Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Percayalah


__ADS_3

"Kau kerja?" Tanya Zain saat pagi-pagi sekali melihat Rea sudah terlihat rapi. Wanita itu pun berbalik, kemudian mengangguk pelan.


"Dua hari lagi pemotretan selesai. Aku tidak ingin mengecewakan Regan. Lagipula aku sudah baikan, jadi tidak ada salahnya aku pergi. Kau juga kerja bukan hari ini?"


"Ya, aku punya tiga pertemuan hari ini. Mungkin siang aku akan melihatmu ke lokasi." Jawab Zain bangun dari tempat tidur. Lalu menghampiri Rea.


"Kau ingin melihatku pemotretan? Yakin?" Tanya Rea terlihat senang.


"Ya, aku penasaran seperti apa istriku saat sedang bekerja. Apa banyak lelaki yang memandangmu huh?" Zain menoel hidung istrinya gemas.


"Tentu saja, hampir semua kru laki-laki."


Zain menatap Rea lekat. "Perjanjian kita masih berlaku. Kau hanya boleh bekerja dalam waktu satu tahun, setelah itu jadilah istri yang baik di rumah."


"Ck, kenapa sih wanita itu harus memilih. Padahal aku bisa melakukan keduanya." Protes Rea dengan bibir mengerucut. Zain yang mendengar itu pun tersenyum.


"Jangan protes, kau sudah setuju akan berhenti bekerja. Lagipula kau bisa kerja dengan Mommy, hampir setiap bulan Mommy mengadakan fashion show butiknya. Kau bisa ikut berpartisipasi sebagai model."


"Benarkah? Aku mau." Seru Rea. Zain pun tersenyum lebar.


"Aku akan membicarakan ini dengan Mommy. Apa kau tidak ingin membuka klinik? Pekerjaan itu lebih baik dari pada menjadi model. Gunakan ilmu yang sudah kau emban selama ini."


"Ck, lagian menjadi dokter psikolog bukan keinginku. Mami yang memaksaku."


"Apa pun alasannya, kau harus menggunakan ilmumu dengan baik." Zain menangkup wajah istrinya. Kemudian menghadiahi kecupan di kening Rea.


"Apa aku terlihat cocok menjadi dokter? Rasanya sangat aneh."


"Tentu saja, meski kau masih bersikap seperti anak kecil. Tapi aku yakin kau bisa menyesuaikan diri."


"Aku ragu."


"Rugi saja kau kuliah kalau begitu, bahkan gelarmu saja tidak kau gunakan."


"Aku malu. Rasanya tidak sesuai dengan diriku. Jadi aku menyembunyikannya. Sejak kecil aku bercita-cita menjadi seorang model. Karena itu aku berusaha menjadi model berprestasi."


"Baru kali ini aku mendengar seseorang malu dengan gelarnya sendiri. Kau sangat aneh. Bagaimana kau bisa lulus sebagai dokter huh?"


Rea tertawa renyah. "Entahlah, saat itu yang aku tahu hanya belajar dan belajar. Lalu aku lulus dengan waktu yang singkat dan nilai terbaik. Setelah itu aku memutuskan untuk terjun ke dunia modeling. Dan itu berhasil sampai detik ini."


Zain tersenyum bangga. "Apa saat itu kau masih memikirkanku meski kau sibuk belajar?"


Rea mengangguk antusias. "Aku selalu memikirkanmu. Kau cinta pertamaku, bayangan wajah tampanmu terus membayangi hidupku kau harus tahu itu. Mungkin karena itu aku tidak bisa melupakanmu. Banyak laki-laki yang ingin menjadi kekasihku, tapi aku menolaknya. Aku selalu yakin kau akan menjadi milikku suatu saat nanti. Dan itu benar-benar terbukti. Sekarang kau milikku. Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun merebutmu dariku." Jelas Rea yang kemudian memeluk Zain posesif. "Aku mencintaimu, Kak."


"Tapi aku tidak." Sahut Zain tersenyum jahil.


"Aku tahu. Karena itu kau tidak pernah percaya padaku kan?"


Zain tertawa renyah. "Aku selalu percaya padamu. Kau saja tidak memahamiku."


"Jadi aku yang salah? Kau menyalahkanku sekarang?" Kesal Rea melepaskan diri dari dekapan Zain.


Zain menghela napas gusar. "Tidak, aku yang salah. Kau mana bisa salah."


