
Setibanya di rumah, Faizah langsung turun dari mobil, meninggalkan Juna begitu saja. Juna pun cuma menghela napas pendek, lalu menggeleng sebelum menyusul istrinya.
"Sayang." Panggil Juna saat masuk ke kamar, melihat Faizah sudah bergelung di bawah selimut. Ia pun duduk di sisi istrinya.
"Jangan deket-deket. Kamu senang kan digodain sama perempuan tadi? Buktinya kamu diem aja." Ketus Faizah.
Juna yang mendengar itu terdiam sejenak. "Terus saya harus apa, Izah? Kamu sendiri yang minta saya julanan tahu gejrot kan?"
Faizah tidak menyahut, dan semakin merapatkan selimutnya.
"Gak perlu marah, saya juga tidak menanggapi mereka. Lain kali kalau kamu cemburuan kayak tadi, jangan minta yang aneh-aneh lagi."
Faizah pun bangun, ditatapnya Juna dengan sendu. "Bukan aku yang mau, Mas. Tapi dedek bayi." Rengeknya dengan manja. Juna tersenyum, membuat emosi Faizah meluap begitu saja. Senyuman Juna selalu berhasil menjadi obat terampuh untuk menyembuhkan kemarahan Faizah.
"Mas tahu." Dielusnya perut buncit Faizah dengan lembut. Lalu mendekatkan wajahnya di sana, kemudian menghadiahi kecupan hangat. Faizah yang melihat itu tersenyum lebar. "Sayang, jangan minta yang aneh-aneh lagi ya? Papa suka kuwalahan kalau Mama kamu merajuk. Tar Papa gak bisa jenguk kamu lagi."
"Mas." Kesal Faizah memukul lengan Juna. Spontan Juna pun mendongak sambil tersenyum geli. "Tidur yuk."
Faizah mengangguk. "Tapi pengen dipeluk." Rengeknya lagi semakin manja.
Dengan senang hati Juna berbaring disisi sang istri dan memeluknya dengan mesra. Setelah mengutarakan isi hatinya, Juna merasa lebih mudah memberikan perhatian pada istrinya. Mungkin gengsi yang selama ini ia pegang teguh mulai tergerus oleh cinta yang Faizah berikan.
"Tahu gak, Mas? Aku tuh seneng banget dipeluk kayak gini." Fazah memeluk Juna tak kalah mesra.
"Hm." Juna mengecup pucuk kepala Faizah penuh perasaan. "Tidurlah."
Faizah mengusap dada Juna dari balik kaos. "Mas."
"Hm?"
"Maaf ya? Aku udah sering buat kamu kesusahan karena nurutin semua kemauanku. Aku janji, lain kali gak minta yang aneh-aneh lagi."
"Saya kurang percaya sama janji kamu."
Faizah mendongak, sampai pandangan mereka pun bertemu dan saling mengunci satu sama lain. "Kali ini aku beneran janji."
"Kita lihat aja kedepannya gimana."
Faizah tersenyum geli. "Ganteng banget sih suami akuh." Pujinya seraya mengusap rahang tegas Juna. Kemudian jari lentiknya itu berhenti tepat di bibir tipis Juna. Tiba-tiba terlintas dalam pikirannya untuk bertanya siapa saja yang pernah menyentuhnya. "Siapa aja yang pernah sentuh ini?"
Kening Juna mengkerut. "Kenapa?"
"Ck, pengen tahu aja. Rasanya gak rela kalau bibir kamu disentuh orang lain. Bayanginnya aja bikin sakit hati. Kenapa sih aku gak lahir cepet, biar ketemu kamunya juga lebih cepet."
Juna tertawa kecil mendengar ocehan istri kecilnya itu. "Kalau kamu lahirnya cepet, belum tentu saya mau sama kamu."
Faizah mendengus sebal. "Emang jodoh bisa kamu tolak, Mas?"
Juna hanya tersenyum karena tak punya jawaban.
