Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Masa Lalu Alana


__ADS_3

"Ikut denganku sebentar?" Pinta sang dokter setelah memeriksa kondisi Alana. Gadis itu hanya menatap keduanya bingung. Awalnya Jef ingin membawa Alana ke rumah sakit, hanya saja dokter itu setuju untuk datang ke apartemennya. Jadi Jef urungkan niatnya untuk membawa Alana keluar.


Kini Jef sudah duduk berhadapan dengan sang dokter di ruang tamu. "Ada apa, Dok?"


Dokter tampan itu membenarkan posisi kacamatanya. Usianya bisa diperkirakan tiga puluhan. "Di mana kau menemukannya?"


Jef mengerut bingung. "Maksudmu?"


Dokter itu menghela napas berat. "Sepertinya dia mengalami trauma berat sebelum ini, kau tahu keluarganya? Kita harus menyelidiki apa sebenarnya hal yang perna dia alami. Supaya proses penyembuhannya berjalan baik. Jika kita tidak tahu permasalahannya, kita tidak tahu harus melakukan dengan cara apa."


Jef mengangguk paham. "Yang aku tahu dia hanya anak yatim piatu. Tapi masalah hidupnya memang rumit. Aku akan coba mencari tahu lebih jauh."


Dokter itu pun mengangguk setuju. "Jika sudah mendapat informasinya. Segera temui aku, dia tidak bisa terus dibiarkan. Ini mengenai mentalnya. Sepertinya dia terlalu banyak menyimpan beban dalam hatinya."


Lagi-lagi Jef mengangguk. "Terima kasih, Dok."


"Sama-sama. Aku pamit dulu. Seperti yang kukatakan, jangan buat dia banyak berpikir keras. Buat dia bahagia untuk mengalihkan perhatiannya. Setelah kita dapat informasi itu, kita akan melakukan terapi yang tepat untuknya. Kalau begitu aku pamit. Hubungi saja aku jika penyakitnya kambuh lagi." Dokter itu pun bangkit dari duduknya yang diikuti oleh Jef. Lalu mereka pun berjalan keluar sambil mengobrol kecil.


Sepeninggalan dokter, Jef kembali ke kamar Alana. Di mana gadis itu masih tidur nyenyak setelah seharian terus melamun.


Jef duduk disisinya, ditatap wajah itu lamat-lamat. "Aku akan membantumu keluar dari penderitaanmu, Alana." Diusapnya pipi mulus itu dengan lembut. Ia tidak main-main dengan perkataannya yang ingin membantu Alana.


****


Jef menerima sebuah panggilan dari orang tak dikenal saat dirinya hendak ke kampus. Namun tanpa ragu ia menerima panggilan itu.

__ADS_1


"Halo." Sapanya.


"Ha__halo, apa benar Tuan bernama Jef?" Suara wanita terdengar gugup di seberang sana.


"Ya, aku Jef. Kau siapa?" Tanya Jef seraya menghidupkan mobilnya.


"Aku Joy, sahabat kecil Alana."


Mendengar itu Jef yang hendak melajukan mobilnya pun urungkan niat itu. Sebelum ini anak buahnya memang sudah memberi tahu jika orang yang tahu informasi Alana akan menghubunginya.


"Joy? Kau benar-benar tahu soal masa lalu Alana?" Tanyanya untuk meyakinkan.


"Ya, aku selalu ada bersamanya sejak kami kecil. Jef, apa benar Alana bersamamu?" Terdengar nada cemas di sana. "Sudah seminggu dia tidak pulang. Aku sudah mencarinya ke mana-mana. Aku yakin para penagih hutang itu yang mencelakainya."


"Tenanglah, dia aman bersamaku. Jadi begini, Joy. Bisakah kau menjelaskan semua yang terjadi padanya? Aku sudah menemukan dokter untuk menyembuhkannya, hanya saja dokter memintaku untuk mencari akar permasalahannya. Bisakah kau memberi informasi itu padaku?"


"Ya, dia baik-baik saja."


Terdengar helaan napas lega di sini. "Alana yang malang. Dia sangat menderita sejak kecil, Jef. Puncak masalahnya terjadi tiga tahun lalu, hal yang membuatnya harus mengalami trauma berat. Ayahnya yang pemabuk dan tempramental kerap memukuli Alana dan Ibunya. Karena sering kalah berjudi, hutang Ayahnya menumpuk. Para penagih itu terus bedatangan ke rumah. Dan suatu hari yang amat aku sesali sampai detik ini, Jef. Di mana aku tidak tahu hal buruk menimpanya karena saat itu aku dan keluargaku sedang tidak di rumah. Alana dan Ibunya diperkosa oleh berandalan itu, Jef. Mereka berjumlah lima orang. Bukan hanya memperkosanya saja, bahkan mereka menyiksa mereka dan naasnya Ibu Alana meninggal karena mengalami cedera parah di kepalanya. Syukurnya Alana masih hidup meski sempat koma beberapa hari."


Jef tertohok mendengar kenyataan itu. Terdengar suara isak tangis Joy di sana. "Saat itu, aku...aku benar-benar menyesal karena pernah meninggalkannya. Alana bangun dari komanya dan terus berteriak histeris. Dokter mengatakan dia mengalami trauma berat dan harus menjalani perawatan. Tapi dia tak punya keluarga lagi untuk menanggung uang perawatannya, bahkan keluargaku tidak bisa membantu. Alhasil dia pun dipulangkan, aku dan Ibu coba merawatnya meski sangat sulit karena Alana kerap menangis histeris seperti orang ketakutan."


