
"Mom, Mi, lihat ini. Lucu bukan?" Seru Rea menunjukkan sebuah pakaian bayi yang membuatnya gemas sendiri. Ya, Rea memang iseng masuk ke toko perlengkapan baby, katanya ingin melihat-lihat. Namun sepertinya ia malah jatuh hati pada pakaian bayi yang lucu-lucu.
Kedua wanita paruh baya itu pun menoleh secara bersamaan. "Belum waktunya untuk belanja perlengkapan bayi, sayang." Ujar Elsha menghampiri menantu cantiknya.
Rea menghela napas berat. Kemudian menaruh baju bayi itu lagi ke tempat semula.
"Sudah Mami bilang tidak perlu masuk ke sini. Kamu tidak akan sanggup melihat godaan." Rena tersenyum tipis saat melihat ekpresi lucu putri semata wayangnya itu.
Elsha pun tersenyum geli. "Bulan depan kita kembali ke sini. Sebaiknya sekarang kita keluar sebelum godaan lain datang."
Elsha mengangguk pasrah. Kemudian mereka pun beranjak mejuju toko lain meski hati Rea berat meninggalkan tempat itu. Rasanya ingin sekali memborong pakaian baby yang lucu-lucu itu.
"Tante Elsha!" Seru seorang wanita cantik yang berhasil menarik perhatian ketiganya. Terutama Rea yang langsung menatap dan menilai wanita itu dari ujung kepala sampai kaki.
Siapa dia? Pikirnya.
"Luna, kok bisa kebetulan sih ketemu di sini? Sendirian aja?" Balas Elsha memberikan pelukan hangat pada wanita itu. Entah kenapa Rea tidak menyukai kedekatan mereka.
"Iya, Tan. Aku bosan di rumah terus."
"Siapa dia, Mom?" Tanya Rea memandang wanita itu dengan tatapan tak bersahabat yang begitu kental.
"Oh ini Luna, anak teman arisan Mommy.
Luna, kenalin ini menantu dan besan Tante."
Luna pun menyalami Rea dan Rena bergantian sambil tersenyum ramah. Ah, sepertinya itu hanya senyuman palsu.
"Zain tidak ikut, Tan? Udah lama aku gak ketemu." Luna kembali memusatkan perhatian pada Elsha.
Rea melipat kedua tangannya di dada, memandang Luna dengan tatapan curiga. Apa lagi wanita itu malah menanyai suaminya.
"Zain sedang di luar kota."
"Owh... aku kangen banget sama dia, Tan. Jadi ingat masa sekolah dulu, kita sering duduk dan jalan bareng." Luna melirik Rea sekilas. Rea memutar bola matanya malas.
"Zain orang sibuk, dia tidak sempat main seperti dulu. Lagian sekarang dia sudah punya istri yang harus diprioritaskan, bahkan mereka akan punya anak." Elsha merengkuh pundak Rea seraya mengelus perutnya.
Rea tersenyum penuh kemenangan.
"Wah, selamat ya. Aku ikut senang mendengarnya. Oh iya, apa aku boleh minta nomor ponsel Zain, Tan?"
"Tidak." Rea menjawab dengan cepat. "Dia bukan orang sembarangan yang bisa dihubungi." Imbuhnya seraya memberikan tatapan tajam. Dan itu membuat Luna meremang ngeri.
"Oh, tidak apa-apa kok. Tadinya aku hanya ingin mempererat tali silaturahim."
"Kemudian menggodanya? Aku sudah bisa membaca niat buruk di matamu." Kesal Rea. Rena dan Elsha pun terkejut mendengarnya.
"Sayang." Rena mengusap lengan putrinya, mencoba mengingatkan Rea untuk tetap tenang.
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu."
"Tidak apa-apa, kamu juga harus memaklumi kecemburuan seorang istri. Ditambah Rea juga sedang hamil." Ujar Elsha tersenyum kikuk.
"Aku paham kok, Tan. Kalau begitu aku pamit dulu. Mari, Tan."
"Ya, pergi dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku." Sahut Rea yang lagi-lagi berhasil membuat dua wanita di sisinya kaget. Sedangkan Luna hanya tersenyum dan berlalu pergi.
Setelah kepergian Luna, Rena memukul lengan putrinya pelan. "Kamu ini cemburu tidak tahu tempat."
Elsha tertawa renyah. "Mommy tidak menyangka kamu mengerikan ketika cemburu. Luna sampe pucat gitu loh."
