
Tidak di perkenankan komentar buruk karena cerita belum usai.
🌹🌹🌹
Dengan langkah malas Bang Rinto membuka pintu ruangannya.
"Astaga Bang. Danki disini tidak hanya saya. Kenapa cari saya???"
"Saya pinjam bajumu saja" kata Bang Satriyo.
Bang Rinto memijat pangkal hidungnya tak tau lagi bagaimana harus menghadapi Bang Satriyo.
"Bang Satriyo mau pinjam baju Abang ya? Ini Bang bajunya" Anye menyerahkan sebuah kaos loreng yang masih baru dari dalam lemari pribadi Bang Rinto.
"Iya benar. Waah.. istri Rinto sudah cantik, pengertian lagi..!! Nggak seperti yang punya istri. Sudah hitam, sok ganteng, pakai jambul cakar langit lagi" ejek Bang Satriyo.
"Eheemm... Ijin Bang. Pilihan saya tidak ada yang gagal pandang. Tapi kalau Abang lirik istri saya.. bersiap saja saya pelintir perut Abang yang mulai zero pack itu" bisik Bang Rinto mengancam bang Satriyo.
"Heehh.. berani kamu sama senior???"
Bang Rinto tersenyum mengejek.
"Waahh.. Ternyata kamu sudah lupa rasanya di jungkir..!!"
#
"Sudah.. berdiri kamu. Nanti istrimu protes karena kamu kecapekan" kata Bang Satriyo menyudahi acara menghukum Bang Rinto yang sedang menjalankan hukuman sikap tobat karena sempat mengancamnya.
"Siap.. terima kasih Bang..!!" jawab Bang Rinto lalu berdiri dari posisinya.
"Hmm.."
"Makanya jangan asal bicara. Kalau Madam Satriyo dengar bisa di remuk tulangku jadi abon" Bang Satriyo menggerutu sebal.
"Lagian kenapa juga merayu istri saya?" tanya Bang Rinto.
"Saya hanya memuji, nggak niat merayu. Kamu jangan sensi gitu donk Rin..!!"
"Sudah Bang diam saja. Rinto orangnya cemburuan" bisik Gathan.
Bang Satriyo hanya menghela nafas panjang menghadapi Danyon konyol itu.
***
Kedatangan Bang Arben dan Bang Satriyo semakin menambah warna dalam kehidupan bermasyarakat antara anggota Batalyon dan Markas. Rumah mereka pun hanya berbatas tembok batako di samping rumah Gathan yang berada paling ujung dengan pintu gerbang kecil disana.
"Sepi sekali ya disini kalau malam?" tanya Bang Satriyo merasa bosan berada di kawasan yang tidak terlalu ramai dengan aktivitas kota pada umumnya.
"Terus mau bagaimana Bang? disini bukan kota besar" jawab Rinto.
__ADS_1
"Ada tempat karaoke atau club malam nggak?" tanya Bang Satriyo
"Ada Bang, saya dua kali kesana" jawab jujur Bang Rinto.
"Dalam rangka apa kamu ke club malam????" tanya Bang Satriyo terpekik kaget.
"Ya ampun Bang. Pelankan suara Abang..!! Kalau Anye dengar saya bisa di mutilasi" jawab Bang Rinto dengan panik.
"Waahh.. kamu main gila di belakang Anye ya?????" selidik Bang Satriyo.
"Astagfirullah.. nggak Bang. Saya hanya minum saja, buat hilangkan stress" dulu Bang Rinto memang pernah masuk club malam saat hatinya merasa panas dan cemburu melihat Brian memberi perhatian lebih pada Anye. Tapi ia menyimpan rapat pernah berkenalan dengan seorang wanita malam bernama Mawar.
flashback on...
Rinto merokok di kebun halaman belakang rumahnya. Malam itu terdengar Anye sedang mual dan Brian menyusulnya ke toilet.
"Abang tau pernikahan kita sudah batal, tapi apa tidak boleh Abang memperhatikan ibu dari anak Abang?" tanya Brian.
Anye tidak menjawab karena terus saja mual.
"Harus bagaimana Abang bicara sama kamu? Abang hanya ingin memperhatikan kamu setidaknya sampai anak kita lahir dek"
Rinto melihat Brian menarik pinggang Anye hingga jarak mereka berdua sangat dekat. Brian semakin mendekati Anye. Hatinya terasa semakin tidak kuat saat Brian semakin mendekatkan bibirnya pada Anye.
"Abang nggak minta banyak sama kamu dek..................."
