Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
167. Karena sayang.


__ADS_3

"Kalau perempuan.. Anye kasih Abang kesempatan punya anak lagi" kata Anye mantap.


"Edaann..!! Nggak.. ini yang terakhir..!!!! Mau ini laki atau perempuan sudah cukup" ucap Bang Rinto.


"Abang nggak gila pengen istri hamil terus. Resikonya besar dek"


"Cieee.. Abang takut Anye nggak seksi lagi ya" ledek Anye.


"Omongan apa sih dek. Kita sudah kelewatan punya banyak anak. Abang mikir masa depan anak-anak, mikir kamu" jawab Bang Rinto.


"Pikiran apalah itu, pakai ada nggak seksi segala. Apa Abang juga masih gagah seperti dulu??" Bang Rinto menggerutu kesal karena memang ia tidak memandang fisik dan jujur ia lebih menyukai bentuk tubuh istrinya yang semakin padat berisi usai melahirkan.


"Laki atau perempuan.. cukup ini yang terakhir"


"Iya, Abang masih gagah.. Anye khan sudah rusak" jawab Anye.


Suara hati Anye pun cukup membuat hatinya sedih.


"Bukan rusak, tapi lebih segar. Kalau rusak juga memang Abang yang sudah buat jadi begitu"


"Tanggung jawab Bang..!!" kata Anye.


"Memangnya ini belum tanggung jawab?? Aneh kamu ini. Terus kenapa kamu tidak percaya dengan dirimu sendiri? Percaya diri itu adalah kunci utama hidup seorang istri, tidak membatasi ruang gerak mu dan percaya diri itu yang membuat suamimu bertekuk lutut karena itu artinya kamu sudah memberikan segala yang terbaik untuk suamimu" nasihat Bang Rinto untuk Anye.


"Anye percaya diri lah Bang. Anye gemuk saja.. Abang nggak bisa jauh dari Anye" kata Anye.


"Oyaaa???? Nggak terbalik nih? Kamu yang nggak bisa jauh dari Abang?" ledek Bang Rinto sambil mengecup manis bibir Anye. Bang Rinto menoleh ke kanan dan ke kiri lalu melihat jam tangannya sudah menunjuk pukul 00.25 .


"Dek.. Si cenil ngajak papanya study tour"


"Abang.. Nggak usah banyak tingkah ya Bang. Setiap Abang di rumah sakit, Abang selalu nakal. Ingat sehat dulu Bang..!!" tolak Anye. Bukan satu atau dua kali Bang Rinto selalu membuat ulah seperti ini.


"Sudah marahnya??" tanya Bang Rinto.


"Sekarang kita baikan..!!!" ajak Bang Rinto.


Ya Allah biarkan istriku sehat. Jika anakku memang seorang putri.. biarkan aku..........


***


"Di cubit Tante Mey.." Seno menangis sekencang-kencangnya saat Mey mencubit lengan Seno. Bang Brian hanya bisa menggeleng kepala melihat Mey dan Seno selalu bertengkar setiap bertemu.


"Jangan nangis ya Bang. Abang khan laki. Disakiti wanita itu biasa. Abang jangan balas" kata Bang Brian.


"Sakiit pa" kata Seno mengadu.


"Sini papa tiup, sakitnya pasti hilang..!! Perempuan kalau cari gara-gara berarti mau di sayang"


"Sakit ya sakit Bri.. kita yang tua saja bisa nangis gara-gara wanita. Apalagi anak-anak"


"Yaelaah.. baper banget broo.." Bang Brian tertawa mendengar ucapan Bang Rinto sambil mengecek semua kwitansi pembayaran kamar Bang Rinto dan menggendong Seno.


"Oke sudah beres. Ayo pulang"


Gathan menggendong Mey yang tak tau diri itu.


"Mey turun ya, punggung Abang terkilir nih" kata Gathan memelas.

__ADS_1


"No.. no.. no.. Mey capek, mau di gendong Abang"


Bang Gathan mau nangis rasanya apalagi pegangan tangan Mey sangat erat seolah akan mencekiknya hidup-hidup.


Sedang asyiknya memperhatikan kedua bocah usil itu tiba-tiba Anye terhuyung kedepan, untung saja tangan Bang Rinto sigap menyangganya.


"Kamu ngantuk ya dek??" tanya Bang Rinto.


"Ehmm.. iya Bang. Kita pulang sekarang saja yuk..!!" ajak Anye.


#


Sepanjang jalan Anye hanya tidur saja. Tangannya melingkar di pinggang Bang Rinto hingga tanpa sadar di kecil Seno tak punya kesempatan untuk memeluk papanya dan pada akhirnya ia memeluk papa Brian sampai tertidur karena ia pun juga dekat sekali dengan papa Brian.


Anye kencang sekali memelukku. Apa nyaman tidur dengan posisi seperti ini??


Bang Rinto pun merasa perut Anye begitu kencang. Ada rasa cemas tapi segera di tepisnya mengingat usia kandungan Anye baru akan menginjak delapan bulan.


Mobil berbelok masuk ke arah asrama Batalyon. Dilihatnya ayah Rama baru saja keluar dari ruangan bersama Komandan Markas yang berjalan di belakang ayah Rama.


"Komandan Markas masih disini Bri??" tanya Bang Rinto.


