
Kayaknya banyak banget yang udah gak sabar pengen nyaksiin Zayn nyidang Sean sama Queen. Kalian harus sabar dong, semuanya butuh proses. Akan ada waktunya kok. Hehe
****
Queen tersenyum sambil memandang wajah Sean. "Morning." Sapanya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Sean pun membuka matanya. "Morning, honey."
Queen tertawa kecil saat melihat Sean masih terlihat mengantuk.
"Sayang, aku lapar. Ayok bangun dan masak seuatu untuk kita sarapan. Aku juga ingin belajar masak."
Sean tersenyum. "Tidak perlu, aku tidak rela tanganmu kasar karena bermain di dapur. Lagi pula di mansion banyak maid yang akan menyiapkan segalanya."
"Ck." Queen menyebik. "Kalau begitu aku ingin menjadi seorang model, apa boleh?"
Sean mengerut. "Model?"
"Ya."
"Kenapa harus model? Cari perkerjaan lain. Aku tidak suka kecantikanmu dinikmati banyak orang."
"Ish... dasar pacar pelit."
"Terserah kau ingin mengataiku pelit atau apalah itu. Yang jelas aku tidak akan pernah mengizinkanmu menjadi seorang model. Jadilah satu-satunya model hot di ranjangku." Setelah mengatakan itu Sean pun tersenyum geli.
"Sean!" Wajah Queen merah padam karena malu.
Sean tertawa renyah melihatnya. "Sudahlah, sebaiknya kita mandi dan setelah ini sarapan."
Queen mengangguk pelan. "Gendong." Rengeknya seperti anak kecil.
"Dasar anak manja." Tanpa banyak berpikir Sean pun membopong Queen ke kamar mandi. Namun siapa sangka, kamar mandi itu mendedak riuh oleh suara-suara aneh.
Keesokan harinya Sean pun membawa Queen dan Ella kembali ke negaranya menggunakan privat jet.
"Beib, malam tadi Uncle menghubungiku. Dia terus menanyakan keberadaanmu." Ujar Ella. Ya, malam tadi Zain memang menghubunginya karena ponsel Queen tidak bisa dihubungi. Sepertinya posel itu kehabisan batrai.
Sontak Queen yang sejak tadi bergelayut manja pada Sean pun menoleh. "Terus? Apa yang kau katakan."
"Aku bilang kau sedang bersama Sean."
"Apa?" Pekik Queen. "Lalu apa lagi yang kau katakan?"
"Tidak ada, Uncle langsung menutupnya." Jawab Ella yang kemudian memejamkan mata.
Queen menggigit bibirnya, lalu di tatapnya sang kekasih. "Bagaimana jika Daddy tahu apa yang sudah kita perbuat? Aku rasa nyawaku di ujung tanduk," gumamnya dengan wajah cemas.
__ADS_1
Berbeda dengan Queen yang terlihat panik. Sean malah jauh lebih santai. Justru ia senang jika Zain tahu, untung-untung mereka langsung menikah. Jadi Sean tidak perlu takut kehilangan gadisnya itu. "Tidak perlu cemas, jika Daddymu meminta aku menikahimu. Dengan senang hati aku akan melakukannya."
"Sean! Tapi aku belum ingin menikah." Geram Queen.
"Apa kau tidak takut darah dagingku tumbuh di rahimmu sebelum kita menikah huh? Bahkan kita melakukan itu tanpa pengaman."
Queen terdiam. Mana mungkin aku hamil. Aku sudah suntik progestin untuk tiga bulan. Aku tidak mungkin mengambil resiko itu, hamil di usiaku saat ini tidak pernah terpikir sama sekali. Gumamnya dalam hati.
Tapi... apa Sean akan marah saat tahu soal itu? Queen tampak berpikir.
"Apa yang sedang kau pikirkan huh? Apa kau memutuskan untuk menikah denganku besok?" Tanya Sean tersenyum geli.
Queen mendengus sebal. "Sudah aku katakan aku tidak ingin menikah dulu, Sean."
"Tapi aku ingin, sayang."
"Sean, please."
Sean tersenyum, dikecupnya pipi Queen yang merona karena kesal. "Aku senang saat melihat wajahmu yang merona seperti ini."
"Ck, kau selalu saja membuatku kesal." Queen menjatuhkan kepalanya di pundak Sean. Dan itu membuat Sean lebih leluasa memberikan kecupan demi kecupan.
"Sean."
"Hm."
"Apa kau akan marah padaku saat aku melakukan hal yang tidak kau sukai?"
"Hm." Queen memeluk lengan Sean dengan erat. "Semarah apa pun nantinya, jangan pernah meninggalkan aku, Sean. Aku takut kau pergi dariku. Sungguh."
Sean tersenyum. "Sebenarnya apa yang ada dalam kepalamu huh? Sampai kau berpikir sejauh ini."
