Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Hukuman


__ADS_3

Plak!


Suara tamparan keras menggema di ruang rawat Rea. Tamparan itu berasal dari tangan Elsha dan mendarat mulus di pipi putranya. Elsha sangat marah setelah tahu semua kebenarannya.


Semua orang mendadak terpaku saat menyaksikan itu. Termasuk Rea, ia tak menyangka Elsha melakukan itu pada suaminya. Padahal semua orang tahu Elsha sangat menyayangi putra semata wayangnya itu.


"Sudah sering kali Mommy memperingatkanmu untuk menjauhi wanita itu, Zain. Dan kau masih berhubungan dengannya. Sekarang Rea menjadi korban kebodohanmu. Dasar anak brengsek. Aku tidak akan mengampunimu kali ini." Maki Elsha memukul putranya habis-habisan. Jackson yang melihat itu pun langsung menahan istrinya.


"Hentikan itu, tidak ada gunanya kau memukulnya. Dia tidak akan jera." Jackson menatap Zain tajam. "Mungkin perpisahan adalah jalan satu-satunya agar dia sadar."


Zain yang mendengar itu langsung menatap sang Daddy lekat. "Apa maksud Daddy?"


"Sebaiknya kalian bercerai." Ujar Adrian merengkuh pundak Rea. Zain yang mendengar itu mendadak kalang kabut. Ia menatap Rea, tetapi wanita itu langsung memalingkan wajah.


"Aku tidak akan pernah menceraikannya." Tegas Zain memandang Rea begitu dalam.


"Mau sampai kapan kau menyakitinya, Zain? Apa sampai di sini belum cukup?" Timpal Rena yang merasa sakit hati dengan sikap Zain pada putrinya.


"Aku tidak pernah berniat menyakitinya. Kalian pikir aku tidak sedih kehilangan anak itu? Bahkan aku tidak tahu Rea sedang hamil." Teriak Zain terlihat frustasi.


"Itu artinya kau tidak perhatian pada istrimu. Kau sangat keterlaluan, Zain." Sembur Elsha.


Zain memejamkan mata dengan kedua tangan yang terkepal erat. "Aku tidak akan pernah melepaskannya. Sampai mati pun aku tidak akan pernah melakukannya." Tegas Zain. Kemudian ia pun beranjak pergi dari sana. Juna dan Nesya pun ikut keluar menyusulnya. Regan yang tahu posisi pun ikut keluar juga.


Seketika semua orang terdiam. Suasana pun menjadi sangat canggung.


"Aku tidak ingin bercerai." Rea membuka pembicaraan. "Mungkin dia memang bersalah di sini, tapi aku juga salah. Biarkan aku saja yang menghukumnya. Tapi tidak dengan perceraian. Aku tidak ingin berpisah dengannya, aku mohon." Rea menatap orang tuanya penuh harap.


Elsha menghampiri dan duduk di sebelah Rea. Menggenggam erat tangan menantunya itu. "Mommy minta maaf atas nama Zain, Re. Anak itu benar-benar keterlaluan. Kami juga tidak ingin melihat kalian bercerai. Tapi jika sikap Zain seperti ini terus, tidak ada pilihan lain selain perceraian. Mommy tidak mau kamu semakin terluka."


Rea menggeleng kuat. "Aku mencintainya. Sulit untukku mendapatkannya, tolong jangan pisahkan aku dengannya. Biarkan aku yang menghukumnya. Aku punya cara sendiri untuk memberinya pelajaran. Aku mohon."


Elsha dan Rena pun saling melempar pandangan. Kemudian keduanya pun kembali menatap Rea.


"Sebenarnya kami hanya menggertak Zain saja. Lelaki itu harus diberi pelajaran. Dia sangat keras kepala dan gengsian. Tidak ada yang menginginkan perceraian kalian, sayang. Mommy tahu hanya kamu wanita yang cocok bersama Zain." Ujar Elsha tersenyum simpul.


Rea mengerut bingung. "Kalian sengaja mengerjainya?"


Para orang tua itu pun mengangguk. "Beri dia pelajaran keras. Supaya dia sadar atas kesalahannya. Jangan terlalu mudah luluh." Titah Jackson.


Rea tersenyum yang kemudian mengangguk pelan.


"Buat dia mengemis cinta padamu. Anak itu harus digertak dulu baru bicara. Mommy hafal betul wataknya." Timpal Elsha.


"Ya, Mom." Rea memeluk Elsha dengan penuh kasih sayang.


"Terima kasih sudah mencintai anak Mommy begitu tulus. Tidak salah Mommy memilih kamu sebagai menantu. Jangan maafkan dia sampai dia benar-benar menyesal. Mommy mendukungmu."


