Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Misi


__ADS_3

Hallo semuanya... maaf banget kemarin aku gak bisa update karena kondisiku kurang fit. Semoga kalian selalu setia menunggu. Selamat membaca.


...🌷🌷🌷🌷...


Bik Ade yang tengah melayani Nyonya dan Tuannya langsung mengerut bingung saat Abel muncul dengan penampilan yang tak seperti biasanya. Wanita itu hanya mengenakan pakaian tidur dengan satu tali, tidak seperti biasanya yang berpenampilan sopan. Bahkan dadanya yang besar terlihat begitu mencolok.


Ada yang aneh. Harus terus diawasi. Benih pelakor mulai kelihatan. Pikir Bik Ade. Namun ia tidak ingin ambil pasal soal itu karena saat ini ia tengah sibuk melayani Tuannya.


"Maaf aku terlambat," ucap Abel seraya ikut bergabung di meja makan di mana Rea dan Zain tengah bercengkrama. Abel menatap keduanya dengan pandangan yang sulit dipahami.


"Tidak apa-apa, santai saja." Sahut Rea tersenyum ramah.


Zain melirik wanita itu sekilas, dan setelahnya ia fokus kembali pada sang istri. Mengusap lembut perut istrinya. "Masih mual?"


Rea mengangguk. "Aku rasa baby tidak suka minum susu. Setiap kali aku minum selalu saja mual. Apa boleh diganti dengan jus?"


Zain menatap Rea curiga. "Jangan jadikan baby sebagai alasan. Aku tahu kau hanya mengada-ngada."


Rea tersenyum malu karena ketahuan berbohong. "Besok jadwal cek up. Kau harus menemaniku, okay?"


"Aku akan manjemputmu siang besok."


Abel melirik keduanya sekilas. Ia merasa seperti orang ketiga yang sama sekali tidak dianggap di sana. Ada sedikit perasaan kesal sebenarnya, tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia sadar dirinya hanya menumpang di sana.


Rea memandang Abel dengan senyuman menawan. "Besok kau juga harus ikut, kita akan mampir ke rumah Mami. Mami ingin bertemu denganmu."


Abel sempat terkejut mendapat tawaran emas dari Rea. Tanpa ragu lagi ia pun mengangguk. Dan itu membuat senyuman di bibir Rea semakin mengembang.


"Besok Abel naik mobil lain bersama Juna. Kita pakai mobilmu saja." Kata Zain dengan santainya.


Mendengar itu raut wajah Abel pun langsung berubah. Rea menatapnya lekat. "Kau keberatan, Bel?"


Abel terhenyak. "Eh? Enggak kok, aku sama sekali gak keberatan sama sekali." Sambil tersenyum lebar.


Rea mengangguk yang diiringi dengan senyumannya yang khas.


"Makanlah." Titah Zain menuangkan nasi dan lauk ke dalam piring Rea.


"Terima kasih, sayang." Ucap Rea dengan tulus.


"Apa rumah Tante jauh?" Tanya Abel menatap Rea dan Zain bergantian.


"Tidak juga, hanya tiga puluh menit." Jawab Rea.


Abel pun mengangguk paham.


"Ah iya, soal pekerjaan. Aku sudah mengatur pekerjaan untukmu. Kau bisa bekerja di hotel temanku. Datangi saja hotel Blitz Hall. Katakan aku yang merekomendasikanmu. Aku juga sudah menyiapkan apartemen, tidak jauh dari hotel." Zain menatap Abel sekilas.


Sedangkan Rea menatap Abel lekat. "Bagaimana? Kau senang kan?"


Abel tersenyum, senyuman kecut tentunya. "Aku ikut saja bagaimana baiknya. Tidak selamanya aku terus berada di sini bukan?"


"Tinggal saja di sini seminggu lagi. Setelah pindah nanti tidak perlu sungkan untuk singgah. Lagi pula minggu ini aku masih di rumah. Atau mungkin kau ingin tinggal di rumah Mami?" Tawar Rea.


Bagaimana ini? Aku belum siap hidup sendiri di luar sana. Apa aku buat saja alasan supaya bisa menetap di sini? Pikir Abel sambil tersenyum simpul.


"Apa aku boleh tinggal di sini sampai aku tahu betul bagaimana seluk beluk kota? Aku masih sangat takut, tapi aku berjanji akan pindah secepatnya. Untuk sekarang rasanya aku belum berani. Apakah boleh?"


Rea dan Zain pun saling memandang.


"Tidak jadi masalah." Sahut Rea. Abel pun tersenyum senang mendengarnya.

