Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Membujuk Sean


__ADS_3

"Hai, Ben. Big bos ada kan?" Sapa Queen Saat tiba dilantai teratas perusahaan dan berpapasan dengan sekeretaris pribadi suaminya itu.


"Ada, Nyonya." Sahut Ben terlihat kaget saat melihat kehadiran Queen.


Kenapa Nyonya di sini? Bukankah Nyonya sedang camping?


"Apa dia masih sibuk?" Tanya Queen tersenyum lebar.


"Ya, Nyonya. Tuan sedang banyak kerjaan."


"Tidak masalah, aku masuk dulu ya?"


Ben cuma bisa mengangguk pasrah. Sedangkan Queen langsung beranjak masuk tanpa mengetuk pintu.


Sean menoleh sekilas saat pintu ruangan terbuka, kemudian kembali fokus bekerja. Queen yang melihat sikap acuh suaminya itu pun merasa sedih, padahal ia sengaja pulang dan meninggalkan acara hari ini hanya untuk sang suami. Ah, lebih tepatnya ia tidak bisa terlalu lama berjauhan dengan Sean.


"Sean, kau tidak merindukanku?" Rengek Queen beranjak duduk di pangkuan suaminya. Lalu dikecupnya pipi Sean dengan lembut. Sayangnya lelaki itu masih bergeming.


Queen bedecak sebal. "Jadi kau marah padaku huh?"


Sean menatap istrinya tajam. "Aku kira kau lupa jalan pulang."


Queen tertawa kecil. "Bagaimana mungkin, tempatku kembali hanya dirimu, Sean."


"Cih, aku tahu kau kembali karena ada maunya. Pergi saja sana, kau bebas bersenang-senang dengan teman-temanmu. Lupakan aku di sini, memangnya aku ini siapa?"


Queen terkekeh lucu. "Kau itu suamiku, Sean. Maaf karena pergi tanpa izin darimu. Kau memaafkan aku kan?"


"Menjuhlah, aku harus bekerja." Ketus Sean mendorong Queen perlahan agar mejauh darinya.


"Sean, apa pekerjaan lebih penting dari aku?" Tanya Queen dengan bibir menyebik.


"Hm." Sahut Sean kembali berkutat pada layar laptop. Sedangkan Queen terlihat kesal dibuatnya.


"Jadi pekerjaan lebih penting huh? Kau tidak merindukanku?"


Sean tidak menjawab. "Sean!" Rengek Queen memeluk Sean dari arah samping. "Tolong maafkan aku ya?


"Pergilah ke ruang istirahat, aku masih sibuk." Pinta Sean tanpa melihat lawan bicaranya.


"Ck, jadi kau marah padaku ya? Sean... aku minta maaf." Ucap Queen berusaha membujuk suaminya itu. "Aku janji, lain kali tidak akan meninggalkanmu lagi. Lagian aku hanya dua malam di sana."


"Hm." Sean masih saja acuh.


"Sean... tolong jangan marah. Aku rindu padamu tahu tidak? Dua malam tanpa pelukanmu rasanya sangat aneh."


"Oh, jadi kau hanya merindukan pelukanku? Kalau begitu datanglah saat malam hari." Sean masih saja ketus.


Queen merengek. "Bukan seperti itu, Sean. Aku...."


"Pergilah ke ruang istirahat, saat ini aku sedang kerja. Kita bahas ini nanti." Perintah Sean.


"Hm, berjanjilah untuk datang padaku."


"Ya." Sahut Sean. Queen pun tersenyum, kemudian beranjak ke kamar istirahat. Ia tersenyum geli. "Sepertinya aku harus menggodanya, dia pasti akan luluh."


Sesampainya di kamar istirahat, Queen langsung membersihkan diri. Setelah itu ia membenamkan diri di balik selimut tanpa sehelai benang pun. "Lihat saja, apa dia akan menolak?"


