Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Buktikan jika kau hebat


__ADS_3

"Cia, gak ikut Jef liburan?" Tanya Queen saat melihat Mercia masih santai menyiram tanaman hias di halaman mansion.


"Enggak ah, soalnya Jef gak ngajak aku langsung. Lagian itu kan liburan khusus untuk anak-anak sekolah Jef." Sahut Mercia lemas.


Queen tersenyum geli sembari mendekati gadis labil itu. Lalu sedikit berbisik. "Yakin gak mau ikut? Temen Jef itu cantik-cantik loh, gak takut apa mereka ngerayu Jef?" Provokasinya.


Mercia pun tampak berpikir. Setelah itu membuang napas kasar. "Gak papa lah, Aunty. Kalau emang Jef suka cewek itu aku mah ngalah. Capek tahu ngejar-ngejar terus tapi gak ada hasil." Keluhnya dengan bibir manyunnya yang menggemaskan.


Duh, kok anak ini gak sama kayak Mamanya ya? Semangatnya agak kurang. Beda sama Aunty Faifai dulu, pantang menyerah. Tapi gak papa, aku harus ngasih dorongan sama anak ini. Habis Jef juga susah banget ngakuin perasaan sendiri. Batin Queen.


Queen pun ikut menghela napas. "Kalau itu keputusan kamu, Aunty gak bisa maksa. Padahal... Aunty masih berharap kamu bakal jadi menantu di mansion ini. Mau gimana lagi, salah Jef juga yang sok jual mahal." Ujarnya memasang wajah sedih yang dibuat-buat.


Melihat itu Mercia pun langsung melempar selang air asal dan berhambur memeluk Queen. "Aunty jangan sedih gitu dong, nanti aku juga ikutan sedih."


"Abis kalian gak berjodoh, gimana Aunty gak sedih?" Lirih Queen masih pura-pura sedih. Padahal dalam hati ia tersenyum geli.


"Iya deh nanti aku coba lagi deketin, Jef. Tapi kalau dia masih gak mau sama aku, Aunty jangan sedih ya?"


Queen pun mengangguk pelan seraya memeluk Mercia.


Tidak jauh dari sana, King menonton drama ke dua wanita beda usia itu. Ia menggelengkan kepala dengan apa yang dilakukan Kakaknya itu. Lalu meninggalkan tempat itu dengan senyuman tipis.


Beberapa menit kemudian, Mercia sudah terlihat rapi dengan stelan hawaiian shirt, juga sebuah topi bulat berwarna coklat. Tidak lupa ia juga membawa koper kecil andalannya.


Queen yang melihat penampilan Mercia pun memekik kegirangan. "Omg! Kamu cantik banget, Cia." Pujinya. Mercia pun tersenyum, lalu menunduk malu.


King yang sejak tadi duduk di sofa sambil menikmati secangkir kopi panas pun menoleh karena suara ribut sang Kakak. Dan matanya pun langsung terpatri pada Mercia yang terlihat sangat cantik. Padahal gadis itu tidak memakai riasan yang berlebihan. Seulas senyuman terbit di bibir lelaki itu.


Tidak berapa lama Jef pun muncul, dan siapa sangka lelaki itu pun memakai stelan yang hampir mirip dengan Mercia.


"Wow, kayaknya kalian beneran jodoh deh. Lihat, tanpa janjian pun kalian bisa sehati kayak gini." Heboh Queen memandang keduanya penuh cinta. Mercia pun kembali tersenyum malu.


Sedangkan Jef memutar bola matanya jengah, lalu menatap Mercia. "Sudah? Kita harus berangkat sekarang." Pungkasnya yang kemudian berlalu meninggalkan kedua wanita itu.


Queen memandang kepergian putranya tak percaya. "Jef! Setidaknya kamu bawain koper Cia dong." Teriaknya karena kesal pada putranya yang tak peka itu.


"Gak papa, Aunty. Aku bisa bawa sendiri kok. Orang kecil juga. Ya udah, aku pergi dulu ya? Love you, Aunty." Pamit Mercia memberikan kecupan di kedua pipi Queen sebelum menyusul Jef.