Jef memejamkan matanya, hatinya terasa perih mendengar semua itu.


"Satu bulan setelah kejadian itu, kondisinya mulai membaik. Dia juga kembali ke rumahnya meski aku melarangnya. Dia mengira Ibunya masih hidup, padahal berulang kali aku mengatakan padanya jika beliau sudah tiada. Tapi dia tak percaya dan bersikukuh ingin kembali ke rumahnya. Sampai suatu hari, Ayahnya yang sudah lama menghilang pun kembali. Aku tidak tahu bagaimana lelaki brengsek itu masuk ke rumah, padahal kami sudah mengganti kuncinya. Sampai hal yang tak terduga pun terjadi, Jef. Alana membunuh Ayahnya di depan mataku. Alana menggila karena lelaki itu terus menghina mendiang Ibunya. Sepertinya Alana tak terima itu."

__ADS_1


Jef terkejut mendengar hal itu. Namun tak ingin memberikan komentar karena masih ingin mendengarkan penjelasan Joy. "Lalu?"


"Polisi menangkapnya, hanya saja dia tidak jadi dipenjara karena mengalami ganguan mental. Alhasil ia pun dirawat di rumah sakit jiwa selama beberapa bulan. Tapi dia berubah, Alana yang ceria menjadi pendiam. Bahkan yang membuat kami terkejut, dia melupakanku bahkan semua orang yang dikenalnya. Bukan itu saja, ia tak mengenali dirinya sendiri. Akhirnya Ibuku memutuskan untuk membawanya pulang dan merawatnya dengan baik. Perlahan ia pun kembali bangkit meski ingatannya hilang. Aku pikir itu hal baik untuknya, dia melupakan semua masa kelamnya meski kadang ia harus menderita dengan penyakitnya itu. Setelah semuanya membaik, ia juga memutuskan untuk tinggal di apartemen peninggalan keluarga Ibunya. Awalnya Ibuku tidak setuju karena takut terjadi hal buruk padanya, tapi Alana sangat keras kepala. Dan sampai saat ini ia berusaha menjaani hidupnya dengan baik."


"Itu masalah terbesar yang pernah ia lalui, Jef. Aku tidak bisa menyeritakan semuanya. Waktuku terbatas karena saat ini aku sedang bekerja. Jika kau ingin informasi lain hubungi saja aku. Tolong jaga Alana untukku, mungkin dia lebih aman bersamamu. Aku percaya padamu, Jef."


Jef menarik napas panjang. "Terima kasih, Joy. Aku akan menjaganya dengan baik. Aku juga harus ke kampus, aku akan menghubungimu jika butuh sesuatu."


"Ya, terima kasih sekali lagi Jef. Alana berhak bahagia, dia gadis yang manis. Jaga dia baik-baik."


"Ya." Sahut Jef yang kemudian menutup panggilan sepihak. Berhubung sudah terlambat, ia pun bergegas ke kampus.


Sepulangnya dari kampus, Jef menemui dokter Xander untuk mengkonsultasikan soal informasi yang didapatnya. Tentu saja dokter itu kaget mendengarnya.


"Sudah kuduga masalah yang dihadapinya tak sesederhana itu, Jef. Sulit memulihkan mental orang yang mengalami hal seberat ini. Akan lebih buruk jika dia kembali mengingat masa lalunya. Sepertinya kita harus memberikan terapi untuk memperkuat mentalnya saja, Jef. Tapi tidak untuk memulihkan ingatannya."


Jef tampak berpikir. "Tapi akan sulit untuknya mengingat banyak hal yang baru ia alami. Apa hal itu juga tidak ada solusinya?"


Dokter mengangguk dan kembali menjelaskan. "Sebenarnya masalah ini ada dalam dirinya sendiri, Jef. Jika dia ingin mengingatnya, dia pasti bisa mengingatnya. Aku rasa dia berusaha tak mengingat hal apa pun dalam benaknya. Karena itu tubuhnya mensugesti otak untuk melupakan segala hal dan membatasi memorinya. Kemungkinan ia tak bisa sembuh total, tapi kita bisa membantu ia keluar dari traumanya. Dia harus lebih terbuka, jangan memendam semuanya sendirian. Kau harus bisa membuatnya lebih terbuka."


Jef mengangguk paham meski tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Kita lakukan hipnoterapi, mungkin hal ini bisa membantunya lebih baik." Tawar sang dokter.


"Lakukan apa pun yang terbaik untuknya, Dok."

__ADS_1


"Baiklah, kau bisa membawanya kemari besok. Kita lakukan secara bertahap." Jef mengangguk setuju. Setelah diskusi panjang, Jef pun memutuskan untuk pulang karena ia sudah terlalu lama meninggalkan Alana di apartemen.


Setibanya di apartemen, Jef langsung menuju kamar Alana. Namun ia terkejut karena melihat Alana tengah berganti pakaian dan hanya mengenakan pakaian dalam. Cepat-cepat ia pun menutup pintu kamar itu kembali. Beruntung Alana tak menyadarinya. Jef pun buru-buru ke kamarnya karena salah tingkah setelah apa yang dilihatnya tadi.


__ADS_2