"Dia itu punya niat jahat. Aku bisa melihat dari raut wajahnya. Aku tebak dia sudah lama jatuh hati pada suamiku." Ketus Rea. Dan hal itu mengundang tawa keduanya.
__ADS_1
"Ibu hamil memang tidak ada tandingannya. Sudah, ayok kita makan. Supaya pikiran kamu tenang." Ajak Elsha. Rea pun mengangguk patuh.
"Aku ingin makan seafood." Rengek Rea kembali menunjukkan sifat manjanya.
"Tidak jadi masalah, Mommy tahu tempat seafood yang lezat."
"Benarkah? Aku jadi tidak sabar. Kalian harus tahu, sejak dia hadir. Selera makanmu terus bertambah setiap harinya." Rea tersenyum seraya mengelus perutnya.
"Justru itu bagus, Mommy juga dulu seperti itu. Bahkan hampir setiap malam Mommy terbangun karena lapar. Alhasil Daddy ikut bangun dan menyiapkan makanan di tengah malah."
"Mami rasa anakmu akan mirip Papanya."
"Setuju." Ketiganya pun tertawa bersamaan. Kemudian mereka pun beranjak pergi dari sana.
****
Rea terus berguling-guling di atas kasur karena matanya tak kunjung terpejam. Malam ini merupakan malam kedua ia tidur tanpa sang suami. Seharusnya malam ini Zain sudah pulang, namun sampai detik ini ia belum mendapat kabar. Membuat hatinya cemas setengah mati. Bahkan ponsel Zain sulit dihubungi.
Rea bangkit dari atas pembaringan, melangkah pelan menuju balkon. Ditatapnya langit malam dengan tatapan sendu. Sesekali ia membuang napas kasar. Sambil memejam, ia merasakan hembusan angin malam. Sampai ia pun dikejutkan oleh pelukan hangat diperutnya. Sontak Rea pun langsung berbalik. Matanya ikut membulat sempurna.
"Kau terkejut?" Zain tersenyum senang. Ia memang sengaja pulang tanpa memberitahu sang istri. Niatnya ingin memberi kejutan pada Rea saat terbangun besok pagi. Ternyata wanitanya itu belum tertidur.
Rea memukul dada Zain dengan kesal. "Kau membuatku cemas. Jahat sekali."
Zain terkekeh geli. "Aku pikir kau sudah tidur."
"Bagaimana aku bisa tidur. Kau sudah berjanji akan pulang, tapi selarut ini kau belum muncul." Keluh Rea memasang wajah sedih.
Zain membingkai wajah istrinya dengan kedua tangan. Merasa gemas dengan ekspresi wajah sang istri. Dikecupnya bibir manis Rea dengan lembut. "Maafkan aku jika kejutanku membuatmu khawatir."
Rea sedikit memajukan bibir, memasang wajah imutnya. "Aku hampir gila memikirkanmu asal kau tahu. Sampai aku tidak bisa tidur."
Zain tersenyum. "Sekarang ayo kita tidur."
Zain mengerut bingung, lalu mencium dirinya sendiri. Rea yang melihat itu pun tertawa lucu. "Aku hanya bercanda, sayang.
Zain mencubit kedua pipi Rea dengan gemas. "Aku mandi sebentar, tunggu aku."
Rea mengangguk patuh. Sebelum pergi Zain kembali menghadiahi kecupan di bibir istrinya. Kemudian bergegas menuju kamar mandi. Sedangkan Rea menunggunya di atas pembaringan. Sesekali ia pun menguap karena rasa kantuk mulai menyerang.
Lima belas menit kemudian Zain pun selesai mandi dan ikut berbaring di sebelah Rea yang ternyata sudah tertidur. Sepertinya Rea mengatuk berat sampai tertidur pulas seperti itu.
Zain tersenyum seraya menyelipkan rambut sang istri ke telinga. Ditatapnya wajah cantik itu begitu dalam. Dua hari tanpa sang istri membuatnya rindu berat. "Sepertinya aku sudah terpikat olehmu, Re. Bahkan aku tidak bisa melupakan wajahmu setiap detik. Biarkan aku mencintaimu sampai mati."
Perlahan Zain membawa Rea dalam dekapan. Dikecupnya pucuk kepala sang istri penuh kasih sayang. Kemudian ia pun ikut terpejam.
Pagi harinya Zain terbangun tanpa sang istri. "Sayang." Panggilnya dengan suara serak khas orang bangun tidur. Namun tak kunjung ada sahutan.