Satu jam kemudian, Sean pun masuk. Queen yang hanya berpura-pura tidur pun menggeliat kecil. Dan yang dilakukannya itu berhasil membuat Sean kaget karena selimut yang Queen kenakan sedikit melorot, memperlihatkan sebagian tubuhnya yang polos.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan? Di mana pakaianmu?" Sembur Sean mendorong kursi rodanya menuju ruang ganti. Queen mengintip dengan membuka matanya sedikit.


Sean keluar dari sana dengan sebuah kemeja. Cepat-cepat Queen menutup matanya kembali.


"Cepat bangun dan pakai ini, aku tahu kau hanya pura-pura tidur." Perintah Sean menatap Queen yang masih bergelung dibawah selimut.


"Aku mengantuk, Sean." Rengek Queen tanpa membuka mata dan pura-pura menguap. "Ayo tidur.”


"Bangunlah."


Queen berdecak sebal dan bergegas bangun sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Sean, kau tidak merindukanku?"


Sean tidak menyahut.


"Aku tahu, aku salah. Tolong jangan abaikan aku seperti ini, Sean." Lirih Queen menatap Sean sedih.


Sean membalas tatapan istrinya. "Dua hari kau pergi, apa kau berusaha menghubungiku huh? Bahkan kau sibuk dengan duniamu sendiri." Gerutunya seraya melempar kemeja tadi pada sang istri. "Pakai itu, jangan sampai masuk angin. Sebentar lagi makan siang."


Queen mengangguk dan bergegas memakainya meski bibirnya mengerucut. Sedangkan Sean justru beranjak menuju balkon.


"Hiks... jadi dia benar-benar marah kali ini?" Queen turun dari atas ranjang dan menyusul suaminya.


"Sayang." Dipeluknya Sean dari belakang. "Jangan marah lagi ya?"


Sean masih bergeming.


Queen mengecup pipi Sean dengan lembut. "Aku minta maaf okay? Lain kali tidak akan mengulanginya lagi, aku janji. Aku akan menjadi istri penurut."


Sean menolehkan kepalanya, menatap sang istri lekat. "Janjimu hanya dimulut."


"Ck, aku serius. Lain kali tidak akan kuulang lagi. Aku akan menuruti semua perintahmu, promise." Dikecupnya lagi pipi Sean. "I love you."


"Sean?" Lirihnya.


"Berhenti bicara, ayo keluar." Tegur Sean.


Queen menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Setelah itu ia pun mengikuti jejak suaminya meski dengan langkah malas.


Kini keduanya duduk saling berhadapan sembari menatap makanan yang sudah terhidang di atas meja dengan tak selera. Sean menarik lunch box, lalu memberikannya pada sang istri. "Makanlah."


Queen menerimanya. "Sean, aku...."


"Aku tahu kau belum makan sejak pagi."


Meski ucapan Sean terkesan dingin, Queen tetap tersenyum karena mendapat perhatian dari suaminya itu. "Aku ingin kau suapi, Sean."


"Kali ini makan saja sendiri." Sean mengambil lunch box miliknya dan segara melahapnya.


"Aku ingin disuapi, Sean." Rengek Queen ingin diperhatikan lebih. Diletakan kembali lunch box itu di atas meja.


Sean menoleh, ditatapnya Queen penuh arti. "Jangan lupa dengan kesalahanmu, kali ini aku tidak akan memaafkanmu dengan mudah."


Queen memasang wajah sedih. "Sean, bisakah kau memaafkan aku?"


"Tidak semudah itu. Kesalahanmu kali ini sulit untuk dimaafkan." Sahut Sean benar-benar kesal pada istrinya kali ini.


"Sean, aku minta maaf. Aku tahu kesalahanku sangat fatal. Aku berjanji tidak akan mengulangnya lagi," lirih Queen menatapnya penuh harap.


"Aku sedang makan, sebentar lagi ada meeting. Aku akan meminta supir untuk mengantarmu pulang. Istirahatlah dengan baik, jangan menempatkan bayiku dalam bahaya lagi." Sindir Sean.

