
Suara gelak tawa menggelegar di sebuah ruangan bernuansa hitam. Pemilik suara itu tak lain adalah Mike dan Daniel. Ya, saat ini sekelompok orang-orang itu tengah berkumpul di ruangan yang disewa khusus oleh Rea di sebuah restoran. Bahkan meja panjang yang ada di sana sudah dipenuhi berbagai hidangan. Semua orang tampak menikmatinya dengan baik.
Usai makan, Rea menatap Mike dan Daniel bergantian. "Siapa yang menodai wanita itu?" Tanyanya memberikan tatapan intimidasi.
"Bukan aku," sahut Daniel dengan jujur. Karena ia memang bukan pelakunya. Sedangkan lelaki disebelahnya hanya cengengesan. Rea pun memberikan tatapan tajam pada Mike.
"Bodoh! Karena ulahmu jejak kita hampir tercium. Beruntung aku punya teman di tim forensik. Jika tidak kita semua sudah mati."
"Ck, aku hanya mencicipinya sedikit. Lagi pula sepupumu itu lumayan juga." Sahut Mike tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Kau sudah mencicipinya berulang kali sebelum wanita itu mati." Sindir Daniel.
Mike pun tersenyum malu. "Untuk yang terakhir kali tidak ada salahnya bukan?"
"Percuma bicara dengan orang bodoh. Tugas kita sudah selesai, setelah ini anggap di antara kita tidak memiliki kerja sama apa pun. Jika ada rahasia yang bocor, nyawa kalian menjadi taruhan." Kecam Rea yang berhasil membuat Mike dan Daniel merinding ngeri. Namun tidak untuk Nesya, Aletta dan Aron. Mereka tampak tenang dan lebih santai.
"Seharusnya kau mengawasi si brengsek Juna. Saat seperti ini dia tidak hadir." Ketus Mike.
"Aku yang memerintahkan dia untuk tetap di kantor." Tegas Rea yang berhasil membuat Mike bungkam. "Kalian boleh pergi."
Mike mendengus sebal, kemudian meninggalkan tempat itu dengan langkah malas. Sedangkan Daniel menyusulnya di belakang.
Rea menatap yang lainnya.
"Aku akan kembali ke Milan." Ujar Aron. Rea pun mengangguk setuju.
"Aku ikut bersamamu. Sudah lama aku tidak bertemu sepupu tampanku."
Rea mendengus sebal mendengar perkataan Aletta. Namun detik selanjutnya ia pun mengangguk.
"Kau?" Rea memandang Nesya lekat.
"Entahlah, aku bingung harus kemana. Sejak suamimu cedera. Waktuku dengan Juna harus tersita."
Rea menghela napas panjang. Lalu merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Lalu memberikan benda itu pada Nesya. "Tiket liburan. Hadiah untukmu. Aku memberi waktu seminggu untuk kalian berlibur."
Seketika mata Nesya pun berbinar. "Kau serius?"
"Kau pikir aku sedang bercanda?"
"Oh... thank you so much. Sudah lama aku ingin berlibur ke Lombok dengannya."
Rea tersenyum senang. "Anggap saja itu hadiah atas kesetiaan kalian. Terima kasih sudah mau membantuku."
Aletta dan Aron ikut tersenyum senang.
"Hey, justru aku yang berterima kasih padamu. Kau sudi mengajariku menjadi wanita tangguh. Banyak pengalaman yang aku dapatkan. Meski awalnya aku kaget saat tahu kau itu seorang ketua gangster."
"Sudahlah, aku harus segera pulang. Sebentar lagi suamiku pulang."
"Apa tidak ada tiket gratis untukku?" Gurau Aron.
"Jika kau bangkrut maka aku akan meberimu tiket gratis. Cih, bahkan uangmu bisa membeli puluhan pulau." Kesal Rea bergegas bangun dari duduknya. Lalu meninggalkan tempat itu yang diikuti oleh Aletta. Aron hanya bisa menggeleng. Lalu di tatapnya Neysa yang sejak tadi terus memandangi dua tiket ditangannya.
"Hey, apa kau tidak pernah melihat tiket liburan?"
Nesya pun menoleh dan melayangkan tatapan malas.
"Kau sangat kampungan."
"Whatever." Neysa pun bangkit dan bergegas pergi. Meninggalkan Aron yang masih menyesap rokok.
"Huh, aku rasa sudah waktunya mencari pasangan." Aron tersenyum dan ikut meninggalkan tempat itu.
****
__ADS_1
"Ini rumah kalian?" Tanya Aletta saat masuk ke kediaman Rea dan Zain. Rea pun mengangguk antusias.
"Nyaman bukan?"
"Ya."
"Duduklah, kau ingin minum apa?" Tanya Rea.
"Em... sepertinya lemon tea tidak buruk."
Rea tertawa renyah. "Seleramu tidak pernah berubah. Tunggu sebentar, santai saja tidak perlu sungkan. Aku akan meminta Bik Ade membuatkan minuman."
"Tentu saja, ini juga rumahku." Gurau Aletta. Rea memutar bola matanya malas.
