Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Muka seribu


__ADS_3

"Kyaaaa...." Rea berteriak dan langsung melompat dalam pelukan Zain saat melihat seekor ulat berukuran besar di kakinya. Sejak kecil Rea sangat takut dengan yang namanya ulat, ia trauma karena Zain pernah mengerjainya habis-habisan dengan binatang itu. Karena itu juga Zain tahu istrinya itu takut dengan biantang sejenis ulat.


Teriakan Rea pun berhasil mencuri perhatian semua orang. Sebagian dari mereka ada yang penasaran dan saling bertanya. Begitu pun dengan Kakek dan Nenek, keduanya menghampiri Rea dan Zain.


"Itu cuma ulat, sayang." Zain tertawa kecil. Sedangkan Rea masih menempel padanya.


"Tidak mau, aku mau pulang. Singkirkan binatang itu. Aaa... dia bergerak di kakiku." Seru Rea dengan wajah terbenam dalam dada suaminya.


"Sudah tidak ada, sayang."


"Masih ada, dia terus bergerak. Cepat singkirkan."


Zain tertawa puas. "Sudah jatuh, coba lihat sendiri."


"Tidak mau."


"Ada apa sih?" Tanya Nek Ningsih menatap keduanya penasaran.


"Ulat, Nek. Bukan apa-apa." Jawab Zain masih mengulum senyuman geli.


"Ya ampun, Nenek pikir kenapa? Sudah tidak ada juga ulatnya."


"Ada, Nek. Dia terus bergerak di kakiku. Ya Tuhan, kenapa harus ada binatang menggelikan seperti itu?"


Lagi-lagi Zain tertawa lucu. "Kau harus percaya ulatnya sudah jatuh. Lagian itu hanya ulat daun biasa."


"Aku mau pulang... hiks.... ini salahmu. Dulu kau yang pertama kali menakutiku dengan binatang menggelikan itu. Bahkan aku belum bisa melupakannya."


Nenek dan Kakek yang menyaksikan itu hanya bisa menggeleng. Kemudian mereka pun melanjutkan kegiatannya yang sempat terjeda karena ulah Rea.


Zain tersenyum tipis. "Maafkan aku, itu cuma masa lalu. Lagipula aku menakutimu punya tujuan."


"Ya! Kau ingin mengusirku bukan? Kau sangat jahat. Cepat bawa aku pulang, aku tidak mau lagi di sini." Seru Rea.


"Ulatnya sudah hilang. Aku pikir kau sudah tidak takut dan melupakan kejadian itu. Lagian kau sangat mirip dengan ulat keket, buat apa takut?"


"Kak!" Seru Rea tidak terima disamakan dengan binatang aneh itu. Zain pun tertawa lagi. "Ayok pulang, aku beneran takut." Kini suara Rea pun mulai bergetar.


Zain mengecup pucuk kepala istrinya. "Okay. Kita pulang sekarang."


"Gendong." Rengek Rea mengangkar wajahnya.


"Bilang saja kau malas berjalan. Yang minta ke ladang itu siapa huh?"


"Pokoknya aku mau digendong, bagaimana jika binatang itu mengikutiku? Iwh... menggelikan." Rea bergidik ngeri.


"Sejak kapan ulat bisa ngikutin orang. Kecuali dia menempel di pakaianmu."


"Kyaaa... jangan menakutiku. Kau sangat jahat. Cepat bawa aku pulang." Teriak Rea lagi. Zain mencubit gemas hidung istrinya. Lalu ia pun membelakangi Rea.


"Naiklah." Titahnya sedikit berjongkok. Rea pun tersenyum dan langsung melompat dalam gendongan Zain.


"Ya Tuhan, aku rasa kau banyak dosa, Re. Berat sekali." Keluh Zain.


Rea menepuk pundak suaminya. "Kau saja yang lemah. Cepat jalan."


"Dasar tukang perintah. Minta izin pada Kakek dan Nenek kalau kita akan pulang."


