
"Nenek, Kakek!" Seru Rea ketika mereka baru sampai di kampung halaman. Ibu hamil yang satu itu berlari kecil menghampiri rumah besar bercat putih abu. Zain yang baru keluar dari mobil pun hanya bisa menggeleng saat melihat tingkah istrinya. Lalu ia pun menurunkan semua barang bawaan dari dalam mobil.
Tidak lama dari itu pintu terbuka. Menampakkan seorang wanita tua dengan senyuman mengembang. "Cucu Nenek."
Rea tersenyum senang seraya memeluk sang Nenek. "Kangen banget sama Nenek. Kakek mana?"
"Kakek ke ladang. Mana bisa Kakek kamu itu diam di rumah."
Rea pun melerai pelukannya. Tidak lama dari itu Zain menghampiri keduanya sambil menggeret koper kecil milik sang istri dan beberapa bingkisan. Lalu mencium tangan Nenek Ningsih. "Apa kabar, Nek?"
"Baik." Nenek Ningsih mengusap rambut Zain lembut. "Ayok masuk dulu."
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Kemudian duduk di ruang tamu sambil mengobrol kecil.
"Gimana perasaannya, Re? Lima belas tahun kamu tidak ke sini?" Tanya Nek Ningsih menatap cucu tersayangnya.
"Banyak sekali perubahan, Nek. Tadi kami sempat salah lorong." Rea tertawa renyah.
"Bukanya Kakek sudah mengirim lokasi?"
"Kadang-kadang google map itu sedikit menyesatkan, Nek. Em... Nenek masak apa? Aku lapar banget."
Nenek Ningsih pun tersenyum lebar. "Banyak, ayok makan dulu. Setelah itu kalian istirahat." Ajaknya.
"Belum satu jam kita makan, kau sudah lapar lagi?" Ledek Zain.
Rea mengangguk antusias. "Tadi itu tidak kenyang, makanannya tidak enak sama sekali."
"Tidak enak tapi habis satu piring."
"Sayang." Rengek Rea tak terima di katai.
Nek Ningsih pun tertawa melihatnya. "Sudah jangan bertengkar, ayok kita makan. Sebentar lagi magrib, Kakek juga akan segera pulang." Ajak Nenek seraya bangkit dari duduknya.
Rea pun bergegas bangun dan merengkuh lengan sang Nenek. Lalu menjulurkan lidah pada sang suami. Zain menghela napas karena tidak habis pikir dengan sifat manja istrinya itu. Kemudian mereka pun berpindah ke ruang makan.
****
"Jadi kalian akan berlibur di sini?" Tanya Kakek menatap Zain dan Rea bergantian. Saat ini mereka tengah berkumpul di ruang keluarga sambil menyaksikan siaran televisi.
"Iya, Kek. Suamiku ingin tahu seperti apa rasanya tinggal di kampung." Jawab Rea yang berhasil mendapat tatapan aneh dari sang suami.
Kapan aku mengatakan itu? Pikir Zain.
Rea tersenyum geli. "Katanya dia juga ingin turun ke sawah dan kebun." Imbuhnya. Sontak Zain pun memelototinya. Rea terkikik lucu.
"Boleh, kentulan besok panen kentang. Kalian bisa ikut ke ladang." Ujar sang Kakek.
"Yey, aku jadi ingat saat kecil dulu. Apa Nenek ingat pas dulu aku jatuh dan masuk ke parit? Itu sangat lucu, tapi lumayan sakit juga." Oceh Rea sambil tertawa riang. Tanpa sadar Zain pun ikut tersenyum mendengar ocehan istrinya itu.
"Ingat atuh, Re. Kamu kan nangis kejer pas itu. Padahal cuma lecet sedikit, tapi nangisnya heboh satu kampung."
Lagi-lagi Rea tertawa kencang. "Aku tidak bisa melupakan itu."
"Bagaimana tidak jatuh. Dulu kamu nakal dan susah dibilangin." Ledek sang Kakek.
__ADS_1
"Sekarang juga masih nakal dan keras kepala, Kek." Timpal Zain. Kakek pun tersenyum geli.