Rea pun mengangguk. Elsha kembali memberi kecupan di kening Rea. "Istirahatlah. Kami akan menjagamu di sini."

__ADS_1


****


Zain menghantamkan tangannya ke dinding rumah sakit sampai mengeluarkan darah. Saat ini emosinya tengah meluap-luap. Ia tidak marah pada siapa pun, ia marah pada dirinya sendiri.


"Maafkan aku."


Juna dan Neysa yang melihat itu pun saling memandang.


"Zain." Panggil Juna. Namun Zain mengabaikannya.


"Aku harap kau tidak mengulangi kebodohanmu lagi, Zain. Jika aku menjadi Rea, mungkin sejak awal aku menolak menikah denganmu meski aku mencintaimu sekali pun. Kau beruntung karena yang kau nikahi Rea. Dia terlalu sabar menghadapimu. Bahkan dia masih berdiri di sisimu saat kau memilih wanita lain. Itu artinya dia sangat mencintaimu. Tolong hargai perasaanya. Aku sorang wanita, tahu apa yang istrimu rasakan." Ujar Neysa panjang lebar.


Zain terdiam seakan memikirkan semua perkataan wanita itu. Perkataan Nesya bagaikan tamparan keras untuknya.


"Kau itu laki-laki. Berjuanglah sedikit untuk meluluhkan hatinya kembali. Kau harus tahu, jika wanita sudah sakit hati. Sulit untuk menyembuhkannya." Imbuh Nesya mewakili perasaan Rea.


"Nesya benar, kali ini giliran dirimu yang berjuang, Zain."


"Bisa tinggalkan aku sendiri?" Pinta Zain memejamkan matanya karena terlalu pusing memikirkan semuanya.


"Obati tanganmu." Juna menepuk pundak Zain sebelum pergi meninggalkan lelaki itu. Kini Zain pun seorang diri. Cukup lama ia merenungkan semua kesalahannya dalam diam. Setelah merasa tenang, ia pun kembali ke ruang rawat istrinya. Namun langkah Zain harus tertahan saat mendengar suara tawa Rea. Zain merasa lega karena istrinya masih mau tertawa lepas.


Karena penasaran, Zain sedikit membuka pintu. Seketika mulutnya terkatup rapat saat melihat Rea sedang makan dan disuapi oleh Regan. Sesekali Rea tertawa karena Regan membuat lelucon.


Zain pun memutuskan untuk masuk. Seketika tawa dan senyuman Rea pun lenyap. Wanita itu memasang wajah datar.


Regan yang menyadari itu pun langsung menoleh ke arah pintu. Di mana Zain masih berdiri di sana.


"Biar aku saja." Pinta Zain mengambil piring dari tangan Regan. Rea pun memalingkan wajahnya.


"Kau harus makan banyak." Ujar Zain mulai menyuapi istrinya. Namun wanita itu malah diam. "Re."


"Aku sudah kenyang." Rea menarik selimut dan langsung berbaring membelakangi suaminya. Lalu ia pun tersenyum tipis.


Zain menarik napas, kemudian membuangnya perlahan. Ia meletakkan piring di atas nakas. Lalu menatap punggung Rea begitu dalam. "Aku tahu kesalahanku sangat fatal, Re. Kau pantas marah padaku. Tapi aku tulus meminta maaf padamu, jangan terlalu lama mendiamkanku. Aku tidak terbiasa seperti ini."


"Reg, aku butuh ketenangan. Biarkan aku sendiri." Pinta Rea seraya membenarkan selimutnya. Zain tahu ucapan istrinya itu ditujukan untuknya.


"Aku akan pergi, istirahatlah." Zain memberikan kecupan lembut di pipi Rea. Setelah itu ia pun beranjak keluar. Zain sempat terdiam di ambang pintu dan menoleh kebelakang. Ia berharap Rea menahannya. Namun wanita itu seolah tidak lagi membutuhkan dirinya. Zain mengehela napas berat, lalu bergegas pergi dari sana.


Setelah kepergian Zain, Rea pun beringsut bangun dari tidurnya. Regan yang melihat itu pun tersenyum geli. "Kau sama sekali tidak bisa menahan diri." Ledeknya.


Rea menatap Regan sendu. "Apa aktingku terlalu jelek?" Tanya Rea penasaran.


"Tidak. Kau cocok menjadi aktris papan atas. Sepertinya suamimu mulai tersiksa dengan sikapmu seperti ini."


Rea menghela napas berat. "Kau tahu, aku ingin sekali memeluknya tadi. Aku merindukannya. Tapi aku belum puas membuatnya tersiksa. Aku tidak akan berhenti sampai dia mengakui perasaanya. Aku butuh kepastian. Siapa suruh dia mempermainkan perasaanku." Oceh Rea panjang lebar.


