
Karena penculikan siang tadi. Queen tidak dapat tidur meski Vincent mengatakan jika semuanya sudah aman. Entahlah, Queen merasa ada sesuatu yang kurang sampai matanya tak kunjung terpejam.
Queen menarik napas panjang. Lalu membuangnya perlahan. "Sean." Gumamya. Ia berbalik, ditatapnya Scarlet yang sudah tertidur pulas. Lalu ia pun kembali membelakangi temannya itu.
"Jika tahu seperti ini aku tidak akan pergi, aku mendadak ingin dipeluk olehnya. Huhu... maafkan aku, Sean." Queen bermonolog. Ditariknya selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya, lalu berusaha untuk tetap memejam. "Aku harap langit segera terang."
Satu jam kemudian....
Queen merasakan sebuah tangan melingkar diperutnya. Bahkan punggungnya juga terasa hangat.
Ya ampun, sepertinya aku benar-benar merindukan Sean. Sampai Scarlet terasa sepertinya. Queen yang sudah mulai mengantuk pun perlahan terlelap. Apa lagi kehangatan yang ia dapat cukup membuatnya nyaman. Ia merasa Sean lah yang memeluknya saat ini. Dan itu benar adanya karena pelakunya itu benar-benar Sean.
"Dasar istri durhaka." Bisik Sean mengecup pipi istri kecilnya itu. "Pergi tanpa pamit, aku akan menghukummu setelah ini." Sean tersenyum, kemudian ikut terlelap sambil memeluk Queen dengan posesif.
Seperti biasa, Queen mengalami morning sickness menjelang subuh. Tentu saja beberapa orang terbangun dan merasa iba melihat itu. Terutama Scarlet, ia mendekati Queen dan memijat tengkuknya.
"Sebaiknya kau pulang saja, Queen." Bujuknya. "Suamimu benar, kondisi seperti ini tidak baik jika kau jauh darinya."
Bukan tanpa alasan Scarlet mengatakan itu. Sebelum pergi, Sean memang sempat memintanya untuk bicara pada Queen, lebih tepatnya membujuk.
Queen menggeleng. "Kita baru satu malam di sini, aku tidak mungkin menyerah begitu saja. Aku suka di sini."
"Ck, kau ini. Tadi malam...."
"Tadi malam itu pelukkanmu hangat sekali, bisakah kau memelukku seperti itu setiap malam?" Sela Queen.
Scarlet terdiam. Mana mungkin, tadi malam kan suamimu yang melakukan itu. Ck, bagaimana ini?
Seorang wanita pun menghampiri keduanya dengan sesuatu ditangannya.
"Minum dulu, Queen. Saat aku mabuk diawal kehamilan, minum madu hangat rasanya lumayan enakan." Vivian, wanita berusia tiga tahun diatas Queen itu pun memberikan minuman yang dimaksud. Queen pun menerimanya, lalu meminumnya perlahan. "Thanks."
Vivian mengangguk.
"Kita ke tenda lagi yuk." Ajak Scarlet membawa Queen masuk kembali ke tenda. "Sebaiknya kau istirahat. Ini masih terlalu pagi."
"Aku kembali ke tendaku, jika butuh sesuatu datanglah padaku." Kata Vivian menyembulkan kepalanya di pintu tenda.
"Ya, terima kasih." Sahut Scarlet. Vivian tersenyum, lalu ia beranjak dari sana.
"Bagaimana, apa ada perubahan?" Tanya Scarlet memastikan.
Queen mengangguk pelan.
Scarlet menghela napas lega. "Sepertinya Vivian benar, madu ini memang manjur."
"Ya." Queen memijat dahinya. "Kenapa aku seolah mencium aroma suamiku ya? Sejak tadi malam."
"Ah, mana mungkin. Tadi malam kau kan tidur denganku. Mungkin kau rindu padanya," alibi Scarlet. Ia sudah terlajut berjanji pada Sean untuk tidak bicara soal kedatangannya malam tadi.
"Kau benar, aku butuh pelukan hangatnya. Ah... belum sehari aku sudah merindukan lelaki itu."
__ADS_1
Scarlet tersenyum. "Secinta itu kau pada Sean huh?"
"Tentu saja, dia lelaki sempurna. Tampan, kaya raya, juga penuh cinta." Queen tersenyum sendiri karena membayangkan wajah tampan suaminya.
Scarlet berdeham kecil, membuat Queen kaget sendiri. "Eh, sorry. Kau sih memancingku. Ngomong-ngomong thanks sudah mau membantu. Padahal tadi itu terbilang jorok."
Scarlet tersenyum. "Tidak sama sekali. Kau itu teman baikku."
Queen tersenyum. "Aku senang masih ada yang ingin berteman denganku selain Ella."
"Ayolah, sejak lama aku ingin bergabung dengan kalian. Tapi aku selalu minder."
"Minder?" Tanya Queen heran.
"Ya, kalian selau berdua dan seakan tak ingin menerima orang baru."
Queen tertawa kecil. "Begitu ya? Sebenarnya aku dan Ella welcome saja jika ada yang berteman. Tapi tidak ada yang mencoba mendekati kami."
