Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Serangan Dadakan


__ADS_3

Sean langsung terbang ke negaranya setelah mendengar kabar tentang Queen dari Ella. Bahkan lelaki itu langsung keluar dari tempat meeting yang cukup penting sangking paniknya.


"Ben, ini salahku. Tidak sepantasnya aku meninggalkan istriku seorang diri si sana, Ben. Suami macam apa aku ini huh?" Sean menjambak rambutnya sendiri. Seandainya saja ia bisa melompat dari jet dan langsung sampai ke rumah sakit di mana Queen dirawat, mungkin ia akan langsung melompat saat ini juga.


"Saya yakin Nyonya akan baik-baik saja, Tuan. Bukankah Anda sendiri yang mengatakan jika istri Anda itu wanita yang tangguh?"


Sean mengangkat wajahnya ke udara. "Ben, katakan pada pilot untuk mempercepat lajunya. Cepat!"


Ben terkejut mendengarnya. Sepertinya Sean mendadak bodoh hanya karena seorang wanita.


"Maaf, Tuan. Kita sudah mencapai kecepatan maksimum."


"Apa kau sudah memastikannya sendiri, Ben?"


"Ya, Tuan."


"Sial!" Umpatnya kesal sendiri. "Jika terjadi sesuatu padanya aku tidak akan memaafkan diriku sendiri, Ben. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri."


Ben tidak berani menanggapinya. Ia memilih diam dan menyaksikan kerapuhan Tuannya.


Aku tidak pernah melihat Tuan seperti ini sebelumnya. Apa wanita benar-benar racun bagi pria? Oh God! Aku jadi takut untuk mengenal seorang wanita.


****


"Enghhh." Queen mengeluh dan mulai sadar setelah satu jam setengah tertidur.


Ella yang sejak tadi terus menjaganya pun terlihat kaget. "Beib, kau sudah sadar?"


"Haus, Ell."


Dengan sigap Ella mengambil air mineral dan membantu Queen minum. Setelah rasa dahaganya terobati, Queen melihat kesekeliling. "Ell, kenapa kita di sini?"


"Kau pingsan tadi, Queen. Beruntung ada orang baik yang menghubungiku jika kau pingsan dipinggir jalan."


Queen mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Dan ia pun sedikit mengingat sebelum dirinya benar-benar pingsan. Sontak ia pun langsung mengingat Sean.


"Ell, apa kau sudah menghubungi Sean?"


Ella mengangguk.


"Apa dia akan datang, Ell?" Tanya Queen dengan nada lirih.


"Tentu saja, memangnya apa yang kau pikirkan huh? Dokter bilang gula darahmu rendah makanya kau pingsan. Apa sebelumnya kau makan dengan baik?"


Queen menggeleng pelan. "Ell, aku takut Sean meninggalkanku dan memilih wanita lain. Bagaimana jika dia...."


"Berhenti bicara omong kosong. Sean tidak mungkin mengkhianatimu. Bahkan tadi dia panik bukan main saat mendengar kau masuk rumah sakit."


Queen menatap Ella lekat. "Lalu di mana dia sekarang, Ell?"


"Mungkin dia sedang dalam perjalanan. Tunggu saja beberapa saat lagi. Sekarang kau harus makan ya?"

__ADS_1


Queen menggeleng. "Aku akan menunggunya."


"Ck, jangan keras kepala. Makanlah walau cuma sedikit, kau sangat pucat, Queen."


"Aku akan makan jika dia ada di sini, Ell." Kesal Queen kembali menangis. "Kemana sebenarnya dia pergi, Ell? Kenapa dia seolah mengabaikanku?"


Ella menghela napas berat. "Kau memang keras kepala. Terserah, aku rasa kau akan mati saat Sean datang ke sini." Sepertinya wanita itu mulai kesal karena sikap keras sepupunya.


"Ell, seharusnya kau menghiburku."


"Cih, kau bukan anak kecil lagi yang harus dihibur. Lagi pula kau sakit juga karena ulahmu sendiri."


Queen mulai sesegukkan. "Ya, aku sengaja ingin sakit. Karena aku mau lihat dia peduli atau tidak padaku."


"Ck, kau sangat kekanakan, Queen. Bagaimana jika suamimu saat ini sedang bekerja atau sedang berusaha memenangkan tander bernilai besar?"


"Aku tidak peduli. Mungkin saja saat ini dia sedang bermesraan dengan wanita lain."


Mulut Ella terbuka mendengarnya. "Aku rasa kau sudah gila, Queen. Aku harap Sean benar-benar mendapat wanita lain."


"Ell!" Kesal Queen. Bukannya menghibur, justru kehadiran Ella membuat perasaannya semakin berkecamuk.


"Habis pikiranmu itu selalu saja buruk pada Sean."


"Hiks... di mana dia sekarang, Ell? Kenapa lama sekali datangnya?" Rengek Queen memandang ke arah pintu.


"Dia sedang bermesraan dengan Stella," sahut Ella mulai bosan.


"Ell! Bisa tidak kau diam."


Queen terdiam, tetapi tangisannya masih belum berhenti.


"Sudah aku katakan, kau itu sudah mencintainya, Queen. Hanya saja egomu terlalu besar. Cepatlah sadar sebelum kau menyesal."


