Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 108. Perhatian khusus.


__ADS_3

"Tolong disisir Bang"


"Oohh.. oke" Bang Zaldi sudah mengambil sisir dan bersiap merapikan rambut Arnes.


"Bukan rambut yang ini Bang" tolak Arnes.


"Terus yang mana?" mata Bang Zaldi sudah nakal berbinar terang. Senyum nakal pun terkembang.


"Ini lho..!!" Arnes mengambil kotak besar disana. Mata Bang Zaldi yang semula berbinar jadi melotot melihat Arnes memintanya menangani sesuatu yang bertentangan dengan batinnya.


"Abang ini jantan. Nggak main begituan" Bang Zaldi berdiri untuk menghindar tapi Arnes sudah kembali cemberut.


"Kalau Abang keluar dari kamar ini.........."


"Oke.. Abang main. Wes, kamu diam duduk anteng disana dan jangan buat ulah lagi" perintah Bang Zaldi.


...


Bang Bayu, Bang Bima, Opa Rama dan Papa Rinto terkikik melihat Bang Zaldi menyisir rambut Barbie sambil bergumam sendiri mendalami 'perannya'. Tapi yang membuat para keluarga salut adalah.. Bang Zaldi memberikan banyak nasihat di balik perannya.


"Itu kenapa perutnya di sumpal Bang?"


"Si Sandra khan istri prajurit. Istri prajurit mah rata-rata cepet gol nya dek. Bapaknya nggak mau ketinggian proyek" jawab Bang Zaldi sambil menggelung rambut Sandra kemudian memakaikan jilbab menggunakan kain senada.


"Kenapa di tutup Bang, rambut Sandra khan bagus"


"Kalau bisa rambut indah wanita itu sebaiknya di simpan saja dan hanya di perlihatkan pada suaminya. Karena itu adalah hal yang sangat mengena di hati" jawab Bang Zaldi.


"Oke Bang, sekarang Abang bersandar dulu di samping ranjang" Arnes mendorong kemudian mengangkat roknya yang mengganggu lalu menduduki paha atas Bang Zaldi.


"Hhhh.. asyiikk..!!!" senyum nakal Bang Zaldi terkembang. Tangannya napak tilas menelusuri daerah yang begitu ia sukai.


plaaakk..


"Jangan nakal..!!" Arnes menepis tangan Bang Zaldi yang nakal.


"Lho.. kamu minta khan dek??" tanya Bang Zaldi bingung.


"Arnes mau make up in Abang" jawab Arnes sambil membuka palet make up kesayangannya.


"Ya Allah.. Abang kira kamu mau ajak fight dek. Abang sudah on siap tempur ini" ucapnya dengan wajah kecewa.


Arnes bergoyang tidak nyaman karena menduduki sesuatu yang memang sudah menegang 'keras kepala'.


"Aaaahh.. jangan goyang kalau nggak mau di apa-in. Ini kalau Abang nggak kuat, habis kamu dek"


Arnes yang iseng malah mengerjai Bang Zaldi. Ia mengikat rambutnya dan memamerkan lekuk tubuh indahnya. Bang Zaldi memilih memejamkan mata tapi semua seakan sia-sia karena Arnes meliuk-liuk di atas pahanya. Tangannya mengepal dan menutup membawa degub jantung gelisah.


Arnes bersenandung kecil sambil menghias wajah Bang Zaldi. Tubuhnya ikut bergerak mengikuti irama musik koplo yang ia dengar dari ponselnya.

__ADS_1


Aduuuhh.. punya satu istri satu aja begini amat ya tingkahnya. Gimana rasanya pria punya istri dua. Bisa maag kronis tuh.


Bang Zaldi memercing tak tahan, ujian ini terasa begitu berat untuknya. Berkali-kali ia mendesahh pelan karena ulah si cantik Arnes.


Dengan santainya Arnes memoles semua make up di wajah Bang Zaldi. Ia tau, menyadari dan merasakan sang suami sudah sangat bergairah dan menginginkannya dari bahasa tubuh juga sesuatu yang menegang sedang ia duduki tapi ia pura-pura buta dan tuli seolah tak ingin peduli. Apalagi setelah melihat wajah Bang Zaldi yang begitu cantik, hatinya semakin ilfeel saja karena merasa tersaingi.


"Iiihh.. kenapa lah wajah Abang ini jadi cantik. Malas Arnes lihatnya Bang"


"Kamu sendiri lho yang buat, masa Abang yang di salahkan?" protes Bang Zaldi.


"Pokoknya Arnes nggak suka lihat wajah Abang..!!" Arnes menyambar bantal dan menutup wajah Bang Zaldi.


Bang Zaldi menepis bantal itu.


"Wooo.. wes di sabari malah ngelunjak. Kuwi jenenge ngundhang molo mu dewe.. Harus di tindak tegas kamu ini..!!" Bang Zaldi menarik tengkuk Arnes, secepatnya 'menghabiskan' bibir manis yang sejak tadi membuat pikirannya melayang kemana-mana. Bang Zaldi memberi ruang agar Arnes tidak kaget dengan perlakuannya. Ia sedikit menarik diri takut si Usrok yang terhimpit jadi ngamuk-ngamuk karena tidak di beri kebebasan.