Scarlet tersenyum. "Kalian itu sosok wanita yang banyak dikagumi lelaki loh. Mungkin karena itu orang-orang segan mendekatimu, termasuk aku. Bahkan hampir satu kampus membicarakan kecantikan kalian. Sempat kaget sih, kau malah menikah dengan Sean, yang usianya jauh di atasmu."
"Aku juga tidak tahu kenapa bisa terjebak oleh pesonanya. Meski dia sudah tua, jiwanya melebihi anak muda."
"Sudah kuduga, jadi dia hebat di atas ranjang huh?" Goda Scarlet.
"Ya, jika dia tidak hebat. Bagaimana mungkin benihnya tumbuh diperutku." Queen tertawa kecil. "Ngomong-ngomong, kau punya hubungan khusus ya dengan Vincent?"
Scarlet terkejut. Queen yang melihat itu tersenyum tipis.
"Em... itu sebenarnya... aku dan dia sudah menikah."
"Apa?" kaget Queen.
"Sssttt... jangan berisik, kita sengaja menyembunyikan hal ini karena Vincent itu bukan laki-laki biasa. Dia seorang mata-mata." Bisik Scarlet.
"Oh God! Jadi?"
"Kami menikah sebulan yang lalu. Dia tidak ingin orang lain tahu karena tidak ingin membahayakanku," Jelas Scarlet.
"Tapi kalian melakukan itu di ruang terbuka."
"Jika hanya melakukan itu mereka tidak akan curiga, semua orang bebas melakukan hal itu dengan siapa pun kan?"
"Iya sih. Lalu, sejak kapan Vincent menjadi mata-mata suamiku?"
"Aku tidak tahu, atasannya bukan hanya satu orang. Dia cukup andal, aku akui itu."
"Haish... jadi selama ini Sean mengirim mata-mata di dekatku?"
"Dia melakukan itu karena ingin melindungimu, Vincent sudah terlatih sejak kecil. Kedua orang tuanya juga mata-mata. Karena itu dia banyak diminati para bangsawan."
"Ya ampun, itu artinya kau harus hati-hati. Bagaimana jika mereka mengincarmu?"
__ADS_1
Scarlet tersenyum. "Aku percaya Vincent bisa melindungiku, orang lain saja bisa dia lindungi. Kelewatan jika dia tidak bisa melindungi istri sendiri."
Queen tersenyum. "Aku masih tidak percaya kau sudah menikah."
"Begitupun denganku, aku masih tidak percaya kau akan menjadi seorang Ibu di usia muda."
"Kau juga pasti akan segera memiliki anak."
"Tidak, aku sudah sepakat dengannya untuk menunda. Harus kau tahu, Vincent itu maniak. Bahkan kadang aku tak bisa mengimbanginya, kemarin saja aku hampir mati. Beruntung ketua memanggil kita semua. Bagaimana mungkin aku secepat itu, dia saja masih memonopoliku."
Queen tertawa kecil. "Setidaknya dia hanya melakukan itu padamu."
"Ish... coba saja dia berani selingkuh. Aku akan memotong rudalnya. Begini-begini juga aku ini jagoan."
Lagi-lagi Queen tertawa karena merasa terhibur. "Kalian sangat lucu. Tidak kebayang bagaimana saat kalian berdua di rumah."
"Kau tahu? Di rumah aku yang lebih banyak bicara. Dia hanya bicara saat ingin makan, mandi dan melakukan itu. Selebihnya dia banyak diam dan sibuk dengan pekerjaannya." Omel Scarlet.
"Oh, bukankah itu manis?"
"Ya, begitulah suamiku. Lalu, apa suamimu sangat romantis?"
Queen mengangguk. "Sean terlalu romantis malah. Kadang aku sendiri tak sanggup menerima semua perlakuan lembutnya. Dia jarang sekali marah meski aku sering membuatnya kesal."
"Meski kau kabur seperti ini?"
Queen terdiam sejenak. "Kali ini aku belum tahu, habis dia berniat mengurungku. Padahal aku masih ingin berpetualang."
Scarlet mengangguk. "Kau tidak merindukannya? Kalau aku sih rasanya tidak rela berjauhan darinya. Meski dia maniak, tapi dia selalu membuatku rindu." Bisiknya yang disusul tawa kecil.
"Tentu saja aku merindukannya." Queen memasang wajah sendu. "Bahkan aku merasa dia ada di sini sejak tadi malam. Aromanya tercium begitu jelas. Hah, tapi aku ingin menikmati momen ini dengan baik. Kapan lagi aku bisa ikut acara seperti ini coba? Setelah perutku besar, aku yakin Sean semakin posesif."
Scarlet menghela napas berat. "Jelas dia posesif, dalam perutmu itu pewaris keluarga Cameron. Dia tidak mungkin membahayakanmu dan bayi kalian."
Queen mengangguk. "Aku harus meminta maaf setelah ini."
"Ya."
"Apa kau ingin menemaniku jalan-jalan pagi?" Tanya Queen.
"Kau yakin? Suhu di luar lumayan dingin."
"Ya, kita bisa pakai mantel."
"Okay, aku pasti menemanimu."
"Thank you."
"Welcome."
Setelah bersiap, keduanya pun berjalan-jalan kecil disekitaran area camping sambil menunggu fajar menyingsing.
__ADS_1