Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
173. Membujuk hati seorang ibu.


__ADS_3

"Coba peluk dulu dek..!!" bujuk Bang Rinto sambil mendekatkan baby Arnes pada ibunya.


Tangan Anye gemetar dan ragu menerima Arnes tapi begitu Arnes terdiam dalam pelukannya, senyum Anye mengembang cantik di balik wajah sendunya.


"Alhamdulillah Ya Allah" Bang Rinto memeluk Anye dan Arnes. Rasanya begitu lega saat Anye perlahan bisa menerima putrinya kembali meskipun mungkin belum sepenuhnya karena ternyata Anye mengalami depresi pasca persalinan.


#


"Saya harus bagaimana Bang ??" tanya Rinto pada seniornya.


"Beri perhatian penuh, buat suasana hatinya bahagia. Nanti kondisi istrimu akan kembali normal, hanya saja memang butuh waktu mengingat pasca persalinan ini kamu sudah menanyakan hal sensitif padanya. Saya juga sudah tanya dokter senior yang menangani Anye disana. Kelahiran Bima juga mengakibatkan depresi untuk Anye karena kamu sempat menghilang. Untuk kejadian kali ini.. kamu dan Brian kurang sedikit perhitungan."


"Astagfirullah.. kenapa aku bisa melewatkan hal ini??" Bang Rinto meremas dadanya. Rasa begitu sakit mendengar penjelasan dokter mengenai kondisi Anye.


Brian juga mengusap wajahnya, tak kalah cemas memikirkan Anye sebab semua ini terjadi karena ia meminta ijin ingin membawa Righan pergi bersamanya dan Ariani.


...


"Kalau nggak boleh, nggak apa-apa kok dek. Abang nggak maksa. Abang sadari perasaanmu. Besok Abang sudah berangkat ke Jawa. Cepat sembuh ya kamu disini"


Ariani menangis sambil memeluk Righan bersama anaknya.


Anye terdiam sambil memandang putranya yang masih berusia dua tahun. Perasaan sedih dan terombang ambing sebagai seorang ibu masih ia rasakan tapi bagaimanapun juga Bang Brian pasti ingin memeluk putranya juga. Cerita singkat dalam pelarian perasaan sudah menghadirkan Righan ke dunia.


"Ijinkan Abang satu hari ini saja bersama Righan" pintanya pada Anye. Anye belum sanggup menjawabnya. Bang Brian segera keluar dari ruangan Anye karena sesungguhnya hatinya pun tidak tahan melihat air mata mantan istrinya itu.


***


Bang Rinto tak sanggup melarang Anye yang ingin pulang dari rumah sakit. Ia pun tidak tau apa keputusan Anye sebab Anye tidak mengatakan apapun padanya dan bungkam seribu bahasa membuat hatinya ikut cemas.


"Tenanglah sayang.. Brian tidak akan membawa Righan" ucap Bang Rinto.


...


Anye tertatih berjalan perlahan di bandara. Bang Brian menoleh melihat Anye yang menyusul Righan sampai bandara. Bang Brian yang cukup tau diri segera menggendong Righan yang sedang bermain bersama Ariani dan Putra lalu membawanya pada Anye.


Tangis sedih Ariani meluncur deras, berat untuk berpisah dengan 'putra pertamanya' itu tapi tidak ada yang bisa ia lakukan.


"Bawalah Righan pulang bersamamu. Semakin Abang melihatnya, semakin Abang tak sanggup berpisah darinya" pinta Bang Brian menyerahkan Righan pada Bang Rinto yang kemudian berbalik badan hendak meninggalkan Anye dan Bang Rinto.


Seakan tau papanya akan pergi meninggalkannya.. Righan menangis meraung menarik pakaian seragam papanya.

__ADS_1


"Papaaa... ikut..!!" tangisnya semakin menjadi hingga suara pria cilik itu begitu sesak. Bang Brian berusaha melepaskan genggaman tangan kecil lari lengannya dan berjalan cepat meninggalkan Righan tanpa kata.


Righan kecil meronta dan merosot dari gendongan Bang Rinto. Langkah kecilnya terseok hingga berkali-kali jatuh karena mengejar papanya.


"Abaaang..!!!" tegur Anye karena melihat Bang Brian tak kunjung menggendong putranya yang menangis meraung mengejarnya. Anye menguatkan dirinya untuk berjalan menghampiri Righan. Bang Rinto bukannya tak ingin membantu, tapi kali ini ada batasan yang tidak bisa ia langgar meskipun hatinya terasa perih.


Anye menggendong Righan dan menenangkan putranya.


"Righan mau ikut papa?? Naik pesawat sama Mama Riani??"


Righan mengangguk masih ingin minta perhatian Papa Brian. Bang Rinto menghampiri istrinya.


Anye menoleh melihat keadaan sekitar sampai akhirnya ia menemukan Om Jeri yang sedang membawa satu koper kecil milik Righan.


"Jagalah Righan. Jangan sampai dia sakit. Entah kenapa dia sangat sayang padamu Bang" ucap Anye sambil berlinangan air mata.


Bang Brian langsung mengambil Righan dari gendongan Anye dan memeluknya dengan erat.


