Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Sean Cemburu


__ADS_3

Di kantin kampus, Ella tampak sibuk dengan ponselnya. Dan dihadapannya terdapat Queen yang juga tengah asih bermain gawai.


"Gila! Kalian beneran pacaran?" Seru Ella saat melihat berita terkini di beranda kampus. Gosip tentang hubungan Queen dan Sean menyebar begitu cepat di kampus, dan itu semua perbuatan Sean tentunya. Yang ingin membungkam mulut pedas para netizen agar tidak menghakimi kekasihnya.


"Hm." Queen mengangguk yakin. "Sekarang tidak ada lagi yang berani meremehkanku. Enak saja aku dikatai sugar baby."


Ella tertawa renyah. "Aku rasa kau harus meneraktirku. Bagaimana jika malam ini kita rayakan kebahagian ini? Kita pergi ke club."


"Ck, hari ini jadwalku penuh."


Ella menghela napas pelan. "Ayolah, malam ini saja. Besoknya jadwalmu kan kosong."


"Baiklah." Queen menyerah.


"Jangan lupa undang kekasihmu. Sekarang kau bukan jomblo lagi.


"Iya."


Ella tersenyum senang dan langsung memeluk Queen. "Aku menyayangimu."


Queen terdiam sejenak. "Ell, apa menurutmu aku terlalu jahat karena menerimanya menjadi kekasihku? Sedangkan aku sendiri tidak mencintainya. Bukankah aku terkesan memanfaatkannya?"


Ella mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, tergantung seperti apa kau menanggapinya."


Queen tampak berpikir. "Aku sama sekali tidak berniat seperti itu. Kau sendiri yang bilang aku harus memikirkan masa depanku bukan? Aku ingin membuka lembaran baru."


"Jadi... kau akan melupakan Unclemu itu?"


Queen terdiam.


Ella meraih tangan Queen dengan lembut. "Perlahan kau akan melupakannya."


Queen menatap Ella sendu. "Apa aku terkesan jahat karena menjadikannya pelampiasan?" Tanyanya lagi.


Ella tersenyum. "Aku rasa Sean tidak keberatan seandainya kau memanfaatkan dirinya. Dia itu tipe lelaki bucin. Bahkan tahu semua soal hidupmu. Dia pasti bisa merebut hatimu cepat atau lambat. Percayalah."


Queen mengangguk pelan.


"Sekarang kau harus memikirkan kekasihmu, bukan orang lain. Fokuskan pikiranmu pada kebaikannya. Perlahan kau akan terbiasa dengan keadaan."


Queen kembali mengangguk dan memeluk Ella dengan erat. "Aku akan berusaha mencintainya."


"Aku selalu mendukungmu, percayalah semuanya akan baik-baik saja."


"Thank you, kau selalu ada saat aku butuh."


"You are my best friend."

__ADS_1


"Aku menyayangimu, Ell."


"Tapi aku tidak."


"Ell!"


****


Suara dentuman musik di sebuah club ternama terdengar begitu nyaring. Namun semua itu seolah menjadi hiburan tersendiri bagi para pengunjung.


Di sebuah ruangan VIP terlihat dua pasang kekasih duduk di sebuah sofa panjang. Tiga di antara mereka terlihat mabuk setelah menghabiskan beberapa gelas minuman beralkohol. Mereka tak lain adalah Queen, Bara dan Ella. Sedangkan Sean masih belum mabuk karena hanya meneguk sedikit wisky.


"Berhenti minum." Sean merebut gelas berisi minuman dari tangan kekasihnya.


"Ck, aku masih ingin minum." Rengek Queen berusaha meraih gelas dari tangan kekasihnya itu. "Berikan itu padaku."


"Kau sudah mabuk berat. Ada apa lagi denganmu?" Sean menatap Queen lamat-lamat. Ada yang aneh dengan gadisnya itu.


"Sean. Dia menghubungiku." Queen membenamkan wajahnya di dada bidang Sean. "Dia menanyakan kabarku. Apa yang harus aku lakukan?"


Ya, sebelum berangkat tadi Juna memang sempat menghubungi Queen dan itu berhasil membuat perasaan gadis itu gamang.


Sean terdiam sejenak. "Apa yang dia katakan padamu?"


Queen mengangkat wajahnya, menatap iris biru sang kekasih. "Dia hanya menanyakan kabarku. Apa menurutmu aku harus senang atau sedih?"


"Tadi, sebelum kita berangkat." Jawab Queen memeluk Sean dengan erat. "Apa mungkin dia merindukanku, Sean?"


Sean mengeratkan rahangnya. Beruntung saat ini Queen sedang mabuk. Jika tidak mungkin ia akan menghukumnya karena berani membicarakan lelaki lain.


Akh sial! Aku cemburu.


