Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Napas buatan


__ADS_3

"Apa?" Pekik Faizah bangkit dari duduknya setelah mendengar pengakuan Mercia. Bahwa putrinya itu berpacaran dengan King. Tentu saja dia kaget dan shock.


Mercia menutup wajahnya dengan sebelah tangan. "Mampus, pasti Mama marahin aku habis-habisan." Gumamnya sangat pelan.


Lain halnya dengan Juna, lelaki itu terlihat santai setelah mendengar pengakuan anaknya. Bahkan lelaki itu tersenyum geli karena malah mengingat istrinya di masa lalu. "Hah, yang namanya buah itu jatuh ya pasti gak jauh dari pohonnya, Zah."


Mendengar itu Faizah pun melayangkan tatapan tajam pada suaminya. "Mas! Kamu ngomong apa sih? Anak kamu pacaran sama Om-om loh."


Juna menghela napas, lalu menaruh ponselnya di atas meja. Kemudian menatap Faizah lekat. "Terus aku harus apa, Izah? Biarin aja mereka pacaran kalau memang sama-sama suka."


Mendengar pembelaan sang Papa, Mercia pun langsung memeluknya erat. "Makasih, Papa. Papa emang yang paling baik sedunia."


Melihat itu Faizah pun mendengus sebal. "Pokoknya Mama tetep gak setuju. Emang gak ada gitu yang lebih muda? Jef itu kandidat yang paling sempurna, Cia. Kurang apa lagi coba? Udah ganteng, tajir, bule, keluarganya baik. Gak ada kurang-kurangnya. Cocok buat perbaiki keturunan kita."


Mercia memutar bola matanya malas. "Kurangnya cuma satu. Dia gak cinta sama aku, Mama."


"Cinta itu pasti bakal hadir kalau kamu terus ada di dekat dia, Cia. Contohnya Papa kamu. Dulu bilangnya gak cinta, sampe nolak Mama mentah-mentah. Eh, sekarang dia bucin sama Mama."


Juna menghela napas karena Faizah kembali membawa-bawa namanya. Juga tak protes karena itu benar adanya.


Masih dalam keadaan memeluk Juna, Mercia pun kembali menyahut. "Cinta itu gak bisa dipaksa Mama. Lagian dari dulu aku sukanya sama Om King. Emang apa salahnya sama dia? Dia juga ganteng, tinggi, lebih tajir lagi. Yang jelas dia juga cinta sama aku, Ma. Pokoknya aku cuma mau sama Om King. Kalau Mama ngelarang, aku bakal lakuin apa yang pernah Mama lakuin ke Papa dulu."


Acamnya tak main-main.


"Cia!" Pekik Faizah benar-benar dibuat naik darah oleh putri sulungnya itu. Sepertinya memang benar, buah jatuh tak akan jauh dari pokoknya. Kecuali terbawa hanyut oleh air.


"Sudah, jangan ribut lagi. Ini waktunya buat nyantai, bukan ribut." Juna pun menengahi keduanya.


Faizah pun mendengus sebal, lalu beranjak ke kamar dengan perasaan kesal. Anaknya itu benar-benar membuatnya jengkel setengah mati.

__ADS_1


Faizah mengacak rambutnya sendiri sesampainya di kamar. "Kok bisa sih dia sukanya sama King? Umur mereka kan jauh banget. Duh, apa ini karma dari perbuatanku dulu ya? Masak iya Cia ikutin jejak aku sih?"


Faizah duduk di tepi ranjang dan terlihat berpikir panjang. Hingga beberapa saat kemudian senyumannya dibibirnya pun mengembang. "Kok aku malah pusing sih? Emang kenapa kalau Cia suka sama King? Dia kan masuk dalam tipe menantu idaman. Gak buruk juga kalau Cia nikah sama King. Nanti anaknya pasti bermarga Michaelson yang terhormat itu."


Seluas senyuman devil terukir dibibirnya.


"Aaaa... aku bakal dapat menantu tajir dan terkenal. Gak papa deh kalau umurnya beda jauh sama Cia. Buktinya aku sama Mas Juna aja aman-aman aja tuh. Kita liat sejauh mana anak itu suka sama putriku. Okeh, kita bakal uji anak itu sebelum beneran jadi menantu. Ah, menantu ganteng dan tajir adalah impianku." Wanita itu pun tertawa sendiri seperti orang gila.


Sedangkan masih di ruang tengah, Juna mulai bertanya pada putrinya. "Cia, Papa tanya sekali lagi. Kamu serius mau sama King?"


Mercia mendongak, lalu mengangguk. "Iya, Papa. Aku cinta sama Om King."


