
Sekarang Bang Rinto punya rutinitas setiap pagi yaitu memandikan baby Arnes serta mendandani putrinya itu hingga cantik jelita. Aura bahagia dari Danki itu nampak terlihat di setiap harinya.
tok..tok..tok..
Suara ketukan terdengar di rumahnya.
"Dek.. tolong buka pintu dulu sayang. Abang lagi sibuk nih"
"Iyaa" Anye segera melangkah pelan menuju depan rumah. Anye sangat kaget begitu tai siapa yang datang bertandang ke rumahnya.
#
"Cucu kecil mama cantik sekali" mama tak hentinya menciumi si kecil Arnes. Bang Rinto terharu melihat sayangnya mama pada putri kecil kesayangannya.
"Jelas donk ma. Mamanya saja cantik begini" jawab Bang Rinto sambil mendekap Anye yang duduk di sampingnya.
Tak lama sebuah mobil patroli berhenti di depan rumah Bang Rinto. Bang Rinto segera berdiri dan melihat apa yang sedang terjadi.
"Rintoo.. Mama di hadang di depan pos"
Mata Bang Rinto menatap penampilan mamanya dari atas kepala hingga bawah kaki Mama Wiza. Memakai tank top warna pink, rok denim jauh di atas lutut serta rambut berwarna pirang terang.
"Ini tamu saya. Silakan di tinggal. Terima kasih banyak ya" kata Bang Rinto menahan rasa malu akibat kelakuan mamanya.
#
Bang Rinto mengurut keningnya mendengar Mama Wiza terus complain dengan segala apa yang ada di rumahnya.
"Dasar mantu bodoh. Posisi sofa tidak seperti ini"
"Makanan apa ini. Nggak ada rasanya. Bisa-bisanya kasih makan anakku makanan seperti ini. Kamu kalau mau buat anakmu sakit perut ya terserah, asal jangan anakku"
"Ini ya ampuunn.. orang tua datang hanya di kasih cake dan kacang goreng. Pintar sekali kamu korupsi uang anakku"
"Cukup Bu Wizaaaa..!!!!!! Anda di ijinkan datang ke rumah ini bukan untuk menghina istri saya..!!!!!!" bentak Bang Rinto.
"Kamu masuk dulu dek..!! Tidurkan Arnes di dalam kamar" perintah Bang Rinto.
"Tunggu.. kamar itu mau kupakai..!! Aku nggak biasa tidur di kamar sempit" kata Bu Wiza menghentikan langkah Anye.
"Masuk.. kamu hanya boleh dengar kata Abang" ucap Bang Rinto menunjukan ketegasannya.
"Mas, anakmu memarahiku" rengek Mama Wiza meminta bantuan Pak Broto.
"Nak.. jangan terlalu keras dengan mamamu" pinta Papa.
"Lebih baik Papa diam saja dan tidak usah membela wanita ini atau kalian berdua akan ku usir"
__ADS_1
Pak Broto seakan tidak punya taring berhadapan dengan Bang Rinto.
#
Mama Wiza selalu menempel pada lengan Pak Broto. Tingkahnya sudah tak tau malu malah melebihi remaja yang sedang kasmaran. Mungkin niat hatinya ingin memanasi Mama untuk menunjukan bahwa seluruh harta Pak Broto akan jatuh ke tangannya.
Saat sudah seperti ini. Mama membuka kopernya dan mengajak Bang Rinto dan Anye bicara.
"Le, ini yang mama bilang waktu itu. Kamu ambil alih semua perusahaan. Sebelum anak-anak bisa mengambil alih perusahaan.. Kamu dan Anye yang handle semua. Tiga atas nama Anye, dua atas namamu. Tapi kamu tidak bisa mengambil sepeserpun harta ini tanpa tanda tangan dari Anye karena semua saham dan aset seluruhnya atas nama Anye. Kamu hanya akan mengawasi jalannya keuangan meskipun ada namamu disana. Apa kamu keberatan??" tanya Mama.
