Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Permintaan Maaf Sorang Ayah


__ADS_3

Queen mengelus lengan suaminya yang sejak tadi terus saja diam. Saat ini mereka memang dalam perjalana pulang, menggunakan jet pribadi tentunya. Karena Sean tidak ingin mengambil resiko apa pun.


Sean menoleh, menatap sang istri lekat. "Maaf, semua rencana kita harus gagal."


Queen tersenyum manis, dan itu membuat perasaan Sean jauh lebih tenang. "Daddymu lebih penting, Sean. Jangan pikirkan bulan madu kita. Toh, kita masih bisa bulan madu di rumah."


Sean tersenyum geli, meski masih tersirat kecemasan di wajahnya.


Queen memeluk lelaki itu. "Daddy akan baik-baik saja, percayalah."


"Hm. Daddy punya penyakit ginjal sejak dulu. Penyakitnya sering kambuh, dia tipe orang yang sulit di atur."


Queen mengangguk. Ia juga bisa merasakan detak jantung Sean yang terdengar cepat. Ia tahu suaminya itu benar-benar cemas saat ini. Dan dirinya hanya bisa menenangkannya.


"Jika waktu bisa di putar, aku tidak pernah mengharapakan hubunganku dengan Daddy seperti ini, Queen."


"Kau masih bisa memperbaikinya."


"Tapi semua ini dirinya lah yang memulai, pertama-tama dia menyakiti Ibuku, lalu mengabaikan aku sebagai putranya."


Queen tidak bisa menanggapi soal itu.


"Terkadang aku ingin hidup biasa saja, dan memiliki keluarga yang utuh. Percuma kekayaanku melimpah, tapi aku selalu kesepian. Belasan tahun aku hidup dalam kesepian." Imbuh Sean mengeluarkan unek-unek dihatinya.


"Sekarang ada aku, Sean. Kau juga masih punya Mommy dan Daddy. Mereka keluargamu sekarang."


"Ya, aku sangat bersyukur karena bisa bertemu denganmu. Hidupku terasa menghangat lagi. Biasanya aku tidak semangat untuk pulang ke rumah. Tapi sekarang rasanya aku ingin terus di rumah, menghabiskan waktu bersamamu."


Queen terkekeh lucu. "Jika kau di rumah, terus aku makan apa Sean?"


Sean tertawa kecil. "Meski aku tidak bekerja, uangku tidak akan habis sampai tujuh turunan."


"Ck, sombong sekali."


"Kau tidak percaya?"

__ADS_1


"Aku percaya. Buktinya kau punya banyak privat jet. Dua perusahaan besar dan ribuan cabang di seluruh dunia. Bahkan kau mengusai beberapa perbankan. Kau memang hebat."


"Bukankah Ayahmu juga sama. Kekayaannya sangat banyak."


Queen tersenyum. "Itu milik King, aku tidak terlalu peduli dengan kekayaan Daddy. Apa lagi sekarang aku sudah punya suami kaya raya, sudah pasti hidupku terjamin."


Sean mengecup pucuk kepala istrinya. Dan keduanya terdiam kembali. Sampai rasa kantuk pun meyerang. Queen pun tertidur dalam pelukan Sean. Sedangkan Sean tetap terjaga karena ia terus memikiran sang Daddy yang mungkin saat ini masih terbaring lemah di rumah sakit.


****


Sean berjalan tergesa saat memasuki rumah sakit. Namun tangannya tidak melepaskan genggaman di tangan Queen. Keduanya terus menyusuri lorong rumah sakit, mencari ruangan di mana Tuan Cameron di rawat. Dan mereka pun tiba di depan ruang VIP, tanpa menunggu lagi Sean langsung membuka pintu.


Hatinya mencolos saat melihat sang Ayah terbaring lemah di atas brankar dengan berbagai alat rumah sakit yang terpasang ditubuhnya yang begitu kurus, entah apa yang terjadi selama ini? Yang lebih menyedihkan lagi, tidak ada satu orang pun yang menemaninya. Sebagai anak, Sean merasa sangat sedih. Jika saja dirinya egois, bisa saja ia tidak peduli terlepas dari semua yang ia alami selama ini. Di mana Ayahnya juga tidak pernah peduli atas kehidupannya selama ini.


Sean duduk di sisi brankar, di raihnya tangan keriput sang Daddy dengan lembut. Terakhir kali mereka bertemu yaitu di Milan, beberapa minggu lalu. Setelah itu keduanya tidak lagi bertemu satu sama lain. Dan saat itu Ayahnya tidak sekurus ini.


Tanpa sadar buliran bening menetes dari pelupuk mata Sean. Ia tidak peduli jika dirinya terlihat lemah di depan sang istri. Karena itu benar adanya, saat ini dirinya sedang dalam posisi terendah. "Sorry, Dad."


Queen yang melihat itu mengusap punggung Sean, mencoba memberikan kekuatan pada suaminya. Sebenarnya Queen juga ingin menangis, tetapi ia berusaha menahannya karena tidak ingin membuat Sean semakin sedih.