Juna mengangguk paham. "Udah yakin sama semua resikonya? King itu banyak diincar wanita yang mungkin jauh lebih cantik dan kaya raya dari kamu. Kamu harus paham, jadi istri orang seperti King itu gak akan mudah, sayang. Kamu harus selalu waspada dan memahami King dalam kondisi apa pun dan di mana pun. Dia itu bukan lelaki sembarangan, bahkan setiap pergerakkannya selalu diawasi banyak mata. Satu lagi, kamu juga harus siap mendapat penolakan dari keluarganya. Kamu yakin dengan semua itu?"


Mercia mengangguk yakin. "Papa tenang aja, aku pasti bisa melewati semuanya kok. Aku juga udah siap dengan resiko yang bakal aku hadapin kedepannya."


Mendengar itu Mercia pun terkesiap. "Jadi Papa juga restuin kalau aku sama Om king nikah dalam waktu dekat?"


Juna mengangguk, ditatapnya Mercia lekat. "Papa tahu semua sifat Mama kamu ada sama kamu, Cia. Papa gak mau apa yang terjadi sama Mama kamu dulu terjadi sama kamu. Jadi Papa kasih izin kalau kamu mau nikah dalam waktu dekat. Asal jangan buat Papa kecewa dan dengar kabar buruk apa pun sebelum kalian menikah. Masalah restu Mama kamu, Papa bisa bicarakan itu."


Mercia semakin mengeratkan pelukannya pada sang Papa. "Makasih, Papa. Aku sayang banget sama Papa. Papa adalah Papa terbaik di dunia. Love you, Pa."


"Love you too, sayang. Papa cuma mau kamu bahagia." Balas Juna yang kemudian memberikan kecupan hangat di kening putrinya.


****


Keesokan hari, King benar-benar menepati janjinya untuk membawa Mercia ke hadapan Mommynya. Dan saat ini keduanya masih di dalam mobil karena Mercia belum siap.


"Sayang, aku gugup." Rengek Mercia dengan wajah pucatnya.

__ADS_1


King yang melihat itu tersenyum geli. "Gak usah gugup gitu, Sayang. Kayak baru pertama kali aja ketemu Mommy."


Mercia menatap King kesal. "Tetap aja gugup, Sayang. Coba rasain, jantung aku berdebar." Gadis itu menarik tangan King dan menempelkannya di dada. Tentu saja King kaget karena tangannya berada di tempat yang tak seharusnya. "Kenceng kan?"


"Iya, kenceng banget." Sahut King yang pikirannya berbeda dengan Mercia.


"Tuh kan... aku deg-degan, sayang." Mercia menarik napas panjang. Lalu membuangnya perlahan. "Gimana kalau Mommy kamu marahin kita berdua?"


King menarik tangannya dari dada gadis itu cepat-cepat karena tak ingin terjadi hal aneh di antara mereka. "Itu gak akan terjadi. Paling Mommy pingsan karena kaget."


Mata Mercia melotot mendengarnya. "Ih... kasian dong Mommy kamunya, sayang."


King tertawa geli. "Udah, gak usah banyak mikirin hal yang belum tentu terjadi. Yuk turun."


Mercia menahan lengan King, membuat lelaki itu mengurungkan niatnya untuk turun.


"Aku sesak napas, sayang. Kamu harus kasih napas buatan dulu." Pinta Mercia dengan tatapan polosnya. Melihat itu King pun merasa geram sendiri. Lalu tanpa banyak berpikir lagi lelaki itu langsung menarik tengkuk Mercia dan mecium bibirnya dengan rakus.


Tentu saja Mercia menyambutnya dengan senang hati. Dan keduanya pun lumayan lama berciuaman di dalam sana.


King menyudahi ciuman mereka saat tahu Mercia hampir kehabisan napas. Gadis itu langsung meraup udara sebayak mungkin. King yang melihat itu pun tersenyum geli. Napas buatan konon, yang ada dia malah kehabisan napas. Ah, dasar Mercia. Pintar mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Udah cukup, ayo turun. Mommy udah nunggu dari tadi." Ajak King yang bergegas turun dari mobilnya. Lalu disusul oleh Mercia.


Gadis itu terlihat begitu seksi dan elegan dengan balutan Lace dress berwarna hitam. Senada dengan kemeja yang King pakai.


"Yuk." King pun mengamit tangan Mercia dan segera membawa gadis itu masuk.


Tentu saja Mercia semakin berdebar sangking gugupnya. Dan saat ini ia cuma bisa pasrah dengan apa yang akan dihadapinya nanti. Ia juga sudah siap dengan penolakan dari orang tua King nantinya.

__ADS_1


__ADS_2