
Faizah mengerut bingung saat melihat suaminya memasukkan pakaian ke dalam koper.
"Mas, mau kemana sih dari kemaren sibuk banget?" Tanya Faizah duduk di bibir ranjang sambil mengusap pinggannya.
"Besok saya harus terbang ke Berlin."
Wajah Faizah langsung berbinar. "Pengen ikut. Aku siapkan pakaian dulu."
"Gak perlu." Sahut Juna yang berhasil menahan pergerakan Faizah.
"Kenapa?"
"Apa kamu lupa baru kemarinnya masuk rumah sakit?"
Faizah menunduk sedih. Matanya mulai mengabur. "Aku tahu kamu malu kan bawa aku ke sana?"
Juna menghela napas berat. Lalu dipegangnya kedua bahu Faizah. "Dengarkan saya, Izah. Kondisi kamu tidak memungkinkan untuk bepergian jauh, diam di rumah oke?"
Tangisan Faizah pun pecah. "Gak mau. Pengen ikut, atau kamu gak perlu pergi. Bilang aja sama atasan kamu, kalau kamu gak bisa pergi karena istri sakit. Aku kan memang lagi sakit."
Juna memutar bola matanya malas. "Saya harus pergi, kamu tahu pekerjaanku kan?"
"Hiks... pengen ikut pokoknya." Faizah masih bersikukuh. Dan itu membuat Juna jengah.
"Kamu bisa gak sik gak bikin saya pusing sehari aja?" Geram Juna yang berhasil membuat Faizah semakin terisak.
"Ya udah sana pergi, jangan harap kamu bisa lihat aku lagi pas pulang." Kesal Faizah menepis tangan Juna dan berlalu pergi dari sana.
"Izah!" Panggil Juna geram. Namun, bukan Faizah namanya jika menurut pada suami. "Terserah, dia pikir aku peduli dia pergi atau tidak."
Karena kesal Juna memasukkan pakaian dengan kasar ke dalam koper. Namun, detik berikutnya ia mengacaknya kembali.
"Arrggh... sialan!" Umpat Juna menjambak rambutnya sendiri. "Izah." Panggilnya.
Di luar, Faizah mengeluarkan mobil dari garasi. Kemudian meninggalkan rumah suaminya itu dengan kesal. "Dia pikir aku bercanda apa? Apa salahnya sih ajak aku ke sana? Aku kan pengen jalan-jalan juga. Pelit banget jadi suami. Nyebelin."
Faizah melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, membelah jalanan ibu kota dengan segenap aral dihatinya.
"Hiks... pake lapar lagi. Mana gak bawa dompet. Ck, sial banget sih? Masak iya aku harus pulang." Faizah menepikan mobilnya di tepi jalan. Dan mulai memutar otaknya. "Apa aku pinjam uang Daddy duli ya? Terus nanti kalau mereka tanyain suami pelit itu gimana? Enggak ah, males kalau ribut lagi."
Akhirnya Faizah pun hanya putar-putar di sekitaran monas, setelah itu ia kembali ke rumah. Sayangnya Juna benar-benar pergi. Karena lelaki itu tidak kelihatan lagi batang hidungnya.
"Hiks... tega banget jadi suami." Gerutunya saat melihat kamar sudah kosong. Bahkan koper Juna tidak ada lagi di sana. Dengan lemas Faizah keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.
"Hah, sabar Fai. Butuh waktu buat naklukin dia. Sekarang fokus isi perut dulu. Setelah itu pikirkan cara menyusulnya."
Faizah membuka kulkas sambil menutup hidung. Lalu mengeluarkan beberapa bahan masakan. "Dari pada aku pusing, mending kita mukbang."
Di kediaman Zain, Juna terlihat memasuki rumah itu dengan langkah lebar.
"Loh, kok ke sini?" Tanya Rea saat melihat Juna masuk.
"Di mana Zain?"
"Ada di belakang, lagi kasih makan ikannya. Kan kita mau berangkat sebentar lagi." Rea menatap Juna curiga. "Kenapa sih?"
Juna memijat batang hidungnya, lalu duduk di sofa. "Kayaknya aku gak bisa ikut."
"Lah, kenapa?" Tanya Rea ikut duduk bersebrangan dengan Juna.
"Istriku tidak bisa ditinggal, dia sedang sakit. Kemarinnya dia jatuh di kamar mandi."
"Apa?" Kaget Rea. "Kenapa gak bilang sih, Jun? Terus gimana kondisinya sekarang?"
"Gak ada masalah serius. Cuma dia kekeh mau ikut ke Berlin."