"Kamu tega lihat suamimu sudah seperti ini?"


Entahlah.. tangan Bang Zaldi yang terlatih itu sudah membebaskan sandera dan bersiap membidik lawan.


"Abang masih di hukum..!!" protes Arnes pelan.


"Lagian Arnes jengkel lihat wajah Abang"


"Astaga.. kamu yang buat ulah sekarang kamu juga yang nggak mau. Jangan main-main kamu sama Abang" Bang Zaldi membuka laci nakasnya lalu mengambil topeng dan memakainya.


"Sudah khan, nggak ada masalah lagi?? Kamu jangan banyak alasan..!!"


:


"Bang.. Arnes nggak mau di tinggal..!!" rengek Arnes saat Bang Zaldi hendak bergeser.


"Nanti lagi ya. Abang lagi nggak fit dek. Malam lagi deh"


Arnes pun memasang wajah cemberutnya.


"Laahh.. tenan to, makane karo wong lanang iku ojo wani. Nanti lagi ya..!! Nggak enak di luar Ada Opamu, Papamu, Abangmu" kata Bang Zaldi.


...


Para pria menahan tawa saat Bang Zaldi menghapus mode cantik di wajahnya. Para pria kemudian mengopi di teras terkecuali Bang Zaldi yang sedang dilarang minum kopi dulu karena ia baru meminum obat agar tidak sampai kambuh. Sesaat tadi ia hampir kambuh dan untung saja Opa Rama dan Papa Rinto memergokinya.


"Masih sakit Zal?" tanya Opa Rama daripada harus menertawai cucunya.


"Nggak Opa, ini sudah enakan" jawab Bang Zaldi tanpa sungkan menghapus make up itu.


"Kamu jangan memaksa sesuatu di luar kemampuanmu. Opa tau niatmu baik untuk bisa segera lepas dari benda itu tapi kamu juga nggak bisa segegabah itu dengan tidak bertahap meminum penawarnya. Semua butuh proses Zal" kata Opa Rama menasihati.


"Saya kasihan Arnes. Saya sempat memukulnya tanpa sadar" ucap Bang Zaldi tidak pernah lepas dari penyesalan. Seumur hidupnya ia tidak akan pernah melupakan tindakannya pada sang istri.

__ADS_1


"Sudahlah Zal. Kalau kamu mengingatnya terus, hatimu akan terus sakit. Yang penting kamu menyadari kesalahanmu, itu sudah cukup. Papa tau semua itu tidak sengaja. Kita tidak bisa menghindari musibah"


Bang Zaldi terus menunduk. Opa Rama dan Papa Rinto tau betul bagaimana perasaan Bang Zaldi saat ini. Sifat garangnya boleh saja muncul di permukaan.. tapi untuk seorang istri, hatinya halus selembut sutra.


"Hmm.. saya mau ajak Arnes pergi ya pa..!! Bisa saya minta tolong titip anak-anak? Satu malam saja?" tanya Bang Zaldi.


"Biar sama Opa. Sudah lama sekali Opa sama Oma tidak mengasuh anak-anak" kata Opa Rama.


"Pergilah nikmati malam mu bersama Arnes"


...


"Sayang.. kita jalan-jalan yuk..!!" ajak Bang Zaldi saat baru saja keluar kesatrian.


"Kemana?" tanya Arnes sudah kehilangan mood nya.


"Ikut saja..!! Jangan banyak tanya. Kamu pasti suka" Bang Zaldi mencolek pelan dagu Arnes.


...


Senyum Arnes mengembang saat Bang Zaldi mengajaknya berjalan-jalan di alun-alun kota usai sholat isya. Banyak benda unik dan lucu menarik perhatiannya.


"Bang, ayo beli mainan monopoli..!!"


"Nggak usah, kalau kamu kalah.. Abang juga yang kena marah"


"Kalau begitu beli burung gereja yang kecil itu. Nanti kita lepas Bang..!!" pinta Arnes.


"Ya sudah ayo..!!"


:


Bang Zaldi sudah membayar semua harga burungnya, ia pun langsung menerbangkan burung-burung kecil itu. Penjual burung itu kaget saat melihat Arnes melepas burungnya tanpa pikir panjang.


"Nggak sayang pak?" tanya penjual burung tersebut.


"Sudah pak, biar saja.. istri saya sedang hamil, daripada minta macam-macam. Biar saja dia main burung" bisik Bang Zaldi.


"Bang.. lagi..!!" pinta Arnes.


"Nggak ada lagi sayang. Ayo ikut Abang saja.." ajak Bang Zaldi setelah berpamitan pada pedagang burung.


"Kita cari lagi yuk Bang..!!" pinta Arnes masih merengek.


"Nggak usah. Ada yang lebih keren" jawab Bang Zaldi datar tanpa menoleh pada Arnes.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2