"Ck, jangan buka aib, sayang." Protes Rea dengan bibir mengerucut. Zain tertawa kecil seraya mengusap rambut istrinya. Lalu Rea pun memeluk pinggang Zain dengan manja.
Kakek dan Nenek yang melihat itu tersenyum senang. Mereka bahagia karena cucunya benar-benar mendapat lelaki penyayang.
"Ini sudah malam, sebaiknya kalian tidur. Siapkan tenaga buat besok." Ujar Nenek.
"Iya, Nek." Sahut Zain. Sedangkan Rea hanya mengangguk kecil. Tidak lama dari itu mereka pun beranjak dari sana karena cuaca semakin dingin.
Di dalam kamar Rea terus merapatkan diri pada sang suami karena suhu di sana sangat rendah. "Sayang." Panggilnya.
"Hm." Sahut Zain yang sudah terpejam.
"Dingin."
Zain memiringkan tubuhnya, lalu menarik Rea dalam dekapan. Juga menarik selimut sampai membungkus tubuh keduanya. Merasa lebih hangat, Rea pun mulai mengantuk dan perlahan matanya terpejam. Menyusul sang suami ke alam mimpi.
Pagi harinya, Zain terbangun lebih dulu dari sang istri. Lelaki itu pun keluar dari rumah dan memilih duduk di teras depan. Menikmati suasana pagi yang masih asri. Embun pagi terasa menyejukkan jiwa. Suara kicauan burung seolah menghibur hati. Akh... sungguh momen yang tak pernah ia lewati sebelumnya.
"Gimana? Sejuk bukan di desa?" Tanya Kakek yang tiba-tiba muncul. Kemudian ikut duduk di sebelah Zain.
Zain tersenyum ramah. "Sejuk, Kek."
"Ya, makanya Kakek tidak pernah mau kalau di ajak ke kota. Kadang mertua kamu itu sering bujuk Kakek sama Nenek supaya pindah ke sana. Tetap aja Kakek gak senang kalau di Kota. Terlalu bising."
Lagi-lagi Zain tersenyum. "Tidak jadi masalah, sesekali kan bisa main ke sana atau kami yang ke sini seperti sekarang."
"Ya. Terus gimana sama kerjaan kamu di sana? Lancar?"
"Syukurlah kalau gitu. Mudah-mudahan usahanya makin jaya."
"Aamiin. Terima kasih, Kek."
Kakek pun tersenyum sambil menepuk pundak Zain. "Sudah siap terjun ke ladang?"
Zain tertawa sumbang. "Siap tidak siap, Kek."
Sang Kakek pun ikut tertawa. "Biasa di dalam ac ya? Sekarang malah di ajak main panas-panasan. Tapi gak papa, hitung-hitung mencari pengalaman. Lagian kita tidak terjun langsung ke ladang. Kita pantau saja di pabrik. Harus kamu tahu. Dulu Kakek harus kerja banting tulang, setelah Mamanya Rea menikah. Kehidupan kami berubah drastis. Nak Adrian begitu baik hati. Mebuatkan kami rumah, dibelikan sawah dan ladang yang lumayan luas. Ah, Kakek bersyukur anak Kakek bisa dapat jodoh yang baik. Sekarang punya cucu menantu yang baik juga, tampan, mapan, yang pasti sayang istri." Ujar Kakek panjang lebar.
Zain menganggapinya hanya dengan senyuman.
"Cucu Kakek itu memang agak manja. Jadi sabar-sabarlah menghadapinya."
"Iya, Kek."
"Wawak kalian juga akan mampir. Mungkin sore nanti mereka datang. Sudah lama kan Rea tidak pulang. Terakhir kali itu pas dia kecil. Ketemu lagi sudah sebesar ini."
Zain mengangguk lagi. Meski ia belum tahu seperti apa rupa saudaranya itu. Karena mereka memang tidak hadir saat pesta pernikahan dulu.
"Sayang, di sini rupanya."
Keduanya pun menoleh bersamaan saat mendengar suara manja Rea. Wanita itu tersenyum begitu lebar seraya duduk di sebelah Zain. Merengkuh lengan suaminya dengan mesra. "Kok gak bangunin aku sih? Kecarian tahu."