__ADS_1


"Sean." Queen menggigit ujung bibirnya. "Sorry, aku tidak akan mengulangnya lagi."


"Bahkan kau sama sekali tidak memberi kabar padaku soal penculikan itu, Queen. Sepertinya kau mulai lupa siapa aku bagimu." Sean memberikan tatapan intimidasi.


Queen menggeleng. "Bukan seperti itu, Sean. Aku...."


"Habiskan makananmu." Sean menyela. Dan itu membuat Queen bungkam seketika. "Jika Vincent tidak ada. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu? Mungkin kau sudah dijual saat ini. Dan aku akan meratapi ketidak bergunaanku saat ini."


Queen masih bergeming, perkataan Sean memang benar adanya. Dengan tak semangat Queen menyantap hidangan.


"Aku merasa tak berguna menjadi suamimu, disaat kau sedang dalam bahaya pun aku tidak bisa melindungimu." Imbuh Sean melirik Queen sekilas. "Itulah alasanku kenapa melarangmu pergi jauh dariku, Queen. Kondisiku tak memungkinkan untuk datang saat kau butuh."


Queen menatap Sean lekat. "Sean, maafkan aku."


"Tapi kau seprtinya mulai bosan dengan saran dan ucapanku, jika seperti itu lakukan apa pun keinginanmu mulai sekarang. Aku tidak akan melarang, aku tahu kau tidak bisa dikekang." Sean melanjutkan makannya. Sedangkan Queen masih setia menatapnya.


"Maaf." Hanya itu yang keluar dari mulut Queen.


"Lupakan, semuanya sudah berlalu."


Mata Queen berkaca-kaca. "Aku salah, Sean. Tolong maafkan aku. Aku tidak akan mengulangnya lagi."


Sean menoleh. "Buktikan itu dengan sikapmu."


Queen mengangguk. "Jangan marah lagi, Sean. Aku tidak bisa kau abaikan."


"Aku tidak pernah mengabaikanmu, Queen."


Queen menatap Sean sendu.


"Malam ini aku ada pertemuan penting, sepertinya aku pulang larut. Aku tidak tahu kau akan pulang secepat ini. Minggu ini juga aku sudah mengambil jadwal padat." Jelas Sean tidak berbohong. Ia sengaja mengambil jadwal penuh karena dipikir Queen akan kembali hujung minggu.


"Ya." Queen mengangguk pasrah.


"Jangan menungguku, tidurlah jika kau sudah mengantuk."


Lagi-lagi Queen mengangguk.


"Cepat habiskan makananmu, setelah itu kau harus pulang. Aku sudah meminta supir kantor untuk menunggumu."


"Sean, aku masih ingin di sini."


Sean melirik istrinya sekilas. "Aku meeting di luar, kau pasti akan bosan. Lebih baik pulang saja."


Queen merengut. "Bisakah kau membawaku?"


"Tidak." Tegas Sean yang berhasil membuat nyali Queen ciut. Baru kali ini Sean bersikap tegas padanya.


"Sean...."


"Kali ini dengarkan perintahku, Queen. Kau harus istirahat. Jaga kesehatanmu, jangan sampai kau jatuh sakit." Tegas Sean. "Cepat habiskan makananmu."


Queen pun melanjutkan makannya dengan tak semangat. Tentu saja Sean sadar akan hal itu. Tetapi ia sengaja mengabaikannya. Kali ini ia tidak akan memaafkan istri kecilnya dengan mudah. Sikap keras kepala Queen yang akan membahayakan diri itu membuat Sean bersikap lebih tegas.


Dasar keras kepala. Beruntung aku lebih sigap, jika tidak aku akan menyesal seumur hidup. Pikir Sean.


Ya Tuhan, apa Sean tidak akan memaafkan aku kali ini? Jadi dia benar-benar marah besar? Bantu aku untuk membujuknya, Tuhan. Batin Queen.


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2