
Malam harinya, Queen meminta Sean untuk mengajak Rachel makan malam di rumah untuk permintaan maaf. Bagaimana pun Queen merasa bersalah karena sudah menganggap Rachel sebagai selingkuhan suaminya. Dan saat ini ketiganya sedang melangsungkan makan malam di halaman belakang.
"Ya ampun, padahal tidak perlu pakai acara gini segala loh, Queen. Aku paham kok perasaan kamu, aku juga seorang istri." Ujar Rachel merasa tak enak.
"Nope, justru aku tidak akan tenang jika belum minta maaf padamu. Dimaafkan kan?" Queen memberikan tatapan memelas. Dan itu membuat Rachel gemas sendiri. Apalagi usia mereka lumayan jauh. Ia merasa Queen adalah sosok adik yang manis.
"Iya, aku maafin kok meski sebenarnya kamu gak salah. Yang salah itu suami kamu, tidak terus terang sejak awal." Rachel melirik Sean yang tengah menikmati makan malam buatan istrinya itu. Dan lelaki itu seolah tak peduli dengan pembicaraan keduanya dan terus lanjut makan.
Queen menghela napas lega. "Syukurlah. Aku harap kedepannya kita masih bisa berteman."
Rachel tersenyum. "Jangankan berteman, aku rela jika kamu jadi adikku, Queen. Kau tahu? Sejak lama aku ingin punya adik. Sepertinya hari ini Tuhan mengabulkan doaku."
Queen tersenyum lebar. "Dan aku juga menginginkan seorang Kakak, itu artinya Tuhan mengabulkan doaku juga. So... jadi sekarang kita bersaudari?"
Rachel mengangguk tulus. "Kau sangat manis, adik."
Queen tertawa renyah. "Kakak bisa saja."
Rachel pun mengerlingkan mata pada Sean. Lalu berdeham kecil. "Sepertinya kau sangat menikmati hidangan malam ini, Sean?"
Sean menoleh sekilas. "Sangat jarang istriku masak seenak ini. Jadi aku hanya ingin memanfaatkan kesempatan."
"Sean!" Geram Queen yang merasa tersindir.
Rachel yang melihat itu merasa terhibur. Ia memandang Queen penuh kagum. "Kalian pasangan konyol. Tapi aku senang kau mendapat istri sebaik ini, Sean. Selain cantik, dia juga pandai menyenangkan hati seseorang."
Sean tersenyum bangga. "Aku tidak mungkin salah memilih wanita. Lihat saja buktinya, aku memiliki istri langka sepertinya."
Queen memutar bola matanya malas. "Whatever."
"Oh iya, kapan-kapan datanglah ke Berlin. Aku akan menjamu kalian dengan sepenuh hati." Ujar Rachel penuh semangat.
"Kapan-kapan aku akan membawanya. Tapi tidak untuk sekarang. Aku masih sibuk untuk pemindahan seluruh saham. Setelah Daddy meninggal semua pekerjaan aku yang urus. Harap kalian memahami." Ujar Sean yang masih saja mengunyah.
Queen menatap suaminya lamat-lamat. "Jangan lupa dengan istrimu ini, Tuan. Dia juga butuh suaminya."
Rachel tertawa renyah. "Dengar itu, Sean. Jangan sampai kau melupakan adikku."
"Bagaimana aku bisa lupa? Setiap detik dia terus membayangiku." Ujar Sean jujur. "Dia cintaku, hidupku dan hartaku. Mana mungkin aku melupakannya."
__ADS_1
Rachel menatap keduanya haru. "Tidak ada cinta semanis cinta kalian. Uh... so sweet. Aku harap kalian selalu dilimpahkan kebahagiaan. Cepat-cepat diberikan momongan. Jangan khawatir jika Tuhan belum mempercayakan kalian seorang anak. Lihat aku, lima tahun lamanya aku menanti. Dan tahun ini aku baru bisa hamil. Tuhan itu adil bukan? Asal kita sabar dan jangan berhenti berdoa pada-Nya."
Queen tersenyum ramah. "Aamiin. Aku juga akan selalu mendoakan untuk kebahagian keluargamu, Kak. Terutama bayi dalam perutmu. Semoga dia lahir degan sehat dan ibunya juga."
"Amin." Sahut Rachel menggenggam tangan Queen erat. "Senang bisa mengenalmu. Meski usiamu masih terbilang muda. Kau memiliki pemikiran dewasa. Biasanya gadis seusiamu emosinya masih meluap-luap. Tapi aku salut, bahkan kau memarahi suamimu di rumah ketimbang menghajarnya di depan umum."
Queen menatap Sean lekat. Dan Sean pun memberikan tatapan yang sama. "Dia bukan lelaki sembarangan, semua orang mengenalnya. Bagaimana mungkin aku menjatuhkan harga dirinya hanya karena masalah pribadi. Mommyku selalu mengajarkan padaku, kita itu harus bisa menghargai orang lain jika kita juga ingin dihargai. Aku selalu menanamkan itu dalam diriku."
