
Queen terus mengeluh kelelahan setelah pulang dari mall pada Sean. Bahkan sejak tadi ia merengek tak jelas. "Sean, kenapa aku jadi lemah gini ya? Biasanya seharian aku keliling mall bareng Mommy tidak secapek ini."
Sean tersenyum seraya memijat kaki sang istri dan posisi mereka saat ini saling berhadapan. Dan sebelah kaki Queen berada di atas kaki Sean. "Jangan lupa kau sedang hamil, Sayang."
"Hah, aku lupa. Sejak hamil tubuhku cepat sekali lelah, Sean. Rasanya sekarang aku ingin tidur sampai puas." Queen menarik kakinya, lalu berbaring sambil memeluk Sean.
Sean mengusap kening sang istri yang masih mengeluarkan keringat. "Makanya kalau shopping itu ingat waktu. Aku rasa Rachel lebih parah darimu. Perutnya sudah sebesar itu."
"Hm. Aku rasa." Sahut Queen yang sudah memejamkan mata. Dan tidak lama terdengar napasnya yang tenang dan teratur. Menandakan ia sudah tertidur.
Sean tersenyum. "Cepat sekali, sepertinya dia benar-benar lelah. Hah, dasar wanita. Sudah tahu sedang hamil masih lupa waktu kalau sudah shopping." Gerutunya.
Tidak lama Ben pun datang. "Tuan, pesawat sudah siap."
Sean mengangguk. "Aku harap ini keputusan baik." Sean menatap istrinya. "Aku tidak tega membuatnya menungguku terlalu lama di sini. Bagaimana dengan dokternya?"
"Saya sudah menyewa lima dokter dan lima suster untuk merawat Anda."
"Aku tidak butuh suster, istriku tidak menyukainya. Cukup dokter saja."
"Baik, Tuan. Atau saya sewa perawat pria saja?"
Sean tampak berpikir. "Boleh juga, tapi jangan yang terlalu muda. Aku tidak suka jika dia menaruh hati pada istriku."
Ben mengangguk patuh. "Apa kita akan keluar sekarang? Dokter sudah memberi izin."
"Ya. Jangan terlalu tergopoh, aku tidak ingin membangunkan istriku."
"Baik, Tuan."
Sean mengangguk, lalu Ben pun kembali meninggalkan ruangan itu. Sean menatap istrinya. "Kasihan sekali, kau sedang hamil. Tapi kau harus menjagaku. Aku tahu kau lelah, meski kau tidak pernah mengatakannya. Karena itu ayo kita pulang, sayang." Ia memeluk Queen dengan erat. Rasa cintanya semakin besar pada sang istri setalah apa yang sudah mereka lewati.
****
Queen meregangkan tubuhnya, tempat tidur kali ini rasanya sangat nyaman dan empuk. "Sepertinya aku merindukan kasur empukku, Sean." Gumamnya tanpa membuka mata.
Sean yang melihat itu tersenyum geli. "Kita memang sudah di rumah, sayang."
Seketika mata Queen terbuka dan melebar. Ia tidak percaya dirinya sudah berada di kamar yang amat ia rindukan. Cepat-cepat ia bangun dari tidurnya. "Sean? Aku rasa ini mimpi yang seperti nyata."
Sean tertawa kecil. "Ini memang nyata, kita sudah kembali ke rumah, baby. Jadi istirahatlah sampai puas."
Mulut Queen terbuka lebar. "Are you kidding me?"
"Nope. Kau sangat nyenyak tadi, bahkan tidak sadar saat kita masuk ke dalam pesawat."
"Sean!" Geram Queen yang juga merasa malu karena ia benar-benar tak ingat apa pun.
Sean tersenyum. "Tudurlah lagi, atau mungkin kau lapar?"
Queen menggeleng. "Bagaimana bisa kau keluar dari rumah sakit? Apa kau kabur?" Paniknya.
__ADS_1
"Aku tidak seburuk itu, aku mendapat izin dari dokter."
"Ck, tapi kau belum sehat, Sean." Kesal Queen. Mendengar itu Sean malah tersenyum.
"Jadi kau tidak senang kita pulang? Kalau begitu ayo kita kembali." Gurau Sean.
"Ish... bukan begitu, tapi kondisimu...."
"Aku sudah sehat, buktinya aku baik-baik saja setelah melakukan perjalanan panjang." Sela Sean.
"Kau ini memang keras kepala. Sini, aku lihat dulu perbanmu, lukamu itu belum kering tahu. Kau sudah melakukan perjalanan jauh." Queen bergerak mendekati Sean. Lalu memeriksa luka bekas operasi suaminya itu. Sean terlihat tenang karena sebelumnya perban sudah diganti oleh perawat saat dalam perjalanan. "Sepertinya perban ini masih baru, siapa yang menggantinya, Sean?"
"Perawat." Jawab Sean dengan santai. Spontan Queen mentapa suaminya. "Perempuan?"
Sean diam.
"Sean, apa dia perempuan?" Selidik Queen.