"Ya... ya... aku rasa suamiku akan terkejut saat tahu kita saling mengenal."
"Bukan hanya saling mengenal, bahkan kita sering makan satu piring berdua." Imbuh Aletta. Lalu keduanya pun tertawa bersama. Setelah itu Rea pun beranjak ke dapur untuk beberapa saat, setelah itu ia kembali menemani sahabatnya.
Aletta mengubah posisi duduknya bersila. Lalu memandang Rea lekat. "Bagaimana rasanya hamil?"
"Biasa saja."
"Aku juga ingin hamil, tapi tidak mau menikah."
Rea melotot ngeri mendengarnya. "Omong kosong, kau ingin anakmu lahir tanpa ayah huh?"
"Apa salahnya? Aku bisa menjadi Ibu dan Ayah sekaligus."
"Jangan gila! Aku tidak mengizinkanmu melakukan hal bodoh seperti itu. Kau pikir mudah apa hamil tanpa seorang suami?"
Aletta tertawa renyah. "Mana aku tahu. Aku belum mencobanya."
Rea memutar bola matanya jengah. "Aku rasa kau semakin gila."
Lagi-lagi Aletta tertawa renyah. "Kapan suamimu pulang? Aku juga merindukannya."
Aletta manggut-manggut tanda paham. Tidak lama Bik Ade pun datang dengan sebuah nampan berisi dua gelas minuman segar.
"Selamat menikmati." Ucap Bik Ade seraya meletakkan minuman itu di atas meja.
"Makasih ya Bik?"
"Sama-sama, Nya." Sahut Bik Ade bergegas kembali ke dapur.
"Hey, aku dengar kau pernah cemburu padaku." Aletta tersenyum penuh arti.
Rea berdecih sebal. "Siapa yang tidak cemburu, kau mencium suamiku seolah kaulah istrinya. Menyebalkan. Bahkan dia tidak bilang akan tinggal bersamamu. Bisa saja kau mengambil kesempatan."
"Hey, aku tidak mungkin menusukmu dari belakang. Jika mau sudah sejak lama aku lakukan itu. Lagipula saat itu aku sengaja ingin mengerjaimu. Ingin membuktikan benar atau tidak kau mencintainya."
"Sialan. Kau meragukan perasaanku setelah tahu apa yang aku lewati selama ini?" Kesal Rea. "Bahkan berbagai cara aku lakukan untuk mendapatkannya."
"Termasuk mengirim Zee ke luar negeri? Kau sangat jahat tahu. Harus kau tahu saat itu sepupu sangat hancur karena harus kehilangan cinta pertamanya."
Rea tersenyum miring. Benar, kepergian Zee dari hidup Zain tidak lepas dari campur tangan Rea. Dialah yang memiliki ide itu. Memisahkan Zain dengan kekasihnya, lalu ia yang akan menggantikan posisi itu. Semua itu memang sudah dalam rencananya. Hanya saja perjalanan semakin mulus karena lelaki itu memang takdir untuknya.
Rea sedikit mencondongkan tubuhnya. Lalu berbisik. "Itu salahnya sendiri, dia lebih tergiur dengan uang dari pada cintanya. Lelaki yang aku cintai tidak pantas dibandingkan dengan segelintir uang."
Rea dan Aletta pun tertawa bersamaan. Bahkan tanpa mereka sadari Zain sudah berdiri tidak jauh dari sana. Mendengar semua percakapan mereka tentunya.
Rea terhenyak saat matanya menangkap sosok sang suami yang tengah menatapnya tajam. Ia pun bergegas bangun dari posisinya.
"Hai, sayang." Sapa Rea menghampiri Zain. Namun lelaki itu masih bergeming dengan tatapan yang sama. Rea yang merasa tak nyaman pun sedikit menunduk. Perasaanya semakin tak menentu kini.
Apa dia mendengar pecakapanku dengan Letta tadi? Mungkinkah dia marah karena hal itu?
__ADS_1
"Aku ingin bicara denganmu di kamar." Nada bicara Zain pun berubah dingin. Bahkan lelaki itu meninggalkan Rea begitu saja. Sebelum itu Zain sempat melirik sepupunya. Dan Letta merasakan hal yang sama. Ia mendadak canggung dan agak takut sepupunya itu marah besar.
Rea menatap Aletta seolah bertanya ia harus melakukan apa. Lalu Aletta pun menunjuk ke arah Zain pergi. Meminta Rea segera menemuinya. Rea pun mengangguk patuh dan bergegas menyusul sang suami.
Perlahan Rea membuka pintu kamar. Dan yang pertama kali ia lihat yaitu punggung sang suami. Lelaki itu berdiri membelakanginya. Dengan langkah pelan Rea menghampiri sang suami. Memeluk lelaki itu dari belakang. "I miss you."
"Katakan apa yang aku dengar tadi tidak benar. Jika kau dibalik semua kekacauan hidupku?"
Rea sedikit mundur. Dan itu memudahkan Zain untuk berbalik. Untuk yang kesekian kalinya Rea mendapat tatapan tak bersahabat dari sang suami. Dan itu menyakiti hatinya.