__ADS_1


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Tidak ada lagi pembicaraan lanjutan setelahnya. Ketiganya fokus menyelesaikan makan malam mereka.


****


"Informasi apa yang kau dapat?" Tanya Zain pada Juna.


"Nona Zee benar-benar sudah menikah dan meninggalkan negara ini seminggu yang lalu. Tidak ada yang mencurigakan, suaminya seorang pengusaha sukses yang sudah lama menetap di London."


Zain mengangguk paham. "Pastikan dia tidak mengganggu istriku lagi. Aku tidak ingin terjadi hal buruk padanya. Kirim pengawal rahasia saat istriku berangkat ke London minggu ini. Percepat pertemuan hari ini, aku sudah punya janji dengannya."


"Baik." Juna pun sedikit membungkuk sebelum pergi dari sana.


Zain menghela napas, menyandarkan punggungnya di kepala kursi. Detik berikutnya ia tersenyum tipis. "Kenapa aku mendadak rindu padanya? Ck, dasar pangacau."


Zain bangkit dari tempatnya, merapikan pakaian dan bergegas menuju ruang meeting. Ia sudah tidak sabar untuk segara pulang dan menjemput sang istri.


Usai meeting, Zain benar-benar meninggalkan perusahaan. Juna tersenyum tipis saat sesekali ia memergoki Zain mesem-mesem sendiri. Bahkan lelaki itu terus mengusap cincin pernikahannya.


"Dulu siapa yang menolak? Sekarang siapa yang kalap?" Ledek Juna. Zain yang merasa tersindir pun mendengus sebal. Sedangkan Juna malah tertawa renyah.


"Sudah aku katakan jangan asal bicara, kau akan termakan ucapanmu sendiri. Lagipula Rea wanita cantik dan baik. Aku saja rela jika dia menjadi istriku."


Zain mendelik. "Berani sekali kau! Jangan pernah memikirkan wanitaku. Pikirkan saja wanitamu." Kesal Zain. Lagi-lagi Juna tertawa renyah.


"Kau sangat lucu. Aku seperti kehilangan teman lama. Sekarang yang ada hanya lelaki bucin."


"Berhenti bicara." Sinis Zain yang tak terima dikatai. Dan itu membuat Juna samakin terpingkal-pingkal. Namun tiba-tiba saja sebuah mobil menghantam mobil mereka.


Mobil milik Zain pun terseret begitu jauh. Lebih parahnya lagi mobil asing itu menghantam sisi kanan tepat di mana Zain duduk. Juna yang masih sadar pun melihat ke belakang di mana Zain sudah tidak sadarkan diri dengan bersimbah darah. Bahkan sang supir pun sudah jatuh pingsan.


"Zain!" Teriak Juna bergegas turun dari mobil. Dan segera membawa Zain keluar dari sana. Juna berusaha untuk tidak panik dan segera menghubungi ambulan.


Tidak butuh waktu lama ambulan tiba, Zain dan sang supir pun dilarikan ke rumah sakit.


Di rumah sakit...


Rea berlari kecil menghampiri Juna.


"Bagaimana keadaannya?" Terlihat jelas raut panik di wajahnya.


"Operasi masih berlangsung." Jawab Juna menatap Rea lekat. "Maafkan aku karena tidak bisa melindunginya."


Rea mengangguk kecil. "Kau bukan malaikat yang bisa melindungi seseorang. Aku tidak menyalahkanmu. Kau sudah menyelidikinya?"


"Ya, murni kecelakaan."


Rea duduk di kursi dengan pandangan yang mengarah ke ruang operasi. "Pantas saja sejak tadi pagi perasaanku tidak enak. Aku harap dia baik-baik saja, aku tidak siap kehilangannya, Jun."


"Dia tidak akan meninggalkanmu."


Rea mengangguk, berusaha meyakinkan hatinya. Bohong jika ia tidak takut, takut akan kehilangan sosok cintanya. Sebelumnya Juna memang sudah menjelaskan kondisi Zain padanya. Namun Rea tak ingin menangis dan meraung tidak jelas karena itu tidak akan mengembalikan keadaan. Kini keduanya terdiam dalam kecemasan.


"Sayang." Elsha yang baru tiba dengan sang suami pun menghampiri Rea.


Rea bangkit, lalu memeluk Ibu mertuanya dengan erat tanpa sepatah kata pun.


"Zain akan baik-baik saja, jangan terlalu cemas. Dia lelaki hebat, kamu tahu itu kan?"

