
"Bagaimana kondisinya, Dok?" Tanya Queen setelah sang dokter memeriksa kondisi Ella. Karena tadi Ella sempat demam.
Dokter itu menghela napas panjang. "Dia mengalami tekanan dan syok berat. Tolong diperhatikan lagi kondisinya. Jika seperti ini terus akan membahayakan jiwanya. Apa lagi saat ini ia sedang dalam keadaan hamil."
Queen memejamkan matanya sejenak. "Saya akan usahakan dia melewati masa beratnya, Dok."
Dokter itu pun mengangguk. "Tadi saya sudah menyuntikan vitamin. Saat sadar nanti tolong berikan obat ini." Seraya memberikan obat pada Queen.
"Ya." Queen pun menerimanya. Kemudian dokter itu pun berpamitan untuk pulang. Sean yang sejak tadi diam pun mulai bersuara.
"Bagaimana bisa ini terjadi, sayang? Aku lihat Bara sangat mencintai Ella."
Queen menggeleng. "Aku juga tidak tahu kronologisnya. Yang aku tahu Bara sudah mengkhianati cinta Ella. Aku tidak akan memaafkan lelaki itu jika terjadi sesuatu pada Ella. Dia tidak tahu sedang berurusan dengan siapa. Jika Grandpa Adam tahu, mungkin keluarga Bara akan musnah dalam sekejap."
Sean merangkul istrinya. "Kau sudah menghubungi orang tuanya?"
Queen menggeleng. "Aku belum berani bicara pada mareka, Sean. Ella memintaku untuk tidak mengatakan ini pada siapa pun."
"Tapi orang tuanya berhak tahu kondisi putrinya."
Queen terdiam sejenak. "Aku akan bicara jika kondisinya sudah membaik."
"Hm." Sean mengusap kepala istrinya dengan lembut.
Queen pun bergerak menghampiri Ella yang masih terbaring lemah. Lalu duduk di sisinya. Digenggamnya tangan Ella dengan lembut. "Aku tidak akan membiarkan terjadi sesuatu padamu, Ell. Aku berjanji akan selalu ada disisimu. Dulu saat aku lemah, kau juga ada bersamaku."
Sean menghela napas gusar, dan memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Ia tahu mereka butuh waktu untuk bicara.
Ella membuka matanya perlahan. Di tatapnya Queen begitu dalam. "Kepalaku sakit sekali, Queen."
Queen mengangguk. "Kau terlalu banyak menangis. Berhenti menangis, pikirkan bayimu, Ell."
Tangan Ella pun mulai bergerak menyentuh perutnya. "Apa dia penyebab Baraku pergi, Queen? Jika benar, aku rela kehilangannya dari pada aku harus kehilangan cintaku."
Queen menggeleng kuat. "Kau tidak boleh bicara seperti itu. Anak itu tidak berdosa, Ell. Dia tidak tahu apa-apa."
Ella pun kembali menangis. "Kau benar, Queen. Aku yang berdosa di sini."
Queen mengusap jejak air mata di pipi Ella. "Sudah aku katakan jangan menangis. Lihat tubuhmu, setidaknya pikirkan anak dalam perutmu, Ell. Dia juga makhluk hidup. Bukankan anak itu bukti cintamu huh?"
Ella terdiam. "Apa dia bisa mengembalikan Bara padaku?"
"Ell."
"Kenapa semua ini terjadi padaku, Queen? Apa karena aku hanya terlahir dari seorang petani? Mereka meremehkan statusku?"
Queen menarik Ella dalam dekapan. "Berhenti berpikir negatif. Harusnya kau bersyukur, Tuhan menunjukkan padamu jika Bara bukan pilihan terbaik. Kau akan menemukan lelaki yang jauh lebih baik darinya."
"Tidak, aku cuma mau Bara, Queen. Aku hanya ingin dia."
Queen mengeratkan pelukannya tanpa memberikan tanggapan. Dan Ella pun mulai tenang meski air matanya masih menitik.
"Kau harus istirahat." Queen membantu Ella berbaring lagi. Menyelimutinya dengan penuh perasaan.
__ADS_1
Ella yang pada dasarnya sudah lelah pun mulai terpejam. Dan itu membuat hati Queen teriris. Setelah di rasa Ella benar-benar terlelap. Queen pun beranjak keluar dari sana.
Queen menghampiri Sean yang saat ini sedang duduk di ruang keluarga.
"Sean, kau tidak kerja?"
Sean pun menoleh. "Biarkan aku menemanimu hari ini." Queen duduk di sebelahnya. Direngkuhnya tangan Sean, kemudian ia pun mulai bergelayut manja.
"Sean, jangan pernah pergi dariku."
Sean mengecup pucuk kepala istrinya dengan lembut. "Aku tidak akan menjadi orang bodoh yang melepaskan berlian sepertimu."
Queen semakin erat mendekap lengan Sean. "Aku takut kehilanganmu, Sean."
"Kau pikir aku tidak? Bahkan sejak tadi aku terus berpikir soal nasibku jika saja kau lari dari hidupku. Aku rasa aku akan mati, Queen."
Queen tersenyum. "Aku tidak akan meninggalkanmu. Wanita bodoh yang melepaskan lelaki sebaik dirimu, Sean."
"Senang mendengarnya."
"Sean, apa aku boleh meminta bantuanmu?"
"Apa itu?"
"Em... bisakah kau korek tentang kehidupan Bara dan keluarganya? Aku ingin tahu alasan lelaki itu meninggalkan Ella." Pinta Queen bersungguh-sungguh.
Sean terdiam sejenak. "Akan aku usahakan."
"Sama-sama, sayang." Sean menggenggam tangan Queen dengan erat. "Kau belum sarapan kan?"
