Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Sugar Baby


__ADS_3

Di dalam kamar, Queen membuka sebuah kotak berukuran sedang. Seulas senyuman terbit di bibirnya yang tipis. Lalu ia mengeluarkan benda-benda yang ada di dalamnya. Termasuk sebuah kalung kesayangannya sejak kecil. Hadiah pemberian Juna.


"I miss you, uncle. Bahkan sampai detik ini kau tidak pernah sekali pun menghubungiku. Padahal kau tahu aku hancur bukan? Apa sebegitu tidak pedulinya dirimu padaku? Setidaknya tanyakan kabarku meski hanya sekedar basa-basi." Queen menitikan air matanya sambil memeluk benda itu. "Kau benar-benar jahat."


"Bagaimana caranya aku bisa melupakanmu? Setiap detik kau selalu hadir dalam ingatanku, meski aku sudah berusaha menepisnya. Sakit rasanya saat aku berusaha ceria, sedangkan hatiku terluka saat mengingat kau sudah menjadi milik wanita lain. Aku ingin membencimu seumur hidup." Tangisannya pun pecah. Tubuhnya bergetar hebat karena rasa sesak didadanya.


"Katakan padaku bagaimana caranya supaya aku membencimu. Katakan, Uncle. Karena aku tidak bisa melakukan itu." Imbuhnya dengan dada yang semakin sesak.


Queen berbaring sambil memeluk semua barang pemberian Juna. Ia terus menangis sampai lelah sendiri dan akhirnya tertidur.


Setelah Queen tertidur pulas, Zain pun masuk ke kamar. Lalu duduk di sebelah putrinya itu. Sejak melepaskan Queen ke negara asing, Zain memang sulit tidur malam. Terutama ia selalu mengawasi setiap pergerakkan putrinya di mana pun berada. Termasuk apa yang tadi Queen katakan, Zain mendengar dan menyaksikannya dari cctv yang sengaja ia pasang.


"Kau akan mengerti jika waktunya tiba, sayang. Maaf, Daddy tidak bisa membantumu untuk bersama orang yang kau cintai." Zain memberikan kecupan di kening putrinya. "Daddy selalu berharap kamu bahagia dengan apa yang akan terjadi kedepannya."


Zain menarik selimut, lalu menyelimuti putrinya dengan hati-hati karena tidak ingin membangunkannya. Setelah itu ia pun beranjak keluar.


Pagi harinya, Queen terbangun dengan mata bengkak dan rambut yang semraut. Gadis itu terus menguap sambil keluar dari kamar untuk mengambil air minum karena stok di kamar habis.


"Mommy, Daddy. Kalian belum bangun?" Teriaknya sambil terus menguap. Lalu ia pun mengisi botol minumnya dengan mata terpejam karena masih sangat mengantuk.


Mungkin Queen lupa jika di sana ia masih punya tamu spesial. Sejak tadi Sean memang sudah terbangun dan duduk di ruang makan sambil minum kopi. Lelaki itu tersenyum geli saat melihat penampilan Queen yang jauh dari kata elegan. Bahkan gadis itu terkantuk-kantuk dan kepalanya hampir terbentur dispenser.


Karena tidak sanggup menahannya lagi, Sean pun tertawa lucu. Sontak saja Queen kaget dan langsung segar. Lalu ia pun menoleh ke sumber suara.


"Kyaaaa...." teriak Queen yang berhasil membuat semua penghuni berlari ke dapur.


"Ada apa, sayang?" Tanya Rea menghampiri Queen dengan panik.


"Itu." Queen menunjuk ke arah Sean yang terlihat santai seolah tidak terjadi apa-apa. Zain dan King yang tadinya kaget pun sama-sama menghela napas berat dan kembali ke tempat masing-masing.


Rea pun menoleh ke arah Sean. "Kenapa dengan Sean?" Tanya Rea bingung.


"Kenapa dia ada di sini?" Lirih Queen seraya merapikan rambutnya.


"Ya ampun, sayang. Kamu lupa Sean nginap di sini?"


Queen terdiam beberapa saat. "Ck, aku lupa Mom. Tapi dia seperti hantu, tiba-tiba ada di sana."


Rea menepuk lengan putrinya lumayan keras. Membuat sang empu meringis kesakitan.


