
"Booking satu rumah sakit, pastikan semua fasilitas lengkap. Aku juga ingin dokter spesialis dan suster terbaik yang nantinya menangani istriku. Mereka harus teruji kemahirannya. Pastikan semuanya tidak ada kekurangan apa pun." Pinta Zain pada Juna. Lelaki itu pun mengangguk patuh.
Zain memang sengaja ingin membuat kenyamanan untuk Rea saat melahirkan nanti. Karena itu ia berencana memboiking satu rumah sakit besar hanya untuk menyambut kelahiran bayinya.
Dokter memang mengatakan kelahiran baby girl hanya terhitung hari. Karena itu Zain sudah mempersiapkan semuanya dengan matang.
Bukan hanya Zain yang sibuk mempersiapkan penyambutan kelahiran putrinya, Elsha dan Rena pun tak kalah sibuk menyiapkan berbagai hal untuk menyambut cucu pertama mereka. Termasuk mendekorasi kamar bayi. Seperti sekarang ini keduanya tampak sibuk menghiasi kamar yang nantinya akan menjadi kamar baby. Warna biru muda menjadi pilihan keduanya.
Rea yang tidak diberi izin melakukan apa pun hanya bisa pasrah sambil duduk di sofa. Menonton kedua wanita yang sesekali berdebat untuk mengutarakan keinginan masing-masing. Sesekali ia mengelus perutnya dengan mulut yang tak berhenti mengunyah.
Merasa bosan, Rea pun bangkit dari posisinya. Belum sempat ia bergerak, tiba-tiba perutnya terasa mulas.
"Mom, Mi...." ringis Rea menggigit bibirnya. Menahan rasa mulas yang begitu kentara.
Elsha dan Rena yang tadinya sibuk sendiri pun langsung menoleh. "Ya Tuhan." Keduanya memekik kaget dan langsung menghampiri Rea.
"Apa ini sudah waktunya?" Panik Rena.
"Aku akan menghubungi Zain." Elsha pun bergegas mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Zain.
"Mi, sakit banget."
"Apa mungkin kontraksi palsu?"
"Aku tidak tahu." Ringis Rea seraya menggenggam erat tangan sang Mami.
"Kita tunggu beberapa menit, jika sakitnya tidak hilang kita ke rumah sakit."
Rea mengangguk pelan. Merasakan rasa nyeri yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Zain akan pulang." Ujar Elsha duduk di sebelah Rea. Mengusap perut besar Rea dengan lembut.
Rea menghela napas lega karena rasa sakitnya mulai pudar. "Sakitnya agak hilang."
Rena dan Elsha juga bernapas lega.
"Sepertinya hanya kontraksi palsu."
"Sakit sekali, aku tidak tahu rasanya akan seperti ini."
"Jangan khawatir, sakitnya tidak akan lama kok." Rena menatap Elsha penuh arti. Ia tidak ingin membuat Rea takut menjelang kelahiran nanti.
"Mami kamu benar, sakitnya tidak akan lama kok."
__ADS_1
"Benarkah? Tapi tetap saja aku takut."
"Jangan terlalu takut, kamu pasti bisa melewati semuanya. Setelah melahirkan kamu pasti merasakan hal yang jauh berbeda, kamu akan merasa jadi wanita seutuhnya. Percayalah." Rena mencoba menenangkan putrinya.
Rea mengangguk pelan. Mencoba meyakinkan hatinya jika yang Maminya katakan itu benar.
Tidak berapa lama Zain pun datang dengan wajah pucat. Bahkan Juna juga ikut bersamanya. Masih dengan perasana cemas Zain menghampiri istrinya. "Kita ke rumah sakit sekarang."
Rea tersenyum geli melihat wajah pucat suaminya. "Tadi itu hanya kontraksi palsu, sayang. Aku baik-baik saja. Sekarang rasa sakitnya sudah hilang."
Zain menghela napas lega. "Aku benar-benar cemas saat Mommy memberi tahu kau mengalami kontraksi."
"Aku baik-baik saja sekarang."
Zain mengangguk. "Sebaiknya kau pindah ke kamar ya?"
Rea pun mengangguk patuh. "Kau tidak pergi ke kantor lagi kan?"
Zain menatap Juna, kemudian lelaki itu pun mengangguk pelan. Zain pun kembali mengalihkan perhatian pada Rea. "Ya, aku akan menemanimu."
Rea tampak senang. "Aku ingin di gendong." Rengeknya dengan bibir mengerucut.
"Iya bawel." Zain menyelipkan tangannya di antara kedua kaki sang istri. Kemudian mengangkat tubuh Rea dengan mudah. Sebelum pergi Zain meminta izin pada sang Mommy dan mertuanya. Keduanya pun mengangguk pelan. Setelah itu Zain pun bergegas membawa istrinya ke kamar.
Tanpa sadar Rea mengusap rahang tegas suaminya yang dipenuhi bulu-bulu halus yang terawat. "Kau sangat tampan dengan bulu-bulu seperti ini. Aku lebih suka melihatmu yang seperti ini."
