua, hanya seorang kakak saja yang telah pergi meninggalkan Livi sendiri di dunia ini. Setiap hari Livi hanya mencari perhatian Abang, dan sekarang Livi tau sebabnya mengapa Abang tidak pernah memberi perhatian pada Livi. Abang.. tidak pernah mencintai Livi" ucapnya sembari menatap awang-awang.


"Livi ingin tenang, bersama putri kecilku. Setidaknya.. Livi akan dicintai disana. Terima kasih ya Bang. Sudah mau menjadikan Livi sebagai istrimu dan menghadiahi putri cantik untukku" tak lama nafas Livi mulai sesak namun tak disangka dalam hitungan detik nafas itu menghilang, tenang dan damai dalam senyuman.


"Dek.. sayang.." suara Bang Bima tercekat. Rasanya bagai mimpi ia harus mengalami semua ini.


:


Bang Zaldi berusaha menguatkan Bima yang diam membisu, pandangannya kosong tak berarah. Sejak tadi Arnes memeluk Abangnya yang terus memeluk bayi kecilnya.


"Abang bicara Bang. Jangan diam saja"


"Untuk apa aku bicara, karena mulut ini terbuka.. anak istriku tiada" jawabnya ringan tapi sarat akan luka yang begitu menyiksa.


"Arnes minta maaf Bang. Kalau saja Arnes nggak lemah, semua ini tidak akan terjadi. Abang jangan begini..!!!!" Arnes pun terbawa histeris.


"Dek, kamu tenang dulu..!!" Bang Zaldi membujuk Arnes yang tidak sanggup melihat keadaan Bang Bima.


Bang Bima memandangi bayinya yang sudah mulai terbentuk sempurna. Kulitnya masih merah, bibir indahnya lebih seperti Livi, hidungnya seperti dirinya. Bang Bima terisak-isak tak kuat memandangi bayinya yang belum sempat di lahirkan.


"Baru papa akan belikan baju untuk menyambut kelahiran mu, tapi kenapa sekarang papa harus membelikanmu pakaian yang pertama dan terakhir untukmu sayang. Baik-baik sama mama ya sayang. Ini kali pertama papa jatuh cinta sama kamu. Putri kecil papa yang cantik" Bang Bima menciumi wajah putrinya. Tak terbayang bagaimana sesaknya dalam dada harus kehilangan istri dan bidadari kecilnya.


Arnes merosot dalam pelukan Bang Zaldi. Bang Zaldi pun ikut tidak kuat terbawa suasana. Sungguh ia mencemaskan Arnes dan bayi yang masih ada dalam kandungan.


"Saya minta tolong siapkan acara pemakaman untuk istri dan putri Lettu Bima..!!" perintah Bang Zaldi kemudian membantu Arnes untuk duduk bersandar. Tak lama, ia pun menyangga dirinya berpegangan pada dinding.


"Abang.. Abang baik-baik saja?" tanya Om Adi cemas melihat seniornya itu.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2