Dan kini keduanya pun sudah dalam perjalanan. Mercia terus menguap karena semalam kurang tidur.


Jef pun menoleh sekilas. "Aku kira kau tidak jadi ikut." Katanya.

__ADS_1


Mercia pun menoleh ke arahnya. "Aunty bilang banyak gadis cantik di sana, jadi aku gak akan biarin mereka ngerebut kamu."


Jef mendengus kecil tanpa memberikan tanggapan. Dan lagi-lagi Mercia pun menguap.


"Boleh gak aku tidur dulu? Aku gantuk banget, semalam beneran gak tidur." Rengeknya mulai menyandarkan kepalanya di kursi.


"Tidak ada larangan tertulis di sini untuk tidur." Sahut Jef acuh tak acuh.


Mercia pun mengangguk, lalu memejamkan matanya yang sudah sangat berat. Hanya dalam hitungan detik sudah terdengar suara dengkuran halus. Jef yang terkejut pun langsung menoleh. Dan mendapatkan Mercia yang sudah tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka.


Jef tersenyum geli melihat cara tidur gadis itu. "Bahkan tidurmu pun sangat aneh. Benar-benar gadis aneh."


Setibanya di dermaga, Jef membangunkan Mercia yang masih tertidur. Sontak gadis itu pun langsung terperanjat kaget. "Hah, udah sampe ya?" Tanyanya menggunakan bahasa Indonesia yang kental.


"Turun, yang lain sudah menunggu kita di kapal." Setelah mengatakan itu Jef beranjak keluar dari mobil. Dan berjalan ke arah belakang untuk mengambil barang di bagasi.


Mercia mencoba mengumpulkan nyawanya sambil menguap beberapa kali. Setelah dirasa nyawanya sudah terkumpul, ia pun bergegas turun dan memakai topinya kembali.


"Ayo." Ajak Jef berjalan ke arah kapal sambil menggeret koper milik Mercia. Gadis itu pun mengekorinya di belakang sambil melihat-lihat sekitar.


"Hai, Cia." Sambut Jessy terlihat senang dengan kehadiran Mercia.


"Ikut aku, kau harus berkenalan dengan teman-teman yang lain." Ajak Jessy menarik Mercia masuk ke dalam kapal. Di mana para ladies sedang berkumpul. Ada beberapa yang membuat kelompok, dan ada juga yang bergabung ke sana kemari. Mercia yang melihat itu bersikap biasa saja, hal itu lumrah terjadi pada kalangan anak-anak muda.


"Hello everyone." Seru Jessy menarik perhatian semua teman-temannya. "Sorry jika aku mencuri waktu kalian sebentar, saat ini kita kedatangan teman baru. Namanya Mercia, kalian bisa memanggilnya Cia. Dia ini...."


"Aku tunangan Jef." Sela Mercia dengan senyuman manisnya.


Jef yang baru masuk dan mendengar itu pun kaget. Bahkan kini ia menjadi pusat perhatian teman-temannya. Sebagian dari mereka mulai berisik dan membicarakan Jef maupun Mercia. Karena hal itu, Jef pun langsung melempar tatapan tajam pada Mercia. Namun, gadis itu malah tersenyum dan berlari kecil mendekatinya. Lalu merangkul tangannya.


"Kau tidak aku perbolehkan menolak." Bisik Mercia. "Kalau menolak, aku akan lapor ke Aunty jika kau merundungku." Ancamnya dengan senyuman jahil.


Jef mengeratkan rahangnya. Saat ini ia benar-benar malu karena menjadi pusat perhatian semua orang. "Berhenti membuatku ilfiel, Cia. Jangan sampai aku melemparmu ke laut." Geramnya.


Mendengar itu Mercia sama sekali tak merasa takut. Malah dengan berani mengusap dada Jef dengan lembut. "Aku percaya kau tidak akan melakukan itu, Jef. Karena aku sudah ada dihatimu. Benar kan?"


Jef memelototinya karena kesal. Dan apa yang mereka lalukan itu terlihat begitu mesra di mata orang lain.


