Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
36. Pukulan Berat ( 3 )


__ADS_3

Hai pembaca.. mungkin awalan masalah Nara selalu sama ya menurut pembaca semua. Tapi isi di jamin beda. Percayakan dengan authornya ya..!!!! Please no rewel.. nikmati alurnya. 😘😘😘😘


🌹🌹🌹


"Anyeeee..." Rinto sangat panik.


...


Dokter Wira menatap mata Rinto dengan lekat.


"Yang tabah.. malam ini juga harus tindakan. Tapi......"


Mata Rinto berkaca-kaca. Tak tega melihat Anye.


"Lakukanlah yang terbaik dok" ucapkan menguatkan hati.


-_-_-_-


Anye menggeliat membuka matanya. Saat matanya terbuka, semua terasa berputar. Kepalanya pusing, tenggorokannya kering. Keringat dingin membasahi kening. Rasa mual kental terasa. Seketika itu Anye muntah.


Bang Rinto mendekap Anye karena istrinya belum kuat untuk duduk.


"Sakit?" tanyanya pada Anye.


Di sela tenaganya yang belum cukup, Anye menepis tangan Bang Rinto.


"Kenapa? Abang buat salah apa?" tanyanya sambil mengusap rambut Anye.


Dengan sabar Bang Rinto membantu merebahkan Anye agar lebih nyaman.


"Kalau memang Abang salah, Abang minta maaf" ucapnya membujuk Anye.


Anye memalingkan wajahnya, Rasa sakit di tubuhnya masih sanggup ia tahan. Tapi rasa sakit dihati sungguh membuatnya begitu tidak berharga.


"Ya sudah kalau nggak mau cerita. Abang tunggu sampai kamu siap" kata Bang Rinto.


"Sekarang mau makan? Lapar khan dari kemarin nggak makan?"


"Kenapa Abang temui Ivana? Apa yang Abang lakukan sama Ivana?" tanya Anye dengan suara tercekat.


"Apa dia bilang sama kamu?"


"Jadi benar Bang? Abang temui dia???" Anye terdengar sangat kecewa Bang Rinto pergi menemui Ivana.


"Anye tau, Anye masih banyak kekurangan. Tapi Anye tidak mau di khianati. Hati Anye sakit sekali Bang"


"Abang memang temui Ivana" jawab Bang Rinto tidak ingin berbohong.


Anye menangis sampai dadanya terasa sesak. Perutnya kembali nyeri.


"Abang tidak pergi sendiri. Ada Bang Arben dan Gathan yang menemani" Bang Rinto mencoba menyentuh Anye, tapi Anye tidak bisa di tenangkan. Tangannya memukuli dada Bang Rinto dengan sekuat tenaga yang tidak ada apa-apanya sama sekali dirasakan Bang Rinto.


"Untuk apa Abang kesana??"


Bang Rinto memeluk Anye dengan erat. "Nggak ada niat Abang menduakan kamu. Abang temui dia untuk memperjelas soal kecelakaan di ruang praktek"


"Nggak usah banyak alasan Bang" tangan Anye meraba ingin meraih ponselnya yang berada di atas meja samping ranjang. Bang Rinto mengambil ponsel itu dan menyerahkan pada istrinya.


Anye memutar percakapan dengan Ivana yang sempat ia rekam. Hati Bang Rinto yang sudah sakit malah tambah geram saja mendengar ucapan Ivana yang tidak percaya bahwa Anye adalah benar istri sah Bang Rinto.


"Abang memilihmu menjadi istri Abang karena Abang percaya kamu layak menjadi istri dan ibu dari anak Abang. Andaikan saja Abang tidak bertemu denganmu. Abang pastikan Abang pun tidak akan jatuh cinta sama Ivana"


Mendengar itu, Anye baru mau menoleh menatap mata Bang Rinto.


"Ivana dan Seruni sama sekali tidak menarik perhatian Abang" ucap Bang Rinto dengan tegas.

__ADS_1


Seorang perawat masuk kamar rawat Anye.


"Di suntik lagi ya Bu" ucap perawat wanita itu.


Bang Rinto melepaskan pelukannya, membiarkan perawat memberikan suntikan pada Anye.


"Takuuutt..!!!" ucap Anye. Ingin berontak tapi dirinya sudah tidak ada tenaga lagi.


"Tahan sedikit ya, ini usaha untuk mempertahankan anak kita" bujuk Bang Rinto karena pendarahan Anye belum juga berkurang. Calon bayinya belum menunjukan perubahan yang signifikan.


Anye memercing kesakitan saat mendapatkan perawatan. Hati suami mana yang tega melihat istrinya harus mengalami hal seperti ini.


"Kamu jaga baik-baik anak kita. Biar Abang selesaikan semua"


***


Mama Yasmin duduk berhadapan dengan Seruni. Matanya sembab karena terlalu banyak menangis.


"Mama minta maaf kalau mama banyak salah sama kamu nak. Tapi segala yang terjadi dalam keluarga kita di luar kuasa mama"


"Mama Vania pasti meninggal karena memikirkan papa dan mama" pekiknya.


"Cukup sudah bicaramu..!!! Dari kamu kecil, kami berusaha memberimu perhatian dan kasih sayang. Kamu pikir siapa yang merawatmu saat Papa bertugas. Siapa yang membelamu kalau papa sedang marah?? Kalau kamu tidak bisa menghormati Mama Yasmin.. jangan pernah kamu kembali lagi ke rumah ini. Lebih baik papa kehilangan anak seperti kamu"


"Papa bela Mama Yasmin?? Papa pilih Mama Yasmin daripada aku anak kandung Papa?????" tanya Seruni.