"Sean." Queen mengangkat wajahnya. "Apa kau juga akan pergi dariku? Katakan padaku, apa kau sungguh-sungguh mencintaiku?"


Sean bisa melihat kesedihan di mata gadisnya itu. "Aku mencintaimu, sungguh."


Queen tersenyum lega. "Kau sangat manis. Bolehkah aku menciummu?"


Sean melirik ke samping, di mana Ella dan Bara tengah berciuman panas.


"Lakukanlah."


Queen tersenyum dan langsung menyambar bibir kekasihnya. Bahkan gadis itu dengan berani merangkak naik ke atas pangkuan Sean. Dan ciumana mereka pun semakin panas. Queen sedikit m*nd*s*h saat Sean memberikan gigitan kecil.


Sean menyudahi ciuman mereka karena tahu sang kekasih mulai kehabisan napas. Ia tersenyum geli saat melihat Queen terengah-engah dengan pipi yang merona. Sampai pandangan keduanya pun saling bertemu dan mengunci satu sama lain.


Sean mengusap lembut pipi Queen. "Kau harus melupakannya, hanya aku yang boleh menguasai pikiranmu."

__ADS_1


Queen malah tersenyum mendengarnya. Gadis itu benar-benar mabuk berat. "Tadi itu rasanya sangat manis."


"Benarkah?" Sean tersenyum tipis.


Gadis itu mengangguk pelan. Lalu menyentuh bibir seksi Sean dengan jemari lentiknya.


"Ayok pulang." Ajak Sean. Namun dengan cepat Queen menggeleng. "Aku masih mau di sini, bersamamu."


"Besok kau harus kuliah, sayang."


"Aku tidak mau kuliah." Queen merengek seperti anak kecil yang kemudian membenamkan wajahnya di leher Sean.


"Harum sekali." Rancaunya sambil memberikan kecupan lembut di sana. Sontak Sean pun memejamkan mata. Dengan susah payah ia menahan gejolak dalam dirinya demi gadis yang dicintainya itu.


"Berhenti melakukan hal itu. Aku bisa khilaf." Bisik Sean mendorong bahu Queen dengan lembut.


Queen malah tertawa renyah. "Apa kau pernah bercinta?"


Sean terkejut mendengar pertanyaan konyol kekasihnya itu. "Kita pulang."


"Ck, kau belum menjawab pertanyaanku, Sean sayang. Apa kau pernah bercinta?"


"Tidak." Sahutnya jujur. Selama ini Sean memang tidak pernah menyentuh wanita mana pun. Pernah sekali ada wanita yang ingin menjebaknya dengan memasukkan obat perangsang. Alhasil keesokan harinya wanita itu mati mengenaskan. Sedangkan dirinya merendam diri semalaman penuh di dalam air dingin. Sampai akhirnya ia pun jatuh sakit.


Mungkin bisa dikatakan Queen adalah gadis beruntung karena berhasil mencuri hati lelaki itu.


"Lelaki tampan sepertimu tidak pernah bercinta? Itu mustahil. Aku tidak percaya. Berapa wanita yang kau tiduri huh? Sepuluh, lima puluh atau...."


Sean membungkam bibir gadis itu menggunakan bibirnya. Mencecap bibir manis itu begitu dalam dan penuh penuntutan. Tidak ada penolakan dari gadisnya itu, justru Queen tampak menikmatinya. Dan itu membuat Sean semakin bergairah.


Queen terkekeh lucu saat tangan Sean menyelusup ke dalam dress mini yang dikenakannya. "Itu geli tahu."


"Kau yang terus menggodaku, jadi jangan salahkan aku kali ini." Bisik Sean.


Queen mengerucutkan bibirnya. "Aku ingin tahu rasanya bercinta. Banyak yang bilang itu sangat menyenangkan. Apa kau ingin mengajarkan padaku caranya bercinta?"


Sean tersenyum sambil berbisik. "Tentu saja, tapi tidak untuk saat ini. Menikahlah denganku, setelah itu aku akan mengajarkanmu caranya bercinta."


"Hiks... aku ingin sekarang." Rengeknya seraya memukul dada Sean.


"Kau harus dalam kondisi sadar saat kita melakukan penyatuan. Agar kau selalu mengingat semua kenangan indah yang kita lakukan."


"Tapi... aku tidak mau menikah. Aku kan masih sangat muda. Aku belum berkeliling dunia, bekerja dan menikmati masa mudaku."


Sean tersenyum. "Kita bisa berkeliling bersama."


"Hm." Queen mengangguk sambil memeluk Sean. Tidak lama terdengar suara dengkuran halus yang menandakan ia sudah tertidur.

__ADS_1


"Kau sangat menggemaskan, gadis kecil." Sean mengecup kening Queen sebelum membawanya pergi dari sana. Sedangkan Queen terus mendengkur dalam gendongan lelaki itu.


__ADS_2