"Entahlah, hatiku terasa tak tenang saja apa lagi aku bukan menantu yang Ayahmu inginkan."
"Apa hubungannya dengan Ayahku? Aku tidak butuh pendapatnya untuk menikah dengan siapa pun."
"Tapi aku tahu kau menyanyanginya, Sean. Aku bisa melihat itu di matamu."
Sean terdiam sejenak. "Itu karena dia Ayahku."
"Ya." Queen mengecup punggung tangan Sean dengan lembut.
"Tidurlah, perjalanan kita masih panjang." Titah Sean kembali memberikan kecupan di pucuk kepala Queen.
"Hm." Queen memejamkan matanya dalam dekapan Sean.
Mereka pun tiba di tempat tujuan saat matahari hampir tenggelam. Sebelum pulang ke apartemen, Queen mampir ke mansion untuk mengambil ponselnya.
__ADS_1
"Benarkah? Jadi saat kecil dulu kau sangat nakal?" Queen terkekeh lucu. Saat ini mereka sudah sampai di lantai apartemen.
"Ya, bahkan Mommy selalu mengeluh atas sikapku." Jawab Sean tersenyum lebar.
Queen tertawa renyah sambil mengetik password. Dan pintu pun terbuka. Lalu mereka pun masuk sambil bercanda.
"Aku jadi penasaran seperti apa saat kau kecil dulu. Pasti sangat menggemaskan kan? Sean kau...." kalimat Queen pun harus terpotong karena ia melihat sang Daddy sudah duduk di sofa dengan tatapan tak bersahabat. Bukan hanya Queen yang kaget, Sean juga ikut terdiam sangking kagetnya.
Queen menelan air ludahnya dengan susah payah. Namun ia tetap berusaha untuk tersenyum. "Da... Daddy? Kau di sini?"
Zain mengabaikan putrinya dan beralih menatap Sean. Lalu ia pun bangkit. Pelan tapi pasti ia mengikis jarak antara dirinya dan Sean. Dan....
Bugh!
Sebuah tinjuan keras berhasil Zain layangkan tepat di rahang Sean. Sampai lelaki itu tersungkur ke lantai. Tentu saja Queen berteriak histeris saat melihat kejadian tidak terduga itu. Bahkan ia membungkam mulut dengan tangannya karena tidak percaya dengan apa yang Zain lakukan barusan.
Inilah yang Queen takutkan, yaitu kemarahan sang Daddy.
"Brengsek!" Zain kembali melayangkan tinjuan di wajah Sean. Kemudian menarik kerah baju Sean dengan sekuat tenaga. Sampai Sean pun terbatuk karena lehernya tercekik.
"Stop, Dad!" Pekik Queen mulai panik.
"Kau sudah berjanji padaku untuk menjaganya bukan? Lalu apa yang kau lakukan huh? Justru kau menodainya, brengsek." Zain benar-benar mengabaikan putrinya dan terus menghajari Sean sampai terkulai lemas di lantai. Napas lelaki itu terlihat memburu karena menahan rasa sakit.
"Hantikan, Dad. Dia bisa mati." Kali ini Queen menarik Zain dan menjauhkannya dari Sean. "Aku mohon hentikan, dia bisa mati."
"Dia pantas mati. Janjinya sama sekali tidak bisa dipegang." Amarah Zayn pun semakin memuncak.
"Apa masalahnya, Dad? Kenapa kau menghajarnya tanpa sebab?"
Zain melayangkan tatapan sengit pada putrinya, sampai Queen pun harus mundur beberapa langkah karena takut.
"Tanpa sebab? Jangan pura-pura bodoh. Daddy kecewa padamu, Queen. Daddy kecewa." Zain benar-benar memberikan tatapan penuh kecewa pada putrinya itu.
"Dad?"
"Kalian membuatku kecewa, di mana akal sehat kalian huh?" Zain berteriak frustasi seraya mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku gagal mejadi Ayahmu, Queen. Aku gagal."
Queen terenyuh mendengarnya. Lalu ia pun kembali mendekati Daddynya, memeluknya dengan erat. Bohong jika ia tidak tahu apa yang menyebabkan Daddynya sampai semarah ini.
"Maafkan aku, Dad. Aku yang salah. Jangan seperti ini. Maafkan aku, Dad." Tangisan Queen pun pecah dalam pelukan Zain.
"Maafkan aku. Aku mohon jangan sakiti, Sean. Dia tidak salah, akulah yang meminta padanya. Dia sudah menolakku. Tapi akulah yang memaksanya, aku yang salah."
Mendengar itu rahang Zain mengeras. "Kalian harus menikah besok. Tidak ada penolakan."
****
__ADS_1
Hallo guys... aku mau promosi novel baru nih. Kali ini aku buat yang agak lucu2 deh buat kalian. Yuk di kepoin ya.