
"Ayahmu bagaimana kabarnya?" tanya Om Candra saat mengajak Anye mengobrol.
"Ayah baik Om. Malah semakin garang saja. Anye punya adik bayi berumur satu tahun" ucap Anye.
"Waahh.. Luar biasa. Hahahaha...!!!" Om Candra tertawa geli mendengar seniornya itu punya bayi lagi di usia yang tidak di bilang muda lagi.
"Suamimu anggota dimana?"
"Anggota Batalyon M"
"Siapa namanya?" tanya Om Candra.
"Kapten Rinto Dirgantara" jawab Anye.
"Astaga.. Rinto??? Pria kaku dan beringas itu suamimu??" Om Candra melotot tidak percaya pendengarannya.
"Iya Om. Om kenal??" tanya Anye.
"Kenal.. Dia salah satu siswa berprestasi di angkatannya beda nol koma satu saja dengan Kapten Abrian dalam penilaian angka. Ya.. sekarang pasti pangkatnya juga kapten. Suamimu nomer satu dan Kapten Abrian nomer dua. Suamimu itu brutal dan selalu mencari masalah. Entah apa hal yang di takutinya saat itu. Rasanya tidak ada hal yang membuat suamimu lemah dan takut" jawab Om Candra menjelaskan.
Anye tersenyum karena ia pasti sudah tau apa yang membuat suaminya lemah dan takut.
"Woow.. begini ya rupanya tingkah istri kesayangan pak tentara. Selingkuh di belakang suaminya. Kira-kira bagaimana reaksi suamimu kalau tau kamu bermain api di belakangnya" ancam Ivana muncul di belakang punggung Om Candra membuat suasana menjadi tidak nyaman.
Ivana melihat perut Anye yang mulai besar, ia menutup mulutnya.
"Astaga.. kamu hamil??" tanyanya penuh dengan ekspresi meledek.
"Hey, siapa kamu berani bicara sembarangan" tegur Om Candra.
"Ternyata doyan om-om" ejek Ivana tanpa rasa takut sedikitpun. Ia menggandeng lelaki setengah baya di sampingnya.
Om Candra kesal sekali mendengar ucapan gadis yang tidak di kenalnya langsung menuduhnya seperti itu. Ia tidak masalah jika gadis itu menuduhnya, tapi sekarang gadis itu sudah menuduh Anye.. 'gadis kecilnya' yang ia sayang seperti anaknya sendiri.
"Mulut yang tidak pernah di ajari sopan santun. Pantas saja hidupmu kacau tak karuan" Om Candra menghardik Ivana sampai gadis itu bersembunyi di belakang punggung pria setengah baya itu.
"Cepat kalian pergi dari sini atau wajah gadis itu kusiram dengan air panas" ucap Om Candra pada lelaki yang berdiri bersama Ivana.
Anye tidak menjawab tapi wajahnya terlihat tertekan sekali.
"Ada apa? Apa dia mengganggumu?" tanya Om Candra.
"Dia pernah mendekati Bang Rinto" jawab Anye pelan.
"Rinto selingkuh????" Om Candra membelalakan mata.
"Nggak Om. Abang nggak pernah seperti itu"
"Bilang sama om kalau dia macam-macam"
Anye tersenyum kecil mendengar perhatian Om Candra.
"Ayo Om antar pulang..!! Om ingin mampir ke tempat ayahmu..!!" ajak Om Candra.
__ADS_1
-_-_-_-
Anye menata barang belanjaannya. Saat ada Bang Rinto, suaminya itu selalu membantunya. Kini sudah hampir dua bulan penuh tak ada kabar dari suaminya itu.
"Abaang.. Anye rindu" ucapnya duduk di meja makan sendirian, ia tertelungkup dan menangis sedih. Tak ada kabar dari suaminya dan hanya tau dari ayahnya kalau suaminya itu baik-baik saja.
"Abaang.."
"Abaaaanngg.." tangisnya semakin tersedu.
-_-_-_-
"Aarrhh.. " Rinto meremas dadanya, jika teringat sosok Anyelir entah kenapa ada rasa sakit dan mual padahal ia sama sekali tidak macam-macam.
"Mual lagi?" tanya Brian
"Iya nih.." jawab Rinto memejamkan mata masih menahan mualnya.
"Sabar, mungkin kamu kepikiran.. Anye juga kepikiran. Anakmu protes" Brian mencari obat di rangsel Rinto sampai rangselnya sendiri, tapi tidak ada obat mual yang tersisa.
"Obat mual habis. Kamu masih bisa tahan?" tanya Brian.
"Masih.. santai saja" jawab Rinto.
"Tahan ya, kita tinggal turun ke bawah.. situasi sudah landai" kata Brian.
Abang harap kamu kuat dek, sabar ya sayang.. Abang pasti pulang..!!
...
"Kenapa kalian bawa senjata?? Kalian mau memburu kami??" tanya seorang anak suku.
"Tidak.. kami tidak memburu, ini hanya perlengkapan saja" jawab Rinto netral.
"Kenapa kalian mengintai kami??"
"Maaf kami tidak mengintai. Tujuan kami hanya mengamankan wilayah. Kalian tidak anarkis.. kami juga tidak menyerang" jawab Rinto.
"Serahkan senjata kalian" kata anak suku yang lain.
"Mohon maaf, ini bukan mainan. Ini juga bukan milik saya pribadi......"