"Makanya kalau bangun tidur itu jangan langsung bangkit dan jalan-jalan. Kumpulin dulu nyawanya. Cuci muka biar cepet sadar. Lagian dari tadi juga Sean di sana."


"Tapi gak kelihatan, Mom." Kesal Queen.


"Mana kelihatan, kamunya merem. Bikin kaget aja tahu gak? Mommy pikir ada apa tadi? Udah ah, Mommy lagi santai juga malah kamu ganggu."


"Ya maaf. Salahkan saja dia karena membuatku kaget." Queen menjulurkan lidahnya ke arah Sean. Rea yang melihat itu pun kembali menepuk lengan Queen. Sontak gadis itu pun menghentakkan kakinya seperti anak kecil. Kemudian kembali ke kamar dengan langkah kesal. Sean yang melihat itu pun tersenyum geli.


"Maaf atas sikap kekanakan Queen ya?" Ucap Rea pada Sean.


"Tidak apa-apa."


"Ya sudah, santai aja."


"Sepertinya aku harus pulang, Mom." Sean melirik arloji di tangannya. "Kebetulan aku ada meeting pagi ini."


"Owh, tidak ingin sarapan bersama dulu?"


"Tidak usah, aku harus ke kantor pagi-pagi."


"Baiklah, hati-hati di jalan. Tidak perlu menunggu anak itu keluar. Dia pasti tidur lagi."


Sean tersenyum. "Ya. Kalau begitu aku pamit."


Sean bangkit, lalu ia pun bepamitan pada yang lainnya sebelum benar-benar pergi. Kecuali Queen tentunya.


Satu jam kemudian, Queen keluar dari kamar. Gadis itu sudah rapi dan siap berangkat ke kampus.

__ADS_1


"Mom, Dad." Panggilnya seraya berjalan menuju ruang makan dan duduk di sana. Namun ia keheranan karena tidak menemukan Sean di sana.


Tidak lama Rea pun muncul. "Sarapan dulu, Mommy buatkan nasi goreng."


"Hm." Sahut Queen sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Sean. Rea yang menyadari itu pun tersenyum.


"Sean sudah pulang." Kata Rea seraya menuangkan susu ke dalam gelas Queen.


"Pulang? Tapi dia tidak pamit padaku."


Rea tersenyum lagi. "Jika dilihat dari sikapmu tadi. Mana mungkin dia berani menemuimu."


Queen menghela napas. "Tadi itu sangat memalukan, Mom. Aku tidak biasa ada orang asing di rumah kita."


"Kau harus terbiasa, bagaimana jika nanti kalian menikah?"


Queen terdiam sejenak. "Aku tidak akan menikah sampai kuliahku selesai." Putusnya dengan nada tak semangat.


"Lakukan apa yang kau mau, kejarlah mimpimu, ratuku." Ujar Zain yang ikut bergabung.


"Kau mau sarapan?" Tanya Rea pada sang suami.


"Boleh."


Zain menatap putrinya lekat. Ia masih mengingat kejadian malam tadi. Digenggamnya tangan sang putri erat. Queen pun merasa kaget. Ditatapnya sang Daddy penuh tanya.


"Apa kau bahagia?"


Queen tersenyum yang diiringi anggukkan kecil. Digenggamnya tangan sang Daddy dengan erat. "Aku selalu bahagia, Dad."


Zain terdiam sejenak. "Daddy harap kau menjalani masa depan dengan baik. Dan... melupakan masa lalumu."


Queen menatap Zain lekat. Ia tahu tidak mungkin menyembunyikan apa pun dari Daddynya itu. Rea yang memahami pembicaraan mereka pun memilih diam.


"Tolong lupakan dia." Mohon Zain. Dan itu membuat Queen memalingkan wajah.


"Aku sudah mencoba, Dad. Aku sedang berusaha." Queen mencengkram erat tangan Zain. Hatinya begitu sakit saat menerima kenyataan dirinya tidak mampu menepis bayangan lelaki itu dari pikirannya.


"Daddy hanya ingin melihatmu bahagia, sayang."


Queen mengangguk. "Aku mencintaimu, Dad."


"Daddy juga mencintaimu."


"Mommy juga mencintaimu." Rea mencium pucuk kepala putrinya dengan lembut. Kemudian ia pun ikut duduk di sebelah sang suami.


