
Waktu yang ditunggu pun tiba. Putra pertama Queen dan Sean telah lahir ke dunia. Bayi mungil itu begitu tampan dan menggemaskan. Bahkan sang Ibu sampai menitikkan air mata sangking harunya.
"Sean, ini seperti mimpi." Gumam Queen seraya mengusap pipi tembam putra kecilnya yang baru lahir beberapa menit lalu.
Sean tersenyum, lalu menghadiahi kecupan hangat di kening sang istri. "Terima kasih."
Queen mendongak. "Dia mirip dirimu, Sean." Lalu kembali menatap putranya dengan senyuman bahagia. Sean yang juga tak kalah bahagia pun terus menghadiahi kecupan penuh cinta untuk istrinya.
Queen dan bayinya pun kini sudah dipindahkan ke ruang rawat VIP. Semua orang yang hadir terlihat bahagia menyambut kehadiran Baby boy. Terutama Rea, wanita paruh baya itu seolah tak ingin melepaskan cucunya dari gendongan. "Ya ampun, kenapa cucu Oma ganteng banget sih?"
Queen tersenyum geli mendengarnya. "Siapa dulu Mommy sama Daddynya?"
Rea mengangguk. Dikecupnya pipi gembul sang cucu dengan lembut. "Dengarkan Oma, sayang. Kamu harus menjadi anak yang berbakti sama orang tua. Menjadi kembanggaan kami semua."
"Tentu, Oma." Sahut Queen menirukan suara anak kecil.
Semua orang tersenyum bahagia. Kehadiran bayi mungil berparas tampan itu menyempurnakan kebahagian mereka. Terutama Sean, lelaki itu tak sedikit pun memudarkan senyumannya sejak sang putra lahir. Bahkan ia terus berada di sisi Queen seolah enggan untuk meninggalkannya meski satu senti.
Sebuah kecupan mesra ia hadiahi dikening Queen. "Terima kasih, sayang. Kau kembali memberikan kebahagian dalam hidupku."
Queen memeluk Sean. "Terima kasih juga sudah menjadi Ayah yang sigap. Aku mencintaimu, Sean."
Sean kembali memberikan kecupan hangat. "Aku lebih mencintaimu, sayang."
Queen tersenyum bahagia dalam pelukan Sean. Lalu matanya bergerak ke arah sofa di mana kedua orang tuanya tengah bercengkrama dengan sang putra.
Tidak lama dari itu, Juna pun datang membawa sebuah bingkisan. Tentu saja atensi semua orang langsung tertuju padanya. Dan Juna kali ini datang sendirian karena Faizah tak memungkinkan untuk ikut. Wanita itu juga sudah melahirkan putri kecilnya satu bulan yang lalu. Karena itu ia tak bisa ikut. "Ah, apa aku datang diwaktu yang tidak tepat?" Tanyanya sembari memandang semua orang satu per satu.
Queen tersenyum menyambutnya. "Enggak kok Uncle. Makasih loh udah datang jauh-jauh ke sini."
Juna tersenyum seraya meletakkan bingkisan di atas meja. "Selamat untuk kalian berdua." Ucapnya yang ditujukan pada Sean dan Queen. Lalu perhatiannya pun ia alihkan pada bayi mungil yang masih dalam gendongan Rea. "Dia mirip denganmu, Queen."
Queen tertawa kecil. "Benarkah? Tapi yang aku lihat dia mirip Daddynya."
Juna tersenyum kecil, dan pandangannya masih tertuju pada bayi menggemaskan itu. "Jadi ini calon menantuku kelak." Celetuknya yang berhasil membuat semua orang kaget, tetapi tidak untuk Queen. Ibu yang satu itu justru tertawa renyah.
"Jadi sekarang Uncle sudah mengakuinya. Apa karena dia tampan? Karena itu kau berubah pikiran huh?"
Juna menatap Queen. "Tidak juga, bukankah itu yang kalian inginkan? Sampai detik ini istriku masih saja membahasnya. Sampai aku bingung harus menjawab apa."
Rea dan Zain pun kini ikut tertawa. "Kalian ini ada-ada saja." Kata Rea menggelengkan kepala.
"Tapi aku tidak keberatan dengan ide mereka." Timpal Zain. "Jadi kekerabatan kita tak akan pernah putus."
"Tapi aku keberatan." Sambar Sean yang memasang wajah bisa saja sejak Juna mengatakan hal yang membuatnya kesal. Calon menantu? Ayolah, Sean tak merestui itu.