"Ck, dulu pas kamu pacaran. Berapa kali dalam sebulan ciuman? Kamu kan lama pacaran sama Mbak Nesya. Pasti sering kan ciuman?" Celetuk Faizah.
Juna menghela napas berat karena mendapat pertanyaan konyol dari istrinya itu. "Kenapa jadi bahas itu sih?"
"Pengen tahu aja. Cepetan jawab." Desak Faizah yang tak sabar ingin mendengar jawaban suaminya.
"Saya rasa tidak perlu dibahas, gak penting."
"Ish, pasti kamu gak mau bilang karena sering lakuin itu kan? Nyebelin." Faizah pun menarik diri dari dekapan Juna. Kemudian mengubah posisi tidurnya membelakangi.
Juna ikut berbaring menghadap Faizah. Lalu memeluk istrinya itu dari belakang. "Dulu, saya memang pernah melakukan itu dengan Nesya, tapi bisa dihitung jari. Wajar saja rasanya melakukan hal itu dalam fase berpacaran. Tapi tidak lebih dari hal itu. Saya masih tahu batasan."
__ADS_1
Faizah menyimak cerita suaminya dengan seksama tanpa berniat mencela. Meski ada sedikit rasa tak senang mendengar kisah masa lalu suaminya. Rasanya ia ingin memutar waktu, lalu masuk ke masa itu dan merebut Juna secara paksa. Tak akan ia biarkan satu wanita pun yang menyentuh suaminya itu. Sayangnya saat itu dirinya masih terlalu kecil, bahkan belum tahu apa itu kehidupan sesungguhnya.
"Kamu tahu kan saya masih trauma saat itu? Bahkan saya menolak ajakan Nesya untuk melakukan hubungan. Tidak jarang kami bertengkar hanya karena hal itu."
Faizah berbalik, ditatapnya wajah Juna dengan seksama. "Terus sama mantan istri kamu gimana? Pasti kalian pernah...." Faizah menguncupkan jemarinya, lalu menyatukannya perlahan. "Pernah kan?"
Juna tersenyum sambil mencubit gemas pipi istrinya. "Saya tidak pernah menyentuhnya."
"Ck, bohong. Mana ada satu atap gak ngapa-ngapain. Apa lagi statusnya suami istri." Faizah memasang wajah kesal. Entahlah, rasanya kesal saja saat membayangkan Juna bermesraan dengan wanita lain. Meski itu hanya masa lalunya.
"Kamu aneh, Izah. Cemburu kamu itu gak masuk akal. Tadi nanya, udah saya jawab jujur tapi gak percaya." Juna membenarkan posisi tidurnya, kemudian memejamkan mata. "Ayo tidur." Ajaknya kemudian.
Faizah merengek lagi. "Mas." Alhasil Juna pun kembali membuka mata, menatapnya heran. "Apa lagi huh?"
"Kamu beneran cinta kan sama aku?"
Juna menghela napas berat. "Harus berapa kali saya bilang, Izah? Saya cinta sama kamu."
"Cinta kok panggilannya masih saya kamu sih? Gak enak tahu dengernya, kayak ngomong sama atasan aja."
Kening Juna mengkerut. "Saya kan memang atasan kamu, kamu juga suka saya di atas kan?"
Faizah melotot. "Mas!" Dipukulnya dada Juna pelan. "Baru tahu kamu itu mesum. Ngeselin ih."
Juna tersenyum geli. "Kan kamu yang ngajarin."
"Dih, sejak kapan aku ngajarin kamu mesum?"
Juna memejamkan matanya lagi. "Sejak kita menikah."
Faizah tersenyum. "Dulu aja nolak, sampe-sampe aku harus ngelakuin hal gak wajar."
"Mas."
"Hm?"
"Gak nyesel kan punya istri kayak aku?"
"Kalau saya... maksudnya Mas, nyesel. Udah lama Mas tinggalin kamu."
Faizah terdiam sejenak, tanpa mengalihkan pandangannya dari Juna. "Mas."