"Aku tidak tahu, aku juga tidak ingat saat dia menggantinya. Mungkin perempuan, saat aku bangun rasanya tubuhku pegal semua. Bahkan celanakku basah." Goda Sean.
Mata Queen melotot. "Di mana perawat itu?" Geramnya seraya turun dari tempat tidur.
"Sayang, kenapa reaksimu seperti itu?" Tanya Sean pura-pura polos.
"Aku ingin bertanya padanya apa yang sudah dia perbuat. Bagaimana bisa celanamu basah?" Kesalnya.
Sena tersenyum geli. "Kemari sayang."
"Kemari." Ulang Sean.
Masih dengan rasa kesal Queen merangkak naik ke atas pembaringan. Lalu memeluk Sean dengan posesif. "Dengarkan, sebenarnya aku basah karena ulahmu."
"Apa?"
"Ya, begini ceritanya...."
Beberapa jam sebelumnya, di dalam privat jet.
Sean meringis pelan saat sang perawat mengganti perbannya. "Apa lukanya terbuka lagi?"
"Tidak, Tuan. Efek perih memang akan terasa lumayan lama, itu efek samping anestesi." Jelas sang perawat berjenis kelamin laki-laki berusia tiga puluhan.
"Hm. Perih sekali."
"Untuk luka mungkin dalam satu bulan sudah sembuh. Tuan tinggal fokus terapi untuk bisa jalan kembali. Satu bulan lebih berbaring akan membuat otot lumayan kaku."
"Hm."
Perawat itu dengan cekatan dan penuh kehati-hatian merawat pasiennya. Tentu saja ia tidak ingin membuat kesalahan karena dirinya di gaji dengan harga fantastis. Setelah selesai, ia membantu Sean membenarkan posisi tidurnya. Lalu berpamitan pergi ke tempatnya.
"Ben," panggil Sean seraya memejamkan matanya.
__ADS_1
"Iya, Tuan?" Sahut Ben mendekat.
"Aku sangat haus."
Dengan sigap Ben mengambilkan Tuanya minuman, lalu memberikannya pada Sean. "Thank you."
Baru saja Sean ingin menempelkan gelas itu di bibirnya. Queen yang tidur di sampingnya bergerak memeluk Sean, alhasil air itu tumpah hampir setengah. Membasahi baju dan celana Sean.
"Tuan...."
Sean menggeleng. "Biarkan dulu." Ben pun terdiam. Sean melanjutkan minumnya. Kemudian memberikan gelas kosong itu pada sang asisten.
"Setengah jam lagi kembali ke sini, bawa pakaian ganti." Titahnya.
"Baik, Tuan." Balas Ben kemudian beranjak ke belakang.
"Hah, kau memang senang membuatku basah kuyup, sayang." Sean tersenyum geli.
Wajah Queen merona saat mendengar hal itu. "Ck, aku kira perawatnya wanita dan dia mencoba melakukan itu padamu. Ah, aku saja menahannya. Enak saja orang lain memakaimu."
Sean tersenyum geli. "Jadi kau menahannya selama ini?"
Queen mengangguk jujur. "Cepat sembuh, aku merindukanmu."
"Bagaimana ya? Perawat itu bilang satu bulanan lagi lukaku baru sembuh. Apa kau masih sanggup menunggu?"
"Tentu saja. Aku juga tidak ingin mengambil resiko." Queen kembali memejamkan matanya. Entah kenapa ia malah mengantuk saat mencium aroma suaminya.
"Saat sembuh nanti, aku akan melahapmu sampai habis, sayang."
"Mana boleh, aku sedang hamil. Kau tidak bisa menggempurku seperti bisanya." Sahut Queen yang berhasil mengundang tawa Sean.
"Kau benar, setidaknya biarkan adikku menjenguk anak kita, itu sudah cukup. Walau tidak ada ronde berikutnya."
Queen membuka mata, lalu terdiam sejenak. "Sean, apa menurutmu boleh melakukan itu setiap hari saat sedang hamil?"
Sean menggeleng. "Aku tidak tahu."
Queen menggigit ujung bibirnya. "Kak Rachel bilang mereka selalu melakukan itu setiap hari. Tapi mengeluarkannya di luar. Kak Rachel juga bilang dengan melakukannya setiap hari akan mempermudah proses melahirkan."
Seketika wajah Sean berseri. "Benarkah? Kalau begitu kita juga bisa melakukannya setiap hari."
"Ck, aku tidak ingin mengambil resiko. Kita harus konsultasi dengan dokter lebih dulu, sayang. Supaya bayi kita aman."
"Kau benar, bukan hanya untuk jabang bayi, tapi kau juga."
"Hm." Queen semakin merapatkan tubuhnya. Dan Sean memeluknya dengan penuh kehangatan. Dikecupnya kening sang istri dengan lembut. "I love you, istri posesifku."
"Too." Sahut Queen yang kembali dikuasi rasa kantuk. Dan keduanya pun terlelap kembali dalam kehangatan.
Tbc....
__ADS_1