"Karena dia hadiah terindah darimu untuk Abang dek. Tak akan pernah bisa Abang lupakan. Tapi Abang sadar.. sekarang kita punya kehidupan masing-masing. Cukup dengan melihat Righan saja, segala perasaan untukmu terobati" setetes air mata mengalir di sela pipi Bang Brian.


"Terima kasih banyak Mama Righan. Dalam hati ini selalu ada tempat untukmu. Biar doa Abang mengalir untukmu" bisik Bang Brian sambil mendekat pada Anye dan mengecup kening mantan terindahnya. Rasanya begitu sayang dan dalam.


Tangan Bang Rinto sudah mengepal erat. Rasa cemburu begitu kuat membakar perasaannya tapi ia segera melonggarkan jemari hingga perasaannya sedikit lebih longgar.


"Gue pamit Bro.. sorry kelepasan sedikit" ucapnya pada Rinto.


"Kurang ajar lu" jawab Bang Rinto menekan perasaannya.


Bang Brian segera pergi sambil menggendong Righan dan menarik koper kecilnya.


Kaki Anye gemetar melihat Bang Brian, Ariani, Righan dan putra semakin menjauh dari pandangan matanya. Anye mulai panik dan menangis ingin mengejarnya.


"Righaaaann..!!!!!!!" teriaknya kuat. Bang Rinto segera mendekap Anye yang menangis melihat putranya sudah tak terlihat lagi.


"Righaaann... jangan tinggalkan Mama nak..!!!"


"Ya Allah.. Anye.. Kamu ini selalu buat Abang jantungan" Bang Rinto segera membawa Anye yang sudah tidak sadarkan diri.


...


"Dek.. kalau hatimu nggak kuat, kenapa kamu lakukan?????" tegur Bang Rinto.

__ADS_1


"Satu tahun. Hanya satu tahun saja Anye menahan rindu untuk Righan seperti kata Abang. Kelak perjumpaan itu akan lebih indah dari perpisahan ini" ucap Anye berusaha tegar.


tok..tok..tok..


"Masuk bi" Jawab Bang Rinto.


Bibi membuka kamar tidur bang Rinto dan Anye.


"Non Arnes nangis terus Pak. Mungkin lapar" kata Bibi.


Bang Rinto segera berdiri untuk menggendong Arnes. Bang Rinto takut Anye masih sedikit menghindari bayinya itu.


"Sini Bang. Biar sama Anye" punya Anye.


Bang Rinto pun menyerahkan Arnes tapi tetap mengawasi sang istri. Bang Rinto masih takut terjadi sesuatu pada keduanya. Bibi pun meninggalkannya tuannya di kamar.


"Oya sayang. Ini hadiah yang Abang janjikan untuk kamu" Bang Rinto membuka laci mejanya lalu menyerahkan surat-surat beserta sebuah kunci dan dua buah ATM.


"Apa ini Bang" Anye mengusap air matanya sambil menggendong dan memberi ASI untuk Arnes.


"Buka saja..!!"


Mata Anye terbelalak saat tau Bang Rinto menghadiahi dirinya sebuah rumah mewah, sebuah perusahaan atas namanya dan ATM yang jelas berisi sesuatu yang amat di sukai wanita.


"Kebahagiaan memang tidak bisa di ukur dengan barang dan harta. Tapi ini pun rasa terima kasih Abang karena kamu sudah mau bersusah payah mengandung si cenil untuk Abang" Bang Rinto mendekap Anye dan putrinya.


"Abang tau mungkin tidak seharusnya Abang katakan ini, tapi.. Abang sangat cemburu melihat Brian memperlakukanmu begitu spesial. Hati Abang sakit dek. Brian terlalu dalam mencintaimu" Bang Rinto jujur dan mengakui perasaannya.


"Abang sayang.. tidak ada yang bisa mengalahkan perhatian dan sayangmu untuk Anye. Semua yang Anye inginkan dan Anye butuhkan sudah Anye dapatkan dari Abang" jawab Anye menghalau rasa sedihnya. Kali ini ada hati yang harus ia tenangkan.


"Maafin Anye sudah membuat Abang sampai cemburu. Tapi percayalah.. hati Anye hanya untuk Abang" kata Anye saat melihat wajah sedih Bang Rinto.


"Abang percaya" senyum Bang Rinto mengembang, hatinya terasa sejuk.


"Kita di pertemukan dengan bermacam alasan. Apa alasan Abang masih bertahan hidup dengan Anye padahal Anye tidak seindah yang Abang bayangkan?" tanya Anye.


"Alasannya.. karena senyuman indahmu menarik perhatian Abang. Tidak pedulimu di awal kita bertemu adalah pertahanan dirimu dari dunia luar yang membuat Abang penasaran dan jujur sosokmu sudah menutup pintu hati Abang untuk mencintai wanita lain.. ada anak-anak bukti cinta kita. Kamu terlalu indah untuk di lepaskan begitu saja tapi yang paling penting daripada itu.. Abang adalah imam yang kamu pilih untuk menerima kurang dan lebihmu. Abang pun sudah berjanji akan menjadikanmu bidadari di dunia.. maupun di surga. Itu sebab alasan Abang sangat mencintaimu"


Anye tak sanggup membendung air matanya lagi mendengar kata demi kata dari suami, pria dan juga ayah dari buah hatinya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2