"Apa lagi, sayang?" Akhirnya Juna pun kembali terjaga. Sebenarnya ia kesal karena Faizah terus mengganggunya. Namun, ia sadar jika sang istri tak akan membiarkannya tidur begitu saja sebelum dirinya sendiri mengantuk.
Pasti akan ada permintaan aneh lagi sekarang. Batin Juna mulai waswas.
"Aku belum ngantuk. Pengen dinyanyiin nina bobo."
Bener kan? Juna kembali membatin. "Ck, tadi udah janji gak bakal minta yang aneh-aneh." Protesnya memasang wajah kesal.
"Kan minta dinyanyiin nina bobo, gak aneh, Mas. Biar aku cepet tidur." Faizah terus merengek seperti anak kecil.
Sampai detik ini Juna masih tak habis pikir jika dibalik sikap bar-bar istrinya masih terselip sifat manja seperti ini. Mau tidak mau, akhirnya Juna pun menyanyikan lagu nina bobo dengan versi sendiri. Sampai istrinya itu benar-benar tertidur dan berhenti mengoceh.
Seulas senyuman terukir dibibirnya saat melihat wajah tenang istrinya ketika tidur. "Bahkan kamu terlihat lebih anggun saat tidur, Izah. Tapi tidak buruk juga kalau kamu ngoceh, ketimbang diam. Good night my wife." Sebuah kecupan mesra ia daratkan di kening Faizah. Kemudian keduanya tertidur dalam posisi berpelukan.
****
Di rumah besar keluarga Michaelson, suasana pagi hari ini terlihat lebih ramai karena kehadiran Queen dan Sean. Saat ini mereka sedang berkumpul di halaman depan. Menikmati teh hangat bersama, sehangat hari ini.
Queen menatap sang adik yang sejak tadi terus menatapnya. "Apa?" Ketusnya.
__ADS_1
"Aku perhatikan, kau semakin jelek saja, Kak. Lihat, tubuhmu dipenuhi lemak." Ledek King dengan santainya. Rea, Zain dan Sean yang mendengar itu tersenyum geli. Sedangkan Queen melotot karena tak terima dikatai.
"Dasar adik tak tahu diuntung. Kemarin kau merengek padaku minta dibelikan ponsel keluaran terbaru. Karena aku sayang padamu, aku membelikannya. Dan sekarang, kau meledekku huh?" Geram Queen melempar kacang almond ke arah King.
"Aku tidak meledekmu, Kak. Hanya mengatakan sebuah fakta. Coba tanyakan saja pada Mommy dan Daddy. Kau itu terlihat jelek jika gemuk seperti ini." Ujar King masih belum puas meledeki sang Kakak dengan mulut yang terus mengunyah.
"Mom!" Kesal Queen mengadu.
"Sudah, kenapa kalian malah ribut sih? Ini masih pagi. Dan kau, King. Berhenti meledek Kakakmu. Wajar saja dia gemuk, ada nyawa diperutnya yang harus diberi makan." Bela Rea. Queen tersenyum bangga karena merasa dibela oleh sang Mommy.
"Dengar itu, berhenti meledekku. Fokus saja pada sekolahmu." Ketus Queen.
King tersenyum miring, lalu perhatiannya ia alihkan pada Sean yang sejak tadi memilih diam karena belum punya topik yang harus dibahas. "Aku dengar kau akan membuka bisnis baru di Indonesia, apa aku boleh berkecimpung di sana?"
Sean tersenyum. "Kenapa tidak? Aku akui kemampuanmu dalam berbisnis, meski kau masih duduk di bangku sekolah. Tapi namamu sudah masuk dalam daftar pembisnis dunia termuda. Aku bangga padamu."
King tersenyum bangga mendapat pujian dari Kakak iparnya, tetapi tidak untuk Queen. Ia berdecih sebal saat King memberikan tatapan sombong padanya. Namun, apa yang dikatakan Sean benar adanya. Meski usia King masih terbilang muda. Sudah beberapa kali ia berhasil memenangkan tander besar. Tentu saja semua itu atas dukungan sang Daddy yang memberikannya kepercayaan penuh. Membiarkan dirinya terjun langsung dalam dunia bisnis meski usianya masih sangat belia.
