
Siang ini matahari tampak mengeluarkan sengatan terik setelah pagi tadi hujan mengguyur tanah ibu kota. Di halaman belakang rumah, Rea terlihat bersenandung ria sambil membuang ranting bunga yang kering. Kebetulan hari ini ia tidak ada jadwal di rumah sakit sehingga bisa bersantai di rumah. Jadi ia menghabiskan waktu untuk merawat bunga di taman kecil miliknya.
"Panas-panas begini enaknya makan apa ya?" Gumamnya seraya melempar pandangan ke setiap penjuru halaman. Sampai pandangannya terhenti pada sebatang pohon mangga yang berbuah lebat di halaman rumah tetangganya.
Ya ampun, kenapa tiba-tiba aku ingin makan mangga itu? Pasti rasanya enak dan segar. Apa aku minta saja ya? Pikirnya dalam hati.
Setelah lama berpikir, Rea pun memutuskan untuk berkunjung ke rumah tetangganya. Dengan semangat Rea bergegas masuk ke dalam rumah, kemudian membungkus beberapa cemilan ke dalam paper bag sebagai buah tangan. Tidak mungkin kan ia membawa tangan kosong?
"Eh... mau kemana, Nya? Kok semangat banget?" Tanya Bik Ade saat memergoki Rea hendak keluar rumah.
"Biasa, main ke sebelah."
"Eh? Tumben banget, Nya. Biasanya juga betah di kamar."
"Shutt... aku ada bisnis kecil-kecilan." Rea terkikik geli.
"Bukan karena keinginan aneh baby lagi kan, Nya?"
Rea langsung menggeleng kuat. "Cuma mau menjalin tali silaturahim aja kok." Alibinya. Rea hanya tidak mau Bik Ade mengadu pada Zain dan mengacaukan semua keinginannya.
"Oh... kalau gitu hati-hati, Nya."
"Santai aja, Bik. Cuma lewatin gerbang aja dikit. Gak pake nyeberangin lautan dan gunung."
"Ih, si Nyonya mah suka becanda. Ya sudah, Bibik mau selesaikan gosokan dulu."
"Iya, sana pergi. Jangan lupa makan siang, Bik."
"Siap Nya."
Kemudian Rea pun bergegas pergi meninggalkan kediaman menuju tetangga sebelahnya.
"Buk rt." Panggilnya seraya membuka gerbang rumah bercat putih itu. Sang pemilik rumah yang juga sedang bersantai di teras depan pun menyambut Rea dengan ramah.
"Buk dokter, kemana aja baru kelihatan?" Sapanya.
"Biasa buk, sibuk di rumah sakit. Ini ada sedikit cemilan buat si adek." Rea memberikan bingkisan tadi pada Buk rt.
"Wah, pake repot-repot segala bawa ginian. Ayo masuk dulu, kita ngobrol di dalam." Ajaknya yang dijawab anggukan oleh Rea. Kemudian keduanya pun masuk ke dalam rumah.
"Udah berapa bulan?" tanya Buk rt seraya mengusap perut buncit Rea.
"Dua puluh minggu, Buk."
"Wah, gak lama lagi dong. Sering-sering main ke sini, setiap hari Ibu sendirian tahu di rumah. Anak-anak jam segini belum pulang sekolah."
Rea tersenyum ramah. "Iya deh nanti aku sering main, habis akhir-akhir ini banyak pasien di rumah sakit."
"Ibu ngerti kok. Oh iya, makan siang di sini aja ya?"
"Eh, gak usah Buk. Aku udah makan tadi di rumah. Itu... sebenarnya aku ke sini pengen minta sesuatu." Rea tersenyum kikuk.
"Minta apa nih? Jangan minta yang aneh-aneh loh."
Rea tertawa renyah. "Enggak kok. Tadi aku lagi main di halaman belakang, terus gak sengaja lihat pohon mangga di belakang." Pancingnya. Sontak Buk rt pun tertawa.
"Paham deh Ibu sekarang. Ngidam mangga muda ceritanya? Kenapa gak bilang terus terang sih?"
Lagi-lagi Rea tersenyum kikuk. "Malu ngomongnya."
"Kamu ini, kayak ngomong sama orang jauh aja. Kalau memang mau ambil aja sepuasnya. Cuma ya gitu, harus naik tangga buat petiknya."
"Beneran boleh buk?"
"Iya, ambil aja. Kenapa gak bawa suami kamu ke sini biar dia yang ambil."
"Suamiku kerja, Buk."
"Owalah, jadi siapa yang petiknya dong?"
"Kayaknya aku bisa deh."
"Eh? Gak ah, kalau kamu jatuh gimana? Ibu gak izinin."
"Gak akan jatuh kok, Buk. Aku udah biasa manjat dinding terjal. Aman deh pokoknya." Ujar Rea meyakinkan Buk rt.
__ADS_1
"Kamu yakin? Ibu kayak ragu gitu ah."
"Yakin seratus persen, percaya sama aku deh."
