Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Jatuh dari motor


__ADS_3

Mercia masuk ke kamar dengan sebuah nampan berisi teh hangat dan makanan ringan. Lalu berjalan pasti menuju meja kerja sang suami.


Sudah dua hari pengantin baru itu pindah ke rumah utama. Tentu saja King harus kembali menjalankan aktivtasnya sebagi bos besar.


Mercia menaruh nampan itu di atas meja, aroma teh yang khas langsung menyeruak ke indera penciuman King. Lelaki itu tersenyum pada istrinya.


"Diminum dulu tehnya, Yang. Mumpung masih anget." King mengangguk, diraihnya gelas teh itu, lalu menyesapnya perlahan.


"Pinter juga kamu racik teh, gak terlalu pekat dan gak terlalu encer. Pas." Pujinya. Tentu saja Mercia kesenangan.


"Tadi aku tanya sama maid sih. Tapi aku yang buat sendiri kok. Nih, kue keringnya juga di makan." Disodorkannya piring berisi kue kerung kesukaan suaminya. Tentu saja King langsung menyantapnya.


"Ternyata memang enak ya punya istri, semua ada yang siapin. Tidur ada yang nememin." King tersenyum tulus.


Mercia tersenyum, tetapi detik berikutnya wajahnya kembali ditekuk. "Mas, maaf ya karena belum bisa ngasih hak kamu."


Mendengar itu King tersenyum, lalu menuntun istrinya duduk dipangkuan. "Gak papa, waktu kita masih panjang, Sayang. Masih ada tiket bulan madu kan? Kita bisa nikmati waktu berdua di sana. Tentu aku bakal langsung minta hak itu."


Mercia terkekeh lucu. "Iya deh, mana bisa istri nolak suami. Kalau kata Mama, dosa."


King tertawa renyah. "Itu pinter. Istri siapa sih?"


"Kamu lah, istri siapa lagi? Tetangga?" Kesal Mercia yang lagi-lagi berhasil membuat King tertawa puas.


"Ck, suka banget bikin istrinya kesel ih. Ya udah, minta uang buat jajan dong." Mercia menengadahkan tangannya. "Pengen jajan di depan, ada tukang cimol."


King mengerutkan dahi. "Apa itu cimol?" Tanyanya bingung. Pasalnya ia tak pernah mendengar itu sebelumnya.


"Ish, kamu sih sekolahnya ditempat elit terus. Mana tahu cimol. Aku juga gak tahu pasti sih cimol itu terbuat dari apa. Tapi rasanya enak poll." Mercia mengacungkan jempolnya.


King mengangguk meski tak paham. Lalu mengeluarkan dompet, dan menarik salah satu black cardnya. "Nih, pake aja sesuka kamu." Meletakkan benda itu di telapak tangan Mercia.


Sontak Mercia menatap kartu itu dengan mata berkedip. Lalu kembali menatap suaminya. "Mas! Mana bisa beli cimol


pake ginian sih? Emangnya mau jajan di mall apa? Kasih uang cash aja." Rengeknya seraya mengembalikan benda itu pada suaminya.


"Bawa aja, mungkin si penjualnya udah modern." King pun kembali memberikannya pada Mercia.


Mercia menyebik, direbutnya dompet King dengan paksa. Lalu mengambil selembar uang pecahan seratus ribu.. "Ini aja udah cukup."


King menatapnya heran. "Cukup?"

__ADS_1


Mercia menghela napas. "Gini nih kalau punya suami kelewat kaya. Uang seratus ribu kayak gak ada harganya." Dumelnya.


"Ini masih lebih kalau buat beli cimol, Masku yang tersayang. Bahkan dengan uang ini aku bisa beli cilok, batagor, tahu gejrot. Duh, udah lama banget gak nongkrong bareng Jihan." Lanjutnya dengan wajah ceria.


King cuma bisa menggeleng karena tidak paham dengan apa yang istrinya katakan. "Terserah kamu mau beli apa. Yang jangan beli suami baru. Yang ada aja masih nganggur."


Mercia tergelak mendengarnya. "Duh, kasiannya harus nganggur seminggu." Dicubitnya kedua pipi King gemas. "Janji abis ini aku bakal kasih servis terbaik."


King tersenyum seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Mercia. "Jangan cuma janji, kamu harus buktikan itu."


Mercia mengangguk. "Okay, akan aku buktikan kok. Ya udah, sekarang aku mau jajan dulu. Makasih uang jajannya, Mas. Love you." Dikecupnya Pipi king penuh cinta. Lalu beranjak turun dari pangkuannya.


Namun, belum sempat ia melangkah. King menahannya lebih dulu. "Eh? Kenapa lagi, Mas? Masih kurang ciumannya?"


King menggeleng. "Jangan lama."


"Ck, gak lama kok. Cuma ke depan dikit. Tar aku pinjem motor Mbak Sri aja." Jawab Mercia. Tentu King kaget mendengarnya.


"Naik motor? Mobil banyak, Yang."


Mercia memutar bola matanya malas. "Mas, masak iya cuma ke depan aja pake mobil. Ih, aneh kamu mah. Lagian motor Mbak Sri aman kok. Buktinya kemaren aku keliling di depan aman tuh."


Lagi-lagi King kaget mendengarnya, pasalnya ia tidak pernah tahu Mercia bermain motor-motoran kemarin. "Kamu main motor?"