"Aku rasa dia tidak perlu ikut campur. Yang ada semuanya kacau." Sinis Queen.
"Hey, katakan saja kau iri padaku kan? Dasar ratu lemak." Ledek King lagi.
"King!" Geram Queen bangkit dari duduknya. Melihat pergerakan sang Kakak, King pun langsung lari sebelum mendapat amukannya. Alhasil keduanya saling mengejar layaknya anak kecil. Rea, Zain dan Sean yang menyaksikan itu cuma bisa menggeleng tak habis pikir.
"Mereka sudah dewasa. Tapi jika dipertemukan pasti sifat kekanakannnya akan muncul. Aku senang bisa melihat King tertawa lepas seperti itu lagi. Sejak Queen pindah, dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk sekolah dan berbisnis." Ujar Rea mengulas senyuman bahagia.
"Sudah waktunya mereka menemukan kehidupan masing-masing. Queen bersama cintanya, King dengan dunianya dan kita sudah saatnya menikmati masa tua bersama." Sahut Zain mengamit tangan Rea.
Sean yang melihat itu tersenyum. "Bagaimana jika kalian berlibur, atau mungkin keliling dunia? Aku akan mengurus semuanya jika kalian mau." Sean memberikan tawaran.
Rea menatap suaminya, menunggu jawaban.
"Apa itu tak merepotkanmu?" Tanya Zain.
Sean tersenyum tulus. "Bagaimana bisa aku repot jika itu mengenai kalian. Kalian orang tuaku, aku akan melakukan apa pun supaya kalian bahagia dan menikmati masa tua. Aku tak punya orang tua lagi di dunia ini selain kalian. Jadi biarkan aku memberikan hal terbaik dimasa tua kalian."
Rea tersenyum bangga. "Kami juga bangga memilikimu, Sean. Terima kasih."
"Tidak, aku yang seharusnya berterima kasih pada kalian." Sean menatap ke arah Queen yang sudah terduduk di atas hamparan rumput dengan napas tersengal karena lelah berlari. "Kalian sudah memberikan aku seorang ratu cantik yang selalu membuatku merasa sempurna."
Rea dan Zain saling memandang, lalu keduanya tersenyum bahagia. Sean pun kembali menarik perhatian untuk keduanya. "Bagaimana, apa kalian menerima tawaranku? Aku harap kalian jangan menolaknya. Tawaranku hanya sekali." Candanya.
Rea tertawa kecil. "Bagaimana kami bisa menolak, Sean. Kau memberikan tawaran yang menggiurkan. Kapan kami harus berangkat huh? Pastikan kami mendapat penginapan yang mewah." Rea pun ikut bergurau.
Sean tersenyum senang, kebahagian memuncah didadanya saat ini. "Kapan kalian ingin? Aku akan segera mengurusnya. Masalah yang lain, aku pastikan kalian tak akan kecewa."
"Minggu depan saja, minggu ini biarkan kami menikmati waktu bersama kalian." Jawab Zain.
"Tidak masalah." Ketiganya pun tersenyum bersama. Sampai suara Queen menarik atensi mereka.
"Apa yang sedang kalian bahas?" Bumil yang satu itu duduk di tempatnya semula. Lalu meraih gelas teh dan meneguknya perlahan.
"Tidak ada." Sahut Sean.
"Jadi kalian menyembunyikan sesuatu dariku?" Queen memberikan tatapan curiga pada mereka.
Sean, Rea dan Zain tersenyum geli. "Kau akan tahu pada waktunya."
"Ish, aku merasa jadi anak tiri sekarang." Ketusnya.
"Kau kan memang anak tiri. Aku di sini yang punya kuasa." Sahut King tersenyum miring. Tentu saja hal itu berhasil membuat mereka tertawa geli. Sedangkan Queen terlihat kesal, menatap King penuh permusuhan.
__ADS_1