-_-_-_-_-
Bang Rinto meneguk minuman haram di hadapannya. Ia tau itu tidak baik bahkan mabuk pun tidak akan bisa mengurangi rasa cemburu dalam hatinya yang sedang meradang.
"Suntuk? Mau kutemani?" seorang wanita menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Bang Rinto.
Bang Rinto menyambut uluran tangan wanita itu.
"Hai.. aku Mawar"
"Saya Toriq" jawab Bang Rinto juga menyebutkan nama samaran.
"Duduklah..!!" jawab Bang Rinto dengan hati yang masih panas.
Mawar langsung mengambil duduk di sebelah Bang Rinto dan merangkulkan tangan di belakang leher Bang Rinto yang berniat menciumnya. Bang Rinto tidak begitu menghindari tingkah Mawar. Rasa rindu pada Anye membuatnya hampir lupa diri.
Melihat Bang Rinto yang sedikit mabuk dan lumayan agresif membuat Mawar bersikap berani juga pada Bang Rinto.
"Ngamar yuk..!!!" ajak Mawar.
"Ayo..!!" jawab Bang Rinto masih antara sadar dan tidak.
...
__ADS_1
Kedua bibir sudah saling mengecup mesra, desiran di dada Bang Rinto pun naik turun.
"Ya Allah, Astagfirullah hal adzim" Bang Rinto berusaha keras untuk sadar saat Mawar mulai menjelajahi tubuhnya dan di tepisnya tangan wanita yang tidak punya hak apa-apa atas dirinya. Bang Rinto menutup kembali pakaian Mawar lalu segera berpaling tidak ingin menatap Mawar sambil membenahi pakaiannya sendiri.
"Kenapa? kamu suka khan?"
"Maaf.. saya sudah punya istri???" jawab Bang Rinto yang mulai sadar akan perbuatan buruknya.
"Istri????? Hahaha... istrimu tidak akan tau dan lagi.. jika istrimu memang bisa menyenangkan hatimu.. tidak mungkin kamu bertemu denganku sekarang"
Bang Rinto tertegun mendengar ucapan Mawar. Ia yang salah karena sudah tidak sabar menghadapi ujian Tuhan.
"Saya yang salah. Istri saya segalanya bagi saya" jawab Bang Rinto lalu mengambil jaketnya dan beranjak pergi tak lupa Bang Rinto meninggalkan sepuluh lembar uang berwarna merah di atas ranjang.
"Tunggu..!! Kamu sungguh tidak ingin menikmati malam denganku??" tanya Mawar.
"Maaf.. saya tadi benar-benar khilaf. Saya tidak ingin mengkhianati istri saya. Saya sungguh menyesal sudah mencoba mendekati kamu, dan saya juga merasa bersalah sudah mengkhianati istri saya" jawab Bang Rinto.
Mawar mengejar dan memeluk Bang Rinto dari belakang.
"Terima kasih. Kamu pria pertama yang memperlakukan saya dengan baik dan tidak ingin menyentuh saya" Mawar sampai menangis memeluk Bang Rinto dengan erat.
"Lepaskan..!! Saya bukan siapa-siapa kamu. Maaf..!!!" Bang Rinto segera pergi dari club malam itu" ucap Bang Rinto tak peduli dengan Mawar yang menangis tersedu.
#
"Kenapa aku bisa sebodoh ini. Kenapa aku bisa mengkhianati Anyeku...!!!!!!!" Bang Rinto frustasi memukul kemudi mobilnya dan berteriak-teriak di dalam mobil merasakan penyesalan yang teramat dalam karena menemui wanita lain. Tangisnya sudah tidak bisa ia tahan lagi hingga sesak di dalam dada.
"Anye.. maafin Abang dek. Demi Allah Abang khilaf. Abang minta maaf ya dek..!!" gumamnya penuh sesal mengacak rambut cepaknya. Ia meremas dadanya yang begitu sakit. Di ambilnya ponsel di dalam saku celananya dan memencet nomer seseorang.
"Alex.. tolong jemput saya di Jalan Beringin..!!!" tak lama ponsel Bang Rinto jatuh, ia pun tak sadarkan diri.
...
"Kenapa Dankimu ini??" tanya Brian.
"Ijin Dan.. tidak tau" jawab Alex dan Jeri.
"Kalian temukan dimana??" tanya Brian lagi.
"Ijin Dan.. di Jalan Beringin. Sudah pingsan" jawab Alex.
"Kamu kenapa sih Rin???? Nggak biasanya kamu mabuk-mabukan" Brian menghela nafas ikut bingung dengan perubahan sikap Rinto.
.
.
.
__ADS_1