Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Pertengkaran kecil


__ADS_3

"Lihat ini, bagus tidak?" Tanya Rea menunjukkan sebuah gaun pada suaminya karena saat ini mereka sedang berada di mall.


"Bagus." Jawab Zain sekenanya. Dan itu membuat Rea kesal setengah mati.


"Kau sama sekali tidak bisa di ajak shopping. Huh, kalau tahu seperti ini lebih baik aku pergi dengan Regan."


Zain memelototi Rea saat mendengar nama lelaki itu. "Apa lelaki itu sangat berharga bagimu?"


"Tentu saja, aku menyayanginya." Jawab Rea apa adanya sambil memilih beberapa pakaian baru.


"Cih, apa hebatnya dia?" Zain mendadak kesal.


"Kau memang lebih hebat dari segi finansial, tapi Regan memiliki kasih sayang yang lebih hebat darimu. Dia selalu menjadikanku prioritasnya. Aku bahagia karena bisa mengenalnya."


"Kau menyukainya?" Tanya Zain dengan wajah memerah karena kesal. Entahlah, ada perasaan aneh saat Rea terus memuja lelaki bernama Regan itu.


"Tentu." Jawab Rea.


"Kenapa kalian tidak pacaran saja? Atau mungkin menikah?" Ketus Zain. Rea yang mendengar ada nada aneh dalam ucapan Zain pun segera menoleh.


"Kau kenapa sih? Apa karena aku menyukainya, kami harus menikah begitu? Ayolah, kau tahu sejak lama aku hanya mencintaimu. Atau jangan-jangan kau cemburu?" Rea menyipitkan matanya untuk mencari jawaban dari ekpresi sang suami.


"Buat apa aku cemburu? Dia tak sebanding denganku." Sinis Zain.


Rea tertawa renyah. "Kau sangat aneh, Kak. Kalau cemburu katakan saja, jangan sembunyikan apa pun dariku. Lagian Regan itu sudah punya kekasih, kapan-kapan aku akan memperkenalkannya padamu." Rea mengamit tangan suaminya. Menarik lelaki itu ke kasir.


"Empat juta delapan ratus, Buk." Kata si penjaga kasir.


"Okay." Rea hendak mengambil credit card miliknya. Namun Zain menahannya lebih dulu.


"Pakai punyaku saja." Zain memberikan black card miliknya pada Rea.


"Serius?" Tanya Rea ragu.


"Ya, ambil ini. Pakai sepuasnya."


Dengan ragu Rea menerimanya. "Ikhlas kan?" Tanya Rea memastikan.


"Kau istriku, Re." Kesal Zain. Sang kasir yang menyaksikan itu pun tersenyum geli.


"Baiklah." Rea tersenyum senang seraya menyerahkan benda itu pada sang kasir.


"Jika tahu kau yang bayar, aku akan membeli yang lebih mahal. Jangan salahkan aku jika kau bangkrut nantinya." Gurau Rea.


"Habiskan saja jika kau mampu."


"Cih, sombong sekali." Ketus Rea.


Setelah melakukan pembayaran, keduanya pun bergerak menuju toko lainnya.


"Aku belum membeli oleh-oleh untuk orang rumah. Menurutmu apa yang harus aku beli?"

__ADS_1


"Aku rasa tidak perlu, aku sangat lapar. Sebaiknya kita cari restoran terdekat." Jawab Zain seraya menggenggam tangan istrinya dengan erat.


"Kau yakin? Jadi kita pulang dengan tangan kosong?"


"Hm."


Rea berdecak kesal. Lalu mereka pun masuk ke sebuah restoran untuk makan siang.


"Kau yakin tidak makan?" Tanya Zain saat Rea hanya memesan minuman.


"Ya, aku masih kenyang." Jawab Rea sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Semua itu tak lepas dari pengawasan Zain.


"Re." Panggil Zain yang berhasil mencuri perhatian Rea.


"Ya?" Rea menatap Zain bingung.


"Malam ini aku ingin menemui Zee." Ungkap Zain yang berhasil membuat Rea kaget.


"Untuk?"


"Aku akan bicara baik-baik padanya untuk mengakhiri hubungan."


Rea terdiam sejenak. "Aku ikut."


"Re...."


"Ikut, atau tidak sama sekali." Sanggah Rea begitu kekeh. Zain menatap istrinya lamat-lamat.


"Aku tidak peduli, lama atau sebentar aku harus ikut. Atau aku tidak akan bicara lagi padamu." Ancam Rea mulai kesal.


Zain menghela napas berat. "Terserah kau saja."


Rea tersenyum senang mendengarnya. "Apa dia yang meminta bertemu denganmu?" Tanya Rea.