"Nggak ma. Sama saja mau atas namaku atau nama Anye" jawab Bang Rinto tak mau tau.
"Rinto.. kamu jangan bodoh. Kamu bisa miskin kalau tidak dapat harta ini" pekik Mama Wiza ingin merebut surat Aset berharga milik Mama.
Rinto menyambar tumpukan kertas berisi surat peralihan hak aset yang akan jatuh ke tangan Anye. Pandangan mata Mama Wiza sudah tidak bersahabat.
"Mas, terus harta apa yang kamu kasih untuk aku?" tanya Mama Wiza pada Pak Broto.
"Wiza.. Mas sudah bilang kalau mas nggak punya harta apapun. Selama ini mas hanya mengelola saja karena semua harta yang ada adalah milik mamanya Rinto" tegas Pak Broto.
Mama Wiza begitu murka mendengar semua kenyataan ini. Ia tidak akan memiliki harta sepeserpun. Mata Mama Wiza menatap Anye dengan perasaan benci.
"Anye.. kamu harus tulis surat kuasa agar Rinto bisa mengambil aset ini" kata Mama Wiza dengan tidak tau malunya.
"Bu Wiza.. anda tidak bisa ikut campur dalam masalah ini..!!! Apa penjara belum membuat anda jera???" tegas Bang Rinto.
Mama sangat panik dan berlari ke rumah Gathan sedangkan Papa Broto bingung harus bagaimana.
"Jangan Wiza..!!!!!!"
Bang Rinto pun berjalan mengikuti Mama Wiza karena mencemaskan putrinya yang sedang tidur di dalam kamar.
"Mau apa ke kamarku????" secepatnya Bang Rinto menghadang langkah Mama Wiza.
"Aku ingin kaya. Aku tidak mau hidup miskin" Mama Wiza menyambar pisau hias daerah yang terpajang di dinding rumah Bang Rinto.
"Dek.. cepat ambil Arnes dan jalan ke pos. Lapor kesana..!!!" perintah Bang Rinto.
Dengan cepat Anye masuk ke dalam kamar sedangkan Bang Rinto menghalangi Mama Wiza yang akan masuk dan mengambil bayinya. Saat perhatian Bang Rinto lengah.......
#
Para anggota POM mengamankan mama Wiza yang berteriak tak karuan. Anye segera berlari menghampiri dan memeluk Bang Rinto yang masih sangat marah karena kelakuan Mama Wiza.
"Kamu satu-satunya anakku, tapi seumur hidup kamu tidak bisa membahagiakan aku. Seburuknya aku, aku tetap ibu kandungmu Rinto" teriak Mama Wiza membuat semua orang disana tak sanggup berkomentar apapun.
Bang Rinto perlahan melepas pelukan Anye lalu menghampiri Mama Wiza. Mama Wiza sampai mendongak menatap putranya yang memiliki tubuh tinggi gagah khas seorang tentara. Bang Rinto berlutut di hadapan mamanya lalu bersujud mencium kaki mamanya. Tak ada yang bisa menjabarkan bagaimana sakitnya perasaan seorang Rinto saat ini.
__ADS_1
"Apa mama tau, dulu aku ingin sekali tau siapa mamaku saat tak sengaja aku tau kalau mamaku ternyata bukan mama kandungku. Taukah mama bagaimana sakit hatiku saat kutahu ternyata mama membuangku karena tidak menginginkanku?? Aku ikhlas ma. Terima kasih mama telah sudi melahirkan putra mu yang durhaka. Aku tidak pernah meminta untuk hadir di dunia ini ma. Tapi apa daya.. aku sudah terlanjur hidup sesuai kehendakNya" ucap Bang Rinto membuat Mama terdiam.