Queen mengangguk kecil.
"Ayok kita makan, jangan sampai kau juga sakit."
Queen mengangguk lagi. "Aku ingin disuapi olehmu, Sean."
"Wah, jadi sifat manjamu sudah kembali?" Guraunya. Queen pun terkekeh pelan.
"Apa salahnya aku manja padamu? Kau kan suamiku. Sudah seharusnya kau memanjakan aku."
Sean tersenyum. "Kalau begitu tunggu saja di sini. Aku akan mengambil makanan untukmu."
"Tidak perlu, suruh saja pelayan membawakannya ke sini. Aku masih ingin memelukmu." Titah Queen. Sean pun cuma bisa pasrah dan memanggil kepala pelayan untuk mengambilkan sarapan.
****
Di dalam pesawat. Juna sejak tadi terlihat tak nyaman. Apa lagi saat kepala Faizah terus jatuh di bahunya. Dan itu terjadi untuk yang ketiga kalinya, membuat Juna kesal setengah mati. Juna menempelkan jari telunjuknya di kening gadis itu. Lalu mendorongnya dengan kuat. Sontak Faizah pun terkejut.
"Hah, apa kita sudah sampai?" Tanyanya dengan wajah bantal. Sedangkan Juna pura-pura tidak tahu apa-apa.
Faizah sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah jendela. Tentu saja ia harus melewati Juna lebih dulu karena posisi duduk Juna di dekat jendela.
"Hey, jauhkan dirimu." Kesal Juna karena posisi mereka saat itu begitu intim. Bahkan Juna bisa menghirup parfum Faizah dengan jelas.
__ADS_1
"Sebentar, aku ingin memastikan apakah kita sudah dekat?"
Juna terperangah mendengarnya. "Apa kau bodoh? Sejak kapan orang naik pesawat bisa tahu sudah dekat atau belum dengan melihat ke luar jendela?"
Faizah pun menarik diri dan duduk tegak menghadap ke erah Juna. Kemudian tertawa kecil. Juna yang melihat itu mulai merinding.
"Anda tahu, Mr? Hidup ini tidak boleh terlalu tegang. Sesekali kau harus membebaskan diri. Lihat, sudah banyak kerutan di wajahmu. Itu karena Anda selalu tegang. Tebakanku benar kan?"
Juna mendengus sebal dan memalingkan wajahnya. Faizah tersenyum geli.
"Oh iya, aku hampir lupa. Bagaimana dengan nilaiku?"
Juna tidak menjawab.
"Ayolah, aku sangat butuh nilai itu. Semua teman-temanku sudah menyerahkan nilainya pada dosen. Dan aku masih harus mengejar-ngejar nilaiku karena Anda menahannya. Aku sudah bicara pada Mr. Michaelson, beliau bilang nilaiku ada padamu." Faizah memasang wajah sedih.
Juna menoleh sekilas. "Kau belum bisa dikatakan lulus, kinerjamu kurang."
"Hah? Setelah semua yang terjadi kau... ah maksudku Anda mengatakan nilaiku kurang?" Faizah terlihat frustasi. "Daddy akan membunuhku jika aku tidak lulus tahun ini."
Lebih tepatnya aku harus menerima perjodohan gila itu. Tidak, aku tidak mau menikah dengan si brengsek itu.
Juna menutup telinganya dengan earphone dan mulai memejamkan mata. Faizah yang melihat itu tampak sedih. "Mr."
Faizah pun menyerah dan membenarkan posisi duduknya. Otaknya terus berputar untuk mencari akal supaya Juna memberikan nilai terbaik untuknya.
Beberapa jam kemudian pesawat pun mendarat dengan sempurna. Semua penumpang pun bergegas turun. Termasuk Juna dan Faizah. Gadis itu terus mengekori lelaki itu dengan langkah cepat.
Sial! Kenapa gadis tengil ini masih mengekoriku? Batin Juna.
Sial! Aku masih harus kerja ekstrak lagi untuk membujuk lelaki sombong ini. Arggh... kenapa hidupku selalu dikelilingi lelaki brengsek sih? Yang satu playboy cap kakap dan satu lagi si tua sombong. Sial sial sial.
Bruk!
Tubuh mungil Faizah menubruk tubuh tegap Juna yang tengah berdiri. Gadis itu tidak menyadari jika Juna sudah menghentikan langkahnya. Alhasil bokong gadis itu mencium lantai.
Juna berbalik. "Apa kau buta?" Alih-alih menolong, lelaki itu justru meninggalkan Faizah begitu saja.
"Kyaaa... dasar brengsek." Teriak Faizah sangking kesalnya. Ia pun bergegas bangun dan mengejar Juna.
Tidak-tidak, aku tidak boleh kehilangan kesempatan. Dengan kekuatan penuh Faizah mengejar Juna. Ia semakin panik karena Juna hendak masuk ke dalam mobil. Telat selangkah saja Faizah akan kehilangan segalanya. Beruntung gadis itu gesit dan berhasil masuk ke dalam mobil Juna. Sontak lelaki itu pun kaget.
"Kau! Kenapa kau di sini?" Sentak Juna.
Faizah terlihat santai. "Jalan, Pak."
Juna melotot mendengarnya. Dan hebatnya sang supir pun malah melajukan mobilnya. Juna menggeram kesal. "Kau...."
Belum selesai Juna bicara, bibirnya lebih dulu di sumpal oleh bibir tipis Faizah. Sontak mata Juna pun terbelalak karena kaget. Bahkan tubuhnya menegang seketika.
Tbc...
Duh... jangan ikutan tegang dong. Woles aja. Hehe. Tar aku sambung lagi ya... jangan kebawa mimpi loh ya...
__ADS_1