Jika penasaran Mbak Sri itu siapa, dia tak lain salah satu pegawai di rumah ini yang tugasnya mencuci pakaian. Wanita itu memilih pulang pergi karena rumahnya lumayan dekat.


Setelah perdebatan panjang, akhirnya Mercia pun mendapat izin dari suaminya. Tentu saja anak itu kegirangan karena bisa menikmati kebebasannya itu.


Dengan perasaan bahagia, Mercia pun terus berjalan sambil bersenandung. Lalu membelokkan kakinya ke arah belakang. Di mana Mbak Sri berada.


"Mbak Sri!" Panggilnya begitu lantang sampai membuat si pemilik nama yang tengah bekerja pun kaget.


"Ya Allah, suka banget kamu buat Mbak jantungan. Kenapa lagi? Mau pinjem motor?" Tanyanya yang sudah bisa menebak kedatangan gadis itu.


"Duh, si Mbak paling pengertian deh."


Mbak Sri pun cuma bisa menghela napas seraya merogoh saku bajunya. Lalu mengeluarkan kunci motor dan memberikannya pada Mercia.


"Makasih, Mbak. Baik banget deh. Tar akh beliin cilok deh." Mercia pun cengengesan.


"Ck, gak usah. Mbak masih kenyang. Non hati-hati lho di jalan. Lagi rame soalnya." Sahut si Mbak sekalian memberi nasihat.

__ADS_1


Mercia tersenyum lebar. "Siap, Mbak. Keselamatan motor Mbak di jamin aman kok."


"Lah, kok malah bahas motornya. Yang Mbak cemasin itu Non Cia lho. Pokoknya jangan sampe jatuh ya?"


Mercia mengangguk patuh. "Ya udah, aku pergi dulu ya, Bik. Makasih lho."


"Sama-sama, Non. Ati-ati pokoknya."


Mercia mengacungkan jempolnya, setelah itu langsung melesat pergi. Mbak Sri pun cuma bisa menggeleng dengan tingkah kekanakan Mercia. "Duh, si Tuan muda kadang aneh ya? Udah ganteng, tajir melintir, tapi milih istri kayak Non Cia yang masih imut-imut banget. Lebih cocok jadi adek malah. Hah, yang namanya jodoh emang gak ada yang tahu, tua atau muda sama aja." Setelah mengatakan itu ia kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sedangkan di luar sana, Mercia mulai melajukan motor maticnya. Tentu saja gadis itu tak lupa memakai helm untuk keselamatan. Tidak lupa ia mengklakson securty yang berjaga di pintu gerbang. Tentu saja kedua lelaki paruh baya itu keheranan melihat Mercia sudah dua kali mengendarai sepeda motor ketimbang mobil mewah yang berjejer di garasi.


King yang sejak tadi mengawasi istrinya itu pun tersenyum geli. Kemudian menghubungi anak buahnya untuk mengawal Mercia.


Mercia memarkirkan motornya di depan deratan pedagang kaki lima. Kemudian turun tanpa melepas helmnya. "Pak, cimolnya dua bungkus ya? Satu pedes, satu lagi original."


"Wokeh, Neng. Tunggu sebentar ya?"


Mercia mengangguk, lalu duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Tidak perlu lama pesanannya pun siap. Ia pun langsung membayar. Setelah itu beranjak ke pedagang tahu gejrot. Dan akhirnya gadis itu memborong banyak jajanan yang ada di sana.


Setelah puas, Mercia pun memutuskan untuk pulang. Dengan santai ia mengendarai motornya. Sambil melihat kiri dan kanan. Gadis itu benar-benar menikmati kesendiriannya. "Duh, ngerasa jomblo lagi kalau gini. Kagak tahu aja suami udah nunggu di rumah."


Gadis itu pun tertawa sendiri. Tentu saja tak ada yang memperhatikannya selain ajudan yang King kirim. Karena yang lain sibuk dengan urusan masing-masing.


Saat sedang asik mengendari motor maticnya, tiba-tiba ada sebuah motor ugal-ugalan yang hampir menyerempetnya. Alhasil Mercia yang kaget pun langsung menekan rem dadakan, hingga akhirnya ia pun terjatuh.


"Awh! Sakit." Ringisnya karena lututnya mencium aspal lebih dulu.


Tentu saja ajudan itu pun langsung berlari ke arah Mercia dan membantunya bangun. Kemudian ia pun segera menghubungi King.


King yang sedang sibuk mengecek dokumen pun mengalihkan atensinya saat sang ajudan menghubunginya. "Ya, ada apa?" Tanyanya saat menerima panggilan.


"Bos, istri Anda jatuh."


"Apa?" kaget King langsung bangun dari duduknya. "Di mana lokasinya."


"Lima puluh meter dari rumah, Bos."


Setelah mendengar itu King pun bergegas menyusul istrinya.


"King? Mau kemana?" Tanyq Rea heran.

__ADS_1


"Mercia jatuh dari motor, Mom." Sahut King sedikit berteriak karena ia buru-buru pergi.


"Ya Allah, kok bisa Mercia jatuh dari motor? Kapan keluarnya? Ada-ada aja anak itu. Semoga Cia gak papa ya Allah." Akhirnya Rea cuma bisa menghela napas gusar sambil menunggu mereka pulang. "


__ADS_2