"Ibu gak tanggung jawab ya kalau kamu jatuh."
"Dijamin gak akan jatuh. Boleh petik sekarang?"
Buk rt mengangguk ragu. "Kamu yakin yang manjat, Re?"
"Hm." Rea mengangguk yakin.
Setelah berdiskusi panjang, keduanya pun beranjak ke halaman belakang.
"Kalau ada galah lebih enak. Kebetulan galah di sini di bawa pulang sama nenek anak-anak."
"Gak papa, Buk. Pake tangga aja bisa kok."
"Tunggu, Ibu ambil tangga lipatnya dulu." Buk rt pun beranjak menuju samping rumah untuk menganbil tangga lipat. Tidak perlu lama wanita paruh baya itu kembali dengan membawa tangga yang dimaksud.
Dengan semangat Rea membantu mendirikan tangga itu. Setelah di rasa aman, Rea pun langsung memanjat satu per satu anak tangga hingga sampai di penghujung. Tanpa rasa takut sedikit pun tentunya, justru ia sempat tersenyum lebar karena bisa menggapai buah mangga dengan mudah.
Di waktu bersamaan Zain pun pulang.
"Bik, di mana Rea?" Tanyanya saat tak menemukan keberadaan sang istri.
"Tadi pamitan mau ke rumah Buk rt, Tuan."
Zain mengangkat sebelah alisnya. "Ngapain?"
"Katanya sih ada bisnis kecil. Tadi Nyonya kelihatan semangat gitu."
"Bisnis? Sejak kapan dia punya bisnis sama Buk Rt?"
"Bibik kurang tahu, Tuan."
Zain terdiam sejenak. "Ya sudah, buatkan aku jus ya bik. Tolong bawa ke belakang."
"Baik, Tuan."
"Rea?" Zain menajamkan pandangannya. Memastikan wanita itu benar istrinya. Dan matanya tidak salah kali ini.
Berbeda dengan Rea yang terlihat senang memetik buah. Zain malah panik setengah mati, bahkan ia langsung berdiri tegak. "Andrea!" Teriaknya yang berhasil menarik perhatian sang istri.
Bukannya takut, Rea malah melambaikan tangan pada sang suami. Dan itu membuat Zain geram setengah mati.
"Diam di sana." Serunya yang langsung berlari ke luar rumah. Bahkan tanpa permisi Zain menerobos masuk ke rumah tetangganya itu menuju halaman belakang.
"Ya Tuhan." Zain benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang Rea lakukan saat ini. Ia pun segera menghampiri tangga yang Rea naiki. Buk rt yang merasakan kecemasan Zain pun memberikan isyarat pada Rea untuk segera turun. Namun wanita itu hanya tersenyum lebar.
"Turun sekarang." Titah Zain.
"Sebentar, sayang. Aku ingin memetik mangga sedikit untuk di rumah."
"Turun, Re." Kali ini nada suara Zain terdengar tegas dan tajam. Rea yang merasa terancam pun mengangguk patuh.
"Okay, aku turun. Hiks... kau mengganggu kesenanganku tahu." Sambil mengomel Rea pun menginjak anak tangga satu per satu tanpa ada yang terlewati. Sedangkan Zain dengan siaga menjaganya dari bawah. Di tangga terakhir Zain pun membantu istrinya itu turun.
"Apa yang kau lakukan huh?" Kesal Zain. Buk rt yang menyaksikan itu cuma bisa diam.
"Petik buah mangga, sayang." Jawab Rea dengan santainya. Bahkan ia masih sempat memasukan buah mangga yang ada di tangannya ke dalam kantung plastik.
Zain benar-benar kesal kali ini. "Sudah berapa kali aku mengingatkanmu untuk tidak melakukan hal bodoh, Re. Dan sekarang apa yang kau lakukan huh?"
"Ck, aku cuma memetik buah mangga. Kenapa kau memarahiku? Aku baik-baik saja. Kau bisa melihatnya sendiri bukan?"
Zain mengusap wajahnya dengan kasar. "Kau membuatku gila, Re."
Buk rt berdeham kecil, dan itu menarik perhatian keduanya. "Berhubung semuanya baik-baik saja, sebaiknya kita masuk." Ajaknya.
"Terima kasih, tapi sepertinya kami harus pulang." Sahut Zain.
"Aku tidak mau pulang." Sanggah Rea. "Aku dan Buk rt akan merujak. Jika kau mau pulang, pulang saja sendiri."
Zain terperangah mendengarnya.
__ADS_1
"Zain, biarkan istrimu di sini. Ibu sudah sepakat akan menemaninya merujak. Istrimu sedang ngidam." Bujuk Buk rt.
Zain menatap Rea lekat. Sedangkan yang ditatap malah memasang wajah memelas.
"Boleh ya?"
Zain tidak menjawab.
"Demi baby." Rengek Rea seraya menarik tangan suaminya dan meletakkan di perut. "Kau tanyakan sendiri pada baby, aku benar-benar sedang ingin merujak kali ini."