Kakek tersenyum melihatnya. "Gimana tidurnya, nyenyak?"
__ADS_1
Rea mengangguk kuat. "Pulas banget, Kek. Apa lagi dingin-dingin gini dipeluk sama ayang."
Kakek tertawa renyah. "Ada-ada aja kamu, Re. Kenapa tidak ke dapur bantu Nenek?"
"Tadi aku sempat ke dapur, tapi Nenek usir. Katanya aku gak boleh pegang kerjaan, alasannya karena aku hamil muda. Nenek itu aneh tahu. Yang hamil kan perut, tangan mah masih bisa kerja."
Zain dan Kakek pun tertawa renyah. "Biarkan saja kalau begitu Nenek kamu masak sendiri. Lagipula dia sudah terbiasa."
"Iya, Kek. Oh iya, Nenek bilang Wak Rika mau ke sini sama Kak Adel ya?" Tanya Rea menatap sang Kakek lekat.
"Iya katanya. Mungkin sore-sorean."
"Kak Adel udah hamil, Kek?" Tanya Rea lagi.
"Belum di kasih rezeki."
"Mudah-mudahan cepat hamil. Supaya baby punya teman." Rea mengusap perutnya dengan gerak memutar.
"Aamiin."
"Ya sudah, ayok bersiap. Habis sarapan kita langsung ke ladang."
"Kek, ini masih dingin." Rengek Rea bergelaut manja di lengan suaminya.
"Setelah jalan kaki nanti tidak dingin lagi. Ayok masuk." Ajak Kakek seraya bangkit dari posisinya. Lalu Zain dan Rea pun ikut bangun, kemudian masuk ke dalam rumah.
****
"Wah, ramai ya Kek?" Seru Rea saat melihat ladang sang Kakek sudah dipenuhi para pekerja. Bahkan anak-anak pun ikut andil di sana karena kebetulan ini hari libur.
"Ini belum seberapa. Sebentar lagi akan semakin ramai."
"Kek, apa aku boleh ikut panen?" Tanya Rea begitu semangat.
"Tentu saja, asal tidak takut kotor."
"Sama sekali tidak takut. Ayok sayang, videokan aku ya? Aku ingin pegang cangkul." Pinta Rea seraya menarik tangan suaminya turun ke kebun kentang.
"Kau yakin bisa memegang cangkul?" Tanya Zain menatap istrinya tak yakin. Saat ini Rea terlihat menggemaskan karena memakai baju kerja yang agak kebesaran. Juga sebuah topi koboy milik sang kakek.
"Tentu saja, tinggal pegang saja apa susahnya?" Rea tertawa renyah.
"Dasar." Zain menoel hidung mancung sang istri.
"Aku rasa pakai tangan juga mudah. Lihat, anak-anak itu juga pakai tangan." Zain menunjuk ke arah anak-anak yang tengah membongkar guludan kentang.
"Aku ingin coba." Rea pun berjongkok dan mulai mengais tanah dengan tangannya. "Wah, ternyata mudah, sayang. Lihat, aku dapat yang besar." Rea mengangkat sebuah kentang berukuran besar.
"Masukkan ke sini." Titah Nenek memberikan sebuah wadah pada Rea. Bumil itu pun dengan senang hati menerimanya. Setelah itu ia pun kembali mengorek tanah. Sedangkan Zain malah asik mengabadikan momen langka itu.
"Sayang." Panggil Zain agar Rea memandang ke arah kamera. Rea pun menoleh sambil mengusap keringat. Alhasil keningnya pun terkena noda tanah. Zain tertawa kecil dan membiarkannya seperti itu.
"Huh, ternyata capek juga. Belum setengah jam tubuhku sudah banjir keringat. Sepertinya aku bisa diet setiap hari." Keluh Rea bangkit sambil mengacak pinggang. Lalu mengedarkan pandangan ke setiap penjuru.
"Sayang, lihat di kakimu." Titah Zain. Refleks Rea pun melihat ke bawah. Dan sedetik kemudian ia berteriak kencang.
__ADS_1
"Kyaaaa...."