"Panah..!!!!!" Baru saja akan berunding, sebatang anak panah akan di luncurkan. Rinto menarik tubuh Bowo hingga menabrak Brian.
"Jangan Rin..!!!" Rinto menghadang anak panah hingga menusuk dada kirinya. Para anak suku dalam sekejab mata sudah mengeluarkan parang.
Rinto mencabut panah itu dan balik menyerang kelompok anak suku tanpa rasa takut sedikitpun.
"Rinto.. Jangan gila..!!!!!" pekik Brian yang kemudian ikut menyerang.
Saling serang tidak dapat di cegah. Bowo mengabarkan pos utama bahwa beberapa kilometer dari tempatnya, mereka sedang di serang musuh karena jumlah personel mereka sangat kurang.
"Di titik koordinat xxxxxxxx"
__ADS_1
jzlebbb...
"Astagfirullah hal adzim.. Bantuan..!!!!!"
***
Anye sedang mengadakan kegiatan rutin bersama para istri anggota yang lain. Hari ini ada kunjungan dari markas yang berarti kunjungan dari ayah Rama dan Mama Dinda. Di dalam aula, nampak terasa aura dingin dan tidak bersahabat.
"Untuk kali ini tidak ada penyambutan yang meriah seperti biasa dan nanti jika para pasukan sudah kembali, kita hanya akan mengadakan doa bersama di Batalyon. Bukan tanda kemenangan, tapi demi mendoakan anggota kita" ucap tegas Dan Rama di podium. Matanya berkaca-kaca. Ibu Dinda R. Satria pun sampai menyeka air matanya.
"Apapun yang terjadi, pasukan kita sudah menjalankan tugas sebaik-baiknya prajurit dalam membela bangsa dan negara" ucap Dan Rama tercekat membuat para istri anggota meneteskan air mata.
Ibu Dinda yang biasanya tegar tak sanggup berdiri tegak sampai Rama harus mendekapnya.
Anye terdiam di tempatnya tak bisa meneteskan air mata, hanya tangannya mengusap perutnya. Sudah ada tendangan kencang dan merespon jika ia mengajak bayinya bicara.
"Papamu sedang apa sayang? Apa papa nakal lagi?" tanyanya pelan pada sang bayi.
"Adek janji khan sama mama, kalau papa nakal.. Adek buat papa mabuk parah" mata Anye sudah memerah.
"Mohon maaf jika kabar yang saya sampaikan mungkin akan tidak berkenan di hati. Tapi dua setengah bulan tanpa kabar pasti ibu-ibu semua ingin kepastian kabar suami. Yang bisa saya sampaikan saat ini adalah.. Banyak berdoa. Banyak para prajurit yang kurang baik kondisinya di medan tugas dan ada pula yang kritis dan terluka cukup parah dan bisa di katakan kritis" mata Rama memandang putrinya dengan tidak tega.
Anye hanya melemparkan senyumnya dan itu membuat tangis istri yang lain semakin pecah karena ibu Danki muda itu terlihat tegar tanpa tetesan air mata.
Abang.. hari ini Anye takut sekali. Anye takut kerinduan ini akan sia-sia. Taukah Abang.. Anak Abang sudah bisa menendang saat Anye mengajaknya bicara. Anye takut kebersamaan kita saat itu akan menjadi kehangatan kita yang terakhir. Anye mohon Abang cepat pulang..!! Anye ingin beritahu anak kita kalau papanya adalah papa yang terhebat, papanya yang begitu sayang padanya.
"Bu Rinto.. apa menjadi istri seorang prajurit itu berat?" tanya Dan Rama.
Anye tetap duduk di posisinya, ia mengusap perutnya "Ijin Komandan.. sebelumnya saya berterima kasih atas informasi. Dengan informasi itu kami cukup lega karena tau suami kami yang sedang bertugas"
Anye menguatkan hatinya untuk bicara.
"Jika Komandan menanyakan dalam wacana, makan akan saya jawab tidak berat. Karena saat pengajuan nikah.. kami sudah menyatakan kesanggupan untuk menjadi seorang istri abdi negara apapun yang menjadi resikonya termasuk ajal yang kapan saja dapat memisahkan kami dengan suami. Tapi jika Komandan menanyakan pada saya pribadi maka saya akan menjawab iya. Kami tetap seorang wanita yang membutuhkan sandaran. Suami saya adalah belahan jiwa saya. Tanpa suami.. saya seperti kehilangan pegangan hidup"
Anye menunduk seolah tidak sanggup berkata apapun lagi.
Seorang anggota datang dan berbisik pada Rama.
"Biarkan mereka masuk menemui keluarganya"
Tiba-tiba satu persatu anggota satgas masuk ke dalam aula.. mereka menghambur memeluk istri dan anak mereka masing-masing. Ada tangis bahagia disana saat bisa kembali memeluk erat istri dan anak tercinta.
"Abang..!!" Shisi berlari memeluk Brian yang nampak terluka.
"Jangan nangis sayang. Abang nggak apa-apa. Mana anak-anak?" tanya Brian sambil mengajak Shisi menepi.
Anye masih duduk diam di tempatnya menoleh pada sang ayah. Rama menghapus air mata yang akan meluncur di pipi.
"Sabar..!!" ucapnya dari jauh memberi kekuatan pada sang putri.
.
.
__ADS_1
.