
"Zain, aku minta maaf." Lirih Zee menatap Zain yang sejak tadi duduk di sofa dengan wajah yang memancarkan amarah.
"Maaf tidak akan mengembalikan kepercayaanku padamu, Zee. Kau membuatku seperti orang bodoh. Aku tulus mencintaimu, tapi kau menusukku dari belakang. Bahkan kau berani mencelakai istriku. Aku pikir kau wanita baik-baik, nyatanya kau tidak sebaik yang aku pikirkan. Seharusnya aku percaya pada istriku untuk berhati-hati pada ular berbisa sepertimu."
Zee menggeleng kuat. "Aku melakukan itu karena mencintaimu, Zain. Aku tidak rela kau mencintai wanita lain selain diriku."
Zain tertawa hambar. "Mencintaiku? Tidur dengan laki-laki lain disaat kau masih menyandang status kekasihku apa itu bukti cintamu?"
Zee terhenyak mendengar itu. Sial! Bagaimana dia bisa tahu? Aku menutup rapat semuanya. Pikirnya.
"Zain. Aku terpaksa melakukan itu."
"Terpaksa karena kau ingin menjadi model terkenal? Lalu kau rela tidur dengan pemilik agensi? Cih, selama ini aku hanya dibutakan oleh kecantikanmu. Sampai aku lupa ketulusan hatimu." Zain memandang Zee sengit.
"Zain...."
"Beruntung aku tidak melaporkanmu dalam kasus ini. Anggap saja itu belas kasihan dariku. Mulai detik ini aku tidak memiliki hubungan apa pun denganmu, kedepannya anggap saja kita seperti orang asing." Pungkas Zain seraya bangkit dari duduknya.
"Zain, maafkan aku. Aku janji akan memperbaiki semuanya. Aku akan meminta maaf pada istrimu secara langsung."
"Tidak ada gunanya. Nikmati saja hidupmu. Semoga kau bahagia." Zain pun bergegas pergi meninggalkan ruang rawat Zee. Wanita itu pun berteriak frustasi.
"Akh... sialan kau Rea. Kau menghancurkan semua mimpiku. Aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang. Jika aku tidak bisa memilikinya, maka kau juga tak akan bisa memilikinya. Wanita sialan."
Zee menepik semua barang yang ada di atas nakas. Ia benar-benar frustasi karena kehilangan tambang emasnya. Tanpa Zee sadari William sejak tadi melihat kegilaanya. Lelaki itu tertawa kencang. Sontak Zee pun kaget dan langsung melihat ke arah pintu.
"Kau sangat bodoh. Bertindak tanpa otak,
maka ini akibatnya. Sudah aku katakan padamu untuk tidak bertindak gegabah. Sekarang sesali kebodohanmu sendiri."
Zee mendengus kesal. "Kenapa kau ke sini?"
"Melihat kondisimu yang mengenaskan."
"Pergilah jika kau datang untuk meledekku." Kesal Zee.
William tersenyum, kemudian duduk di sebelah Zee. Menatap wanita itu penuh arti. Tangannya bergerak meraih helaian rambut Zee dan menghirup aroma wangi dari sana. "Aku merindukan tubuhmu."
Zee menatap lelaki itu tajam. "Brengsek!"
William tersenyum miring. Ia mendorong Zee sampai terlentang. Membuka kancing baju wanita itu satu persatu. Zee menepis tangan William yang mulai bergerak nakal.
"Ini rumah sakit, apa yang kau lakukan?"
"Memakaimu, kita sudah pernah melakukannya sekali di rumah sakit. Apa kau lupa? Bahkan saat itu kakiku sedang cedera."
Zee mendengus pelan. "Kau memang brengsek. Otakmu tidak jauh dari s*l*ngk*ng*n. Menyingkirlah, aku sedang tidak mood." Zee mendorong lelaki itu sekuat tenaga. Namun dengan sigap William menahan tangannya.
"Kau berani menolakku? Perjanjian kita belum berakhir."
"Aku sedang sakit."
"Aku tidak peduli. Aku akan melepaskanmu dengan satu syarat."
Zee menatap lelaki itu lekat. "Katakan."
"Aku ingin wanita cantik itu."
"Siapa yang kau maksud?" Tanya Zee bingung. William tersenyum miring.
"Rea. Aku menginginkannya. Wajah cantiknya terus membayangiku, aku ingin dia."
Zee tersenyum licik. "Kau yakin?"
__ADS_1
"Ya, carilah cara agar aku bisa bertemu dengannya." William memberikan kecupan di leher jenjang Zee.
"Itu hal mudah, jika aku berhasil. Perjanjian kita berakhir."
"Tidak jadi masalah."
"Bulan depan akan aku pastikan kau mendapatkan apa yang kau mau."
