Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Penolakan Keluarga Juna


__ADS_3

Sudah dua hari penuh Juna menemani Faizah di rumah. Namun, Faizah merasa tidak ada yang spesial. Karena Juna lebih sering menghabiskan waktu di depan laptop ketimbang dirinya. Seperti sekarang ini, Juna masih sibuk dengan pekerjaanya. Mengabaikan Faizah yang merasakan sakit dipinggang dan perutnya.


"Ssttt...." Faizah mendesis karena perutnya nyeri saat ia hendak ke kamar mandi. Sontak Juna pun menoleh.


"Mau ke mana sih? Kan saya udah bilang jangan banyak gerak. Jangan bandel, Izah."


"Aku kebelet, masak iya pipis di kasur." Ketua Faizah. "Bukannya dibantu, ini malah diomelin."


Juna menghela napas, kemudian bangkit dan membantu istrinya ke kamar mandi. "Saya udah bilang jangan banyak gerak, gini kan jadinya. Kalau dibilangin itu nurut."


"Ih... kok kamu ngomel terus sih, Mas. Kalau gak mau anter gak usah, aku bisa sendiri." Sebal Faizah.


"Ini yang saya gak suka dari kamu, kalau dibilangin itu selalu ngejawab. Dosa ngelawan suami."


Faizah tidak menyahut lagi karena kepalanya pusing.


"Apa saya harus ikut masuk?" Tanya Juna.


"Gak usah." Faizah pun langsung menutup pintu kamar mandi. Hampir saja hidung mancung Juna dicium sama daun pintu kalau saja ia tidak buru-buru mundur.


"Haish... dosa apa aku punya istri modelnya kayak gini."


"Gak usah ngomel, aku denger Mas." Teriak Faizah dari dalam. Membuat Juna kaget tentunya.


Lah, tajam juga telinganya.


"Kalau udah panggil aja. Kerjaan masih nanggung." Juna pun kembali ke meja kerjanya. Melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.


Di kamar mandi, Faizah menangis sesegukkan. "Mammy, Fai pengen pulang. Tapi udah malem. Ternyata jadi istri itu gak enak. Apa lagi gak dianggap, istrinya lagi sakit dia malah sibuk kerja. Padahal aku kan gak minta dinikahin. Apa benar aku ini beban? Huhuhu...."


Juna terkejut mendengar suara tangisan istrinya. Cepat-cepat ia bangun dan melangkah pasti menuju kamar mandi. Karena tidak dikunci, Juna pun langsung masuk. Sontak Faizah pun kaget dan langsung menghentikan tangisannya meski masih sesegukkan.


"Kamu kenapa? Sakit lagi?" Panik Juna.


Faizah menggeleng. "Gak papa."


Juna menatap istrinya lekat. "Kamu kenapa, Izah?" Kali ini lebih tegas.


"Aku gak papa, Mas." Faizah membasuh wajahnya pelan.


"Ngomong, Izah. Saya bukan cenayang yang bisa paham isi hati kamu." Kesal Juna. Spontan Faizah berbalik.


"Aku kesel sama kamu, Mas. Aku lagi sakit, tapi kamu malah sibuk kerja. Bahkan kamu gak nanya apa aku lapar atau enggak. Aku juga pengen diperhatiin, Mas. Kamu perhatian banget sama istri orang, sedangkan istri sendiri kamu lupain. Aku tahu, aku ini cuma beban dihidup kamu, Mas." Sembur Faizah kembali terisak. Juna pun kaget mendengarnya.


"Kamu kira aku gak tahu, kamu masih hubungin anaknya Mr. Michaelson kan? Kamu masih cinta sama dia. Bahkan kamu kasih nama dia my princess." Imbuh Faizah.


"Kamu buka hp saya?"


"Iya, kenapa? Kamu marah? Marahin aja. Aku udah bisa dimarahin sama kamu." Faizah memukul Juna dan berlalu begitu saja.

__ADS_1


"Izah." Juna mengusap wajahnya dengan kasar karena frustasi.


Faizah duduk di bibir ranjang sambil memegangi perutnya yang sakit. Karena emosi ia lupa soal kondisinya.


"Aku mau pulang, Mas." Pinta Faizah saat Juna menghampirinya. Juna mengerutkan dahi.


"Pulang ke mana?


"Ke rumah Mammy."


Juna menghela napas berat. "Besok aku antar."


Eh?


"Kamu gak larang aku pulang?"


"Buat apa saya larang? Kamu bebas mau pulang kapan aja, Izah. Itu kan rumah orang tua kamu."


Jadi aku beneran beban ya buat dia? Sampe dia semangat banget buat antar aku pulang.


Faizah mendengus sebal dan langsung berbaring membelakangi Juna. Tentu saja hal itu membuat Juna semakin bingung. Ia pun menggeleng, lalu hendak kembali ke meja kerjanya.


"Aku bakal lama di sana." Ucap Izah berhasil menahan langkah Juna. "Aku butuh seseorang buat ngurus aku sekarang. Maaf kalau aku udah nyusahin kamu, Mas."


Juna tertegun di tempatnya.


"Aku juga butuh perhatian." Imbuh Faizah.


"Gak papa, kamu gak usah peduliin aku lagi. Aku bisa jaga diri sendiri. Kalau emang kamu kepaksa banget nampung aku di sini...." Faizah menggigit bibirnya. "Kita pisah aja."


