Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Bunuh Diri


__ADS_3

Sudah dua hari ini Queen terlihat sibuk di kampus karena harus menyiapkan beberapa tugas besar dari dosennya. Dan saat ini Nyonya Cameron itu tengah sibuk mengumpulkan buku referensi untuk tugasnya. Sampai ia pun terkejut karena suara deringan ponselnya sendiri. Sepertinya Queen lupa silent tadi. Semua orang yang ada di sana pun langsung menatapnya.


"Maaf." Ucapnya langsung beranjak keluar.


Di luar, Queen menghela napas dan kembali membuka poselnya. Ternyata kepala pelayan lah yang menghubunginya tadi.


"Ada apa ini? Apa terjadi sesuatu pada Ella?" Cepat-cepat Queen menghubungi lelaki paruh baya itu.


"Hallo, ada apa, Fin?"


"Nyonya, cepatlah datang ke rumah sakit. Nona Ella berusaha mengakhiri hidupnya."


"Apa?" Kaget Queen. "Kirim alamat rumah sakitnya sekarang, Fin."


"Baik, Nyonya."


Queen pun langsung memutus panggilan dan bergegas pergi. Ia tidak peduli lagi dengan kuliahnya yang akan di mulai sebentar lagi. Ella lebih penting saat ini.


Queen melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit sesuai alamat yang diterimanya. Tidak butuh waktu lama Queen pun tiba di sana. Ia pun bergegas turun dari mobil dan berlari ke IGD.


"Fin." Sapa Queen pada kepala pelayannya itu.


"Nona masih ditangani oleh dokter, Nyonya. Saya juga sudah menghubungi Tuan."


"Hm." Queen menatap pintu ruangan di mana Ella berada dengan sendu. "Apa yang terjadi sebenarnya, Fin?"


"Sepertinya Nona menegak pil dalam jumlah banyak, Nyonya."


Queen mengusap wajahnya dengan kasar. "Maafkan aku, Ell. Tidak seharusnya aku meninggalkanmu sendirian. Maafkan aku. Aku ini sepupu tak becus."


Findavvan yang melihat kesedihan majikannya itu cuma bisa menghela napas gusar.


Tidak lama dari itu Sean pun muncul berasama asisten pribadinya, Ben. "Sayang."


"Sean." Queen pun langsung berhambur dalam pelukan suaminya dan mulai menumpahkan air mata. "Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Ella dan bayinya, Sean? Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri."


"Jangan seperti ini, dia pasti baik-baik saja. Kau harus tenang. Saat ini Ella butuh dukungan dan kekuatan."


Queen mengangguk dan masih sesegukkan. Ia tidak peduli pakaian mahal Sean kotor kerenanya. "Sudah, jangan menangis."


"Aku tidak bisa membayangkan jika sesuatu terjadi padanya, Sean. Aku...."


"Sayang, berhenti berpikiran negatif. Percayalah, Tuhan bersama kita dan juga Ella."


Perlahan tangisan Queen pun reda, lalu ia pun mengangguk kecil.


Menit berikutnya dokter yang menangani Ella pun keluar. Cepat-cepat Queen menghampirinya. "Dokter, apa dia baik-baik saja?"


Dokter itu tersenyum. "Pasien baik-baik saja, kami berhasil mengeluarkan semua obat yang ditegaknya. Beruntung kalian cepat membawanya, jadi kita bisa menghindari hal fatal."


Queen bernapas lega. "Syukurlah. Lalu bagaimana dengan bayinya, Dok?"


"Bayinya juga sangat sehat, sepertinya pasien sering mengkonsumsi vitamin dan makanan sehat. Jadi perkembangan janinnya juga sangat baik."


Lagi-lagi Queen bernapas lega.


"Tapi, saya sarankan hal ini jangan terulang lagi. Pasien sepertinya mengalami guncangan hebat, tolong beri dia semangat. Hanya keluarga dekat yang bisa membawa pasien kembali seperti semula."

__ADS_1


Queen mengangguk. "Baik, dok. Terima kasih."


"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi."'


"Silakan, dok."