"Ya, aku menantikan itu. Sekarang aku menginginkanmu, sayang."
Zee terkejut karena William menyerangnya secara tiba-tiba. Bahkan lelaki itu berhasil menanggalkan seluruh benang yang menempel di tubuh Zee. Seolah ia sudah terbiasa melakukan itu.
"Ahh... Rea...." gumam William saat melakukan penyatuan. Zee yang mendengar itu merasa kesal. Namun ia tidak berani protes karena William sangat berpengaruh untuknya. William adalah salah satu pemilik agensi terbesar di beberapa negara maju. Karena lelaki itu juga nama Zee bisa melejit sampai detik ini. Meski ia harus menjajakan tubuhnya untuk membayar semua itu.
Zee mulai menikmati setiap sentuhan yang William berikan. Bahkan tanpa rasa malu ia mengeluarkan d*s*h*n sensual. Membuat lelaki itu semakin gencar menjamahnya.
Dasar j*l*ng. Aku akan membuangmu setelah ini. Aku sudah bosan dengan milikmu. Oh Rea, aku tidak sabar untuk mencicipimu.
****
Zain meraih tangan istrinya. Dengan gerak cepat Rea menarik tangannya, ia masih menolak setiap sentuhan yang Zain berikan. Rea memalingkan wajahnya ke luar jendela pesawat. Ya, saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang.
"Kau lapar?" Tanya Zain mencoba untuk mengajak istrinya bicara.
"Tidak." Sahut Rea terdengar dingin. Itu membuat Zain bingung harus membujuknya seperti apa lagi.
"Sejak malam tadi kau belum makan, Re. Makanlah sedikit supaya perutmu tidak kosong."
Aku mual tahu. Jika sekarang aku makan, semuanya akan kacau. Gerutu Rea dalam hati.
"Kau boleh marah padaku, tapi jangan mengabaikan kesehatanmu." Oceh Zain.
Ya Tuhan. Kenapa dia jadi cerewet gini sih? Tidak tahu apa kepalaku sangat pusing?" Rea menurunkan penutup jendela dan memilih untuk tidur. Zain yang melihat itu hanya bisa menghela napas.
Sampai kau mengakui jika kau mencintiaku. Huh, menyebalkan. Sama sekali tidak peka. Geram Rea dalam hati.
"Bicaralah, jangan mendiamkanku terus." Pinta Zain seraya mengusap lembut pipi istrinya. Rea memutar bola matanya malas. Lalu memalingkan wajahnya dari Zain.
"Bersandarlah padaku." Tawar Zain. Rea sama sekali tak menanggapinya, ia masih diam seperti biasanya. Bukan apa, saat ini ia tengah merasakan gejolak aneh di perutnya. Dengan susah payah ia menahan agar tidak muntah. Kalau tidak semua rencananya bisa berantakan. Sungguh, itu amat menyiksanya.
Karena tidak tahan, Rea pun menyandarkan kepalanya di pundak Zain. Memeluk lengan suaminya itu dengan erat. Aroma maskulin yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya berhasil menghilangkan rasa mual yang tengah bergejolak.
"Kepalaku pusing, jadi jangan salah paham. Aku masih belum memaafkanmu." Ketus Rea memejamkan matanya kembali.
Zain tersenyum geli. Lalu mengecup pucuk kepala istrinya sekilas. "Terserah kau saja."
Rea mengulas senyuman tipis. Ia sangat sanang karena akhir-akhir ini Zain selalu sabar menghadapi sikap cueknya. Bahkan hampir setiap saat lelaki itu memberikan kecupan hangat. Mungkin Zain memang sudah mencintai istrinya itu, hanya saja ia gengsi untuk mengatakannya. Huh, sepertinya Rea harus bersabar kali ini.
Perjalanan panjang itu berhasil mereka lalui tanpa kendala. Rea sedikit berlari ke arah toilet setelah mereka turun dari pesawat. Zain menatapnya bingung. Berhubung Rea masuk ke toilet wanita, ia pun hanya bisa menunggu di luar.
Di dalam sana Rea memuntahkan semua cairan dalam perutnya yang ia tahan berjam-jam lamanya. Rasa pahit pun mulai menjalar dalam rongga mulut. Rea mengusap perut ratanya dengan lembut. Sudut matanya juga ikut berair karena menahan rasa pahit yang semakin kentara.
Hiks... aku tidak tahu jika hamil akan seribet ini. Rea menatap pantulan wajahnya di cermin. Kemudian segera membasuh mulutnya dan bergegas keluar.
Zain menghampiri Rea yang terlihat pucat. "Apa kau sakit lagi?" Tanya Zain cemas.
Rea pun menggeleng pelan.