"Ck, mana boleh begitu. Ya sudah, gak perlu ikut. Jaga istri kamu saja di rumah."
"Ada apa ini?" Tanya Zain yang baru saja muncul.
"Ini, sayang. Istri Juna sakit, jadi dia tidak bisa pergi. Dia tidak bilang kalau istrinya jatuh di kamar mandi kemarin." Jelas Rea mewakili Juna.
__ADS_1
Zain duduk di sebelah istrinya. "Ya sudah, tidak perlu ikut."
Juna mengangguk. "Sorry buat kali ini."
"It's okay. Istri kamu lebih penting, apa lagi dia sedang hamil. Dia pasti butuh perhatianmu."
Juna mengangguk.
"Oh iya, berhubung kamu tidak jadi ikut. Bagaimana jika mewakili aku datang ke pesta klien. Bawa saja istrimu, besok acaranya. Gimana? Kalau mau aku kasih undangannya sekarang?" Tawar Zain.
"Ish kamu ini, orang istrinya lagi sakit juga. Gak usah, biarin dia jagain siapa nama istri kamu aku lupa?" Rea menatap Juna.
"Faizah."
"Ah, iya. Biarin dia temenin Faizah di rumah." Imbuh Rea.
"Oke, gak masalah. Aku bakal hubungin Daniel buat gantiin kamu, aku butuh pendamping di sana."
Juna mengangguk. "Baiklah, kalau gitu aku pamit. Istriku kabur karena merajuk."
Mendengar itu Rea dan Juna pun saling memandang. Kemudian keduanya tertawa.
"Aku rasa kalian sudah gila. Sudahlah, aku pamit. Titip salam untuk putrimu. Katakan aku merindukannya."
"Hey, apa kau lupa sudah punya istri?" Ketus Rea.
"Dia istri dadakan. Cintaku masih untuk putrimu." Sahut Juna bangkit dari posisinya.
"Kau gila?"
"Ya, salahkan putrimu karena sudah membuatku tergila-gila."
"Cih, salah sendiri sok jual mahal. Jangan ganggu putriku, sekarang dia sudah bahagia. Bahkan dia sedang hamil, sama seperti istrimu." Jelas Zain.
Juna tersenyum miring. "Aku cuma bilang aku mencintai putrimu, bukan berarti aku ingin memilikinya. Aku belum gila. Sudahlah, aku pergi. Jangan lupa sampaikan salam rinduku padanya." Setelah mengatakan itu Juna pun beranjak pergi.
"Lihat, aku rasa dia memang sudah gila."
Zain tersenyum. "Jangan cemas, pelan-pelan dia akan melupakan Queen. Kau lihat itu, bahkan dia lebih mementingkan istrinya sekarang. Mulutnya saja bicara tidak, tapi hatinya lain."
Zain mengangguk. Lalu keduanya pun beranjak ke kamar.
Kembali ke Faizah, wanita itu masih sibuk memasak di dapur sambil sesekali ngedumel.
"Masak sendiri, makan sendiri, tidur juga sendiri. Punya suami gak sayang istri, sedih banget kamu, Fai." Faizah menuang omelet buatannya dengan malas ke dalam piring. "Andai nikah karena cinta, pasti masak dimasakin. Makan disuapin, bahagia hidup ini. Lah ini, udah ditinggal, dicuekin pula. Nasib nikah karena jebol duluan."
Faizah tidak sadar jika saat ini Juna sudah duduk di kursi dan mendengar semuanya. Lelaki itu tersenyum tipis.
"Hiks... gimana dong kalau aku kangen dia? Mana gak bilang lagi berapa hari perginya. Pasti gak bakal kabarin lagi."
"Kalau kangen langsung ngomong aja." Ujar Juna yang berhasil membuat Faizah kaget dan tidak sengaja menyentuh bibir teplon.
"Akhhh... panas." Pekik Faizah. Sontak Juna kaget dan langsung menghampirinya.
"Izah! Kamu itu sekali aja gak ceroboh bisa gak sih?" Kesal Juna meraih tangan Faizah dan meniupnya.
"Kok nyalahin aku sih, Mas? Kan kamu yang ngagetin. Lagian gak ada suara kok tiba-tiba udah ada di sini atau jangan-jangan...." Faizah pun langsung menarik tangannya dan mundur. "Kamu hantu ya? Aaaa... jangan deket-deket. Tangan kamu juga dingin banget."
Juna mendengus sebal. "Kemari."
Faizah menggeleng dan langsung meraih pisau dapur, lalu menodongkannya pada Juna. "Pasti kamu mau berubah wujud kan? Ayo berubah, kuntilanak atau genderewo?"