"Ah, pantas kau ini pintar dan begitu dewasa. Ternyata kau lahir dari seorang Ibu yang luar biasa. Pasti Ibumu itu sangat pintar. Aku pernah mendengar tentangnya, tapi tidak sejauh itu. Kebetulan suamiku mengenal Ayahmu. Katakan saja mereka rekan bisnis. Sama seperti aku dan Sean."
Queen mengangguk paham. "Ayahku memang terkenal, tapi tidak untuk putrinya ini."
"Hey, jangan salah. Saat ini kau dan Sean selalu menjadi perbincangan panas di media. Mereka mengatakan kalian itu pasangan sempurna. Foto-foto mesra kalian berkeliaran di mana-mana." Ujar Rachel yang berhasil membuat Queen kaget.
"Benarkah? Kenapa aku tidak tahu."
"Bagaimana kau tahu, kerjaanmu hanya makan tidur. Bahkan kau melihat berita saja tidak pernah." Cibir Sean yang disambut tawa oleh Rachel.
"Sean! Kau menyebalkan. Jangan membongkar aibku." Kesal Queen berhasil mengundang gelak tawa keduanya. Dan Queen pun cuma bisa menyebik karena kesal.
****
"Lihat ini, lucu sekali." Seru Queen saat mereka berada di toko pelengkapan bayi dan melihat sepatu lucu.
Rachel tertawa renyah saat melihat reaksi Queen. "Aku rasa kau sudah harus mempersiapkan diri untuk hamil, Queen."
Queen menoleh. "Tapi... aku masih takut."
"Takut? Apa yang kau takukan lagi?"
Queen menggigit ujung bibirnya. "Sebenarnya aku belum siap untuk hamil. Kau tahu kan aku masih kuliah semester pertama. Rasanya tidak lucu aku hamil saat sedang kuliah."
Rachel tersenyum geli. "Kau ini, memangnya kenapa kalau hamil saat kuliah? Kau kan punya suami."
Queen menghela napas berat. "Iya sih. Tapi tetap saja aku masih takut. Hah, jika memang Tuhan memberikan kepercayaan itu. Aku sih tidak menolak juga, Sean juga sangat mengharapkan seorang anak." Tanpa sadar Queen mengusap perutnya seolah ada jabang bayi di sana.
"Aku tidak bisa membayangkan selucu apa anak kalian nanti. Dia akan setampan atau secantik dirimu ya?"
Queen tertawa. "Aku inginnya dia setampan Sean. Jadi hidupku dikelilingi para lelaki tampan."
__ADS_1
"Kau ini, makanya cepat hamil."
"Doakan saja, aku dan Sean masih kerja keras."
Rachel tertawa lucu. "Aku rasa Sean sangat hebat di ranjang kan?"
Queen tersenyum malu. "Aku rasa sama seperti suami lainnya."
"Mungkin, tapi jujur suamiku juga sangat hebat. Dia bisa membuatku sampai lemas tak berdaya di pagi hari." Bisik Rachel yang lagi-lagi membuat Queen malu karena membayangkan kehebatan Sean saat diatasnya.
"Ish... aku tidak menyangka kau sangat mesum, Kak."
"Itu hal biasa bagi wanita yang sudah menikah. Bukankah itu kebutuhan jasmani sorang istri?"
"Iya juga sih."
"Berapa ronde dalam sekali main huh?" Bisik Rachel lagi. Sontak pipi Queen pun merona.
"Apa aku harus menjawab?"
"Jawab saja. Biar aku yang lebih dulu, biasannya aku dan suamiku bisa sampai sepuluh ronde. Bahkan lebih."
"Benarkah?" Kaget Queen.
"Hush... jangan kencang-kencang. Di sini banyak paparazi."
Queen melihat ke kiri dan kanan. Lalu berbisik. "Benarkah? Sepuluh ronde? Apa pinggangmu tidak patah? Aku saja lima ronde sudah kalah."
Rachel tertawa kecil. "Aku akan memberikan tips padamu nanti. Suami itu harus dilayani dengan sepenuh hati supaya dia tidak berpaling."
Queen pun mengangguk. "Sepertinya aku harus banyak belajar dari senior sepertimu."
"Hah! Setuju. Mulai besok kita akan bicara kan masalah ini. Sekarang mari kita kosongkan atm para suami." Ajak Rachel begitu semangat. Sepertinya Queen benar-benar mendapat teman satu frekuensi saat ini. Meski usia mereka terpaut jauh, tapi mereka benar-benar terlihat seperi adik dan kakak sungguhan.
Mereka pun kini berlanjut dari toko satu ke toko lainnya. Dan kini Queen terlihat sibuk memilih pakaian yang cocok untuk suaminya.
"Queen?" Panggil Seseorang yang berhasil mencuri perhatian Queen.
"Uncle, kau di sini?" Queen menatap lelaki itu tidak percaya.
__ADS_1