Tidak lama King pun muncul, pemuda itu terlihat begitu rapi sampai membuat semuanya merasa heran.


"Pagi-pagi sudah rapi, mau kemana?" Tanya Rea.


King tersenyum dan ikut bergabung. Disambarnya gelas susu sang Kakak.


"Hey." Tegur Queen. Namun pemuda itu seolah tidak peduli dan tetap meneguknya sampai tandas. Membuat sang pemilik kesal setengah mati.


"Aku akan pergi ke SC Company."


"SC Company?" Tanya Queen bingung.


"Ya, Sean berjanji akan mengirim supir untuk menjemputku."


Queen mendengus sebal. "Dasar penjilat."


"Apa salahnya aku mengambil keuntungan darimu."


"Menyebalkan." Ketus Queen kembali menuangkan susu ke dalam gelasnya.


"Banyaklah belajar darinya, King. Manfaatkan kesempatan emas ini."

__ADS_1


"Ya, Dad. Aku akan menyerap semua ilmunya."


Queen memutar bola matanya malas karena paling tidak suka jika membahas masalah bisnis. Padahal ia sendiri mengambil jurusan itu.


"Aku pergi." Queen bangun dari duduknya. Kemudian mengecup pipi orang tuanya secara bergantian.


"Hati-hati di jalan, sayang." Seru Rea saat putrinya sudah tidak kelihatan lagi.


"Dia semakin dewasa." Puji Zain.


"Dewasa apanya? Tetap saja dia sangat kekanakan." Sinis King.


Rea dan Zain yang mendengar itu tertawa renyah.


****


Ella duduk di sebelah Queen yang sedang asik membaca buku di depan perpustakaan.


"Makan siang di resto yuk? Bosan makan di kantin terus." Ajaknya sedikit berbisik.


"Aku belum lapar." Sahut Queen dengan santai.


"Ayolah, kita punya banyak waktu." Bujuk Ella.


"Biasanya kau pergi dengan kekasihmu itu. Di mana dia?"


"Bara sedang ada urusan. Mau ya? Aku sudah memesan makanan favoritmu. Aku yang traktir deh."


Mendengar itu jiwa semangat Queen pun menggebu. "Kau serius?"


"Iya, aku serius."


"Jika makan garatis aku tidak akan menolak."


Ella pun langsung memeluk Queen sangking senangnya. "Kita pergi sekarang ya? Aku ingin bercerita banyak hal padamu."


"Soal apa? Jika masalah ranjangmu dengan Bara aku tidak mau dengar." Sinis Queen. Ella pun tertawa renyah mendengar itu.


"Kau belum tahu saja rasanya bercinta." Bisik Ella ingin menggoda Queen.


"Aku tidak tertarik."


"Kau akan tertarik jika sudah merasakannya, aku rasa milik kekasihmu itu sangat memuaskan."


Mendengar itu Queen pun langsung berhenti membaca. "Kekasih? Sejak kapan aku punya kekasih?"


"Ayolah, satu kampus heboh karena kau dijemput khusus oleh Sean Cameron. Lelaki itu begitu legendaris di negeri paman Sam harus kau tahu."


"Serius?"


"Hm." Ella mengangguk yakin. "Bahkan foto kalian masuk dalam berita panas di beranda kampus."


"Hah?" Queen cukup kaget mendengarnya.


"Lihat saja sendiri." Ella menunjukkan berita panas itu pada Queen. Benar saja, begitu banyak komentar-komentar nyelekit yang di tujukan padanya.


"Mereka bilang kau itu sugar baby Sean Cameron."


"Sialan." Umpat Queen tidak terima atas penghinaan itu. "Bahkan uangku bisa membeli mulut mereka."


Ella tertawa lucu. "Kau harus membuktikan jika berita itu salah. Katakan saja kau memang kekasihnya."


"Jangan gila."


"Hanya itu yang bisa membungkam mulut pedas mereka."


Queen terdiam cukup lama. "Aku akan membalas mereka satu per satu. Lihat saja. Enak sekali mereka mengatai aku sugar baby, mereka kira aku kekurangan uang apa?"

__ADS_1


Ella terkekeh lucu melihat wajah Queen yang merah padam karena emosi.


__ADS_2