
Rea memandang keluar jendela dengan tatapan dingin. Lalu ia pun menempelkan ponselnya ke telinga. Tidak lama terdengar nada sambung.
"Ada apa, Re?" Tanya seseorang dari sana. Rea tersenyum tipis.
"Aku butuh bantuanmu, bisakah kau datang ke alamat yang aku kirim?"
"Tentu saja. Apa terjadi sesuatu padamu?" Tanya orang itu dengan nada cemas.
"Ya, karena itu aku meminta bantuanmu. Segeralah datang."
"Baiklah, aku akan ke sana sekarang."
"Ya." Rea menutup sambungan telepon yang diiringi dengan senyuman miring. Ia pun berbalik, menatap Abel yang masih terikat di kursi besi dengan kondisi menyedihkan. Rea tersenyum puas.
"Kau haus?" Tanya Rea seraya meraih sebotol air mineral. Lalu duduk di kursi dengan gaya sensual. "Minumlah, kau harus tampak segar saat melihat big bosmu."
Abel terbelalak mendengarnya. "Bagaimana kau tahu soal lelaki itu? Bahkan aku saja tidak pernah melihat wajah aslinya?"
Rea tertawa sumbang. "Karena aku tidak sebodoh dirimu."
Mata Abel memerah menahan amarah. Dasar j*l*ng! Aku akan membunuhmu.
"Kau ingin membunuhku? Lakukan saja jika bisa. Aku ingin tahu, apakah orang mati bisa membunuh orang hidup?"
"Apa maksudmu?" Kaget Abel.
"Kau akan tahu sendiri. Apa perlu aku menghitung mundur?"
"One... two...." belum sempat hitungan ketiga pintu pun terbuka. Menampakkan seorang lelaki berpakaian putih dengan topeng diwajahnya. Membawa sebuah nampan berisi makanan dan minuman.
"Kau lapar?" Rea terkikik geli saat melihat wajah sendu sepupunya itu saat melihat makanan. Memang benar Abel sangat kelaparan dan kehausan. Sudah dua hari lebih tidak ada yang memberinya makan dan minum. Tentu saja semua itu atas perintah Rea. Wanita itu terlalu kejam saat sedang marah. Bahkan tidak ada yang tahu sifat tersenyumbunyi ibu hamil yang satu itu.
"Hari ini aku akan berbaik hati padamu, makan dan minumlah sepuasnya. Supaya kau senang nantinya." Rea melepas ikatan sebelah tangan Abel. Ia tahu wanita itu tidak akan bisa melawan karena kondisinya yang lemah. Lalu memerintahkan sang chef memberikan makanan itu pada Abel. Setelah itu memintanya pergi.
Karena sudah tidak bisa menahan rasa lapar lagi, Abel pun langsung melahapnya dengan rakus.
__ADS_1
"Pelan-pelan saja, tidak ada yang akan merebutnya darimu." Rea benar-benar senang saat ini. Merasa puas karena berhasil membuat sepupunya itu menderita. Sejak lama ia ingin sekali memberikan pelajaran pada Abel. Rea bukan tidak tahu selama ini Abel dan Ibunya selalu memeras sang Mami. Tentu saja mereka memakai cara yang halus. Namun Rea mengetahui itu sejak lama.
"Kau senang mengemis bukan? Sekarang aku mengabulkannya, bagaimana perasaanmu huh?"
Abel menghentikan makannya. Ditatapnya Rea dengan tatapan sengit. Dan sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan itu.
Rea menghela napas berat. "Sebenarnya aku tidak sanggup melakukan ini kau tahu? Hanya saja kau mengusik tidurku. Ck, jadi aku tunjukkan saja taringku dihadapanmu sekalian. Bagaimana, keren bukan?"
"Psikopat."
"Ups... aku tidak sekejam itu. Tapi apa boleh buat? Kau ingin menjadi kelinci percobaanku huh?"
Lagi-lagi Abel dibuat kaget olehnya. Rea tertawa renyah. Kemudian matanya bergerak ke arah pintu. Seolah tengah menunggu kedatangan seseorang.