"Izah, tolong jangan buat saya pusing."


"Maaf, mulai besok aku gak akan buat kamu pusing lagi. Aku bakal urus surat cerai kita." Faizah pun memejamkan matanya.


"Izah." Juna menatap punggung istrinya lamat-lamat. Namun tidak ada sahutan.


Ada apa dengannya? Kenapa dia jadi aneh gini sih? Ah, sejak kapan dia gak aneh. Tiap hari juga aneh, paling besok balik lagi kayak semula.


Tidak ingin ambil pusing, Juna pun kembali ke meja kerjanya. Meski sesekali ia melirik Faizah yang memunggunginya.


Hah, harus ekstra sabar punya istri anak-anak. Ck, dibilang anak-anak juga bentar lagi bakal kasih anak. Bikin pusing aja.


****


Keesokan harinya, Juna benar-benar mengantar Faizah ke rumah mertuanya. "Kalau kamu udah puas temu kangennya, telepon saya. Nanti saya jemput."


"Gak usah, Mas. Kita ketemu aja di pengadilan nanti."


Juna terkejut. Jadi dia masih marah?

__ADS_1


"Izah, saya gak pernah niatan buat cerai."


"Tapi aku pengen, Mas. Aku gak mau jadi beban terus."


Dahi Juna mengerut. "Kamu dari malem kenapa aneh banget sih? Itu-itu aja yang kamu bilang. Ngomong yang jelas di mana salah saya, Izah."


Mendengar itu tangisan Faizah pecah. Sontak Juna pun kaget. Dan tanpa sadar tangannya terulur untuk menyentuh pipi mulus istrinya. Bahkan menyapu jejak air mata Faizah.


"Izah, ngomong sama saya. Ada apa sebenarnya huh?" Kali ini Juna melembutkan suaranya. Faizah semakin terisak.


"Halley bilang aku ini cuma beban buat kamu, Mas. Aku sama sekali gak ada niat buat jadi beban kamu. Bahkan keluarga kamu juga hubungin aku buat ninggalin kamu. Mereka bilang sejak kamu nikahin aku, kamu gak fokus sama keluarga dan lebih mentingin aku, mereka bilang aku mau rebut kamu dari Halley. Aku gak ada niat gitu, Mas. Lebih baik kita cerai aja. Keluarga kamu gak nerima aku, Mas." Jelas Faizah apa adanya. Tentu saja Juna kaget.


"Mana hp kamu?"


Faizah mendongak. "Buat apa?"


"Mana, kasih ke saya, Izah."


Dengan ragu Faizah mengambil ponselnya dan memberikan itu pada Juna.


"Sandinya?"


"Tanggal nikah kita."


Tanpa banyak berpikir lagi Juna membuka ponsel istrinya. Lalu melihat riwayat obrolan sang istri di WhatsApp. Alis Juna terangkat saat melihat begitu banyak makian keluarganya untuk sang istri. Bahkan tidak jarang dari mereka yang meminta Faizah pergi. Pantas saja istrinya itu bersikap aneh. Dan yang membuat Juna kecewa Halley juga malah ikutan mengatai Faizah.


"Kenapa kamu gak bilang kalau mereka nyerang kamu kayak gini, Izah?" Juna mengenbalikan ponsel itu pada istrinya.


Bibir Faizah bergetar. "Aku gak mau kamu ribut sama keluarga kamu, Mas. Lebih baik aku yang ngalah. Halley juga nolak aku dari awal kan? Aku tahu kamu sayang banget sama dia. Tolong jangan kecewain dia dengan terus jadiin aku istri kamu, Mas."


Juna menggeleng. "Gak, Halley gak pernah bersikap kayak gini. Pasti dia kena bujukan yang lainnya. Kita lurusin ini semua, ya?"


Faizah menatap Juna lekat. "Sebaiknya kita cerai aja, Mas. Jangan ribut sama keluarga kamu. Kamu bisa cari istri yang sesuai dengan keinginan mereka. Aku gak pantes sama kamu. Mas gak perlu cemas, aku gak akan halangin kamu buat ketemu anak kita nantinya. Maaf ya, Mas. Aku udah bikin hidup kamu kacau."


"Izah." Juna menatap Faizah lekat.


Faizah meraih tangan Juna. Lalu dikecupnya cukup lama. "Maaf kalau selama ini aku sering ngelawan kamu, Mas. Aku emang belum siap nikah sebenernya. Aku pamit ya, Mas. Kita ketemu lagi di persidangan nanti." Setelah mengatakan itu Faizah pun beranjak turun.


"Izah." Panggil Juna. Sontak Faizah pun menoleh.


"Tenangin diri kamu dulu. Nanti saya jemput lagi."


"Mas." Faizah menatap Juna sendu.


"Jangan terlalu banyak aktivitas, obatnya juga jangan lupa diminum."


Faizah termangu di tempatnya. Dan mobil Juna pun bergerak meninggalkan pekarangan rumah. Seketika tangisan Faizah pun pecah.


Kenapa sakit banget, Mas. Apa aku udah jatuh cinta ya sama kamu? Kenapa juga kamu malah ngasih perhatian di saat kayak gini? Dasar Mr. Arogan.

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2