Jessy tersenyum geli melihat keduanya yang akan membuat semua orang semakin yakin jika Mercia memang tunangan Jef. Itu artinya tidak ada yang berani menganggu Jef lagi. Jessy tahu betul bagaimana para gadis di sekolah terus menggoda dan mencari perhatian Jef. Meski tak ada satu pun yang Jef gubris. Sebagai sahabat, Jessy merasa lega Mercia ada disisi Jef. Dia juga sangat yakin jika Jef menyukai Mercia. Hanya saja lelaki itu terlalu gengsi untuk mengakuinya.


Tidak berapa lama, tiga gadis berparas cantik pun menghampiri Mercia dan Jef dengan tatapan angkuh. Dan salah satu dari mereka termasuk penggemar Jef. "Oh, jadi ini tunanganmu, Jef. Apa hebatnya dia?"

__ADS_1


Mercia yang pantang di tantang pun melangkah maju. Lalu membalas tatapan wanita itu tak kalah sengit. Sontak yang lain pun mulai berbisik dan suasana kembali riuh.


Jessy yang tahu siapa ketiga gadis itu pun langsung mendekati Jef, lalu berbisik. "Jef, sebaiknya kau bawa Cia pergi dari sini. Ini salahku karena membawanya ke sini. Bisa bahaya jika tiga nenek lampir itu mengerjai Cia."


Alih-alih membawa Mercia pergi dari sana, Jef justru tersenyum penuh arti. "Biarkan saja dia menghadapi mereka, kita lihat siapa yang akan menang?"


Sontak Jessy pun kaget mendengar itu. "Jef! Kau yakin?"


Jef menoleh. "Kita lihat saja." Ucapnya yang kemudian mencari tempat duduk untuk menonton mereka. Jessy yang tidak bisa berbuat apa-apa pun cuma bisa mengikuti jejak Jef. Sambil berdoa agar Mercia terbebas dari kekejaman geng terkuat di sekolah itu.


Ya Tuhan, tolong selamatnya Cia kali ini.


Wanita berambut agak merah yang merupakan pimpinan geng itu pun tersenyum remeh. "Guys, katanya anak baru ini ingin menantangku dance. Bagaimana? Kalian setuju?" Serunya menggema di seluruh ruangan.


"Setuju." Sahut yang lain kompak. Kecuali Jef dan Jessy tentunya.


Para lelaki pun mulai bersorak dan memberikan siulannya.


Mercia tersenyum mengejek dengan kedua tangan terlipat di dada. "Cuma dance?"


Mendengar itu sang rival pun merasa ditantang balik. "Wah, dia menantangku rupanya."


Mercia tertawa hambar. "Memangnya kau siapa? Gangster, atau pengacau di sekolah huh?"


Merasa dihina, gadis bernama Megan itu pun hendak melayangkan tamparan di wajah Mercia. Sayanganya Mercia bisa dengan mudah menangkisnya. Sontak semua orang yang melihat itu merasa takjub dengan keberanian Mercia. Selama ini tidak ada yang berani melawan mereka. Termasuk Jessy sekali pun.


"Tidak perlu memakai kekerasan untuk membuktikan kau hebat, Nona. Tunjukan kehebatanmu dengan bakat yang kau punya. Kau bilang apa tadi? Menantangku dance kan? Ayo kita buktikan siapa yang lebih jago di antara kita. Biarkan teman-taman yang ada di sini sebagai juri."


Megan tertawa kencang mendengar tantangan dari Mercia. "Apa aku tidak salah dengar? Kau belum tahu siapa aku, gadis sok berani. Bersiaplah untuk menjauhi Jef."


Mercia tersenyum. "Setelah ini kau akan tahu siapa aku. Jangan harap kau bisa menyentuh priaku."


Baik megan maupun kedua temannya semakin geram dengan kesombongan Mercia.


"Ladies, kalian dengar sendiri bukan? Kalian yang akan menjadi juri kali ini. Tentukan pilihan kalian dari sekarang." Teriak Megan dengan senyuman Devilnya.


"Ya ampun, tentu saja mareka semua pasti mendukung Megan. Mereka kan takut padanya." Gumam Jessy semakin mengkhawatirkan Mercia. Sedangkan Jef masih diam dan tak berniat membantu Mercia sedikit pun.


Buktikan jika kau memang hebat, Cia.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2