
"Masuklah, sayang. Kita pulang ke rumah. Tidak perlu kembali ke sana." Ajak Aletta. Dan Ella pun mengangguk pasrah. Saat ini ia hanya butuh ketenangan karena hatinya terasa sangat lelah.
Aletta tersenyum dan membantu Ella masuk. Queen yang menyaksikan itu tidak berani berkomentar apa-apa. Ia tahu kondisi Ella tidak memungkinkan untuk melanjutkan kuliahnya.
"Tunggu, Ell." Sean menahan pergerakan mereka. Sontak mereka pun menoleh bersamaan.
"Ada apa, Sean?" Tanya Queen penasaran. "Apa dia menyakitimu?"
Sean menggeleng. "Tidak sama sekali."
"Lalu?" Tanya Aletta bingung. Ella yang sudah masuk ke dalam mobil pun turun lagi. Sean menatapnya lekat. Lalu memberikan benda titipan Bara pada Ella.
Ella menatap Sean bingung. Bukan hanya Ella, Queen dan Aletta juga terlihat bingung.
"Bara menitipkan ini padaku. Dia bilang ini untuk masa depan anak kalian."
Ella terkejut mendengarnya. Dengan tangan gemetar ia menerima benda pipih itu. Ella masih ingat saat Bara mengatakan jika dirinya sedang mengumpulkan uang untuk masa depan anaknya kelak.
Jadi dia tidak lupa janjinya?
"Dia juga mengucapkan selamat tinggal untukmu. Karena kedepannya dia tidak akan kembali ke dunia ini," imbuh Sean mengarang cerita.
"Apa maksudmu, Sean?" Tanya Queen.
"Aku rasa dia akan bunuh diri."
"Apa?" Pekik ketiga wanita itu kompak.
"Di mana dia, Sean?" Tanya Ella meraih tangan Sean.
"Aku tidak tahu, mungkin dia akan bunuh diri dengan melompat dari atas gedung ini." Lagi-lagi Sean mengarang cerita sambil menunjuk ke atas.
"Kau bercanda? Tapi buat apa dia bunuh diri? Apa karena dia tidak mau hidup susah?" Sembur Queen.
Sean tersenyum geli mendengar pertanyaan istrinya itu. Namun tak berniat menjawabnya.
Ella menggeleng pelan. Lalu ia pun lansung berlari ke dalam gedung.
"Ella!" Panik Aletta dan Queen yang langsung mengejarnya. Meninggalkan Sean yang masih berdiri di sana.
Sean tertawa kecil. "Drama apa lagi sekarang? Mari kita saksikan." Lelaki itu pun ikut masuk.
Ella terus berlari menaiki anak tangga, sangking paniknya ia tidak melihat di sana ada lift. Ia juga mengurangi kecepatannya saat perutnya terasa nyeri. "Tidak, aku tidak akan membiarkanmu mati, Bara."
Dengan kekuatan penuh Ella terus menaiki anak tangga meski perutnya nyeri sekali pun. Saat ini hanya Bara yang ada dalam kepalanya.
Brak!
Ella membuka pintu rooftop dengan kasar. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat Bara sudah duduk di atas pagar seakan siap melompat ke bawah.
"Bara!" Teriaknya mulai panik.
Bara yang mendengar itu terkejut dan langsung menoleh.
Tangisan Ella pun pecah saat melihat lelaki itu. "Apa kau gila? Turun sekarang, Bara." Bentak Ella mulai terisak. Bahkan rasa sakit di perutnya semakin terasa. "Akhh...."
Bara yang melihat itu langsung turun dari sana dan berlari menghampiri Ella yang sudah terduduk di lantai. "Ella." Bara merengkuh tubuh wanitanya dengan erat.
"Akhhh... apa kau gila?" Ella memukul dada kekasihnya pelan.
__ADS_1
"Kenapa kau ke sini huh?" Kesal Bara tidak menyangka Ella akan datang padanya.
Queen, Aletta dan Sean yang baru tiba di sana pun langsung menahan langkahnya.
"Brengsek! Kau berniat meninggalkanku huh?" Ella terus memukuli Bara. "Ssstt."
Mendengar rintihan Ella, Bara pun langsung panik. "Apa yang sakit huh? Kau kesakitan, Ell?"
Ella tersenyum saat melihat wajah panik kekasihnya itu. "Perutku agak ngilu, Bara. Aku berlari karena takut kau bunuh diri. Sialan memang! Apa kau sudah gila sampai memutuskan untuk mati huh?"
"Bunuh diri?" Bara pun langsung melihat ke arah Sean. Dan lelaki itu cuma tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Bara pun tersenyum sebagai ucapan terima kasih.
Bara memeluk Ella dengan erat seolah mengikuti drama yang Sean ciptakan. "Apa ada pilihan lain, Ell? Aku pantas mati karena sudah menyakitimu. Aku tidak pantas hidup di dunia ini bukan? Aku brengsek, aku pengecut."
"Ya, dan aku membecimu, Bara. Mati saja sana." Ella pun membalas pelukan Bara dan menangis sesegukkan. Bara pun mengangguk dan mengecupi pundak Ella dengan lembut. "I love you so much."
Aletta yang melihat itu ikut menitikan air mata dan langsung berbalik. "Awasi mereka, Queen." Pintanya dan langsung beranjak pergi dari sana.
Sean menggenggam tangan Queen. "Kau harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, Sean. Kau berhutang cerita padaku." Ujar Queen masih setia menatap Bara dan Ella.
"Nanti malam kita punya banyak waktu, sayang." Sean melirik Queen. Dan detik berikutnya ia menyikut perut suaminya.
"Sakit, sayang."