Dokter itu pun tersenyum sebelum pergi meninggalkan tempat. Sepeninggalan dokter itu Queen bergegas masuk. Hatinya benar-benar sakit saat melihat kondisi Ella saat ini. Wajahnya pucat pasi.


"Segera pindahkan ke kamar VIP, Sus." Perintah Sean pada sang suster.


"Baik, Tuan."


Kini Ella pun sudah dipindahkan di kamar VIP yang lebih nyaman tentunya. Sejak tadi Queen terus duduk di sisinya, menunggu Ella bangun.


"Maafkan aku, Ell. Tidak seharusnya aku meninggalkanmu." Queen mengusap kepala Ella dengan lembut.


"Sayang, aku punya kabar untukmu. Ikut denganmu sebentar." Ajak Sean.


Queen pun terdiam sejenak, kemudian ia pun mengangguk. Mereka pun keluar dari kamar inap itu dan mulai berbincang.


"Bara akan menikah lusa."


"Apa?" Kaget Queen. "Brengsek."


"Aku rasa dia terpaksa menikahi wanita itu. Aku melihat ada ikut campur tangan orang tuanya."


Terlihat jelas kilatan amarah di mata Queen. "Terpaksa? Apa dia pengecut? Jika dia benar-benar mencintai Ella. Dia akan mempertahankan cintanya. Seperti kau, Sean. Kau tetap memperjuangkanku meski Ayahmu menolak sekali pun. Dia itu memang brengsek. Setelah menghamili sepupuku dia lari pada wanita lain? Aku akan membunuhnya, Sean."


Sean menarik kedua bahu istirnya. Mencoba menenangkan istrinya itu. "Sabarlah sayang, saat ini Ella butuh dukungan. Aku sudah mengirim orang untuk menjemput orang tuanya. Mereka berhak tahu, mungkin mereka akan menjadi kekuatan terbesar untuk Ella."


Sean memeluk istrinya. "Aku akan melakukan apa pun agar kau selalu bahagia, sayang."


Queen memeluk Sean dengan erat. Mungkin ia gadis beruntung karena mendapat suami sepertinya.


****


Saat ini kedua orang tua Ella pun datang. Keduanya terlihat syok saat melihat kondisi Ella. Sejak bangun Ella sama sekali tidak mau bicara atau pun bergerak.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi padamu, Sayang?" Lirih Aletta mengusap kening putrinya degan penuh kasih sayang.


"Ella." Panggil Cristian. Sontak tubuh Ella pun bergetar karena menangis.


"Mommy." Lirihnya. Aletta yang melihat itu langsung memeluknya. Dan Ella pun membalas pelukan itu.


"Kenapa kau lakukan ini, Ell? Apa yang kau pikirkan sebenarnya?" Aletta ikut menitikan air mata karena tak kuasa melihat kondisi putrinya.


Cristian duduk di sisi brangkar dengan wajah tertunduk. Setelah mendengar semua penjelasan Queen lelaki paruh baya itu terlihat tak semangat. Ya, mereka juga sudah tahu jika saat ini putrinya tengah mengandung.


Queen yang melihat itu cuma bisa terdiam sambil menggenggam tangan suaminya.


"Ini salahku, Letta. Seharusnya dulu aku menerima tawaran Daddymu untuk meneruskan perusahaan. Dan bodohnya aku memilih menjadi seorang petani. Sampai putriku direndahkan seperti ini." Sesal Cristian.


Aletta yang mendengar itu langsung menatap suaminya. Lalu menggeleng pelan.


"Jika saja aku mendengarkan Daddymu. Mungkin saat ini aku punya kekuatan untuk menghancurkan keluarga brengsek itu. Dan putriku tidak akan menanggung semua ini. Ini salahku, Letta." Imbuh Cristian mulai menitikan air mata.


Queen mendekati lelaki itu. Dipeluknya Cristian dengan penuh kehangatan. "Kau tidak salah, Uncle. Aku tidak akan membiarkan lelaki brengsek itu hidup senang. Dia akan memohon ampunan pada Ella cepat atau lambat."