Regan tertawa renyah. "Tapi suamimu sangat manis saat seperti itu."

__ADS_1


Rea menyipitkan matanya saat mendengar itu. Ia agak ngeri dan takut Regan menyimpan rasa pada suaminya. Asal tahu saja, Regan itu seorang gay yang menyukai para pria tampan. "Hey, dia suamiku. Jangan coba-coba menggodanya. Kau sudah punya Aron. Di mana dia? Apa dia tidak ingin menjengukku?"


"Cih, siapa juga yang ingin menggoda barang bekas. Punyaku lebih menggoda. Dia akan datang besok."


"Enak saja kau mengatai suamiku barang bekas. Dia itu bibit unggul tahu. Lihat, di sini sudah ada benihnya." Ujar Rea seraya mengusap perutnya dengan lembut. Sebenarnya Rea sama sekali tidak mengalami keguguran. Semua kebohongan itu sudah masuk dalam rencananya untuk memberikan Zain pelajaran. Dan hanya Reganlah yang tahu semua kebenarannya. Bahkan Rea menyembunyikan kehamilan dari keluarganya.


"Bibit unggul apanya? Wajah dan dompet boleh good looking, tapi matanya katarak. Sudah ada berlian di depan mata malah memilih kerikil di pinggir jalan. Aku rasa anak dalam perutmu itu tidak jauh beda dengannya."


Rea melotot saat mendengar hinaan sahabatnya itu. "Beruntung aku sakit. Jika tidak aku sudah menjahit mulutmu, Reg."


Bukanya takut, Regan malah tertawa renyah. Ia pun duduk kembali di sebelah Rea. "Jangan marah-marah. Ingat kata dokter, kau tidak boleh banyak bergerak dan memikirkan banyak hal. Kandunganmu sangat lemah." Regan mengusap perut rata Rea.


Rea menatap Regan lekat. "Reg, aku ingin makan soto."


"Soto? Kau pikir ini Indonesia? Di mana aku harus mencarinya huh?" Seru Regan menatap Rea heran.


Rea menggeleng pelan. "Tiba-tiba aku ingin makan soto. Bagaimana dong? Apa seperti ini yang dinamakan ngidam? Rasa kepinginnya itu sangat besar."


"Mana aku tahu. Aku tidak pernah hamil."


Rea berdecak sebal mendengar itu. "Bagaimana dong? Aku mau sekarang."


"Di mana aku harus mencari yang namanya soto dr. Andrea yang terhormat?"


"Apa tidak bisa pesan online."


Tak! Regan menyentil kening Rea sampai membuat sang empu meringis kesakitan.


"Kau memang hamil. Tapi jangan berubah bodoh juga. Ini Prancis, Rea. Bukan Indonesia yang menyediakan banyak makanan lezat. Jika kau cari roti dan kentang, di sini baru banyak." Omel Regan.


Rea mengerucutkan bibirnya. "Terus gimana? Kalau anakku ileran gimana dong?"


"Cobak kau bicara pada bayimu itu. Ganti menu yang lain saja, jangan minta soto. Mungkin pizza, lasagna, atau ramen. Itu lebih mudah dicari."


Rea menepuk lengan Regan dengan kuat. "Dia masih segumpal darah, Reg. Mana bisa dia mendengarnya. Kau juga sangat bodoh."


"Kau yang membuatku jadi orang bodoh. Terserah kau saja, pikirkan sendiri bagaimana cara mendapatkan soto."


"Kau terbang saja sekarang ke Indonesia." Pinta Rea dengan mata berbinar.


"Apa? Jangan gila. Kau pikir Prancis Indonesia bisa ditempuh setengah jam apa? Sebaiknya kau tidur, mungkin saja dalam mimpi bisa bertemu dengan soto. Dasar bumil gila." Kesal Regan. Rea pun tertawa geli.


"Okay, aku juga sangat mengantuk. Semoga saja aku bermimpi makan soto. Supaya rasa inginku hilang. Selamat malam."


"Hey, ini masih sore." Ketus Regan. Lagi-lagi Rea pun tertawa.


"Love you uncle." Rea pun berbaring lagi.


"Love you to." Balas Regan seraya membenarkan selimut Rea. Lalu ia pun memberikan kecupan di kening sahabatnya itu. "Aku menyayangimu."

__ADS_1


Rea mengangguk antusias. Perlahan matanya terpejam karena dirinya benar-benar mengantuk. Regan tersenyum dan beranjak keluar. Membiarkan Rea istirahat penuh.


__ADS_2