Juna mendengus kecil. "Kau masih cemburu padaku?"
Sean berdecak sebal. "Tidak ada alasan untukku cemburu padamu."
__ADS_1
Queen tersenyum melihat perdebatan keduanya. "Ini hari kebahagian buat kita, kenapa aku melihat ada atmosfer aneh di sini?" Sindirnya seraya mengerling ke arah dua lelaki beda usia itu.
"Suamimu terlalu cemburu padaku." Sahut Juna dengan penuh percaya diri, lalu ia pun duduk di sofa. Tepat disebelah Zain.
"Cih." Sean berdecih sebal.
"Sudah, kenapa kalian jadi bermusuhan sih?" Heran Queen merasa bingung. Dia tak tahu saja suaminya sangat membenci perjodohan konyol itu.
"Putraku akan memilih pasangannya sendiri." Tegas Sean. Sekarang Queen mengerti kenapa Sean begitu anti pada Juna. Apa lagi Juna sudah memberi lampu hijau pada rencana mereka.
Bukannya takut akan terjadi permusuhan, justru Queen tersenyum geli. "Sean, apa salahnya kita coba kan?"
"Tidak, ada banyak gadis anggun di luar sana." Sanggah Sean masih dengan pendiriannya.
Juna yang mendengar itu merasa tersinggung. "Kau mengatai putri kecilku huh? Sudah pasti putriku tumbuh menjadi gadis anggun. Aku pastikan semua lelaki akan meliriknya. Bahkan putramu tak akan bisa berpaling darinya."
Sean tersenyum kecut. "Bukankah buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya?" Sindirnya lagi. Queen langsung menggenggam tangan suaminya. Sean kembali mendengus sebal.
Juna menatap Sean tajam. "Memangnya apa yang kau pikirkan tentang putriku huh?"
Sean tertawa hambar. "Mungkin saja dia akan mengikuti jejak ibunya. Aku harap dia tak mengacaukan kehidupan putraku dimasa depan."
Rea dan Zain yang menonton keduanya terlihat menikmati seolah mereka adalah tontonan menarik yang tak boleh dilewatkan.
Juna memasang wajah datar. "Akan aku pastikan putramu bertekuk lutut pada putriku. Berani sekali kau mengatainya."
Zain tersenyum geli, begitu pun dengan Rea. Sebarnya mereka juga sangat mendukung perjodohan itu. Hanya saja mereka berpura-pura tak ikut campur dan membiarkan semuanya berjalan semestinya. Mungkin kelak mereka akan sedikit memberi dorongan kecil jika terjadi masalah.
"Sean." Queen mengelus tangan suaminya. "Jangan...."
Ucapan Queen terpotong karena mendapat tatapan tak bersahabat dari suaminya. "Berhenti melakukan hal tak masuk akal, Queen. Putra kita baru saja lahir."
Queen tersenyum kikuk, lalu mengangguk kecil. Ia bersikap seolah patuh, padahal dihatinya ia begitu menggebu untuk mempertemukan putranya dengan putri cantik Juna.
Sepertinya untuk saat ini aku tak bisa berbuat apa-apa. Pikir Queen.
Tidak lama ponsel Juna pun berdering. Tentu saja semua orang tahu siapa yang menghubunginya.
"Apa itu Aunty?" Tanya Queen dengan semangat.
Juna mengeluarkan ponselnya, dan benar saja Faizah lah yang menghubunginya. Wanita itu melakukan panggilan video. Dengan santai Juna menerima panggilan sang istri.
"Sayang, kok belum hubungin aku juga sih? Udah sampe rumah sakit kan? Terus gimana kondisi Queen sama calon menantu kita?" Sambar Faizah saat panggilan terhubung.
Queen, Rea dan Zain tertawa kecil mendengar itu. Sedangkan Sean memutar matanya malas.
"Ya, Mas baru sampe, sayang." Sahut Juna.
Terlihat jelas kebahagian diwajah Faizah. "Ya udah, kasih hpnya sama Queen." Dengan patuh Juna pun memberikan ponselnya pada Queen.
__ADS_1
"Halo Aunty." Sapa Queen dengan senyuman manisnya. Seketika wajah Faizah pun berseri.
"Owh... selamat ya Queen. Aku bahagia sekali tahu dapat kabar calon mantu udah lahir. Mana ganteng lagi, cocok banget buat Cia." Balas Faizah menggunakan bahasa inggrisnya berlogat Indonesia.