Rea pun mengangguk kemudian berteriak. "Nek, Kek, kami pulang dulu. Marahi saja ulat itu, dia yang menganggu kesenangan cucu kalian ini. I love you so much."


Nenek dan Kakek yang mendengar itu hanya bisa menggeleng. Setelah itu mereka pun kembali mengontrol para pekerja. Sedangkan Zain dan Rea memilih untuk mengelilingi kebun luas milik sang Kakek. Bahkan hampir semua jenis sayuran hijau ada di sana.


Rea mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami. "Apa kau tidak berpikir untuk tinggal di sini saat tua nanti? Aku pernah menghayal bisa tinggal di tempat seperti ini bersama seseorang yang aku cintai. Menghabiskan sisa waktu bersama."


"Aku berniat membawamu ke Moskow saat tua nanti. Di sana kita bisa menjalankan perkebunan Daddy. Ada kebun angur, apel dan strawberry. Apa kau tertarik? Di sana juga ada mansion yang bisa kita tempati berdua. Mommy dan Daddy bilang di sana banyak sekali kenangan mereka berdua."

__ADS_1


Rea terdiam sejenak. "Aku jadi penasaran seperti apa tempatnya? Apa itu jauh dari rumah grandma?"


"Aku tidak tahu pasti. Ada saatnya aku membawamu ke sana."


"Aku akan menuggu waktu itu tiba." Rea membenamkan wajahnya di rambut sang suami. Menghirup aroma maskulin yang begitu memabukkan. Lalu keduanya pun melanjutkan berkeliling sambil mengobrol ringan.


****


"Bagaimana rasanya hamil, Re?" Tanya Abel, sepupu Rea.


"Biasa saja. Paling mual di pagi hari dan lapar di tengah malam. Tapi itu menyenangkan. Jangan khawatir, kau akan merasakannya juga nanti." Jawab Rea sambil memberikan makanan pada ikan di kolam karena saat ini keduanya berada di halaman belakang.


Bagaimana aku bisa hamil? Bahkan suamiku tak pernah menyentuhku. Kau beruntung punya suami tampan, penyayang dan kaya raya. Mama benar, nasibmu dan Bibik selalu mujur. Aku merasa iri padamu Re. Batin Abel.


"Kau benar. Apa tinggal di kota itu sangat menyenangkan?" Tanya Abel.


"Em... lumayan. Cuma di sana agak panas dan bising. Lebih nyaman di sini sih menurutku. Tapi aku juga tidak bisa memberi banyak tanggapan. Kau tahu sejak lama aku menetap di Rusia."


"Kau tidak berniat kembali ke sana?"


"Tidak, tergantung suamiku juga sih. Mungkin sesekali kami akan main ke sana." Jawab Rea sekenanya.


"Aku jadi ingin tinggal di kota." Ujar Abel mengulas senyuman tipis.


"Kenapa tidak cobak ke sana saja? Ajak suamimu merantau." Saran Rea.


"Kira-kira kau mau menampungku atau tidak? Em... kau tahu aku belum pernah ke kota. Bahkan saat pernikahanmu saja aku tidak bisa hadir. Mungkin setelah aku mendapat pekerjaan, aku akan mencari rumah kontarakan."


Rea berpikir sejenak. "Aku tidak bisa memutuskan sendiri, nanti aku diskusikan ini dengan suamiku. Atau kau tinggal saja dengan Mami bagaimana? Mami juga sendirian di rumah." Tawar Rea dengan tatapan berbinar.


"Apa bisa?"


"Nanti aku tanyakan Mami ya? Kau ke sana dengan suamimu kan?"


"Jadi kau akan meninggalkan suamimu?"


Abel mengangguk pelan, kemudian sedikit berbisik. "Re, sebenarnya aku dan suamiku tidak saling mencintai. Aku menikah karena paksaan Mama. Kau tahu kan Mama begitu terobsesi memiliki menantu kaya raya?"