Sean masih diam. Queen mengusap kepala suaminya, juga memberikan kecupan hangat.


"Aku selalu di sisimu, Sean."


Air mata Sean pun luruh. Ia memeluk istrinya erat, membenamkan wajahnya di dada sang istri. Tubuhnya bergetar karena menahan isakkan. Dan itu membuat pertahanan Queen gagal, air matanya ikut menetes.


"Jangan seperti ini, Sean." Queen kembali memberikan kecupan di kepala suaminya. "Daddy akan baik-baik saja."


"Apa aku harus kehilangan lagi, Queen?" Lirih lelaki itu dengan suara yang tenggelam dalam kesedihan.


Queen mengangkat wajahnya ke udara. Agar air matanya tidak luruh. Dan tidak lama dari itu pintu terbuka, menampakkan seorang laki-laki paruh baya. Yang merupakan asisten pribadi sang Daddy.


Sean menarik diri dari dekapan sang istri, dan memusatkan atensinya pada lelaki itu. Sedangkan Queen sedikit bergeser, memberikan ruang pada lelaki paruh baya itu.


"Tuan Muda, saya punya pesan untuk Anda dari Tuan Besar. Mari ikut dengan saya."

__ADS_1


Sean mengerut bingung. "Apa tidak bisa di sini saja."


"Tuan besar sudah mempersiapkan semuanya di mansion utama, Tuan." Sahut lelaki paruh baya itu.


Sean menoleh ke arah sang Daddy. Kemudian kembali menatap lelaki dihadapannya.


"Mari, Tuan."


Sean mengangguk. Lelaki itu pun sedikit membungkuk dan perlahan mundur.


Sean menatap Queen lekat. "Ikutlah denganku kemana pun aku pergi."


Queen mengangguk yang di susul dengan senyuman manis. Sean membalas senyuman itu, lalu keduanya pun mengiktu jejak sang asisten pribadi Tuan Cameron.


Sesampainya di mansion utama. Sean dan Queen di arahkan ke sebuah ruangan yang lebih cocok di sebut dengan bisokop mini.


"Silakan duduk, Tuan."


"Ya, terima kasih." Balas Sean membawa istrinya itu duduk. Dan keduanya terus memperhatikan pergerakan lelaki paruh baya itu. Sampai layar besar itu pun hidup dan memutar sebuah video di mana Tuan Cameron ada di dalamnya. Meski wajah lelaki itu pucat, tetapi penampilannya masih saja formal seperti biasanya. Sebelum bicara, lelaki itu tersenyum lepas.


"Apa kabarmu, Son?"


Sean tertegun mendengar pertanyaan sang Daddy yang sudah lama tidak ia dengar itu.


"Aku tahu kau selalu baik-baik saja, aku terus memperhatikanmu akhir-akhir ini. Aku bahagia saat melihatmu bahagia, Son."


Queen mengerakan genggamana tangannya saat melihat Sean kembali menitikan air mata.


"Aku tahu... aku tahu kau tidak mungkin memaafkan semua kesalahnku. Semua sikapku padamu sama sekali tidak mencerminkan seorang Ayah. Aku gagal menjadi Ayahmu, Son. Tapi aku bangga memiliki putra sepertimu. Selepas dari apa yang telah aku lakukan, aku masih saja membayangi kehidupanmu selama ini. Alih-alih meminta maaf, justru aku terus menyakiti hatimu. Mekasamu melakukan segala hal sesuai kehendakku. Semua itu aku lakukan agar aku bisa terus melihatmu, Son. Aku terlalu malu untuk meminta maaf dan mengatakan perasaanku padamu secara langsung." Tuan Cameron tampak terdiam sejenak.


"Maafkan aku, Son. Mungkin setelah ini kita tidak akan pernah bertemu lagi. Dokter sudah memvonis jika usiaku tidak lebih dari satu minggu lagi. Aku tidak tahu kapan Tuhan akan mengambil nyawaku, etah besok atau lusa? Sempat atau tidak aku meminta maaf padamu, aku tidak tahu. Karena itu aku meninggalkan rekaman ini untukmu. Ya, kau boleh menganggapku lemah karena tidak berani bicara langsung padamu. Karena itu benar apa adanya. Aku terlalu lemah untuk menjadi seorang Ayah." Tuan Cameron mengulum senyuman manis.


"Son, aku sangat menyayangimu. Setiap kali aku melihat wajahmu, hatiku selalu lemah hanya sekadar untuk meminta maaf. Daddy tidak memaksamu untuk memaafkanku, Son. Aku tahu kesalahnku tidak mungkin bisa termaafkan, terutama kesalahanku untuk Ibumu. Kau boleh membenciku seumur hidupmu. Aku tidak keberatan."


Sean bangkit dari duduknya dan langsung bergegas pergi. Queen terkejut, lalu bergegas menyusulnya.

__ADS_1


"Sean."


__ADS_2