"Lama sekali. Aku paling tidak suka menunggu." Sinis Rea. Tidak berapa lama pintu kembali terbuka. Dan itu mengundang senyuman di bibir Rea. Namun sedetik kemudian ia menepis piring dari tangan Abel dan menendang kursinya. Abel yang kaget pun tidak sadar jika tangannya masih memegang garpu.
"Apa yang terjadi padamu, Re?" Tanya orang itu yang tak lain adalah Regan. Lelaki itu melangkah pasti mendekati Rea.
Rea menunjuk Abel. "Dia ingin membunuhku. Kau lihat itu, dia berhasil melepaskan sebelah tangannya." Rengek Rea bersembunyi dibelakang Regan. Kemudian mengulas senyuman licik sambil memandang Abel.
"Aku sudah mamperingatimu untuk tidak mangusiknya."
Sontak Abel pun tersentak dan langsung menyadari sesuatu. "Kau! Jadi kaulah orang itu?"
Rea pun mundur perlahan yang diiringi dengan senyuman miring. Kemudian memberikan sebuah isyarat ke arah cctv. Diwaktu bersamaan pula Abel mengalami kejang-kejang. Bahkan mulutnya pun mulai mengeluarkan busa. Regan yang melihat itu pun kaget bukan main. Lalu beebalik pada Rea. Dan kini di sana bukan hanya Rea. Melainkan ada enam orang lainnya di sana, mereka adalah Juna, Nesya, Daniel, Mike, Aletta dan Aron.
Regan langsung menatap Rea lekat, seolah bertanya apa yang sebenarnya terjadi? Rea yang bisa membaca mimik wajah Regan yang selama ini ia sebut sahabatnya itu pun tersenyum devil. Wanita itu pun duduk di sebuah kursi mewah. Menyilangkan kakinya dengan begitu anggun. "Aku akan memperkenalkan mereka terlebih dahulu padamu, Reg."
"Aku mulai dari ujung kanan, mungkin kau sudah mengenal mereka sebelumnya. Tapi tidak apa, aku akan memperkanalkannya satu per satu. Arjuna, Nesya, Mike dan Daniel. Mereka semua anak buah suamiku. Tapi untuk sementara aku mengambil alih mereka berempat. Dan...." Rea sengaja menjeda kalimatnya seraya menatap Aletta, sepupu sang suami.
"Aletta, dia sepupu suamiku. Sahabatku tanpa sepengetahuanmu, juga anak dari guruku. Dia juga adalah satu mata-mataku yang paling andal. Dan satu orang lagi, dia kekasih palsumu. Aron. Sepupu jauhku yang juga tak pernah kau ketahui sebelumnya. Mata-mataku yang paling setia." Rea tersenyum bangga.
"I am... Lady Amora." Imbuh Rea yang berhasil membuat Regan kaget. Tentu saja ia pernah mendengar sebuah gangster rusia yang terkenal dengan kehebatannya itu. Amora, benar itu namanya. Bahkan gang itu selalu bermain bersih dan mereka terkenal rahasia. Tidak ada yang tahu siapa saja anggotanya. Dan kini Regan sudah mengetahui sebuah rahasia besar. Itu berarti nyawanya di ujung tanduk.
"Aku rasa kau tahu siapa kami bukan? Juga tahu apa yang akan terjadi selanjutnya." Timpal Rea yang sudah memasang wajah serius.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kau menjadi Lady Amora? Setiap...."
"Setiap saat kau mengawasiku? Ayolah, akulah yang selama ini mengawasimu, Reg. Setiap detik aku tahu apa yang kau lakukan. Termasuk kau berbohong padaku jika kau seorang gay. Karena itu aku mengirim Aron di sisimu." Sela Rea.
"Aku tidak percaya itu. Kita bersama sejak kecil, Re. Kau tidak pernah mengenal dunia hitam." Regan bersikukuh. Ia masih tidak percaya jika Rea seorang pemimpin gangster.