"Maafkan aku." Lirih Rea. "Ya, memang aku yang menjauhkan kalian. Tapi itu tidak sepenuhnya salahku, dia...."
"Apa kau tahu seberapa hancurnya hidupku saat itu, Rea?" Bentak Zain yang berhasil membuat Rea mundur selangkah.
Rea menatap Zain sendu. "Kau juga tidak pernah tahu betapa hancurnya hatiku saat melihatmu bermesraan dengan wanita lain. Sedangkan aku tidak bisa memilikimu."
Zain tersenyum hambar. "Jangan samakan sekarang dengan dulu, Rea. Dulu kita tidak memiliki hubungan apa pun."
"Tapi kau tahu sejak lama aku sangat mencintaimu."
"Itu yang aku tidak suka darimu. Karena rasa cinta dan cemburumu yang berlebihan itu, kau berani menyakiti banyak orang. Aku tahu kaulah dibalik kematian Abel dan Regan. Aku tahu itu Rea."
Deg! Bagaikan ribuan belati yang menghujam jantung Rea dalam hitungan detik. Apa Zain sudah tahu siapa Rea sebenarnya?
"Kak... aku...." perkataan Rea harus terpotong karena tiba-tiba saja Zain memeluknya begitu erat.
"Berhenti bertingkah seperti anak kecil. Itu akan membahayakan dirimu sendiri. Dulu aku pernah hancur sekali karena ditinggalkan. Bagaimana jika kau yang celaka huh? Aku tidak bisa membayangkan sehancur apa diriku jika kau pergi. Tidak peduli apa yang kau lakukan di masa lalu. Tapi untuk kedepannya kau tidak boleh gegabah lagi, percayalah padaku. Aku tidak akan mengkhianatimu. Berjanji untuk tidak melakukan hal konyol. Batasi rasa cemburumu itu."
Perasaan takut Rea pun sirna sudah. Kini raut cemas itu berganti dengan senyuman merekah. Ia bernapas lega karena Zain belum tahu siapa dirinya. Entahlah, mungkin ada saatnya ia berkata jujur. Atau mungkin biarkan saja suaminya itu tidak tahu. Toh cepat atau lambat Rea akan meninggalkan dunia hitam, demi keluarga kecilnya. Ia tidak mungkin membayakan suami dan anaknya jika masih berhubungan dengan dunia gelap. Meski tidak mudah meninggalkan dunai itu, Rea akan berusaha meninggalkannya.
Rea pun memeluk Zain erat. "Bagaimana aku bisa tenang, begitu banyak wanita yang menggilaimu. Tidak selamanya aku berada di sisimu. Bagaimana jika mereka menjebakmu?"
Zain tertawa renyah. "Kau terlalu jauh berpikir. Aku bisa melindungi diriku sendiri. Tidak akan aku biarkan orang lain menyentuhku."
Rea tersenyum senang. "Aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku."
"Aku juga mencintaimu. Jadi berhenti melakukan hal yang akan membahayakan dirimu. Justru aku takut kau yang akan pergi meninggalkan aku. Berjanjilah untuk terus berada di sisiku."
Rea mengangguk antusias. "Janji.
"Hm... aku akan terus menagih janjimu." Zain mengecup pucuk kepala Rea begitu dalam. "Aku hampir gila saat mendengar kaulah dibalik kematian sepupumu itu. Andai Juna tidak menyelidikinya, mungkin aku tidak akan tahu senekad apa dirimu."
Owh... jadi sibedebah itu yang mengarang cerita? Tidak buruk, setidaknya dia sudah menghilangkan kecemasanku. Rea tersenyum tipis.
"Sekarang kau harus menjelaskan soal hubunganmu dengan Letta? Sebelum ini kau marah padaku karena Letta menciumku. Lalu bagaimana kalian bisa sedekat ini?"
Rea meringis dalam hati karena sempat melupakan sahabatnya. "Aku akan menjelaskannya nanti."
"Sekarang."
"Tapi...."
"Aku ingin sekarang."
"Baiklah, kita bicara di luar. Kasihan Letta sendirian."
"Hm. Aku akan mandi dulu, setelah itu aku akan menyusulmu." Zain memberikan kecupan mesra dibibir sang istri.
"Kau ingin makan?"
"Siapkan saja cemilan, sepertinya aku agak lapar."
Rea tersenyum geli. "Baiklah, aku akan menyiapkan pakaianmu dulu. Sana mandi, kau sangat bau."
"Bau saja kau masih menempel padaku."
__ADS_1
Rea tertawa renyah, lalu menarik diri dari dekapan sang suami.
"Satu ciuman sebelum kau pergi." Pinta Zain menunjuk pipinya. Tanpa banyak protes Rea pun mengecupnya dengan lembut. Setelah itu Zain pun bergegas menuju kamar mandi dengan senyuman yang mengembang. Ia merasa seperti seorang abg yang kembali merasakan jatuh cinta. Menggemaskan memang.