Rea pun tersenyum senang. "Ya, kau yang selalu salah. Dan aku selalu benar, kau harus selalu ingat itu. Kau yang salah."

__ADS_1


"Iya iya, aku yang salah."


Rea kembali memeluk suaminya. "Kau belum mandi. Jam berapa mau beragkat?" Tanya Rea seraya mendongakkan wajahnya.


"Sebentar lagi. Setelah mengantarmu."


Rea pun mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Berangkat sekarang?" Tanya Zain.


"Ya."


"Kalau begitu aku ganti pakaian dulu. Tunggu aku."


"Ya."


Zain pun bergegas menuju lemari dan mengganti pakaiannya. Setelah itu mereka pun berangkat menuju lokasi pemotretan.


****


Siang hari, Zain menepati janjinya untuk datang ke lokasi pemotretan sang istri. Di sana Rea masih tampak berpose di depan kamera. Zain yang melihat itu tersenyum geli. Apa lagi saat melihat penampilan Rea yang lebih mirip seperti tanaman rimbun. Ya, Rea memang mengenakan pakaian bernuansa alam sesuai tema hari ini. Meski begitu ia masih terlihat cantik.


"Zain, kau di sini?" Tanya Zee menghampiri mantan kekasihnya itu. Seketika Zain pun menoleh.


"Hai, Zee. Kau juga masih di sini?" Tanya Zain.


"Ya. Aku di sini sampai selesai. Kau ingin menemui Rea? Dia masih stay sampai satu jam lagi. Kau sudah makan siang? Ingin makan bersama?"


"Tidak, terima kasih. Aku akan menunggunya."


"Wah, suami yang baik huh? Duduklah." Zee pun memberikan sebuah kursi pada Zain. Lalu keduanya pun duduk bersebelahan. Namun tatapan Zain masih setia pada istrinya yang etah sejak kapan sudah berganti pakaian. Kini Rea terihat sangat seksi dengan gaun pendeknya. Wanita itu terus berpose dengan begitu anggun.


"Zain. Jika saat itu aku tidak menolak lamaranmu. Mungkin saat ini akulah yang berada di posisinya." Ujar Zee yang berhasil menarik perhatian Zain. Lelaki itu menatap Zee lekat.


"Semuanya sudah berlalu, Zee. Sekarang kita sudah memiliki kehidupan masing-masing. Aku bahagia bersama istriku, aku harap kau juga bahagia dengan pasanganmu."


"Kau mencintainya?" Tanya Zee yang sebenarnya sudah dongkol karena Zain mulai memilih Rea ketimbang dirinya.


"Ya, dia istriku. Sudah seharusnya aku mencintainya." Jawab Zain apa adanya.


"Aku senang mendengarnya." Zee tersenyum palsu.


"Kau wanita baik, aku yakin kau akan mendapat pasangan yang baik."


"Ya."


Cukup lama mereka terdiam. Tidak lama dari itu Rea menghampiri keduanya karena urusannya sudah selesai. Rea pun tersenyum ke arah suaminya. "Sudah lama?"


"Tidak juga." Jawab Zain meraih tangan istrinya dan menggenggamnya erat.


"Aku sangat lapar." Rengek Rea. Zee memutar bola matanya malas saat melihat sifat manja Rea pada Zain. Terlihat jelas wanita itu sedang cemburu saat ini.


"Kita cari restoran terdekat. Aku juga belum makan siang." Zain menatap wajah cantik istrinya begitu dalam. Rea benar-benar sangat cantik.


"Baiklah. Kalau begitu aku ganti pakaian dulu." Rea mengecup pipi Zain sebelum beranjak menuju ruang ganti. Zain pun tersenyum.

__ADS_1


"Zain, sepertinya aku juga harus berganti pakaian. Sebentar lagi William menjemputku."


"Ya." Zain mengangguk pelan. Lalu Zee pun beranjak pergi dari sana.


Di dalam ruang ganti, Rea terlihat sendirian sambil bersenandung ria. Wanita itu hendak membuka pakaiannya, tetapi tiba-tiba Zee masuk dan menariknya dengan kasar.


"Hey, apa yang kau lakukan?" pekik Rea menatap Zee sengit.


"Dasar j*l*ng!" Zee yang sejak awal sudah dirasuki api cemburu pun langsung menampar Rea dan mendorongnya sekuat tenaga. Rea meringis kesakitan saat pinggulnya membentur ujung meja. Bahkan rasa sakit itu perlahan menjalar sampai ke perutnya.