"Kita pulang, kau harus istirahat." Rea pun mengangguk pasrah karena dirinya memang butuh istirahat. Dokter sudah mengingatkannya untuk tidak melakukan pekerjaan berat. Lalu keduanya pun beranjak pulang.
Sesampainya di rumah, Zain langsung membawa istrinya ke kamar dan membantunya berbaring.
"Aku sudah meminta dokter keluarga untuk memeriksa kondisimu. Akan ada suster yang merawatmu di sini."
__ADS_1
Rea terkejut mendengar itu. "Tidak perlu, aku baik-baik saja." Tolaknya.
"Jangan membantah, aku tidak bisa berada di dekatmu selalu. Setidaknya seseorang bisa merawatmu." Kekeh Zain.
"Aku tidak mau." Tegas Rea.
"Kau ini kenapa, Re? Apa salahnya seseorang membantumu. Kau belum sembuh betul, tolong jangan membuat semua orang cemas."
Rea menghela napas pendek. "Terserah." Ia pun berbalik membelakangi suaminya. "Pergilah, aku ingin sendiri."
Zain menatap punggung istrinya lamat-lamat. "Aku tahu kau masih marah padaku, Re. Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku menyadari kebodohanku, aku terlalu percaya pada orang lain. Sekarang aku menyesal. Maafkan aku."
Rea terdiam mendengar permohonan suaminya itu. Namun ia tak ingin terlalu cepat luluh. Zain masih belum membuktikan cintanya secara gamblang. Rea butuh sebuah kepastian yang jelas.
"Tolong jangan diamkan aku terus, Re. Aku merasa kehilangan dirimu."
"Kau sudah kehilanganku sejak saat itu. Jadi jangan berharap apa pun dariku." Sahut Rea dengan nada dingin yang dibuat-buat.
"Maafkan aku, Re. Aku akan menebus semua kesalahanku. Kau bisa meminta apa pun dariku, asal kau mau memaafkanku."
"Aku ingin pisah ranjang."
"Re." Zain tampak kaget mendengar permintaan istrinya.
Rea sengaja meminta pisah ranjang karena tak ingin Zain mengetahui dirinya tengah hamil. Rea tahu itu berdosa, tapi hanya itu satu-satunya cara untuk membuat Zain jera. Harap-harap lelaki itu segera mengakui perasaanya.
"Aku tidak setuju untuk permintaanmu yang itu, Re. Tidak baik suami istri pisah ranjang."
"Kalau begitu tidak usah memberi harapan padaku."
"Re...."
"Pergilah." Sela Rea yang berhasil membuat Zain bungkam.
"Baiklah, aku akan tidur di kamar tamu." Zain memberikan kecupan di pipi Rea sebelum pergi. Dan itu membuat sang empu jadi salah tingkah. Di satu sisi Rea tidak ingin berjauhan dengan Zain. Di sisi lain ia masih belum puas memberikan hukuman pada suaminya itu. Bimbang, itulah yang saat ini Rea rasakan. Tidak, ia tidak boleh menyerah begitu saja. Ia harus bisa membuat suaminya bertekuk lutut.
"Aku ingin soto." Seru Rea beringsut bangun dari tidurnya. Dan itu berhasil menahan pergerakan Zain yang hendak membuka pintu. Lelaki itu pun berbalik.
"Soto?" Tanya Zain bingung.
"Ya. Aku ingin soto buatanmu. Jangan pakai lama."
"Aku tidak tahu cara membuatnya." Jujur Zain.
"Berusahalah." Rea pun kembali berbaring. Menarik selimut sampai menutup setengah tubuhnya.
Zain menatap istrinya lekat. "Bagaimana jika aku beli saja? Akan memakan waktu panjang jika aku yang membuatnya."
"Katakan saja kau tidak mau membuatnya. Aku akan mogok makan jika kau membelinya di luar."
"Re, aku benar-benar tidak tahu cara memasak soto. Bisa saja aku membuatnya, tapi rasanya pasti tidak sama."
"Aku tidak peduli." Ketus Rea.
Zain menghela napas kasar. "Baiklah, aku akan mencobanya."
Rea bersorak dalam hati. Sudah beberapa hari ini ia menginginkan soto buatan suaminya. Rasanya sudah tidak sabar untuk menyantap makanan yang satu itu. Entah seperti apa rasanya nanti.
"Cepatlah, aku sangat lapar."
"Ya, tunggu sebentar."
"Hm." Rea pun kembali membelakangi Zain. Lalu ia pun tersenyum senang. Lain halnya dengan Zain, lelaki itu terlihat bingung. Namun ia tidak mungkin menolak, bisa-bisa istrinya itu semakin merajuk. Akan sulit untuk membujuknya lagi.
__ADS_1