"Diamlah." Ketus Queen yang masih serius melihat adegan mesra di depan matanya.
"Bara, bawa aku ke rumah sakit. Aku tidak mau anak kita kenapa-napa." Lirih Ella.
Bara melerai pelukan dan mengangguk patuh. Lalu ia pun bergegas menggendong Ella.
"Bantu aku membawanya ke rumah sakit." Pinta Bara pada Sean.
"Dengan senang hati." Jawab Sean.
Ella terus memandangi wajah Bara. Kedua pipi lelaki itu terlihat memerah karena tamparan. Tangan Ella pun bergerak menyentuhnya. "Bagaimana rasanya di tampar huh?"
Bara menatap Ella sekilas dan kembali fokus menuruni anak tangga. "Lumayan sakit. Tapi tidak sesakit saat melihatmu menangis."
"Cih, kau memang brengsek." Ella membenamkan wajahnya di dada bidang Bara. "Aku mencintaimu." Gumamnya yang masih terdengar di telinga Bara.
Bara tersenyum. "Aku sudah bersumpah pada diriku sendiri, Ell."
Ella kembali menatap Bara. "Apa itu?"
"Mencintaimu sampai mati."
"Jadi karena itu kau ingin mati supaya sumpahmu cepat terbayar huh?"
Bara tertawa kecil. "Sebenarnya aku tidak sepenuhnya berniat bunuh diri. Aku hanya merenung saja."
Ella melotot mendengar itu. "Cih, kau memang brengsek."
"Ya, jika aku tidak brengsek mana mungkin dalam perutmu ada malaikat kecil sekarang."
Ella tersenyum dan kembali membenamkan wajahnya di dada bidang Bara.
Aku mencintaimu, Bara. Kedepannya aku tidak akan pernah meninggalkanmu apa pun yang terjadi. -Ella.
Aku sangat mencintaimu, Ell. Aku berjanji kedepannya tidak akan bersikap bodoh lagi. Aku akan selalu berdiri di sisimu. Meski nyawaku taruhannya. -Bara.
__ADS_1
****
Semua orang bernapas lega saat mendengar perkataan dokter jika janin dalam perut Ella baik-baik saja. Ella hanya kelelahan dan butuh istirahat penuh. Dan saat ini Ella terlihat bahagia dalam pelukan Bara.
"Ayo pulang, biarkan mereka berdua." Bisik Sean pada istrinya. Queen menatap Sean. "Aku juga ingin di peluk seperti itu, Sean."
Sean tersenyum geli. "Aku akan memelukmu sampai pagi."
"Gendong." Queen merentangkan kedua tangannya seperti anak kecil. Dan dengan sigap Sean menggendong istri manjanya itu ala koala.
"Aku pulang dulu, jaga dia baik-baik. Jangan sampai ada masalah lagi." Nasihat Sean.
"Tentu." Jawab Bara.
"Sayang, ayo pulang. Aku ingin dipeluk sampai pagi." Rengek Queen lagi.
"Iya, sayang." Sean pun langsung membawa istrinya pergi dari sana. Ella dan Bara yang melihat itu cuma bisa tersenyum geli.
"Bara."
"Hm?" Bara mengecup kening Ella mesra.
"Bagaimana dengan istrimu?"
Bara terdiam, ia hampir melupakan wanita itu. "Aku rasa dia sudah mengguggatku."
"Karena kau jatuh miskin?" Ledek Ella.
"Ya."
Ella tertawa renyah. Sampai pandangannya pun tertuju pada cincin yang melingkar di jari manis Bara.
"Lalu, mau sampai kapan kau memakai cincin itu huh?" Ketus Ella.
Bara yang baru sadar pun menatap jarinya. "Aku lupa, aku akan membuangnya."
"Jangan di buang." Sanggah Ella membuat Bara bingung sekaigus kaget. "Kita bisa menjualnya, sayang. Kan lumayan untuk menambah uang tabungan."
Bara tertawa mendengarnya. "Benar juga, jika masalah uang kau memang juaranya."
"Tentu saja. Semua orang akan sensitif jika masalah uang." Sahut Ella. Bara yang mendengar itu mengeratkan pelukannya. Seakan takut kehilangan kekasihnya itu.
"Ella."
"Ya?"
"Ayo menikah."
Ella tersenyum bahagia. "Tidak mau, kau kan miskin sekarang." Bara terdiam mendengar itu.
Ella tertawa kecil. "Tentu saja aku mau, Bara. Aku tidak peduli kau miskin atau cacat sekali pun. Aku hanya ingin hidup bersamamu. Percayalah kita bisa melewati semuanya. Apa mungkin kita jadi petani saja?"
"Tidak, aku tidak ingin anak-anak kita diremehkan orang lain. Aku akan kerja keras dan mencari pekerjaan baru yang lebih bagus. Aku akan selalu mengutamakan kebahagianmu dan anak-anak kita. Itu prinsip hidupku sekarang."
Ella tersenyum senang. "Aku percaya padamu."
"Kau bisa bekerja di kantorku." Sambar Sean yang entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu. "Tas istriku tertinggal, jadi aku kembali."
"Sean. Kau menganggu tahu tidak." Kesal Ella.
__ADS_1
Sean tertawa renyah. "Maafkan aku, tapi tawaranku tadi masih berlaku. Kebetulan ada posisi yang masih kosong di kantorku, aku rasa kau cocok di posisi itu. Segera hibungi aku jika kau berminat. See you."
Sean pun langsung beranjak pergi tanpa menunggu jawaban Bara lebih dulu. Bara dan Ella pun saling memandang satu sama lain. Setelah itu mereka pun tertawa bersama.