"Masih, ayah minta beliau untuk melihat langsung hasil dari perintahnya dan pertanggung jawaban atas ucapannya yang tidak memperhatikan nasib anggotanya yang sudah susah payah melaksanakan tugas" jawab Bang Brian.


#


"Ya Allah.. punggungku rasanya sakit sekali" Bang Rinto bergumam sendiri sambil mengusap dada hingga perutnya.


"Kamu kenapa Rin??" tanya ayah Rama melihat Bang Rinto duduk sendirian.


"Apa racun itu belum hilang, wajahmu masih lesu. Badanmu juga masih lemas"


Ayah membawakan permen jahe untuk menantunya itu.


"Makan ini. Jahe bisa mengurangi mualmu"


"Terima kasih yah"


#


"Sayang, tumben sekali kamu terus tidur sejak pagi. Abang pijat ya" Bang Rinto langsung memijat badan Anye sebelum Anye menjawabnya.


"Malas gerak Bang. Badan Anye rasanya berat sekali" jawab Anye.


"Tapi gerak itu penting dek..!!"


dddrrtt.. dddrrtt..ddrrttt...


"Tolong bacakan Bang. Ada pesan dari siapa malam begini" pinta Anye.


Bang Rinto pun segera membuka dan membaca pesan di ponsel Anye.


"Loohh dek.. Besok kamu ada kunjungan kerja ke Jakarta. Kamu nggak jawab pesan sejak tadi. Jadi nggak bisa ijin dan kamu juga belum prepare sama packing. Gimana kamu ini dek. Nggak monitor group pusat"


"Duuhh.. gimana donk Bang" tanya Anye bingung tapi ia pun pasrah karena kehamilannya sudah membuatnya susah gerak.


Bang Rinto segera mengambil ponselnya dan menghubungi rekannya di Jakarta agar Anye bisa 'libur' dulu dalam kegiatan.

__ADS_1


//


"Nggak bisa Broo.. harus ijin dulu sebelumnya dan harus menyertakan surat dokter paling lambat jam enam sore kalau memang ada masalah" jawab rekan Bang Rinto.


"Astaga.. Ya sudahlah, biar saya kawal sendiri saja" kata Bang Rinto.


//


Malam itu Bibi sampai ikut sibuk menyiapkan barang yang akan Anye bawa di acara kunjungan kerja. Bang Rinto sibuk menghubungi rekannya di Jakarta agar mempersiapkan segala sesuatunya disana.


"Bapak mau naik pesawat militer?" tanya Bi Ana saat Bang Rinto sudah selesai dengan ponselnya.


"Iya bi. Segala sesuatunya sudah nggak sempat lagi. Ini sudah jam sebelas malam. Mana bisa persiapan secepat itu pakai pesawat umum" jawab Bang Rinto.


Tak lama Alex datang membawa surat ijin jalan untuk Bang Rinto dan istri.


//


"Oke Lex.. terima kasih banyak. Maaf saya merepotkan terus"


"Siap Dan.. Tidak apa-apa selama saya bisa bantu" jawab Alex.


***


"Abang kenapa bolak-balik ke kamar mandi??" tanya Anye di bandara militer sambil menunggu pesawat yang mereka tumpangi siap untuk berangkat.


"Abang nggak kuat bau avtur" jawab Bang Rinto.


Mata Anye terbelalak sempurna mendengar jawaban Bang Rinto yang berarti sekarang suaminya itu sedang mabuk.


"Naahh.. akhirnya Abang merasakan juga yang namanya mabuk udara" ledek Anye.


"Terserah apa katamu dek. Yang jelas Abang lagi nggak enak badan" jawab Bang Rinto.


"Ayah sama mama ikut kalian saja ke Jakarta. Rinto baru sehat, malah sekarang pakai acara mabuk. Kamu sendiri sedang hamil. Mana bisa tangani anak-anakmu yang lincah ini" kata ayah Rama.


"Sebenarnya saya nggak apa-apa sih yah. Hanya sedikit mual aja. Tapi kalau ayah sama mama ikut ya saya senang sekali. Sekalian liburan dadakan di Jakarta" Bang Rinto akhirnya menyetujui saran ayah Rama.


#


Anye duduk tenang, tidak seperti biasa saat ia naik pesawat, hanya saja perutnya terasa sangat kencang yang kadang membuatnya merasa kesakitan. Kali ini malah Bang Rinto yang mabuk parah dalam sejarah hidupnya ini kedua kalinya Bang Rinto mabuk sampai merepotkan Ayah Rama dan beberapa orang crew pesawat, tapi kali ini yang terparah.


"Pak Rinto kuat duduk? Atau tidur saja di bagian atas??" tanya seorang crew.


"Nggak mas. Terima kasih.. saya kuat"


"Kuat dari mananya?? Ini saja disangga" gumam ayah Rama.


"Saya gengsi lah yah. Masa peterjun mabuk??" bisik Bang Rinto pada ayah Rama.


"Kalau nggak cinta banget sama anak ayah yang cantik itu. Mana mau saya sampai begini yah. Saya sudah mau meninggal saking cintanya sama Mami PingPing" celotehan Bang Rinto sampai terdengar oleh crew pesawat. Nampaknya Bang Rinto sudah mengigau sendiri karena kepalanya terlalu berat. Ayah Rama sampai menepuk dahinya mendengar Bang Rinto terus mengoceh.


"Apa itu Mami PingPing???"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2