Karena tidak terima diperlakukan kasar, Rea pun membalas tamparan di pipi Zee. "Berani sekali kau mengangkat tangan padaku." Kesal Rea yang kemudian mendorong Zee sekuat tenaga. Sontak wanita itu terjerembab ke belakang. Zee berteriak kencang dan dengan sengaja menarik rak gaun, benda itu pun jatuh dan menimpanya. Ujung benda itu pun mengenai keningnya. Darah segar mengalir deras dari kening Zee. Rea sempat kaget. Namun diwaktu bersamaan pintu pun terbuka. Di mana Zain dan Reganlah yang masuk.


"Ya Tuhan." Pekik Regan saat melihat kondisi Zee yang sudah terkulai di lantai dengan bersimbah darah. Zain yang panik pun segera menghampiri mantan kekasihnya itu.


"Zee." Zain menepuk pipi Zee pelan. Zee pun membuka matanya, menatap Zain sayu.


"Zain, maafkan aku. Aku tidak pernah berniat menggodamu. Istrimu salah paham padaku. Tolong jangan salahkan dia."


Rea mengerut bingung saat mendengar bualan wanita itu. "Hey, kau yang memulai lebih dulu." Kesal Rea.


"Hentikan, Re! Kau sudah keterlaluan. Sudah aku katakan berhenti bersikap seperti anak kecil." Bentak Zain yang berhasil membuat Rea mundur beberapa langkah. Regan yang melihat kejadian itu pun merasa kaget. Ia pun langsung mendekati Rea. Merengkuh wanita itu dengan lembut.


"Aku tidak melakukan apa pun. Dia yang memulainya. Percayalah." Lirih Rea mulai berlinang air mata. Zee tertawa puas dalam hati.


Lihat. Bahkan dia masih memihak padaku. Itu artinya aku masih ada dalam hatinya. Rasakan kau, Rea. Nikamati saja penderitaanmu. Aku harap Zain segera menceraikanmu.


"Kita ke rumah sakit." Zain menggendong Zee dengan raut wajah cemas. Mengabaikan penjelasan istrinya. Sebelum pergi, ia menatap Rea tajam.


"Kita bicarakan ini di hotel." Pungkasnya yang kemudian bergegas pergi membawa Zee ke rumah sakit. Seketika tubuh Rea melemah. Dengan sigap Regan menahannya.


"Are you okay?" Tanya Regan saat melihat wajah pucat Rea.


"Apa kau juga tidak percaya padaku, Reg? Dia yang mendorong dan menamparku lebih dulu. Kau lihat ini, masih ada bekas tamparannya bukan? Apa aku salah jika membela diri?"


Regan pun melihat kondisi pipi Rea, benar saja. Di sana masih ada bekas tamparan tangan Zee. "Kenapa dia melakukan ini padamu, Re?"


"Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja dia datang, lalu melakukan itu padaku. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Bahkan suamiku tidak mempercayaiku, Reg." Rea memeluk Regan begitu erat. Tangisannya pun pecah seketika.


"Aku percaya padamu. Kau jangan khawatir, di sini ada CCTV. Semua orang akan tahu kau tidak bersalah."


"Akh...." Rea meringis saat tiba-tiba perutnya terasa sakit yang luar biasa.


"Kau kenapa?" Tanya Regan mendorong tubuh Rea pelan.


"Perutku, Reg. Sangat sakit." Rea terus meringis seraya menyentuh perutnya.


"Ya Tuhan, kau pendarahan, Re." Pekik Regan saat melihat darah mengalir dari ************ Rea. Rea pun melihat kebawah, seketika tubuhnya melemas.


"Reg, apa ini?"


"Apa kau hamil?"


"Tidak... Akh... sakit sekali."


"Sebaiknya kita ke rumah sakit. Ya Tuhan." Regan meyelipkan tangannya di kedua lutut Rea. Kemudian menggendong wanita itu dan membawanya pergi dengan tergesa. Wajah lelaki itu ikut memucat saat merasakan darah yang keluar semakin banyak. Bahkan Rea pun mulai tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Bertahnlah, Re. Jangan membuatku cemas."


"Maafkan aku, Reg." Lirih Rea sebelum kesadarannya benar-benar hilang. Dan itu membuat Regan semakin cemas.


__ADS_2