"Karena itu aku sengaja tidak mencukurnya, hanya merapikannya sedikit." Zain tersenyum simpul.
Sesampainya di kamar Zain menidurkan Rea di kasur. Kemudian ia pun ikut duduk disisinya. Tangan Zain bergerak untuk menyentuh perut istrinya. "Apa dia masih bergerak aktif?"
Rea mengangguk. "Tadi pagi dia menendang sangat kencang, sampai dadaku terasa sesak." Adunya.
"Benarkah? Jadi putri Daddy senang menendang huh?" Zain memberikan kecupan di perut istrinya. "Daddy rasa kau mewarisi sifat ibumu. Nakal dan keras kepala."
Rea tertawa renyah. "Tentu saja, Daddy. Aku kan anak Mommy."
"Tetap saja kau tidak boleh terlalu mengikuti sifat Mommymu. Dia itu psikopat berwajah malaikat."
Rea mengulum senyuman tipis. "Sifat psikopatku hanya muncul di waktu tertentu. Terutama saat seseorang mencoba merebutmu. Aku tidak akan tinggal diam."
"Kau itu ibarat istri rasa bodiguard."
Rea terkekeh geli mendengarnya. "Aku baru mendengar istilah itu. Dapat dari mana huh?"
__ADS_1
"Aku mengarangnya sendiri. Ide itu muncul ketika kau selalu membuat ulah yang aneh. Bahkan kepalaku hampir pecah."
Lagi-lagi Rea tertawa lucu. "Aku melakukan itu demi kebaikan rumah tangga kita, sayang. Sekarang itu sedang banyak-banyaknya virus penggangu keharmonisan rumah tangga. Jadi sebelum mereka masuk, aku langsung menangkisnya jauh-jauh."
Zain tersenyum simpul. "Aku rasa wanita sepertimu hanya ada satu di dunia ini."
"Ya, seperti yang kau bilang. Aku ini kan istri limited edition."
"Hm. Karena itu aku tidak akan pernah melepaskanmu. Akan sangat sulit mencari bentuk yang serupa."
Rea tersenyum lebar seraya memeluk pinggang suaminya erat. "Bisakah kau berbaring? Aku ingin memeluk dan menghirup aroma tubuhmu sampai puas."
"Kau bebas melakukannya, aku milikmu, mi amor." Zain pun ikut berbaring. Bahkan ia memberikan pelukan dan kecupan hangat.
“Ya tebya lyublyu.” Ucap Rea menggunakan bahasa Rusianya yang kental.
"Ya tozhe tebya lyublyu." Balas Zain yang tak kalah fasih menggunakan bahasa Rusia. Kemudian keduanya pun berpelukan mesra. Saling menyalurkan perasaan satu sama lain.
****
Pagi hari Rea kembali merasakan kontraksi palsu. Namun kali ini berlangsung cukup lama dan berulang sampai Zain pun memutuskan untuk membawa sang istri ke rumah sakit. Namun di tengah perjalanan rasa sakit itu pun hilang.
"Sebaiknya kita ke rumah sakit. Aku rasa dalam waktu dekat baby akan lahir. Pagi ini bukan hanya sekali kau mengalami kontraski." Ujar Zain sambil mengemudikan mobilnya dengan hati-hati.
"Hm... jika itu yang terbaik maka lakukanlah. Aku juga tidak tahan dengan rasa sakitnya. Lebih baik aku terkena peluru dibanding sakit seperti ini."
Zain tersenyum tipis. "Aku pikir wanita sepertimu tidak merasakan rasa sakit."
Rea memukul lengan suaminya dengan kuat. "Kau pikir aku ini wonder women apa? Aku juga manusia biasa tahu. Bisa merasakan sakit dan sedih."
"Tapi jarang sekali kau bersedih, setiap saat aku hanya melihatmu tersenyum dan tertawa."
"Itu artinya aku bahagia. Seharusnya kau senang, bukan mengataiku."
Zain tertawa kecil. "Aku terlalu sering melihatmu tersenyum, sampai aku takut untuk melihatmu kesakitan. Aku tidak tega saat kau meringis kesakitan seperti tadi. Itu membuatku bingung karena tidak bisa membantu apa-apa."
Rea menghela napas panjang. "Aku akan baik-baik saja. Mami dan Mommy bilang sakitnya hanya sebentar. Aku percaya bisa melawati semuanya. Aku pernah dalam posisi nyawa di ujung tanduk. Melawan sepuluh anggota gang lain tanpa senjata apa pun. Dan aku masih bisa hidup sampai detik ini. Sekarang aku dihadapkan dalam situasi yang lebih penting, aku akan melahirkan kehidupan baru. Tentu saja aku harus bisa melewatinya."
Zain tersenyum lega mendengarnya. "Aku juga percaya kau bisa melewatinya. Aku akan selalu disisimu, sayang. Jadi jangan pernah takut."
"Hm. Jangan pernah melepaskan genggaman tanganmu."
"Seperti ini?" Zain menggenggam tangan Rea dengan erat.
__ADS_1
"Ya." Keduanya pun tersenyum penuh kebahagiaan. Seolah dunia hanya milik mereka berdua.