"Iya, dan membesarkan kamu adalah penyesalan seumur hidup papa" ucap Papa Ardi dengan tegas.


Seruni begitu sedih mendengar ucapan papanya. Ia pun berlari pulang ke rumah diikuti Hengky di belakangnya.


...


"Jangan sok baik.. Abang sama saja dengan Papa. Di dunia ini tidak ada yang mencintaiku" pekik Seruni.


"Carilah wanita yang Abang bawa waktu itu..!!! Terserah apa yang mau Abang lakukan di belakangku"


"Abang bohong khan?"


"Nggak..!!"


"Jujur Abang cari tambahan untuk memenuhi segala keinginanmu. Abang nggak pernah mengeluh dan Abang senang bisa melakukannya untuk istri Abang" jawab Hengky.


"Kenapa Abang lakukan itu??? Abang nggak malu jadi sopir taksi online???"


"Selama itu halal kenapa harus malu. Abang nggak mencuri. Abang sadari dasar pernikahan kita sudah salah. Abang ingin memperbaiki semuanya" Hengky membelai rambut Seruni.


"Abang sungguh mencintai kamu"


***


"Sudah..Abaang..!!!!" Anye menutup mulutnya karena Bang Rinto terus memaksanya makan.


"Kenapa ini??" ayah Rama membuka pintu dan melihat keributan di kamar Anye. Ayah Rama datang bersama Mama Dinda.


"Abang yah. Paksa makan terus" kata Anye mengadu.


"Bagus itu, biar ada tenaga" ayah Rama malah mendukung Bang Rinto membuat Anye jadi jengkel.


"Tuh khan, Abang nggak mau ya badanmu kurus kering seperti orang tekanan batin" ledek Bang Rinto.


"Ya memang.. Semua juga karena Abang" ucap Anye.


"Iya.. semua gara-gara Abang" Bang Rinto mengalah.


"Jangan marah terus dek. Kasihan bayi di dalam perutmu" kata Mama Dinda mengingatkan.

__ADS_1


Ayah Rama mengambilkan kursi untuk istrinya yang terlihat sangat lelah meskipun berjalan tidak jauh. Usianya sudah membuatnya payah.


Bang Rinto duduk sambil memijat pelipisnya.


"Kamu mau pulang dulu Rin? Biar Anye sama ayah mama" kata ayah Rama. Menantunya itu sudah pasti sangat lelah, tapi Rinto bukanlah orang yang mudah mengeluh.


"Nanti saja yah, kalau saya tinggal nanti ada yang mewek" ledek Bang Rinto sambil melirik Anye.


"Siapa?? Kalau mau pergi ya pergi saja...!!!" Anye memalingkan wajahnya.


"Ya sudah.. Abang pergi ya..!! Nanti sore Abang kembali lagi. Abang mau kerjakan tugas kantor sebentar" ucap Rinto berdiri karena ingin pergi ke toilet.


Baru saja punggung Bang Rinto berbalik, Anye sudah sesenggukan.


"Lah, kamu kenapa dek???" tanya Bang Rinto bingung.


"Jangan pergi, adek kangen"


"Adek yang mana?" Bang Rinto mengulum senyum.


"Ya sudah, Abang nggak jadi pergi deh" ucap Bang Rinto mendekap Anye.


"Ijin Komandan. Hari ini saya berhalangan hadir karena ada urusan keluarga" ijin Rinto di hadapan Rama.


"Haduuhh.. ijin macam apa ini" lirik Rama dengan jengah.


-_-_-_-


Sore itu Hengky menemui Rinto secara langsung di rumah sakit.


"Kesalahanmu itu terlalu fatal"


"Aku tau, dulu aku merebut Seruni dari kamu. Kesalahanku dan Seruni tidak dapat di maafkan...."


"Jangan melebar kemana-mana. Kamu tau... karena hal itu.. aku semakin menyadari kalau Tuhan selalu memberikan pasangan yang terbaik untuk kita walaupun caranya mungkin harus melewati cara yang menyakitkan" jawab Rinto.


"Sekarang aku tidak peduli lagi.. mau Seruni menangis atau tertawa.. dia adalah istrimu, tanggung jawabmu, tapi disini Seruni sudah menyentuh Anye dan sebagai suaminya.. aku tidak bisa menerima hal itu. Dia harus berhadapan denganku..!!!" bentak Rinto.


"Aku minta maaf, jangan sakiti istriku. Marahlah padaku. Aku yang tidak bisa mendidiknya" kata Hengky.


"Kalau hantamanku bisa menyadarkanmu, sudah dari dulu aku lakukan..!!!" kesal Rinto.


"Maaf..!!!"


"Asal kamu tau.. Anyeku adalah wanita yang dewasa. Dia bersembunyi di balik sikapnya yang kasar untuk melindungi dirinya dari kerasnya dunia luar tapi dia tetap Anyelirku yang berharga"


-_-_-_-


"Dok.. apakah bayi saya masih bisa bertahan? Sampai siang ini Anye masih terus pendarahan" tanya Bang Rinto pada dokter Wira.


"Hmm.. berat sekali saya harus katakan ini. Lebih baik janinnya di angkat saja"


"Apa masih ada detak jantungnya dok?"


"Masih ada, tapi sangat lemah. Hampir terhenti"


"Lakukan dok, biar saya tanda tangani" ucap Bang Rinto dengan nada bergetar


...


Dengan langkah gontai Bang Rinto memasuki kamar Anye. Tapi saat mengedarkan pandangan. Tak ada istrinya itu. Jarum infus tergantung pada tempatnya.


"Astagfirullah.. Anyeee....!!!!!!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2