__ADS_1


Cristian mengangguk kecil. "Aku merasa gagal menjadi seorang Ayah, Queen."


Ella yang mendengar itu langsung menatap sang Daddy. Diraihnya tangan Cristian dengan lembut. "Daddy."


Cristian menatap putrinya dengan penuh kesedihan. "Maafkan Daddy, sayang."


Ella menggeleng dan langsung berhambur dalam dekapan Cristian. "I am sorry, Dad." Tangisan Ella terdengar begitu memilukan. Membuat Queen tak tahan dan ikut menangis. Tangannya ikut terulur untuk mengusap kepala Ella.


"It's okay, honey." Cristian mengecup kepala putrinya dengan lembut. "Jangan pernah melakukan hal bodoh lagi, Ell. Daddy dan Mommy sangat menyanyangimu. Kau satu-satunya putri kami. Apa pun yang terjadi kami akan selalu ada bersamamu."


Mendengar itu tangisan Ella pun semakin kencang. "Aku anak tak berguna, Dad. Aku membuat kalian kecewa."


"Tidak, sayang. Sampai kapan pun kau anak kebanggaan kami. Bahkan kau cucu kesayangan kakekmu. Mommy tidak tahu apa yang akan Kakekmu lakukan saat tahu kau seperti ini."


"Mom, please. Jangan katakan apa pun padanya. Aku tidak mau Kakek kembali menbuat kekacauan."


Queen kecewa mendengarnya. Ia tahu Ella masih bersikukuh melindungi kekasih brengseknya itu. "Jangan melindungi lelaki brengsek itu, Ell. Dia pantas mati."


Ella langsung menatap Queen. "Tidak, Queen. Aku yakin dia terpaksa melakukan ini. Bara sangat mencintaiku."


"Jika dia mencintaimu, dia akan mempertahankanmu, Ell. Seperti Daddymu dulu. Dia hampir mati karena mempertahankan Mommy." Kali ini Aletta ikut menimpali.


Ella terdiam mendengar itu.


"Biarkan aku dan Sean menangani hal ini."


"Tidak, Queen. Aku yakin Bara akan datang padaku. Mungkin dia butuh waktu." Sergah Ella.


Queen mendengus sebal. "Butuh waktu? Waktu buat apa, Ell. Besok dia akan menikah?"


Deg!


Jantung Ella bagaikan ditusuk ribuan jarum mendengar kenyataan itu.


"Tidak, itu tidak mungkin. Pasti itu berita bohong kan, Queen? Bara tidak mungkin meninggalkan aku."


"Tapi itu benar, Ell. Aku sudah menyelidikinya. Besok Bara akan melangsungkan pernikahannya." Timpal Sean.


Tangisan Ella pun kembali pecah. "Tidak mungkin, Mom. Dia mencintaiku." Aletta memeluk putrinya dengan erat. Sedangkan Cristian mengepalkan kedua tangannya.


"Sejak awal aku tidak menyukai lelaki itu. Tapi kau tidak mendengarkan Daddymu ini, Ell."


"Cukup, Cris. Dia masih terpukul." Tegur Aletta. "Kita juga salah karena melepaskan Ella begitu saja."


Cristian mengusap wajahnya dengan kasar.


"Aku dan Sean akan berangkat ke Milan malam ini. Kebetulan Sean mendapat undangan pernikahannya."


Ella semakin mengencangkan tangisannya. "Kau jahat, Bara."


"Aku akan menghancurkan pesta itu, seperti yang dia lakukan padamu, Ell." Kecam Queen dengan kilatan amarah di matanya.


"Lakukan itu, Queen. Sisanya serahkan pada Aunty." Sahut Aletta dengan tatapan membunuh yang kental.


Queen tersenyum, ia senang karena mendapat dukungan dari Auntynya itu.


Sepertinya hidupmu tidak akan lama lagi, Bara. Kau membangunkan singa betina yang sedang tertidur. Aku harap Mommy tidak ikut campur kali ini, jika tidak, keluarga Bara diambang kematian.

__ADS_1


__ADS_2