Zain mendengus sebal seraya bangkit dari pembaringan. Kemudian beranjak menuju kamar mandi sebelum mencari keberadaan sang istri.
Di dapur, Rea tampak sedang membuat secangkir kopi untuk dirinya sendiri karena mendadak menginginkannya.
"Sedang apa, Re?"
Rea terperanjat kaget karena tiba-tiba Elsha sudah berdiri tidak jauh darinya. "Ya ampun, Mom."
"Maaf, Mommy juga kaget lihat kamu pagi-pagi buta sudah di dapur." Elsha tersenyum tipis.
"Entahlah, Mom. Tiba-tiba aku ingin minum kopi."
"Jangan terlalu sering minum kopi, tidak baik untuk kehamilan." Tegur Elsha.
"Enggak kok, Mom. Ini pertama kalinya aku minum kopi. Biasanya aku lebih suka teh atau susu."
__ADS_1
"Sesekali tidak jadi masalah. Asal jangan keseringan."
"Iya, Mom." Rea pun menarik kursi, lalu duduk di sana sambil menyesap kopi buatannya sendiri. Begitu pun dengan Elsha yang ikut duduk di sebelah Rea.
"Kamu mau sarapan roti?" tawar Elsha. Rea menggeleng pelan. "Aku belum lapar, Mom."
Elsha mengangguk paham. "Zain sudah pulang?"
"Sudah malam tadi." Jawab Rea yang kembali menyesap kopinya.
"Semalam Mommy ketiduran pulas banget, sampe gak ingat apa-apa."
Rea tersenyum ramah. "Mungkin kecapekan kerja. Habis aku perhatikan Mommy sibuk banget kemarin di butik."
"Bisa jadi sih. Kemarin butik benar-benar dibanjiri pengunjung."
"Iya, aku aja sampe melongo lihat pengunjung serame itu."
Elsha tertawa renyah. "Oh iya, sayang. Mommy baru ingat. Kemarin Mommy ketemu teman lama. Katanya dia butuh model untuk produk barunya. Mungkin kamu tertarik untuk menjadi modelnya? Dia juga sempat meminta Mommy buat ngomong sama kamu."
"Memangnya produk apa?" Tanya Rea memberikan tatapan serius.
"Dia pemilik Gebry jewelry. Salah satu toko aksesoris ternama di sini. Mungkin kamu tertarik."
Rea tampak berpikir. "Biar aku pikirkan dulu, Mom. Aku juga harus berdiskusi dengan Kak Zain dulu. Mommy tahu sendiri anak Mommy itu terus melarangku menjadi model."
"Ada apa? Kenapa menyebut namaku?"
Rea dan Elsha pun menoleh ke arah pintu. Di mana Zain sudah berdiri dengan kedua tangan tersilang di dada.
"Duduk dulu, Zain." Titah sang Mommy. Zain pun duduk di sisi lain istrinya. Kemudian mengambil cangkir kopi milik Rea dan menyesapnya perlahan.
"Hey, itu kopiku." Tegur Rea merebut cangkir kopi dari tangan Zain.
"Dasar pelit."
"Kau bisa menbuatnya sendiri."
"Sudah, kok malah ribut sih? Kita kan mau bahas hal penting."
"Anak Mommy tuh ngeselin."
"Bahas apa, Mom?" Tanya Zain seraya mencubit pipi istrinya gemas. Alhasil Rea pun memekik kesakitan.
"Zain, berhenti menggagu istrimu. Mommy mau ngomong serius." Kesal Elsha. Zain pun tertawa puas. Sedangkan Rea malah bergelayut manja di lengan Elsha.
"Ngomongin apa sih?" Zain pun mulai serius.
"Boleh kan Rea jadi model lagi?"
Zain mengerut bingung. "Mommy mau buat fashion show lagi?"
"Bukan, teman Mommy ingin jadiin Rea model produk barunya. Kamu ingat Tante Amel? Pemilik Gebry jewelry."
"Em, aku ingat. Kenapa harus Rea? Di sini banyak model lain."
"Karena Rea berhasil menarik banyak customer. Buktinya butik Mommy rame setelah pakai Rea sebagai modelnya."
Zain menatap Rea lekat. Sedangkan yang di tatap memasang wajah memohon.
"Hm. Aku izinkan."
Mendengar itu Rea pun langsung berhambur dalam dekapan suaminya. "Thank you. Aku makin cinta deh."
__ADS_1
Bukan hanya Rea yang senang, tetapi Elsha pun ikut senang. "Mommy akan menghubungi Tante Amel secepatnya."