"Apa salah anak istriku hingga mama membencinya?? Kalau mama tidak mencintaiku, tidak apa ma. Aku memang tidak pantas mama cintai karena mungkin aku terlahir dari seorang pria yang mama benci, tapi Anye dan anakku.. mereka hadir dalam hidupku bukan karena Mama yang menentukan. Tusukan mama bisa menyakiti tubuhku, tapi sakit di hati dan tubuhku tidak akan aku berikan pada anak istriku. Jika boleh aku memohon.. menjauhlah dari hidupku dan keluargaku"
Sungguh Rinto mencium kaki mamanya sekali lagi. Ia pun berdiri dan mengarahkan agar para anggota membawa mamanya pergi. Rinto berbalik hendak kembali pada istrinya.
Sejadi-jadinya Mama Wiza menangis, ia memeluk punggung Rinto tanpa kata. Ada rasa sesal dalam hatinya tapi ia tau Rinto sudah sangat membencinya lebih dari apapun.
"Biar Allah yang menilai diriku ma. Mama pergilah..!!" pedih di hati Bang Rinto sampai meneteskan air mata pilu di pipinya.
Para anggota membawa Mama Wiza yang kini sudah tidak melawan lagi dengan apapun keputusan putranya.
Rinto masih terpaku di tempatnya sampai mobil yang membawa Mama Wiza tak terlihat lagi. Baru setelah semua terasa terlihat tenang. Bang Rinto meraba dada hingga perutnya, ia memercing melonggarkan nafasnya. Tau ada yang tidak beres dengan adik iparnya, Gathan segera mengecek kondisi Rinto.
"Saya nggak apa-apa Ga. Tolong panggilkan bagian kesehatan saja kesini..!!"
#
"Bang.. darahnya banyak sekali" pekik Anye.
"Kamu ini berlebihan sekali. Ini cuma luka kecil. Mana ada petarung lemah hanya karena tergores besi" ucap Bang Rinto membual. Ia tau Anye pasti sangat cemas meskipun benar lukanya itu terasa sakit meskipun tidak membahayakan dirinya.
"Abang bohong khan?" tanya Anye sambil mengusap air matanya.
"Buat apa sih bohong sama kamu. Yang ada Abang kualat" Bang Rinto perlahan mengangkat Anye masuk ke dalam kamar karena ia pun tau Anye juga masih belum sehat. Bang Rinto hanya mengedipkan mata pada para anggota, memberi tanda agar mereka tidak ikut campur dengan apa yang ia lakukan.
Seketika Gathan dan anggota bagian kesehatan ikut panik melihat kelakuan Bang Rinto pasalnya jahitan Bang Rinto baru saja di pasang tapi Kapten Rinto Dirgantara itu sudah bertingkah seolah tidak terjadi apapun.
"Bagaimana Kapten itu. Baru saja luka tusuknya minta di jahit, belum ada lima menit sudah menggendong istrinya yang juga masih sakit pasca persalinan" gerutu seorang petugas yang disadari oleh Gathan dan Bang Rinto.
"Hsstt.. diam saja lah kalian. Siapa orang yang mau bersitegang dengan Kapten kalian ini. Baginya tidak ada yang lebih penting dari istrinya. Sakit pun bisa tidak akan dirasanya" tegur Bang Arben yang sudah tiba disana.
"Siap salah Dan"
Bang Rinto sudah kembali lagi ke ruang tamu dengan gagah. Tapi raut wajahnya seketika berubah saat ia sudah kembali duduk di sofa dan bergabung bersama para rekannya.
"Aduuhh Tuhan.. sakit sekali...!!!" Bang Rinto meremas bagian lukanya sampai menggelinjang menggigit bibirnya.
"Obat pereda nyeri donk..!!"
"Kamu ini Rin. Ujung-ujungnya buat panik kita juga khan??" Bang Arben duduk lalu memegangi bahu Bang Rinto agar bersandar padanya.
"Cek lagi. Jahitannya pasti sudah terbuka" kata Bang Arben.
.
.
__ADS_1
.