Juna memijat batang hidungnya. "Gak usah ngada-ngada, gak ada yang namanya setan. Itu cuma halusinasi manusia aja, Izah."
Mendengar panggilan suaminya. Faizah pun menurunkan pisaunya. "Ini beneran kamu, Mas?"
"Terus kamu pikir saya apa? Setan?" Kesal Juna.
Faizah menghela napas dan menaruh pisau itu di tempat semula. "Aku pikir kamu udah pergi."
"Gak jadi."
__ADS_1
Mendengar itu mata Faizah bersinar. "Beneran?"
Juna mengangguk.
"Aaaa... makasih, sayang." Faizah langsung berlari dan memeluk Juna dengan erat. "Aku tahu kamu gak mungkin tega ninggalin aku kan?"
"Lepasin. Obatin tangan kamu."
Faizah menarik diri dari pelukan Juna. "Obatin." Rengeknya.
"Gak usah manja."
Seperti biasa Faizah memasang wajah sedih.
"Iya aku obatin, sana duduk. Aku ambil kotak obatnya." Juna pun meninggalkan dapur. Seketika senyuman di wajah Faizah mengembang. "Kesempatan nih. Untung tangan kanan yang kena."
Cepat-cepat Faizah duduk di kursi sebelum Juna kembali. Benar saja, tidak berapa lama Juna kembali dengan kotak obat di tangannya. Ia menarik kursi dan duduk di hadapan Faizah.
"Pelan-pelan ya, Mas. Perih."
Juna melirik Faizah sekilas. Kemudian langsung mengobati tangan istrinya itu. "Lain kali gak perlu masak lagi. Aku udah minta asisten rumah tangga sama agensi."
"Jangan cari yang muda, tar dia malah godain kamu lagi."
Juna tidak menanggapi. Sampai suara perut Faizah pun memecah keheningan. Seketika wajah Faizah merona karena menahan malu. "Sorry, aku lapar banget dari tadi soalnya."
Juna meletakkan kotak obat tadi di atas meja makan. Lalu bangun dan mengambil piring, setelah itu menyendok nasi dari rice cooker. "Cukup?" Tanyanya.
"Eh? Cukup."
Duh... jadi dia mau ambilin nasi buat aku toh. Pengertian juga suami akuh.
Juna pun mengambil omelet buatan Faizah tadi dan meletakkannya di atas meja bersama nasinya. "Makan."
Faizah mengangguk. "Terima kasih."
"Sama-sama." Balas Juna duduk di tempat tadi.
Faizah melirik Juna karena bingung, tangannya sudah diolesi salep tadi. "Mas, kalau salepnya kemakan gak papa kan?"
Juna mendengus kecil. Dengan malas ia menarik piring, lalu menambahkan lauk ke dalamnya. "Buka mulut kamu." Juna meniup nasinya sebelum menyuapi Faizah.
Faizah tersenyum dan langsung membuka mulutnya, menerima suapan pertama dari sang suami. Dan rasanya tentu saja tidak bisa diutarakan dengan kata-kata.
"Obat kamu di mana?"
"Kamar." Jawab Faizah dengan mulut dipenuhi nasi.
"Jangan lupa di minum."
"Iya, Mas."
"Hm." Juna pun kembali menuip dan menyuapinya.
"Seneng deh kalau gini. Pengen dimanja terus. Seneng tahu gak sih kalau kita gini terus."
"Jangan banyak ngomong, cepet kunyah. Terus minum obatnya."
"Ih... iya ini kan sambil ngunyah. Lembut dikit napa sama istri, Mas. Mas udah makan?"
"Belum." Ketus Juna.
"Ya udah kamu makan juga. Biar kita makan sama-sama. Aku kan masaknya banyak. Niatnya tadi mau mukbang pake sambel, eh kamu keburu datang terus kacauin acara masak aku."
"Cerewet."
Faizah tersenyum. "Orang cerewet itu suka ngangenin loh, Mas. Awas loh kamu bakal kangen kalau aku gak ada."
"Gak akan. Saya gak suka orang cerewet."
Faizah mengerucutkan bibirnya. Gak suka tapi kalau di kasih langsung nyosor. Dasar gengsian. Awas aja kalau nanti kangen. Gak bakal aku peduliin, biar tahu rasa.
__ADS_1
Tbc....
Udah aku tambah ya... gak tahu nih di reviewnya cepet apa enggak... kalau enggak berati besoknya baru update hehe... udah beberapa hari nt ada gangguan soalnya.