"Kau serius?" Tanya Rea terkejut.


"Ya. Aku bicara jujur padamu. Tolong rahasiakan semua ini dari Ibuku, Nenek dan Kakek. Aku tersiksa dengan pernikahan ini, Re. Suamiku tidak pernah sekali pun tidur di rumah. Dia lebih memilih kekasihnya. Sebagai wanita pasti kau tahu perasaanku kan?"


Hati Rea terasa perih saat mendengar itu. Ia jadi teringat kenangan masa lalu sebelum mendapatkan cinta sang suami. Itu sangat menyakitkan. "Aku harap kau terus bersabar, Bel. Mungkin lambat laun suamimu akan luluh." Rea menggenggam tangan Abel, memberikan sedikit kekuatan.


"Apa kau serius ingin membantuku, Re? Aku ingin pergi dari desa ini. Rasanya aku sudah tidak tahan. Ditambah lagi Mami terus mendesakku untuk segara hamil. Bagaimana mungkin aku hamil, suamiku saja tidak pernah tidur di rumah."


Rea menatapnya iba. "Aku akan bicarakan ini dengan suamiku. Mana tahu dia sedang butuh karyawan baru. Kau bisa kerja di perusahaan suamiku, aku yang akan merekomendasikanmu."


Abel tersenyum senang. "Terima kasih, Re. Aku sudah tidak sabar untuk cepat-cepat ke kota."


"Kenapa tidak ikut dengan kami saja? Minggu depan kami pulang. Lumayan kan hemat ongkos."


"Wah, kalau kamu tidak keberatan aku ikut, Re."


"Tentu saja tidak. Kita ini bersaudara, jadi jangan sungkan." Rea tersenyum tulus.


"Masuk yuk, Re. Sepertinya yang lain sudah pada nunggu."


Rea mengangguk, lalu keduanya pun beranjak masuk.


"Dari mana, sayang?" Tanya Zain saat berpapasan dengan Rea dan Abel.


Abel menatap Zain lekat. Beruntung banget kamu, Rea. Punya suami seganteng ini. Mana punya segalanya lagi. Ah, aku harap bisa memiliki suami seperti ini. Pikirnya.


Rea tersenyum lebar. "Dari belakang habis makan ikan. Kamu mau kemana?"

__ADS_1


"Nyari kamu, dari tadi gak kelihatan batang hidungnya." Zain menoel hidung sang istri gemas. "Nenek bilang sudah waktunya makan siang. Ayok."


Zain mengamit tangan Rea, lalu membawanya ke ruang makan. Sedangkan Abel hanya menatap kepergian mereka dengan tatapan sendu. Setelahnya ia pun ikut menyusul.


Di ruang makan kini sudah ada Nenek, Kakek, Wak Rika berserta suaminya. Wanita paruh baya itu menatap Rea sinis. Sejak dulu ia memang tidak pernah suka jika meyangkut Rena, termasuk Rea yang notabennya keponakan sendiri.


"Enak banget ya jadi Nyonya besar, tinggal makan, tidur, makan tidur. Dulu Emaknya, sekarang anaknya juga sama aja." Sindir Wak Rika.


"Wah, siapa Nyonya besar di sini?" Rea berpura-pura tidak tahu. Padahal ia tahu jika dirinya lah yang tengah di sindir.


Zain menarik kursi untuk sang istri, lalu mempersilakannya duduk. Rea tersenyum senang dan langsung duduk di sana. Sedangkan Zain memilih duduk di sisinya. Tidak lama dari itu Abel pun ikut duduk di sebelah Rea.


"Berhenti membuat keributan, Rika. Ayok kita makan sebelum makanannya dingin." Tegur Kakek.


"Cih, anak dan cucu kesayangan tidak boleh disinggung sedikit pun." Gerutu wanita itu sambil melirik Rea sinis.