Zain mengangguk pelan.


"Wow, jadi dia menyusulmu ke sini?" Lagi-lagi Zain mengangguk.


"Pasangan yang romantis." Puji Rea tersenyum getir.


"Re." Zain memperingati. Namun Rea bukanlah wanita yang mudah digertak.


"Kau tahu? Dia itu ratu drama. Aku tebak, dia akan memelukmu sambil menangis. Lalu memohon-mohon agar kau tidak memutuskan hubungan. Aku sudah bisa membacanya."


"Dia tidak akan melakukan itu."


"Berani taruhan?" Rea mencondongkan tubuhnya sambil tersenyum miring.


"Re, aku sedang tidak ingin bercanda."


"Kau pikir aku sedang bercanda? Sepertinya kau belum mengenal siapa kekasihmu itu. Dia itu ular berbisa, kapan saja bisa mematuk. Berhati-hatilah."

__ADS_1


"Cukup! Aku tahu kau cemburu, tapi tidak untuk menjelekkan orang lain." Bentak Zain.


Rea terkejut, ia melihat sekeliling karena semua mata tertuju padanya. Ia tersenyum getir. "Cinta memang membutakan segalanya. Sama sepertiku, mencintai lelaki bodoh sepertimu. Sudahlah, aku sudah tidak mood. Kau makan saja sendiri." Rea pun bangkit dari duduknya dan bergegas pergi.


"Rea." Panggil Zain. Namun wanita itu sama sekali tak mendengarkannya. Zain mengusap wajahnya kasar. Kemudian menyusul istrinya.


Zain menarik lengan Rea agar wanita itu berhenti. Rea berbalik dengan tatapan tak bersahabat. "Apa lagi? Kau akan memarahiku lagi di depan umum? Apa kau tahu bagaimana perasaanku?"


Zain menatap Rea penuh rasa bersalah.


"Seharusnya aku tidak salah mengartikan perlakuan manismu padaku. Aku yang salah. Aku mau ke villa, terserah kau mau menemui Zee atau tidak. Aku tidak akan ikut campur." Pasrah Rea.


"Sebaiknya kita bicarakan ini di villa. Ayok pulang." Ajak Zain membawa Rea pergi dari sana. Rea tampak pasrah dan sama sekali tak membantah.


Sesampainya di villa, Rea meletakkan barang belanjaan miliknya di atas meja. Kemudian memilih duduk di sofa. Zain pun ikut duduk di sebelahnya. Menarik tangan Rea dan menggenggamnya erat. Rea pun menoleh.


"Maafkan aku." Ucap Rea memberikan tatapan sendu. "Tidak seharusnya aku bersikap seperti anak kecil."


"Aku yang seharusnya minta maaf. Tidak semestinya aku membentakmu tadi."


Rea terdiam sejenak. "Itu salahku. Sebaiknya kau temui Zee, aku tidak akan ikut denganmu. Aku ingin istirahat di sini. Aku tahu kalian butuh privasi."


"Aku tidak akan menemuinya."


"Kenapa?" Tanya Rea heran.


"Karena kau istriku, sudah seharusnya kau menjadi prioritasku."


Rea tersenyum geli. "Aku mengizinkanmu untuk menemuinya. Aku baik-baik saja, pergilah."


"Kau yakin?"


Rea mengangguk pelan. "Aku percaya padamu."


Zain menatap Rea begitu dalam. "Aku tidak akan pergi."


"Eh, kenapa lagi? Aku sungguh percaya padamu, Kak." Kaget Rea.


"Aku juga ingin istirahat." Zain berbaring dan menjadikan kedua paha Rea sebagai bantal.


"Eh?" Kaget Rea. Zain tersenyum dan mulai memejamkan mata.


"Kak, kau belum sempat makan tadi. Apa tidak sebaiknya kita memesan makanan?"


"Besok kita pulang ya? Aku ingin makan masakanmu lagi. Meski kadang agak asin, tapi lebih baik dibanding makanan di luar." Ujar Zain yang berhasil mengundang tawa Rea.


"Kenapa tidak bilang sih kalau masakanku asin? Aku kan bisa mengoreksinya."


"Aku tahu kau masih belajar. Lagian aku sudah dapat asisten rumah tangga. Jadi kau tidak perlu susah payah terjun ke dapur, kecuali aku ingin masakanmu."


"Syukurlah, aku tidak akan kesepian lagi." Ujar Rea begitu antusias.

__ADS_1


"Hm." Zain membenamkan wajahnya di perut Rea. Menghirup aroma manis yang selalu membuatnya mabuk kepayang. Sedangkan Rea memilih diam sambil mengusap rambut suaminya.


__ADS_2