"Aku tidak mempermasalahkan soal merujak, aku marah karena kau membahayakan dirimu. Apa salahnya kau meminta bantuanku, Re?"
"Kau kan belum pulang tadi." Rea menunduk lesu. "Lagi pula aku baik-baik saja."
"Ya, kau memang baik-baik saja kali ini. Bagaimana dengan hari esok? Kau selalu membuatku cemas."
"Sorry." Ucap Rea memelas.
"Sudahlah, aku lelah dengan semua sikap anehmu. Lakukan apa yang ingin kau lakukan." Setelah mengatakan itu Zain pun berlalu pergi. Meninggalkan Rea dan Buk rt yang masih terdiam.
Rea menatap Buk rt dengan tatapan bersalah. "Maafkan aku karena membuat kekacauan."
Buk rt tersenyum ramah. "Tidak apa-apa. Suamimu hanya mencemaskanmu, tidak heran jika dia marah. Salah Ibu juga karena mengizinkanmu naik tadi."
Rea menghela napas gusar. "Sepertinya merujak kali ini harus tertunda. Aku harus membujuknya lebih dulu."
"Ya, suami adalah prioritas utama. Rumah ini selalu terbuka untukmu. Datanglah kapan kau mau. Kita bisa merujak di sini atau makan bersama mungkin."
Rea mengangguk antusias. "Terima kasih sudah menuruti kekonyolanku. Terima kasih juga atas mangganya. Mungkin aku akan menghabiskan semuanya sendiri di rumah."
Buk rt pun tertawa renyah. "Kalau masih kurang kamu boleh ambil lagi, tapi lain kali minta bantuan suamimu okay?"
Rea mengangguk lagi. Setelah berulang kali mengucapkan terima kasih. Rea pun menyusul suaminya pulang sambil membawa setengah plastik mangga muda.
"Sayang." Rea menghampiri Zain yang baru saja keluar dari kamar mandi. Sepertinya kali ini Zain benar-benar marah, ia mengabaikan Rea begitu saja.
Rea memeluk Zain yang hendak memakai baju. Menghirup aroma sabun yang menyeruak dari rongga kulit lelaki itu. Bahkan dengan berani ia mengecupi kulit punggung suaminya. Ya, hal itulah yang selalu Rea gunakan untuk membujuk suaminya. "Maafkan aku, jangan marah. Aku benar-benar menyesal."
Zain masih saja diam. Rea menyentuh perut kotak-kotak suaminya dengan lembut. "Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji."
"Kau sudah sering berjanji, tapi tidak ada satu pun yang kau tepati. Setelah memanjat dinding, sekarang kau kembali melakukan hal bodoh dengan naik ke atas tangga dengan alasan ngidam. Besok hal bahaya apa lagi yang akan kau lakukan huh?"
"Tidak ada lagi. Kedepannya aku akan meminta bantuanmu."
"Kau pembohong."
"Aku tidak bohong, sayang. Tidak akan aku ulangi lagi."
Zain terdiam lagi. Sedangkan Rea masih setia memeluknya dari belakang. Mengecupi setiap inci kulitnya yang mengeluarkan aroma maskulin yang khas.
"Ayo kita merujak, sepertinya makan mangga muda dengan garam dan cabai sangat enak." Ajaknya.
Zain mendengus sebal. Percuma ia semarah apa pun, Rea sama sekali tidak terpengaruh. Justru sikapnya selalu membuatnya luluh dalam waktu singkat.
"Ayok, air liurku sudah tumpah semua. Baby juga ingin Daddynya yang meracik bumbu."
"Jangan menggunakan baby untuk membujukku?"
"Lalu? Apa aku harus membujukmu dengan ciuman? Sini, aku bisa memberikannya sekarang."
Lagi-lagi Zain mendengus sebal. "Pergilah, aku lelah hari ini."
"Ck, temani aku merujak. Setelah itu kau boleh istirahat. Ayolah, demi baby kita." Rengek Rea layaknya anak kecil yang sedang meminta mainan baru. "Ayok."
Zain menghela napas pasrah. "Baiklah, lepaskan dulu. Aku ingin memakai pakaian."
"Tidak usah, kau lebih seksi seperti ini."
"Jadi kau rela Bik Ade melihatku seperti ini?"
Rea mendesis pelan. Ia lupa di rumah ini masih ada penghuni lain. "Baiklah, cepat sedikit. Aku akan menunggumu di halaman belakang. Di sana tempat yang cocok untuk bersantai. Aku mencintaimu, sayang."
"Hm." Hanya itu balasan Zain. Rea tersenyum geli, setelah itu ia pun beranjak pergi.
"Aku mencintaimu." Teriak Rea sebelum benar-benar menghilang di balik pintu.
__ADS_1
Zain yang tak habis pikir dengan tingkah istrinya itu hanya bisa menggeleng. "Dasar aneh." Zain pun bergegas memakai baju dan menyusul istri konyolnya itu.