"Jangankan dirimu, orang tuaku saja tidak tahu siapa aku. Aku rasa tidak penting kau percaya atau tidak. Yang jelas aku membencimu karena kau berani mencelakai suamiku. Selama ini aku membiarkanmu hidup tenang karena kau hanya lancang menaruh hati padaku."
Regan mengepalkan kedua tangannya.
"Aku juga tahu sejak lama kau mencintaiku, tapi kau seolah acuh padaku dan lebih memilih lelaki sialan itu. Orang yang sudah membuatmu jatuh."
Rea tertawa renyah, sedangkan yang lain hanya tersenyum geli.
"Kau salah, Reg. Saat itu aku tidak jatuh sama sekali, justru aku sengaja menjauh. Lalu aku akan kembali dan membuatnya terpana padaku. Dan perjuanganku tidak sia-sia, akhirnya kami menikah. Meski saat itu dia menolak perjodohan, aku akan tetap membuatnya setuju. Apa pun caranya." Rea menatap Regan sinis.
"Aku benar-benar jijik dengan tipu muslihatmu. Jangan kau pikir aku juga tidak tahu semua caramu untuk menjauhkanku dengannya. Saat di Bali kau terus mengiriminya foto kebersamaan kita. Kau berharap hubungan kami hancur. Tapi Tuhan masih berpihak padaku dengan menggoreskan takdir antara aku dan dia."
"Rea, percayalah. Aku melakukan itu karena menginginkanmu. Bahkan segala cara sudah aku lakukan. Ternasuk bekerja sama dengan sepupu bodohmu."
"Kau pikir aku peduli? Lalu bagaimana dengan Zee? Bukankah kau juga yang memanasinya untuk kembali ke Indonesia dan menggoda suamiku?"
"Ya, aku memang melakukannya." Aku Regan.
"Kau juga membunuhnya karena takut Zee akan membongkar kedokmu."
"Karena aku tidak ingin kehilanganmu."
"Aku juga tidak peduli soal itu. Tapi aku murka saat kau berencana membunuh suamiku. Membuatnya tersiksa karena tidak bisa melakukan hal yang disukainya." Rea bangkit dari duduknya. Lalu memakai sarung tangan hitam. Setelah itu ia mengeluarkan senjata api mini dan menodongkan benda itu tepat ke arah kepala Regan. Namun lelaki itu terlihat pasrah dan tidak melawan. Ia sadar tidak ada gunanya melawan karena Rea tidak akan melepaskan dirinya begitu saja.
"Apa kau punya kata-kata terakhir? Ah, sebelum itu aku lebih dulu yang akan mengucapkan kata-kata perpisahan. Maafkan aku karena memakai namamu untuk membuat suamiku cemburu. Satu lagi... aku punya rahasia penting yang belum kau ketahui. Akulah yang menyingkirkan William, adikmu. Berani sakali dia melecehkanku."
Mata Regan terbelalak kaget. Pantas saja selama ini ia tak pernah menemukan keberadaan sang adik. "Kau!" Ia hendak mendekati Rea, tetapi sebelum itu tubuhnya ambruk lebih dulu karena sebuah peluru berhasil bersarang dikepalanya.
"Nyawa di bayar dengan nyawa. Bereskan semuanya. Aku ingin mendengar kabar baik besok pagi." Dengan santai Rea membuang senjata api itu ke lantai bersama sapu tangannya. Kemudian ia pun beranjak pergi dari sana. Tugas selanjutnya ia serahkan pada yang lain. Ia cukup lelah hari ini dan selanjutnya akan bermanja-manja dengan sang suami. Ah, ia mendadak merindukannya. Entah apa yang akan Zain lakukan jika tahu sang istri bukanlah istri menggemaskan seperti yang ada dalam pikirannya?
__ADS_1
Untuk masalah Zee, Rea memang sudah lebih dulu memaafkan wanita itu karena Zee berani mengakui kesalahannya sendiri. Tapi tidak untuk Regan, William dan Abel. Ketiganya terlibat dalam rencana pembunuhan Zain. Rea tidak bisa memaafkan itu.