__ADS_1


Rea mengangguk kecil, mempererat dekapannya.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" Tanya Jackson pada Juna.


"Kejadian begitu cepat. Sulit dijelaskan, Tuan. Mobil asing itu tiba-tiba saja menabrak mobil kami. Dan naasnya posisi Zain lah yang terkena hantaman."


Jackson menghela napas berat. "Aku percaya putraku bisa melewati semuanya." Mengalihkan pandangan pada sang menantu. "Dia baik-baik saja."


Rea mengangguk lagi, namun ia tak mampu berucap. Menahan rasa sedih bercampur resah yang tengah membuncah didadanya.


Menit demi menit berlalu, dokter pun membawa Zain keluar dari ruang operasi. Hati Rea terenyuh saat melihat kondisi sang suami. Di mana banyak sakali lembam di wajah tampannya.


Aku harap kau baik-baik saja, Kak. Aku mencintaimu. Batin Rea.


****


Rea terus memandangi wajah suaminya yang sedikit memucat. Sudah hampir tiga hari Zain belum sadarkan diri. Lelaki itu mengalami cedera berat di bagian bahu dan lehernya. Sedih, itulah yang saat ini Rea rasakan. Tetapi hebatnya ia sama sekali tidak meneteskan air mata sejak hari naas itu.


"Apa rumah sakit lebih nyaman untukmu? Tiga hari kau terus mengabaikanku. Kau jahat." Rea bergumam seraya mengusap pipi lembam sang suami. "Kau tidak merindukanku, Kak?"


Cukup lama Rea terdiam. "Aku sangat merindukanmu." Dikecupnya pipi sang suami. "Cepat bangun."


Rea berbaring disisinya, memeluk tubuh kekar itu dengan penuh kasih sayang. "Aku bosan tahu bicara sendiri. Setiap hari aku mengoceh, kau masih saja diam membisu. Apa aku terlalu banyak bicara sampai kau tidak mau mendengar ocehanku lagi?"


Setiap saat Rea selalu mengajak suaminya itu bicara. Berharap Zain bangun dan menanggapi ucapannya. Namun itu semua hanya bayanganya, karena Zain tak kunjung membuka mata.


Lain halnya dengan di rumah, Abel terus modar-mandir tidak jelas. Sesakali ia menatap ponselnya yang tergelatak di atas pembaringan.


Sial! Kenapa dia belum menghubungiku? Gerutunya dalam hati. Tidak ponselnya pun berdering, seseorang yang ditunggu-tunggu akhirnya menghubungi juga.


Dengan kesal Abel menerima panggilan itu.


"Brengsek! Aku sudah menghubungimu sejak beberapa hari lalu. Kemana saja kau?"


Terdengar suara tawa dari seberang sana. "Ada apa? Kau merindukanku huh?"


"Lupakan itu. Apa yang kau rencanakan sebenarnya huh? Ini jauh dari kesepakatan kita."


"Sudah aku katakan padamu, waktumu hanya sedikit. Aku tidak suka kau bermain-main. Aku memberikan tugas padamu dengan harga mahal, tapi kau malah menaruh hati pada target. Aku memintamu untuk memisahkan mereka. Bukan menggoda lelaki itu. Ini peringantan untukmu, sayang."


Abel menggeram kesal. "Kau pikir mudah memisahkan mereka huh? Bahkan mereka seperti premen karet di mana pun berada. Menyebalkan."


"Hahaha... kau saja yang bodoh. Pikirkan lagi cara terbaik. Aku beri waktu seminggu. Atau lelaki itu akan mati ditanganku."


Sialan! Dasar brengsek! Lihat saja, aku akan membalasmu.


"Mari ubah kesepakatan, aku ingin lelaki itu. Dan kau bebas memilikinya. Bagaimana?"


Lagi-lagi suara tawa menggelar di balik sana. "Kau yakin bisa menggodanya? Aku rasa dia tidak akan tergoda dengan tubuhmu. Bahkan caramu bermain sangat membosankan."


"Kau...." Abel sengaja menahan ucapannya. Percuma ia marah, orang itu tak akan bisa di ajak kompromi.


"Ingat! Waktumu terbatas. Jika gagal, nyawamu menjadi taruhan."


Abel memejamkan mata. "Aku akan berusaha."


"Bagus, hubungi setelah misi berhasil. Aku tidak suka kegagalan." Tut... tut... tut.


Abel melempar ponselnya ke atas ranjang sangking kesalnya. Kemudian beranjak menuju kamar mandi dengan emosi yang meledak-ledak.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2