Queen menggigit ujung bibirnya. Mencoba memastikan perasaanya sendiri. Apa itu benar? Dirinya sudah mencintai Sean?


Queen memejamkan matanya karena rasa pusing itu kembali muncul. Bahkan perutnya pun terasa sangat perih karena sangat lapar. Hanya saja ia bersikukuh untuk menunggu suaminya datang dan menyuapinya dengan manja. Queen sangat menantikan kehadiran Sean saat ini.


"Ada apa? Kau pusing lagi?" Tanya Ella saat melihat wajah gelisah Queen.


"Hm. Bisakah kau menghubunginya lagi, Ell?"


"Aku sudah mencoba, tapi ponselnya tidak aktif. Seperti yang aku katakan, sepertinya dia sedang dalam perjalanan." Jelas Ella mencoba meyakinkan Queen.


"Ya. Bahkan jika dia tidak datang aku akan membunuhnya secara langsung."


Ella tertawa renyah mendengarnya. "Ditinggal beberapa hari saja kau sudah sakit seperti ini, bagaimana jika sampai ditinggal mati?"


Queen tersenyum. "Mungkin aku akan ikut mati, Ell."


Tidak lama dari itu terdengar suara ribut dari arah luar. Tentu saja Queen mengenali suara itu yang tak lain adalah milik Sean. Seketika senyuman dibibirnya pun terbit.

__ADS_1


"Ell, cepat selimuti aku. Jangan bilang padanya jika aku sudah sadar." Queen bergegas menutup matanya dan pura-pura pingsan lagi. Ella yang melihat itu cuma bisa menggeleng dan mengikuti keinginan Queen.


Dan diwaktu bersamaan Sean pun masuk dengan wajah panik.


"Ell, bagaimana keadaanya?" Tanyanya seraya duduk di sisi brankar. Diusapnya pipi Queen yang terlihat pucat.


Ella benar-benar ingin tertawa saat melihat kepanikan seorang Sean Cameron.


"Dia kekurangan gula darah. Untung saja tidak mati."


Sialan kau, Ell. Umpat Queen dalam hati.


Sean terkejut mendengarnya. Lalu digenggamnya tangan istrinya itu dengan erat. "Bagaimana bisa kau kekurangan gula darah, sayang?"


Pake nanya lagi, ya gara-gara kamu lah. Geram Queen dalam hati.


"Dia takut kehilanganmu, mungkin." Sahut Ella ingin mengerjai Queen. Wanita itu menahan tawa saat melihat Queen mengangkat jari tengah tangannya yang menganggur. "Berhubung kau sudah datang, aku pamit pulang."


"Ya, terima kasih karena sudah menemaninya."


"Ya, aku harap kau menghukumnya saat dia bangun." Ella pun beranjak pergi dari sana seolah memberikan ruang dan waktu untuk sepasang suami istri itu.


"Tentu saja, aku akan menghukumnya." Sahut Sean memandang wajah istrinya sambil tersenyum miring.


"Apa kau akan terus seperti ini huh?" Tanya Sean yang sebenarnya sejak awal sudah tahu Queen sudah sadar. Bagaimana tidak, mata istrinya itu terus bergerak ke sana ke mari.


Mendengar hal itu Queen pun langsung membuka mata. Kemudian beringsut bangun dan memukul Sean. "Dasar suami brengsek! Kemana saja kau huh?"


Sean tersenyum tipis. "Tentu saja aku mencari kesenangan di luar. Punya istri juga serasa sendiri."


Queen menangis dan langsung memeluk lelaki itu dengan erat. "Huhu... maafkan aku, Sean. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Aku hanya kecewa karena kau membohongiku. Tolong jagan pergi lagi."


Sean mengulum senyuman geli. "Tapi sikapmu itu sudah keterlaluan, Queen. Aku tidak bisa memaafkanmu."


Queen mendongak, ditatapnya wajah Sean lamat-lamat. Beruntung tadi Queen tidak melihat wajah panik Sean. Jadi lelaki itu masih bisa berakting.


"Jadi kau marah padaku?"


"Ya." Jawab Sean datar.


"Tapi tadi kau terdengar panik dan memanggilku sayang."


"Itu karena ada Ella di sini."


Mendengar itu tangisan Queen semakin menjadi. "Jadi kau sudah tidak mencintaiku lagi?"


"Mungkin."


"Kau jahat Sean." Queen menangis sesegukkan dan mulai menjauhkan diri dari dekapan Sean. "Jadi benar selama beberapa hari ini kau menemui Stella? Kau bersenang-senang dengannya karena aku tidak memberikan kesenangan itu padamu?"


"Hm."

__ADS_1


"Kau jahat, Sean. Padahal jika kau tidak pergi, dan kau membujukku. Aku pasti luluh. Huhuhu... lalu buat apa kau kembali huh? Biarkan saja aku mati di sini."


"Mana boleh kau mati, aku belum memberikan hukuman padamu, istriku." Tanpa aba-aba Sean langsung membungkam mulut Queen dengan bibirnya. Sontak Queen pun terkejut dan terbelalak karena mendapat serangan dadakan dari sang suami.


__ADS_2