Mercia Putri Wijaya adalah nama putri Juna dan Faizah yang usianya genap satu bulan hari ini.
"Cia pasti seneng jodohnya udah lahir." Imbuh Faizah begitu senang.
"Belum tentu putraku berjodoh dengannya." Sembur Sean yang berhasil menarik atensi semua orang. Merasa menjadi pusat perhatian, Sean kembali bicara. "Aku bicara apa adanya, bagaimana kalian begitu yakin mereka berjodoh?"
"Tuan Cameron yang terhormat. Filling seorang Ibu itu tidak akan pernah salah." Sahut Faizah dengan senyumannya yang khas. Lalu Queen pun memberi kode pada Faizah untuk tidak membahas soal perjodohan di depan suaminya. Beruntung Faizah pintar dan langsung memahaminya.
"Ah iya, maaf jika hadiah dari kami tak seberapa." Faizah mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ya ampun, justru baby senang mendapat hadiah spesial. Terima kasih, Aunty. Tidak sabar ingin bertemu kalian secara langsung." Sahut Queen bersungguh-sungguh. Matanya berbinar saat Faizah mengarahkan kamera pada bayi cantik yang masih tertidur. "Oh... dia semakin cantik ya?"
"Harus dong, Aunty. Aku kan perempuan." Jawab Faizah menirukan suara anak kecil. Tentu saja hal itu membuat Queen tertawa geli.
"Tapi, jika dilihat-lihat dia mirip Uncle ya?"
Faizah terdengar menarik napas berat. "Kau benar, Queen. Aku juga tidak habis pikir, padahal aku yang mengandung dia, merasakan sakit saat melahirkan. Tapi Papanya yang mewarisi wajah anakku."
Juna tersenyum kecil mendengar ocehan istrinya itu. Bahkan di rumah ia serinh mendengar keluhan yang sama.
Queen melirik Juna, lalu ikut tersenyum saat memergoki wajah Unclenya itu yang tak bisa menyembunyikan kebahagiaan. "Aku rasa kenapa bisa seperti itu, karena kau mencuri benihnya tanpa izin."
"Queen!" Kesal Faizah. Sontak Queen, Rea dan Zain pun tertawa renyah. Bahkan Juna pun ikut tersenyum. Beda halnya dengan Sean, lelaki itu masih dengan wajah datarnya. Masih dongkol karena semua orang begitu menggebu untuk menjodohkan putra tampannya.
Queen yang menyadari suasana hati suaminya sedang tak baik pun langsung mengembalikan ponsel Juna. Juna pun beranjak menuju balkon untuk melanjutkan obrolan dengan sang istri.
"Baby." Queen memeluk pinggang Sean dengan lembut. "Jangan bicara sembarangan lagi okay? Bagaimana jika Uncle tersinggung dan menjauhi keluarga kita?"
"Itu bagus. Jawab Sean tegas.
"Baby." Rengek Queen membenamkan wajahnya di perut Sean. Kemudian ia mendongak. "Kau tahu kan aku sangat menyayangi mereka? Uncle sudah aku anggap seperti Uncleku sendiri."
Sean menatap Queen lekat. "Aku tidak pernah melarangmu untuk menyayangi mereka. Tapi aku menolak perjodohan itu. Apa lagi sampai membatasi kebebasan putraku."
Queen menghela napas panjang. "Baiklah, aku tak akan membahasnya lagi. Jangan marah lagi okay?" Wanita itu tersenyum begitu manis. Membuat Sean tak mampu bicara lagi.
"Kau membuatku kehilangan akal." Sebuah kecupan singkat mendarat dibibir Queen. Seketika mata Queen membulat.
"Sean! Di sini ada Mommy sama Daddy."
"Mereka juga pernah muda, sayang."
Queen berdecak sebal, tetapi detik berikutnya ia kembali memeluk Sean. "Rasanya aku ingin seperti ini terus, Sean. Kau sangat hangat. Baby pasti bahagia memiliki Ayah sepertimu."
Sean tersenyum, ditatapnya sang anak dengan seksama. "Dia juga akan bangga memiliki Ibu sepertimu. Cantik, pintar meski banyak manjanya."
__ADS_1
Queen tertawa kecil dan semakin mengeratkan pelukannya. "Kau ini." Sean pun tersenyum seraya membalas pelukan istrinya.