Rea tersenyum miring. "Yah... semua orang punya rasa kasih sayang karena tahu orang yang disayang memiliki hati yang tulus. Membanggakan orang tua. Bukan mencoreng nama baik keluarga. Sadar diri saja." Balasnya. Semua orang tampak kaget mendengar itu. Terutama Rika tentunya.


"Apa Ibumu tak mengajari sopan santun? Mulutmu seolah tak pernah sekolah." Kesal Rika.


Rea tertawa renyah. "Buat apa aku memikirkan sopan santun pada orang yang tidak tahu tatakrama?"


"Sayang." Zain memperingati istrinya.


Seketika Rea memasang wajah datar. "Dia yang memulai. Jika tidak ingin disenggol, maka jangan menyenggol. Memangnya dia punya apa untuk dibanggakan? Tidak punya apa-apa saja sombong."


Rika hendak protes, namun sang suami langsung menahannya. Begitu pun dengan Zain, ia menggenggam erat tangan istrinya.


"Berhenti melakukan hal bodoh, Rika. Usiamu tidak muda lagi, mau sampai kapan kau mencari masalah dengan adikmu sendiri? Apa belum cukup semua bantuan yang Rena berikan untuk kita? Apa yang kau pakai dan makan saat ini tidak jauh dari pemberiannya. Hargai sedikit kasih sayang yang dia berikan." Semprot sang Kakek yang juga tidak terima putri bungsunya dijelek-jelekkan. Apa lagi selama ini Rena yang banyak membantu keluarga.


Rika pun bungkam.


Nenek menghela napas berat. "Berhenti berdebat, makanan sudah dingin. Mau sampai kapan ribut terus? Apa tidak malu dilihat oleh menantu kalian?"


Rea menghela napas panjang. Mencoba menangkan hatinya. Sedangkan Zain sejak tadi terus menggenggam tangannya. Lalu Rea menoleh ke samping.


"Lanjutkan makannya." Bisik Zain memberikan senyuman ramah. Dan tanpa mereka sadari sejak tadi Abel memperhatikan kemesraan mereka. Rea pun mengangguk patuh.


Ya Tuhan, bisakah Engkau berikan aku lelaki sepertinya? Aku juga ingin dicintai dan disayang. Pikirnya dalam hati.


Seusai makan bersama, Rea dan Zain pun memilih ke kamar. Zain menatap wajah sang istri yang terus ditekuk.


"Kau masih kesal?" Tanyanya seraya menyentuh dagu sang istri. Rea mengangguk pelan.


"Aku rasa wanita tua itu tidak ada habisnya mengatai Mami. Padahal kurang baik apa lagi Mami padanya? Dasar muka seribu, di saat ada maunya saja memasang wajah ramah. Sudah tidak butuh wajah busuknya mulai terlihat."


Zain tersenyum. "Jangan emosi. Itu tidak baik untuk kesehatanmu. Masalah Wawakmu itu, tidak perlu ditanggapi. Mungkin dia hanya iri dengan kehidupan Mami."


"Cih, tentu saja Mami hidup bahagia. Selama hidupnya ia tidak pernah menyakiti orang lain." Ketus Rea.


"Aku tahu. Tenangkan dirimu, sayang. Ingat kau sedang hamil."


Rea menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Kemudian menatap sang suami lekat. "Moodku di sini sudah hilang. Ayok kita pulang besok."


"Kau yakin?"


Rea mengangguk. "Oh iya, Abel bilang dia akan ikut ke kota. Apa kau tidak keberatan dia menumpang bersama kita?"


Sebelah alis Zain terangkat. "Ke Kota? Dengan suaminya juga?"


Rea menggeleng.


"Lalu?"


"Nanti aku ceritakan. Sekarang aku mau dimanja. Peluk." Rea memeluk suaminya dari samping. Zain tersenyum seraya mengecup pucuk kepala istrinya. Kemudian memeluknya dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2